MANTAN? TAPI NIKAH YUK!!!

MANTAN? TAPI NIKAH YUK!!!
Episode 168 Ancaman.


"Risya jangan memancing suamimu ini. Kamu tau sendirikan aku sudah puasa begitu lama," ucap Arga dengan suara beratnya.


Risya tersenyum dan memegang pipi Arga sembari mengelus dengan lembut.


"Baiklah sayang kalau begitu. Aku akan menerima hukuman apa saja dari kamu. Karena aku sudah berani membuat perut suami ku kelaparan," ucap Risya.


"Jadi kamu akan menerima hukumannya?" tanya Arga sekali lagi.


Risya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum. Arga menaikkan alisnya dan lebih mendekatkan wajahnya pada Risya dan mengecup bibir merah merona istrinya itu.


"Ini hukuman pertamamu," ucap Arga melepas kecupan itu.


Risya mengalungkan tangannya di leher Arga dengan tatapan Risya yang begitu dalam.


"Kenapa hanya sebentar?" tanya Risya dengan menantang suaminya itu.


"Jadi kamu ingin lama?" tanya Arga. Risya menganggukkan kepalanya.


"Tetapi jika aku melanjutkannya. Maka aka tidak akan hanya di bibir saja," ucap Arga.


"Kalau begitu aku ingin melihat kelanjutannya," sahut Risya yang benar-benar menantang Arga membuat Arga mendengus dengan tersenyum miring dan ingin mencium bibir Risya kemabli.


"Pak Arga laporannya," gagal maning saat Novi masuk kedalam ruangan itu tanpa mengetuk pintu. Arga dan Risya tidak jadi berciuman dan dengan kesalnya Arga melihat ke arah Novi.


"Maaf pak Arga, saya tidak lihat apa-apa," sahut Novi yang langsung menunduk.


Arga menghela napasnya dan harus menjauh dari istrinya. Sementara Risya hanya senyum-senyum melihat kesalnya suaminya itu.


"Kamu apa tidak bisa ketuk pintu dulu baru masuk," ucap Arga kesal.


"Maaf pak, saya hanya mengingatkan 10 menit lagi ada meeting dan semua klien sudah menunggu," ucap Novi dengan gugup.


CK. Arga berdecak kesal dengan moment yang akan hilang dengan istrinya.


"Ya sudah saya akan segera keruangan meeting," ucap Arga dengan terpaksa.


"Baik Pak, saya permisi dulu!" ucap Novi yang langsung keluar dari ruangan itu.


Arga memijat kepalanya yang tiba-tiba berat dengan wajahnya yang kesal.


"Sudah sayang. Hari masih panjang. Ayo sekarang kamu makan. Dari tadi kamu belum makan," sahut Risya yang mencoba mengembalikan mood suaminya yang berantakan.


"Makan apa ini?" tanya Arga.


"Iya makan sore sayang," sahut Risya yang langsung menyiapkan makan untuk Arga.


"Jangan ngambek pada ku lagi. Aku sudah minta maaf dan kamu sudah beri hukuman dan aku tinggal menjalankannya," ucap Risya dengan tersenyum.


Kekesalan Arga berkurang sedikit lah. Ya namanya juga Risya yang lupa suami dan belum lagi Novi yang mengganggu Arga dan Risya dan pakai ada meeting segala lagi. Jadi bagaimana Arga tidak kesal.


*********


Mobil Edo berhenti di depan rumah Edo yang di dalamnya ada Angela dan juga Putri.


"Kita sampai," ucap Angela.


"Hore!!!!" sahut Putri yang begitu Happy. Edo hanya tersenyum saja. Lalu mereka langsung turun dari mobil dengan memasuki rumah dengan tangan Angela dan Putri yang saling bergenggaman.


Saat masuk rumah. Mereka di kejutkan dengan Tasya yang duduk di ruang tamu. Begitu melihat Edo pulang Tasya langsung berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri Edo.


"Tasya!" ucap Edo.


"Mama!" sapa Putri.


"Kalian sudah pulang? aku menunggu sejak tadi," ucap


"Yang pasti menunggu Putri aku merindukan anakku. Makanya aku datang," jawab Tasya.


"Tapi ini sudah malam dan sebaiknya kamu pulang saja dan Putri juga harus tidur," ucap Edo.


"Kamu tidak mengijinkan ku untuk bertemu Putri?" tanya Tasya dengan memastikan.


"Ini sudah malam Tasya dan ada batasnya saat bertamu kerumah orang," ucap Edo dengan tegas.


"Tapi Putri anakku. Kau seharian menunggunya dan aku hanya ingin bertemu sebentar dan kamu sudah melarang," ucap Tasya yang tampak sangat kesal bahkan nada suaranya yang semakin tinggi.


"Mama. Tapi papa benar ini sudah malam. Putri besok harus sekolah. Jadi Putri harus tidur," ucap Putri yang membuat Tasya semakin kesal.


"Tapi hanya sebentar sayang, mama temani kami tidur ya," ucap Tasya yang membujuk Putri. Angela tidak ambil bicara dalam hal itu. Dia hanya diam saja.


"Tapi Putri mau di temani tidur sama mama Angela," sahut Putri.


"Bagaimana tidak Tasya semakin emosi dengan kata-kata Putri yang apa-apa Angela dan dirinya benar-benar sudah tidak di anggap lagi.


"Tasya. Masih banyak hari. Jadi sebaiknya kamu pulang dan Putri juga harus istirahat," ucap Edo yang menekankan sekali lagi.


"Aku ingin bicara sama kamu," ucap Tasya dengan serius.


Edo melihat Angela. Angela menganggukkan kepalanya yang seolah mengijinkan suaminya itu untuk bicara Tasya.


"Putri ayo mama antar kekamar," ucap Angela.


"Baik mah," sahut Putri yang menurut saja dan langsung pergi yang sekarang hanya Edo dan Tasya yang berada di ruang tamu dengan mereka berdiri saling berhadapan.


"Kamu kenapa Tasya. Kenapa sangat memaksa sekali ingin bertemu Putri," ucap Edo dengan suara datarnya.


"Aku ibunya dan aku berhak untuk bertemu dengan anakku dan belakangan ini aku melihat kamu sengaja membuat aku dan Putri semakin jauh. Kamu membuat kami tidak pernah bertemu dan tidak ada waktu untuk bersama," ucap Tasya mengeluarkan keluhannya.


"Apa yang kamu maksud. Pertama kamu pulang ke Indonesia hanya sebentar karena ada pekerjaan dan aku menginjinkan kamu untuk bertemu Putri. Aku memberi kamu kesempatan sebelum kamu kembali ke Luar Negri. Aku tidak membatasi sama sekali. Tetapi kamu justru yang tidak tau batasnya kapan harus menemui Putri," ucap Edo.


"Apa perlu batas untuk bertemu anak kandungku sendiri," ucap Tasya.


"Cukup Tasya aku tidak ingin membahas masalah yang tidak penting. Intinya selama kamu berada di Indonesia. Aku memberimu izin atas Putri kapanpun kamu mau dan ini sudah cukup lama. Sebaiknya kamu kembali ke Luar Negri," ucap Edo.


"Kamu mengatur tempat di mana aku harus tinggal. Ohhh atau kamu takut. Jika aku selamanya di Indonesia dan akan terus bertemu Putri iya," ucap Tasya.


"Aku tidak berpikiran seperti itu. Tasya jangan memperbesar masalah dan Iya kamu juga harus tau aku akan menikah sebentar lagi dan aku juga tidak ingin melukai perasaan Angela dengan kamu yang sering bersama Putri dan apa lagi datang ke rumah ini dan aku sudah memberimu banyak waktu," tegas Edo yang lebih memperdulikan perasaan Angela di bandingkan Tasya. Walau Tasya ibu kandung Putri.


"Oh jadi benar. Kamu benar-benar berniat untuk menjauhkan aku dari anak kandungku. Edo putusan pengadilan bukan jatuh ketangan kamu atau aku tentang hak asuh Putri dan aku berhak atas Putri. Jika kamu membatasi ku untuk bertemu dengan Putri hanya karena calon istrimu itu. Maka aku akan menuntut hak asuh Putri," ucap Tasya yang membuat Edo terkejut mendengarnya.


"Apa yang kau katakan Tasya?" tanah Edo dengan suara beratnya.


"Kenapa? Kamu takut! Mari bertarung di pengadilan," tantang Tasya.


"Kau pikir aku takut dengan semua yang kau katakan. Kau hanya akan menyesal jika menuntut hak asuh Putri. Karena aku tidak akan memberimu kesempatan apa-apa lagi. Jika hak asuh Putri jatuh sepenuhnya ketanganku," ucap Edo dengan ancaman yang lebih besar lagi.


"Kalau begitu mari kita buktikan," sahut Tasya yang juga tidak takut.


"Baiklah Edo. Awalnya aku tidak punya niat untuk itu. Tetapi kamu membatasi ku waktu untuk aku bertemu dengan anak kandungku. Maka jika begitu aku harus turun tangan dan sampai jumpa di pengadilan," ucap Tasya yang langsung pergi dari hadapan Edo dengan Tasya yang menyunggingkan senyumnya.


"Sial!" umpat Edo.


"Tidak! Kamu pikir kamu bisa menang dariku Tasya. Tidak akan. Hak asuh Putri akan jatuh sepenuhnya di tanganku," batin Edo yang tidak akan memberikan kesempatan itu kepada Tasya. Karena dia pasti akan berjuang mati-matian untuk mendapatkan hak asuh Putri sepenuhnya.


Sementara Tasya pasti punya rencana buruk dan sampai niat mengajukan hak asuh ke pengadilan dan tidak tau juga apa yang di rencanakan. Yang pasti tidak ingin Edo dan Angela bahagia bersama Putri.


Bersambung.