
Saat Risya hendak pergi Arga memegang tangannya dan membuat Risya kembali melihat Arga.
"Istirahat lah," ucap Arga.
"Aku akan istirahat setelah pekerjaan yang aku kerjakan selesai," ucap Risya.
"Kamu sudah banyak bekerja, matamu terlihat mengantuk. Kamu sebaiknya istirahat. Kamu juga nanti akan sakit dan aku tidak mau itu terjadi," ucap Arga dengan suara seraknya yang menatap Risya.
Risya masih diam dan juga bengong membuat Arga langsung menarik Risya dengan lemah lembut dan membawa Risya untuk mendarat di dada bidangnya dengan Arga yang mengelus kepala Arga.
"Kamu harus tidur," ucap Arga dengan lembut.
"Sudah tidak marah padaku?" tanya Risya melihat Arga dengan wajah mereka yang berdekatan.
"Aku mana bisa marah dengan wanita yang sudah merawatku," ucap Arga dengan tulus membuat Risya memeluk Arga.
"Maafkan aku, aku terlalu egois dan membuatmu kesal. Aku benar-benar minta maaf yang tidak menghargai perasaan mu dan menganggap semua hanya main-main saja," ucap Risya mengakui kesalahannya membuat Arga tersenyum.
Risya melonggarkan pelukannya dan melihat ke arah Arga dengan mata mereka yang saling bertemunya, wajah berdekatan. Lama saling menatap membuat Risya mengecup bibir Arga.
"Jika ingin melakukannya aku siap dan tidak akan protes lagi," ucap Risya dengan tersenyum pada suaminya itu. Mendengarnya Arga mendengus dengan senyuman.
"Sengaja mengatakan itu. Karena aku tidak mungkin melakukannya?" ucap Arga menaikkan 1 alisnya.
"Kenapa tidak mungkin melakukannya?" tanya Risya.
"Keadaan ku tidak baik dan yang adanya aku tidak akan bertenaga," jawab Sean.
"Masa sih. Bukannya itu adalah sebagai obat untuk penyembuh nya," ucap Risya.
"Apa itu bisa menyembuhkan?" tanya Arga.
"Mau coba?" tanya Risya mengedipkan matanya membuat Arga hanya berdecak dengan menarik hidung Risya.
"Dasar jahil, nanti aja merengek minta berhenti," ucap Arga gemes dengan Risya.
"Ya namanya juga...."
"Sudah jangan banyak alasan ayo kita tidur," ucap Arga.
"Yakin tidak mau," sahut Risya yang menantang Arga.
Arga geleng-geleng dengan memeluk erat Risya, "itu pasti akan aku lakukan dan pasti untuk kenyamanan kamu. Kemarin kamu sungguh membuatku kesal dan aku pastikan aku tidak akan mengampunimu jika aku mendapat kesempatan," ucap Arga.
"Aku akan menunggunya," sahut Risya yang dengan entengnya menantang Arga. Nanti sudah di tengah jalan baru bertingkah. Risya memang kerjanya ada-ada saja. Tapi dia lega karena Arga sudah tidak marah kepadanya dan hubungan mereka tampaknya baik-baik saja. Ya harusnya memang hubungan mereka harus membaik.
********
Mentari pagi kembali tiba. Arga yang sudah bangun terlebih dahulu dengan Risya yang masih berada di dekatnya yang berbantalkan lengannya. Arga hanya terus melihat wajah Risya sembari tangannya mengelus-elus lembut pipi Risya dan sekali-kali mencium pucuk kepala Risya.
"Risya bangunlah!" ucap Arga dengan berbisik di telinga Risya. Risya hanya bergeser yang seolah mendengarnya. Namun matanya tidak terbuka sama sekali. Mungkin Risya masih sangat mengantuk.
Arga tersenyum dan mengecup bibir Risya dengan lembut.
"Kamu mau apa Arga jangan cium -cium aku," rengek Risya yang mengusap bibirnya dengan punggung tangannya. Arga hanya tersenyum melihat tingkah Risya. Namun bukannya menjauh dari Risya. Arga malah semakin mendekatkan wajah Risya padanya dengan Arga mencium kembali bibir Risya dan kali ini membuat Risya membuka matanya.
Mata Risya langsung melihat wajah tampan Arga yang sudah terlihat sangat ceria dan tidak seperti sakit lagi.
"Pagi," jawab Risya dengan suara seraknya, "kamu sudah baikan?" tanya Risya. Arga menganggukkan kepalanya dan mencium lembut kening Risya.
Punggung tangan Risya memegang kening Arga dan memang panas di tubuh suaminya tidak seperti awal dan sudah banyak perubahan.
"Kamu baik-baik aja?" tanya Risya lagi.
"Aku baik-baik saja. Seperti yang kamu ketahui aku sudah tidak apa-apa," jawab Arga.
"Aku akan buatkan sarapan. Agar kamu semakin sembuh," ucap Risya yang duduk dan hendak pergi. Namun Arga menarik pinggangnya dengan cepat dan membuat Risya kembali berbaring di atas ranjang dan Arga langsung menindihnya dengan jarak wajah mereka berdua yang sangat berselara.
"Bagaimana jika aku ingin sarapan hanya dirimu," ucap Arga dengan suara seraknya yang mengelus-elus pipi Risya.
"Maksudnya apa?" tanya Risya.
"Aku harus sembuh sempurna bukan dan kamu bukannya orang yang paling bisa menyembuhkan ku," ucap Arga.
"Pagi begini?" tanya Risya yang tau maksud Arga. Karena tadi malam mereka juga sudah membahas hal itu dan justru Risya yang memancing Arga.
"Memang ada bedanya pagi atau malam?" tanya Arga.
Risya menggelengkan kepalanya dengan ke-2 tangannya yang memegang ke-2 bahu Arga.
"Lalu bagaimana apa aku boleh melanjutkannya?" tanya Arga yang harus meminta izin pada Risya.
Dan Risya mengangguk dengan pelan yang salah tingkah sebenarnya. Apa lagi wajahnya sampai memerah seperti itu.
"Apa akan berhenti di tengah jalan?" tanya Arga.
"Tapi pelan-pelan ya. Jangan sampai itu menyakitkan untukku dan aku takut kamu yang adanya marah lagi nanti," ucap Risya yang wanti-wanti mulai sekarang.
Arga tersenyum dan langsung mencium kening Risya. Risya memejamkan matanya saat kecupan-kecupan hangat mulai di terimanya di wajahnya. Sampai merasakan kecupan itu berpindah pada bibirnya dan Risya sengaja membuka mulutnya untuk memberi Arga tempat untuk semakin memperdalam ciumannya.
Ciuman itu semakin panas dengan keduanya yang sama-sama saling menikmati sama-sama saling membalas dengan penuh keromantisan. Tangan Risya yang memegang kuat bahu Arga yang merasakan kenikmatan di pagi hari ini.
Seperti biasa tangan Arga tidak akan tinggal diam yang mulai meraba-raba titik-titik di mana letak untuk melepas pakaian yang menempel di tubuh Risya.
Risya hanya memejamkan matanya saat menerima, ciuman panas di bibirnya maupun lehernya yang pasti banyak karya Arga di sana.
Entah kapan Arga melepasnya pakaian Risya dan pakaiannya. Keduanya sudah polos tanpa busana yang hanya tertutupi dengan selimut dan terdengar suara-suara indah kenikmatan dari mulut Risya saat tubuhnya benar-benar di kuasai Arga.
Lama dalam pemanasan yang membuat gairah ke-2nya semakin memuncak membuat Arga sudah tidak bisa mengendalikan dirinya. Arga menatap Risya dengan dalam dengan napas keduanya yang saling naik turun dan dari mata keduanya seolah ada perkataan minta izin dan persetujuan.
Risya mengangguk yang seolah siap dengan deru napasnya yang naik turun. Sampai tiba-tiba raut wajahnya berubah dengan menahan rasa sakit dan air matanya yang menetes. Kedua tangannya meremas seprai yang seolah kesakitan yang tidak bisa di ucapkannya.
Arga yang tidak tega dengan Risya mencoba menenangkan Risya dengan memberi ciuman untuk mengalihkan rasa sakit Risya. Tangan mereka berdua saling bertautan untuk memberi ketenganan pada Risya.
Ini yang pertama kali bagi Risya dan ini juga membuatnya takut dan sakit yang di takutkannya memang terjadi. Namun Arga berusaha membuatnya nyaman dengan penyatuan yang justru sangat di nikmati.
Rasa sakit yang hilang berubah menjadi kenikmatan dan terdengar suara indah dari mulut Risya yang membuat Arga semakin semangat yang akhirnya memiliki Risya seutuhnya dan suatu kebanggaan baginya. Karena dia orang pertama yang menyentuh Risya.
Risya memang tidak bohong. Jika dia masih ORI dan semua itu hanya untuk Arga. Tidak dulu dan maupun sekarang cintanya pada Arga masih sama.
Bersambung