
Melihat wajah Risya jelas begitu mencurigakan bagi Arga yang sepertinya tau apa ujung-ujungnya semua ini.
"Ayo Arga kenapa masih diam?" tanya Risya dengan alisnya yang terangkat.
"Apa maksudmu?" tanya Arga panik
"Kita sudah menikah suami wajib memberi istrinya nafkah. Jadi berikan kepadaku satu kartumu tanpa limit itu sebagai nafkah untuk istrimu," ucap Risya dengan lemah lembut dan Arga sudah penuh kekesalan dengan Risya yang membuatnya mati kutu tak berdaya dengan Risya menolak kartu dari papanya dan sekarang gilirannya yang di peras.
"Ayo Arga berikan pada istrimu," sahut Dehway yang sangat mendukung menantunya itu.
"Tapi pah...," Sahut Arga pasti protes.
"Arga kamu itu jangan pelit sama istri. Cepat berikan," sahut Salmah mendesak Arga dan Arga sudah tidak bernapas dengan tenang.
"Kau benar-benar akan habis di tanganku Risya," batin Arga yang di kerjai Risya dan bahkan Risya mengedipkan sebelah matanya pada Arga.
"Arga buruan!" sahut Dehway lagi.
Arga membuang napasnya kasar dan mengeluarkan dompetnya dan Risya senyum-senyum yang akan menggunakan kartu dari Arga. Arga begitu sulit untuk menarik satu kartu itu dari dalam dompetnya.
"Yang hitam Arga," sahut Salmah. Tau aja mana yang banyak isinya.
"Issss," Arga berdesis dan memberikannya pada Risya dengan cepat tangan Risya mengambilnya dan tersenyum penuh kemenangan.
"Makasih," ucap Risya kembali mengedipkan matanya, melihat Arga yang penuh kemarahan dan ingin menerkam Risya.
"Jangan boros-boros," ucap Arga pelan.
"Pelit amat," sahut Risya.
"Risya gunakan semau kamu ya dan benar apa yang di bilang papa kamu tadi. Jangan hanya seperlunya saja di gunakan. Yang tidak perlu pun di gunakan," sahut Salmah.
"Mah, yang adanya aku bisa bangkrut," protes Arga.
"Arga kebahagian istri itu adalah rezeki suami. Semakin banyak kamu memberi pada istri kamu maka semakin banyak juga rezeki kamu. Jadi jangan perhitungan dengan istri kamu. Lihat papa yang terus membuat mama kamu happy dan lihat sekarang kita bisa seperti ini karena mama kamu yang mendoakan papa. Dan kamu juga harus seperti itu jangan pelit-pelit pada istri. Supaya rezeki kamu semakin mengalir," ucap Dehway yang menceramahi Arga.
"Tapi ada batasnya juga pah," sahut Arga menekan suaranya.
" Sudahlah Arga. Kamu juga tidak akan miskin kalau hanya memberikan hal sekecil itu pada istri kamu," sahut Salmah
"Dasar matre," umpat Arga. Namun Risya hanya tersenyum sinis saja melihat kesalnya wajah Arga kepadanya.
Arga hanya menghela napas panjang yang mau bicara, mau protes seperti apapun dia tidak akan di dengarkan. Yang anak kandung di rumah itu adalah Risya dan Arga tidak sama sekali. Jadi harus banyak bersabar Arga.
"Oh iya apa pinnya?" tanya Risya yang harus tau. Karena kalau tidak tau sama saja.
"Nanti saja," sahut Arga.
"Ya harus sekarang dong. Nanti kamu nggak kasih tau lagi, semuanya hanya akan sia-sia," sahut Risya.
"Risya aku bilang nanti, aku harus ke bank dulu," sahut Arga.
"Untuk apa. Mau mengurangi saldonya. Eh mana boleh," sahut Risya.
"Sudahlah Arga. Itu sudah jadi milik istri kamu. Beritahu apa sandinya buruan," sahut Salmah.
"Tauh nih cepat beritahu, atau jangan-jangan kamu itu memang nggak niat kasih aku ya sampai pin nya saja kamu....."
"Ulang tahunmu," sahut Arga memotong pembicaraan Risya dan Risya langsung terdiam saat Arga menjawab pin nya adalah tanggal ulang tahun dirinya.
"Kau puas," sahut Arga menghela napas kasar dan kembali sarapan dengan wajahnya pasti masih kesal. Namun Risya mendadak diam. Pasti sangat terkejut jika kartu ATM itu PINnya adalah ulang tahunnya.
"Jadi itu alasannya kamu mau bilang tadi ke Bank. Kamu mau ganti PINnya, karena kamu gengsi. Atau Risya akan tau kalau kamu ternyata belum move on darinya," sahut Salmah mulai menggoda
"Ya justru itu. Berarti ATM itu ada saat kamu pacaran dengan Risya dulu dan kalian sudah break Lo sampai 3 tahun lebih. Masa iya sandinya nggak di ganti-ganti," sahut Dehway yang ikut-ikutan menggoda
"Terserah kalian deh," sahut Arga yang sudah begitu kesal dan masa bodo dan sementara Risya yang semenjak tau pin ATM itu ulang tahunnya dia mendadak diam.
Itu artinya setiap menggunakannya. Arga akan mengingat tanggal ulang tahunnya dan perasaannya tiba-tiba saja gelisah dan diam tidak berkutik.
********
Syarla, Risya dan Angela sedang makan siang bersama di Restaurant yang menjadi langganan mereka. Yang mana mereka berdua yang makan sembarari mengobrol.
"Risya kamu sekarang tinggal di rumah Arga?" tanya Syarla.
"Hmmm, mau tidak mau harus tinggal di sana," jawab Risya.
"Kenapa wajahnya kayak tidak ikhlas gitu. Terpaksa ya tinggal di sana?" tanya Angela.
"Ya iyalah terpaksa," sahut Risya jujur apa adanya.
"Kok terpaksa sih, kalian kan sudah menikah," sahut Angela heran.
"Ya ampun Angela, walaupun sudah menikah, tapi tinggal di rumah orang itu pasti sangat asing," sahut Syarla.
"Tuh benar kata Syarla. Tidak mudah menyesuaikan diri pada keluarga baru," sahut Risya memperjelas.
"Iya juga sih. Tapikan Tante Salmah itu baik banget sama kamu. Kamu juga pasti jadi mantu kesayangan. Jadi seharusnya kamu tidak ada masalah dong dan pasti nyaman-nyaman aja," sahut Angela
"Ya tetap aja pasti dek-dekan dan tidak nyaman," sahut Risya.
"Hanya perlu waktu Risya. Lama kelamaan juga akan nyaman," sahut Syarla.
"Iya deh. Ya sudah kita balik yuk," sahut Risya yang kelihatannya sudah kenyang.
"Iya udah aku juga harus balik kerja," sahut Angela.
"Oke. Aku panggil pelayan dulu," sahut Syarla, "mbak," Syarla langsung memanggil pelayan dan pelayan langsung datang.
"Kita mau bayar," sahut Syarla.
"Baiklah mbak," sahut pelayan tersebut.
"Biar aku aja yang bayar," sahut Risya.
"Ya ampun di traktir pengantin baru," sahut Syarla senyum-senyum dengan Angela.
"Biasa aja kali," sahut Risya membuka dompetnya dan mengeluarkan satu kartu ATM dan dia langsung melihat ATM milik Arga yang barusan di berikan Arga dan membuat Risya terus melihat ATM tersebut.
"Sya di tungguin," tegur Angela membuat Risya kaget.
"Oh iya maaf mbak," sahut Risya yang mengeluarkan Atm punya Arga dan Risya langsung melakukan pembayaran dengan pin yang iya ketahui dan Risya sekalian mengecek apa Arga benar atau tidak dan ternyata benar.
"Makasih mbak," sahut pelayan memberikan struk dan juga Atma Risya.
"Sama-sama," sahut Risya yang terlihat berpikir, "ternyata memang ulang tahun ku," batin Risya yang awalanya kelihatan tidak percaya.
"Ada apa Risya?" tanya Angela melihat Risya bengong
"Oh tidak apa-apa. Ayo kita balik," jawab Risya yang berusaha tenang.
"Oke ayo," ajak Syarla dan mereka langsung meninggalkan restaurant tersebut setelah selesai makan siang bersama-sama.
Bersambung