
Risya yang sedang makan di meja makan yang di temani mamanya Tantri. Risya pengen masakan sang mama. Jadi mau tidak mau Tantri mengunjungi Risya dan memasakkan apa yang di inginkan putrinya itu.
"Bagaimana enak makanannya?" tanya Tantri
"Sebenarnya sih biasa aja," sahut Risya dengan santai dengan mulutnya yang mengunyah.
"Kamu ini ya benar-benar," geram Tantri.
"Risya belum selesai ngomong. Makannya biasa aja. Tapi karena mama yang memasak jadi sangat enak. Kalau di tempat lain sup buntut seperti ini tidak akan enak," ucap Risya yang meralat kata-katanya.
"Paling pintar kamu kalau ngomong," ucap Tantri.
"Ya memang iya kok. Masakan sup buntut mama. Juga lebih enak dari pada mama Salmah. Tapi jangan bilang-bilang ya," ucap Risya pelan.
"Menantu penjilat!" ucap Tantri.
"Issss apaan sih mah. Sembarangan deh mengatai Risya menantu penjilat," ucap Risya kesal.
"Memang itu kenyataannya. Ada mama kamu jelek-jelek-in mertua kamu. Tidak ada mama kamu jelek-jelek-in mama di depan mertua kamu. Jadi wajar. Jika mama mengatakan kamu itu membatu penjilat," tegas Tantri.
"Issss mama jahat banget sih sama anak sendiri. Risya bilangan mama lebih enak. Bukan karena Risya penjilat. Isssss padahal Risya itu lagi membuat mama senang. Mama malah menganggap Risya seperti itu," sahut Risya dengan wajah cemberutnya.
"Karena mama tidak bisa membedakan kamu yang benar-benar membuat mama senang atau hanya pura-pura," sahut Tantri.
"Terserah mama mau percaya atau tidak pas Risya yang penting apa yang Risya katakan adalah kebenarannya," tegas Risya.
"Terserah kamu. Makan lagi ngomong aja dari tadi," sahut Tantri.
"Orang mama yang mulai ajak ngobrol," sahut Risya.
"Menyalahkan terus," sahut Tantri. Risya tidak menanggapi lagi. Karena masalah bisa semakin panjang. Ibu dan anak itu memang sangat suka debat. Jadi wajarlah mereka terus bertengkar saling kesal.
"Oh iya Risya ada yang ingin mama beritahu sama kamu," ucap Tantri.
"Tuh kan mama ngajak ngobrol lagi," sahut Risya
"Ini serius Risya. Mau tau apa tidak?" tanya Tantri.
"Apa itu?" tanya Risya yang penasaran juga akhirnya.
Tiba-tiba Tantri mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan photo pada Risya. Risya pun melihat photo tersebut yang ternyata photo Bram yang berciuman dengan seorang wanita di parkiran.
"Oh itu," sahut Risya dengan santai.
"Kamu kok tidak kaget. Kamu tau kan siapa pria yang ada di dalam photo itu?" tanya Tantri.
"Iya aku tau dia Bram," sahut Risya.
"Ya terus kenapa kamu santai. Bukannya Bram itu suami dari Tasya," sahut Tantri.
"Ya iya mah dan ini bukan hal yang harus di buat kaget. Aku sudah pernah melihat Bram melakukan hal itu sebelumnya. Aku berkali-kali melihat Bram yang sepertinya berselingkuh," ucap Risya.
"Jadi benar dia berselingkuh?" tanya Tantri dengan wajah kagetnya.
"Ya aku nggak tau. Kalau begitu banyak kenyataan yang terlihat apa namanya jika bukan berselingkuh," sahut Risya.
"Terus Tasya bagaimana?" tanya Tantri.
"Aku sama Syrala pernah menemui Tasya dan mengatakan semua ini dan kami juga memperlihatkan bukti Bram dengan 2 wanita di Club. Namun dia tidak percaya dan malah menyuruh kami untuk tidak ikut campur. Ya sudah mau bagaimana lagi dia yang punya suami dan aku tidak bisa melakukan apa-apa," sahut Risya dengan mengangkat ke-2 bahunya yang tidak memang tidak ingin ikut campur lagi urusan Tasya.
Namun Tantri jadi kepikiran. Dia juga sangat kaget saat melihat Bram yang seperti itu. Dan dia mengambil photo itu hanya ingin menunjukkan pada Risya ya mungkin menyuruh Risya untuk mengatakan pada Tasya. Namun ternyata Tantri justru ketinggalan. Karena Risya sudah tau dan sudah melakukan banyak hal.
Malam hari Tasya duduk di sofa di ruang tamu. Rumahnya sudah rapi kembali. Karena tadi di bersihkannya saat ada Angela dan Edo. Dia juga tidak enak dan membersihkan untuk menghilangkan banyak pertanyaan. Walau Tasya menyadari jika dirinya sedang di curigai.
Krekkk.
Pintu Apartemen terbuka dan barulah suaminya itu pulang. Sejak bertengkar kemari makan suaminya itu tidak pulang dan baru menunjukkan wajahnya sekarang.
"Kamu pulang! Aku pikir tidak akan pulang," sahut Tasya dengan suara dinginnya.
"Jangan memulai mencari keributan. Aku capek dan mau istirahat," jawab Bram yang meninggalkan Tasya.
"Ini Apartemen ku dan aku yang punya kuasa," sahut Tasya membuat langkah Bram terhenti dan langsung menoleh ke kebelakang. Melihat Tasya dengan tajam.
Dia jelas-jelas merasa tersinggung dengan pernyataan Tasya.
"Apa maksud mu mengatakan seperti itu!" tanya Bram mulai terpancing.
"Keluar dari Apartemen ini!" usir Tasya dengan wajah dinginnya.
"Cih! Kau mengusirku!" desis Bram dengan sinis.
"Ceraikan aku," sahut Tasya membuat Bram kaget.
"Wah hebat sekali sekarang berani meminta cerai padaku," sahut Bram berkacak pinggang yang emosinya sudah sampai kecil tinggi.
"Aku tidak mau melanjutkan rumah tangga dengan Pria main tangan sepertimu dan juga tukang selingkuh," sahut Tasya.
"Apa kau katakan. Kau masih menuduhku berselingkuh. Apa kau tidak mengerti juga dengan apa yang aku katakan. Jika aku tidak berselingkuh!" bentak Bram.
"Jangan membodohi ku lagi. Kau pikir aku bodoh," sahut Tasya tidak kalah berteriak. Tasya berdiri dari tempat duduknya, menghampiri Bram dan membuang photo-photo pada wajah Bram dengan kasar.
"Semua itu sudah menjelaskan jika kau berselingkuh!" teriak Tasya dengan menunjuk tepat di wajah Bram. Mata Bram turun kebawah dan melihat banyaknya photo-photo dirinya dengan wanita selingkuhannya. Bram jelas kaget dengan Tasya yang mendapatkan semua photo-photo itu.
"Kau berani menyelidiki ku!" sentak Bram yang tidak terima.
"Jika aku tidak melakukannya. Kau tidak akan pernah mengakui kesalahanmu!" teriak Tasya.
"Dasar kurang ajar," umpat Bram yang menghampiri Tasya dan langsung mencekik Tasya yang mendorongku Tasya sehingga Tasya duduk di sofa. Bram mencekiknya seperti orang yang kerasukan.
Tasya hanya memegang tangan Bram yang memohon untuk di lepas. Karena Tasya juga tidak bisa berbicara akibat ulah Bram.
Putri yang mendengar keributan mengintip dari depan pintu kamar dan melihat Tasya yang di perlakukan Bram membuat Putri kaget.
"Mama!" teriak Putri yang memberanikan diri menghampiri Bram.
"Lepaskan mama! Lepaskan!" teriak Putri yang menarik-narik baju Bram.
"Jangan ikut campur anak bodoh!" umpat Bram yang seperti orang kesetanan.
"Lepas mama Putri! Lepas!" Putri berusaha menarik Bram. Namun kekuatan tenaga Bram sangat kuat.
Tidak tau apa yang di pikirkan Putri. Putri mengambil pas bunga yang ada di meja dan langsung memukulkan pada Bram.
"Argggghhh!" teriak Bram kesakitan dan perlahan tangannya lepas dari cengkraman leher Tasya.
"Putri!" lirih Tasya dengan suara seraknya yang takut terjadi sesuatu pada Putri karena berani memanggil Bram.
Bersambung