
Hariyanto dan Arga duduk di taman belakang dengan keduanya duduk di kursi single yang duduk bersebelahan.
"Kamu ingin bicara apa Arga?" tanya Hariyanto melihat lurus kedepan.
"Arga melihat papa menangis!" ucap Arga yang memang mendapati mertuanya itu menangis.
"Papa hanya sedih dan tidak percaya. Jika Risya sudah sangat dewasa. Saat dia mengenal kamu. Perilaku yang sangat manja berkurang sedikit dan manjanya pindah kepada kamu. Saat kalian putus. Dia merasa hidupnya seolah tidak ada artinya tetapi menutupinya dengan pura-pura bahagia dan dia sering bertengkar dengan mamanya yang menyuruhnya menikah sampai akhirnya kalian menikah,"
"Papa hanya terharu melihat Risya yang pemikirannya sangat dewasa dan penyelesaian masalah yang kuat bisa. Jadi papa terharu melihat Risya yang sudah seperti sekarang ini," ucap Hariyanto.
"Tapi Arga melihat papa seperti punya salah pada Risya," ucap Arga. Hariyanto tersenyum dan melihat ke arah Arga.
"Papa punya kesalahan besar kepadanya dan papa tidak sanggup untuk mengakui kesalahan itu," jawab Hariyanto yang kembali mengeluarkan air mata.
"Ada apa pah sebenarnya? Apa yang papa sembunyikan? dan ini sepertinya bukan masalah kecil," ucap Arga yang pasti sudah tidak tahan. Jika tidak bertanya langsung pada mertuanya itu.
Hariyanto hanya diam yang tidak mungkin menceritakan semua kepada Arga.
"Maaf pah. Arga bukannya kau ikut campur. Tetapi Arga juga tidak ingin papa memendam sendiri masalah papa dan jika Arga bisa bantu maka Arga akan berusaha dan lagian papa seolah punya kesalahan pada Risya. Papa takut akan terjadi sesuatu pada Risya," ucap Arga.
Hariyanto menepuk pundak Arga dengan Hariyanto tersenyum getir.
"Titip Risya," ucap Hariyanto.
"Kamu harus jaga dia dengan baik dan peluk dia jika dia benar-benar hancur. Jangan tinggalkan dia di saat dia merasa semua keindahan yang di bayangkannya. Ekspetasinya yang sangat tinggi kepada saya tidak sesuai dengan harapannya. Tetap lah di sisinya dan jangan meninggalkannya sedikit pun," ucap Hariyanto yang berpesan pada Arga.
"Papa mengatakan seperti ini. Seolah akan terjadi hal buruk dan seolah Risya yang akan mengalami semuanya," ucap Arga yang jujur juga sangat takut. Jika istrinya kenapa-kenapa.
"Arga saya bukan orang tua yang baik untuk Risya. Saya yang pada akhirnya yang akan menghancurkan hati Risya dan hanya kamu harapan saya untuk menjadi pelindung Risya dan pengobat di saat waktu itu telah datang," ucap Hariyanto.
"Berjanjilah Arga untuk selalu menjaga Risya. Berjanjilah untuk mencintai Risya dan tidak akan pernah pergi darinya," ucap Hariyanto.
"Itu pasti pah. Jika papa tidak mengatakan apa-apa pada Arga. Arga tidak bisa memaksa. Tetapi dari apa yang papa bicarakan menyuruh Arga untuk siapa dalam hal buruk yang akan terjadi nanti dan Arga pasti akan terus berada di sisi Risya," ucap Arga.
"Terima kasih Arga. Kamu suami yang tepat untuk Risya. Hanya kamu harapan papa," ucap Hariyanto.
"Ini bukan masalah main-main lagi. Ini sangat besar. Aku harus mencari taunya. Aku tidak ingin istriku yang akan menjadi korban untuk hal ini," batin Arga yang tidak menemukan apa-apa. Namun pikirannya semakin tidak tenang.
***********
Setelah berbicara dengan Hariyanto. Arga pun langsung kekamar dan menghampiri istrinya. Arga berbaring di samping istrinya dan langsung membawa Risya kedalam pelukannya.
Tidak lama Risya langsung membuka matanya yang wajahnya sudah berada di bawah leher suaminya. Risya mengangkat kepalanya dan melihat suaminya dengan matanya yang sipit.
"Kamu sudah datang sayang?" tanya Risya. Arga mengangguk dengan mencium kening Risya.
"Lalu kita tidak pulang?" tanya Risya.
"Kita menginap di sini saja. Kamu juga masih mengantuk," ucap Arga.
"Hmmm, baiklah!" sahut Risya dengan mengangguk. Namun dahinya mengkerut saat merasa pipinya lengket dan Risya memegangnya.
"Apa aku tidur sambil menangis. Kenapa aku seperti ada air mata di pipiku?" tanya Risya yang pasti air mata dari Hariyanto.
"Mungkin saja iya," jawab Argan.
"Tetapi aku tidak mimpi sama sekali," jawab Risya heran.
"Kamu mana sadar jika kamu akan mimpi," jawab Arga.
"Hmmm begitu rupanya. Ya sudahlah," sahut Risya.
"Ya sudah sekarang kita sekarang istirahat," ucap Arga. Risya mengangguk dan memeluk Arga dengan erat. Arga juga memeluknya dan kembali mencium kening Risya.
***********
"Mah sekali-kali mama sama papa liburan ding bareng Risya dan Arga," ucap Risya sembari mengunyah sarapannya.
"Mama mau-mau aja. Papa kamu tuh di ajakin yang pasti kata-katanya lelah jalan-jalan. Sudah tua," sahut Tantri.
"Iya sih papa sih," sahut Risya dengan wajah cemberutnya.
"Ya sudah Risya. Nanti kalau ada waktu. Kita jalan-jalan bersama ya," ucap Hariyanto tersenyum.
"Oke Risya akan menunggu," jawab Risya.
Dratt-dratt-dratttt.
Tiba-tiba ponsel Hariyanto berdering di samping piringnya. Mata Hariyanto turun kebawah melihat panggilan dari kontak tersebut yang nomor nya tidak di beri nama. Namun dia tau. Jika itu dari Tasya.
"Untuk apa dia menelpon!" batin Hariyanto.
"Pah kenapa tidak di angkat?" tahta Tantri.
"Oh ini hanya dari klien," jawan Hariyanto.
"Ya di angkat dong pah. Siapa tau penting," ucap Risya.
"Papa sedang sarapan Risya. Jadi tidak perlu di angkat," jawab Hariyanto yang mematikan panggilan itu.
"Begitu rupanya," sahut Risya.
Namun Arga hanya melihat gerak-gerik mertuanya itu dengan penuh kecurigaan yang sepertinya ada sesuatu. Namun Arga tidak bisa menduga-duga dengan apa yang terjadi.
Hariyanto kembali melihat ponselnya dan seperti biasa. Jika telpon Tasya tidak di angkat. Maka Tasya akan mengirimkan pesan melalui WA.
..." Aku merasa terhina dengan keponakan kamu mas. Dan aku tidak akan tinggal diam. Ini akan berakhir. Ketikan Risya dan istri kamu tau. Aku sudah memberimu banyak kesempatan. Tetapi kamu tidak peduli maka aku juga tidak akan peduli. Aku sekarang di kediaman Edo. Aku akan menunjukkan hasil tes DNA yang aku miliki. Jika Putri bukan anak Edo dan melainkan anak kamu," tulis Tasya dalam ancamannya yang membuat Hariyanto memejamkan matanya....
"Ada apa pah?" tanya Tantri.
"Tidak apa-apa mah," jawab Hariyanto.
"Kalau begitu papa lanjut sarapannya," ucap Tantri.
"Iya mah," sahut Hariyanto tersenyum tipis.
"Mungkin hanya tinggal menunggu waktu. Karena jika aku ingin melakukan apapun. Sudah tidak ada artinya lagi. Maafkan papa Risya kamu akan kecewa dengan semua ini," batin Hariyanto yang terlihat pasrah dengan ancaman Tasya.
Namun Arga yang masih memperhatikan gerak-gerik mertuanya itu yang semakin mencurigai sesuatu.
***********
Sementara Tasya berada di dalam mobil yang sudah memasukinya komplek perumahan Edo.
"Kamu pikir aku main-main mas. Aku tidak akan main-main. Kamu lihat apa yang akan aku lakukan," batin Tasya yang melajukan mobilnya.
Namun saat beberapa rumah lagi supaya mendapat rumah Edo. Tiba-tiba ada mobil yang menghalangi mobil Tasya.
"Sial! Mobil siapa itu?" gummanya dengan kesal.
Tin tin tin tin tin tin tin.
Tanya membunyikan klakson supaya pemilik mobil menyinggirkan mobil itu yang sudah menghalangi jalannya. Namun pintu mobil terbuka yang ternyata Vio yang keluar dari mobil itu yang membuat Tasya kaget.
"Dia lagi!" gumam Tasya yang pasti mengingat Vio yang melangkah mendekati mobil Tasya yang terlihat ingin memberikan Tasya pelajaran.
Bersambung