
Edo hanya tersenyum melihat Angela dan Putri yang berpelukan. Sampai-sampai Angela berlutut agar sejajar dengan Putri. Ke-2nya tampak sangat dekat dan sepertinya Edo tidak menyangkal bisa melihat ke dekatan 2 orang itu.
"Putri sudah sembuh?" tanya Angela.
"Sudah Tante, lihat tangan dan semua tubuh Putri Sudja normal kembali. Jadi Putri benar-benar sudah sembuh," ucap Putri dengan cerianya.
"Tante senang mendengar Putri sudah sembuh. Maafkan Tante ya. Semua ini karena tante. Tante yang udah buat kamu seperti ini," ucap Angela dengan rasa bersalahnya.
"Siapa bilang ini kesalahan Tante, orang ini kesalahan Putri kok. Putri yang bandel dan bahkan Putri suruh Tante untuk berbohong kan itu tidak boleh. Jadi Putri yang di salahkan dalam hal ini," ucap Putri yang menyadari kesalahannya.
"Tetapi semuanya kesalahan Tante Putri," ucap Angela.
"Tidak Tante," sahut Putri.
"Ayo Tante main sama Putri!" ajak Putri yang memegang tangan Angela dan mengajaknya berdiri mendekati tempat tidur.
Putri tampak bahagia dengan kedatangan Angela. Bahkan langsung mengajak Angela untuk bermain. Hal itu pasti tidak di duga Edo. Tanpa iya sadari putrinya begitu dekat dengan Angela ternyata. Angela juga kelihatan tulus pada putrinya. Edo menghela napas dan menutup pintu kamar. Dia tidak ingin mengganggu Angela dan juga Putri jadi dia lebih baik pergi.
Sudah malam hari ternyata. Putri seharian bermain dengan Angela. Sampai Putri yang sudah tertidur dan Angela yang menyelimuti Putri dengan mengelus pipi Putri dan mencium lembut kening Putri.
Hal tersebut ternyata di perhatikan Edo yang berdiri di depan pintu kamar. Dia melihat bagaimana Angela memperlakukan Putri.
"Sayang Tante pulang dulu ya," ucap Angela yang mengambil tasnya dan meninggalkan tempat itu yang langsung membalikkan tubuhnya dan kaget melihat Edo yang sudah ada di depan pintu kamar.
"Mas Edo," ucap Angela dengan mengelus dadanya yang sedikit terkejut dengan datangnya Edo tiba-tiba.
"Maaf aku mengagetkanmu," ucap Edo.
"Tidak apa-apa. Oh iya aku pulang dulu! Putri juga sudah istirahat," ucap Angela.
"Aku akan mengantarmu," ucap Edo.
"Tidak usah mas. Aku telpon Taxi online aja," ucap Angela.yanb menolak tawaran Edo.
"Aku yang mengajak kamu ke rumah ini. Jadi aku juga harus mengantar kamu pulang," ucap Edo.
"Ya sudah," sahut Angela yang juga tidak bisa menolak.
*********
Edo dan Angela berada di dalam mobil yang berada di lampu merah yang mana sejak tadi ke-2nya hanya diam dan tidak ada obrolan sama sekali di antara ke-2nya.
"Maafkan aku ya Angela," ucap Edo yang tiba-tiba membuat Angela menoleh ke sebelahnya.
"Minta maaf soal apa?" tanya Angela heran.
"Apa yang terjadi waktu itu. Masalah Putri. Aku benar-benar tidak bisa mengontrol diriku saat bicara padamu," ucap Edo yang menyadari jika banyak kata kasar yang di keluarkannya waktu itu dan pasti sangat sakit buat Angela.
"Aku benar-benar minta maaf Angela," ucap Edo lagi.
"Sudahlah mas. Kenapa harus minta maaf. Lagian kamu melakukan itu. Karena kamu sangat takut kehilangan Putri dan iya aku juga tidak pernah memahami kamu. Dan aku juga masih menyesal dengan apa yang terjadi. Yang seharusnya minta maaf itu bukan kamu," ucap Angela.
"Seharusnya aku menceritakan semuanya kepadamu. Hal kecil atau hal besar dan apa yang terjadi waktu itu semua itu karena kesalahan ku juga. Karena aku yang tidak terbuka pada kamu," ucap Edo yang sangat tulus untuk minta maaf.
"Ya sudahlah masa itu sudah berlalu dan di jadikan saja pelajaran," sahut Angela.
"Iya kamu benar," sahut Edo.
Ke-2nya terlihat hening sejenak dan Edo sepertinya ingin mengatakan sesuatu lagi. Tetapi tidak tau mau mengatakan apa.
"Hmmmm, Angela," ucap Edo dengan ragu-ragu.
"Iya mas kenapa?" tanya Nabila.
"Aku, aku..." Edo kelihatan sangat bingung menyampaikan apa yang ingin di sampaikannya.
"Ada apa mas? Apa sesuatu?" tanya Angela bingung.
"Maaf soal apa lagi?" tanya Angela heran lagi dengan Edo yang minta maaf kembali.
"Kata-kata ku kepadamu yang menyuruh untuk kita sendiri-sendiri. Aku tidak mau Angela kita sendiri-sendiri. Aku ingin hubungan kita lanjut," ucap Edo yang tidak mau hubungannya dan Angela berakhir begitu saja.
Edo menghadap Angela dengan memegang ke-2 tangan Angela dan menatap Angela dalam-dalam.
"Aku bukan Pria sempurna, banyak kekurangan dan bahkan aku mempunyai seorang anak. Aku gagal dalam pernikahan dan pasti sangat menyebalkan. Tetapi kamu hadir dan seolah sangat menerima semua itu. Kamu mau menyesuaikan diri dengan kehidupanku dan aku tidak pernah mensyukuri. Kesalahan yang terjadi juga sebenarnya karena ku. Karena jika kamu tau sebenarnya tentang Putri kamu pasti akan lebih menjaganya dengan baik. Tetapi apa yang terjadi malah aku tidak bisa mengendalikan diriku, marah berlebihan dan seolah tidak menghargai kamu,"
"Angela aku sangat menyesali semuanya. Kasih aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya dan batu aku untuk menjaga Putri," ucap Edo yang sekarang tidak mau kehilangan Angela. Matanya bahkan berkaca-kaca yang sangat jelas menyayangi Angela.
"Kamu mau kan kembali kepadaku?" tanya Edo yang butuh kepastian.
"Memang kita pernah putus," sahut Angela yang menanggapi permintaan Edo.
"Iya kamu benar. Kita memang tidak pernah putus. Tapi aku menyuruhmu untuk pergi dari hidupku dan juga Putri," ucap Edo.
"Lalu sekarang mas Edo meminta ku untuk pergi atau tetap di sisi mas Edo?" tanya Angela.
"Aku ingin kamu tetap di sisiku," ucap Edo.
"Baiklah kalau begitu," sahut Angela yang seperti memang sangat mencintai Edo dan tidak mau membesarkan masalah.
"Apa itu artinya?" tanya Edo. Angela menganggukkan kepalanya. Edo tersenyum dan langsung memeluk Angela dengan erat.
"Mas Edo lain kali apapun beritahu aku tentang apapun itu, masa lalu kamu dan kesulitan yang kamu hadapi. Aku ingin menjadi bagian dari hidup kamu dan juga ingin menjadi pendengar yang baik untuk kamu," ucap Angela.
"Iya, aku tidak akan menyembunyikan apapun dari kamu dan akan berbagi hal kecil dan hal besar kepada kamu," sahut Edo. Angela tersenyum dan memeluk erat Edo.
*********
Risya yang berada di kamar mertuanya. Di kamar Salmah yang sedang berada di atas tempat tidur yang berbaring di atas paha mertuanya itu dengan Salamah yang mengelus-elus kepala Risya.
Risya itu kalau lagi manjanya kumat sama siapapun jadi. Ya apalagi mertuanya. Namanya dia sudah sangat dekat dan sepertinya sekarang ini yang sangat senang dengan kepala di elus-elus bahkan matanya sampai terpejam.
"Mah," ucap Risya membuka matanya.
"Ada apa sayang?" tanya Salmah.
"Risya mau ngomong sesuatu sama mama," ucap Risya.
"Mau ngomong apa sayang?" tanya Salmah.
"Mah Risya hamil," ucap Risya yang membuat Salamah terkejut.
"Kamu serius!" pekik Salmah. Risya menganggukkan kepalanya.
"Aku akan punya cucu!" teriak Salmah yang kelihatan bahagia. Namun Risya langsung duduk dan menutup mulut mama mertuanya itu.
"Mama! Jangan ribut-ribut," ucap Risya.
"Kenapa?" tanya Salmah yang mulutnya sudah di lepas oleh Risya.
"Mama jangan sampai ada yang tau Risya hamil. Apa lagi Arga," ucap Risya.
"Kenapa?" tanya Salmah heran.
"Ma Risya udah periksa ke Dokter dan kata Dokter kandungan Risya sangat lemah. Jadi Risya tidak mau terlalu eksaitit karena takut tidak bisa jaga kandungan Risya. Risya juga belum kasih tau Arga. Karena nanti kalau ada apa-apa Arga akan kecewa. Makanya Risya ingin memberitahu Arga kalau kandungan Risya sudah masuk bulan ke-2," ucap Risya.
"Ya ampun Risya. Seharusnya mau selemah apa kandungan kamu. Kamu harus tetap kasih tau suami kamu. Jangan seperti ini nak. Supaya Arga juga bisa membantu kamu untuk menjaga kandungan kamu," ucap Salmah memberi saran.
"Tapi mah, Risya tidak mau nanti Arga yang adanya kecewa. Jadi Risya mau sembunyikan dulu hal ini," ucap Risya yang punya cara sendiri.
"Ya sudah terserah kamu aja. Yang penting mama doakan yang terbaik untuk kamu dan semoga bayi kamu sehat-sehat saja.
Bersambung