
Akhirnya Risya kembali pulang kerumah. Arga tidak tega juga harus menekan atau memaksa Risya untuk berada di sisi Hariyanto.
"Arga kamu bawa Risya istirahat ya," ucap Salmah.
"Iya mah," jawab Arga.
"Ayo sayang kita istirahat!" ajak Arga. Risya menganggukkan kepalanya, menurut apa kata suaminya dan merangkul Risya membawanya ke dalam kamar.
"Papa tidak menyangka kejadian hari ini membuatnya seperti ini," ucap Dehway dengan wajah senduhnya.
"Kita doakan yang terbaik ya pah untuk Risya. Semoga saja Risya baik-baik aja dan masalah ini cepat selesai," ucap Salmah.
"Iya mah. Kita terus dampingi Risya dengan baik. Dia selalu merasa orang-orang menertawakannya. Karena ke adaannya. Tetapi Risya tidak sadar jika banyak orang yang mencintainya," ucap Dehway.
"Papa benar," sahut Salmah.
"Ya sudah sekarang kita juga istirahat," sahut Dehway.
"Papa duluan aja ya. Mama mau keluar sebentar ada urusan," ucap Salmah dengan tiba-tiba.
Dehway menyerngitkan dahinya, "mau ke mana mama?" tanya Dehway bingung.
"Ada urusan sebentar pah. Papa duluan aja istirahat," jawab Salmah.
"Tidak mau di temani?" Dehway menawarkan.
"Nggak usah pah," tolak Salmah.
"Ya sudah mama pergi ya," Salmah pamit dengan mencium punggung tangan suaminya.
"Hati-hati mah," ucap Dehway.
"Iya pah," sahut Salmah yang langsung pergi. Entah mau kemana dia yang sudah malam tetapi masih pergi. Namun Dehway biasa saja dan tidak perlu berpikir apa-apa. Karena itu juga tidak penting sebenarnya.
*********
Di kamar Arga membantu Risya untuk beristirahat dengan Arga yang menyelimuti sang istri. Lalu setelah itu Arga duduk di samping Risya dengan memegang ke-2 tangan Risya dengan menatap nanar istrinya itu.
"Sudah merasa lebih baik?" tanya Arga. Risya menganggukkan kepalanya. Matanya sudah sembab yang terus menangis. Arga tersenyum tipis dan mengelus perut Risya.
"Ada anak kita di dalam sana. Dia akan merasa sedih jika ibunya terus menangis," ucap Arga.
"Maaf!" lirih Risya yang air matanya kembali jatuh.
Tangan Arga langsung begitu cepat mengusap lembut air mata itu.
"Jangan meminta maaf. Hanya cukup menghentikan semua ini. Jika pikiran kamu tidak tenang. Hati kamu tidak tenang dan terus menangis. Kamu bisa sakit. Kamu dan anak kita bisa lemah," ucap Arga mengingatkan Adara.
"Maafkan aku! Seharusnya aku tidak melakukan hal itu seharusnya aku tidak mengorbankan banyak orang. Aku hanya takut," ucap Risya.
"Apa yang kamu takutkan?" tanya Arga.
"Mereka tadi ada di rumah sakit. Pasti mereka akan membawa papa pergi dan apa akan memilih wanita itu bersama anaknya," jawab Risya dengan wajahnya ketakutan.
Arga memejamka mata mendengarnya. Pemikiran istrinya semakin jauh. Risya bisa benar-benar gila. Jika terus seperti.
"Sayang kenapa kamu bisa berpikiran seperti itu. Kamu sebelumnya tidak ingin bertemu papa. Membencinya dan ingin dia pergi dari hidup kamu. Lalu kenapa kamu sekarang takut kalau papa akan pergi," ucap Arga.
Bahkan isi kepala Risya di penuhi dengan Hariyanto yang tertawa-tawa bersama Tasya dan bermain bersama Putri. Tingkat kejiwan Risya sudah tidak tau sampai mana.
Arga melihat istrinya dengan pemikiran kosong seperti itu menghela napasnya dan langsung memeluk Risya dengan begitu erat.
"Ya Allah memang seharusnya Risya tidak pernah tau semua ini. Aku gagal menjaganya. Dia bukan Risya yang aku kenal lagi. Dia menjadi orang lain dengan pemikirannya yang tidak tentu. Aku mohon ya Allah kembalikan istriku. Dia sedang hamil. Jangan biarkan ini berlarut-larut," batin Arga meneteskan air matanya yang tidak tega melihat kondisi Risya semakin lama semakin buruk.
Bagaimana tidak di rumah sakit tadi sudah bisa di lihat Arhan. Anak kecil pun di lawan Risya. Berteriak dan mengeluarkan kata-kata yang tidak sepantasnya dan sekarang Risya ketakutan jika Hariyanto memilih Tasya dan Putri dan meninggalkan dia dan ibunya.
Mungkin Risya sangat hancur. Hatinya yang berantakan. Tetapi Arga lebih hancur dengan hatinya yang jauh lebih berantakan. Seharusnya mereka sekarang bahagia dengan kehamilan istrinya. Ternyata tidak mereka tidak bahagia karena masalah yang di hadapi Risya dan ini yang terjadi Risya benar-benar hancur di depannya.
*******
Kepergian Salmah ternyata untuk hal yang sangat serius. Bagaimana tidak serius Salma yang ternyata pergi ke salah satu Restaurant dan Salmah yang bertemu dengan Tasya.
2 wanita itu yang duduk saling berhadapan dengan pembatas meja bulat yang berada di tengah. Ada 2 cangkir kopi pesanan masing-masing dari mereka.
"Kenapa Tante menemuiku?" tanya Tasya.
"Apa sebenarnya mau kamu Tasya?" Salmah bertanya balik dengan suara dinginnya.
"Apa maksud Tante saya tidak mengerti," jawan Tasya.
"Arga sudah melakukan banyak hal. Dia tidak pernah memohon apalagi bersujud di depan seorang wanita. Bahkan kepada istrinya tidak pernah dan dia melakukan yang tidak pantas itu di depan kamu dan semua itu untuk istrinya. Lalu kenapa kamu menghiyanati janji kamu. Kamu mengingkari dan mengacaukan semuanya," ucap Salmah menatap Tasya dengan serius.
"Semua orang melakukan semuanya demi Risya. Kenapa? Apa orang seperti Risya tidak boleh mendapatkan masalah 1 aja dan apa ini adil!"
"Cukup Tasya!"
"Kamu terus mengatakan adik. Jika semua orang melakukan semuanya demi Risya. Itu karena dia punya value dan pantas untuk di lindungi. Jika semua orang peduli dan sayang kepadanya. Apa kamu harus bertindak untuk menghancurkan hidupnya!" tegas Salmah.
"Tasya semua yang terjadi bukan kesalahan Risya. Sama seperti Putri dia tidak tau apa-apa. Jika kamu sudah melakukan kesalahan. Seharusnya kamu stop di tempat kamu. Mas Hariyanto sudah bertobat dan menjaga nama keluarganya dan juga perasaan anaknya dan kamu muncul menghancurkan semua usaha mas Hariyanto dan mbak Tantri,"
"Tapi bukan hanya Risya anak mas Hariyanto. Putri juga dan aku ingin Putri juga di akui," sahut Tasya.
"Kalau begitu katakan kepada Putri apa yang sebenarnya terjadi. Kamu jelaskan kepadanya bagaimana dia bisa lahir. Kamu katakan kepadanya. Jika kamu menggoda suami orang, berjina dengan suami orang dan hasilnya adalah Putri. Katakan kepadanya!" tantang Salmah membuat Tasya terdiam.
"Kamu tidak akan mengatakannya. Karena kamu juga tidak mau mendapatkan kebencian dari anak kamu. Jika tau wanita seperti apa yang melahirkannya. Iya kan Tasya," tebak Salmah.
"Kamu bukan meminta keadilan Tasya kepada mas Hariyanto. Tetapi kamu hanya iri kepada Risya. Iri melihat kebahagiaan Risya dan ingin menghancurkannya dengan cara kamu seperti ini. Kamu dan Risya sama-sama masih muda. Perbedaan usia kalian hanya 7 tahun. Masa muda kamu di habiskan dengan menggoda suami orang. Sementara Risya di habiskan bersama keluarganya, manjanya sejak dulu bersama ayahnya,"
"Risya menikah dan menjalani hidupnya dengan baik. Sementara kamu terpaksa menikah. Karena anak yang kamu kandung. Kamu bercerai karena perbuatan kamu sendiri. Sementara Risya mau seperti apapun dia berulah. Semua orang tetap peduli kepadanya dan menomor satukannya. Karena dia tidak melakukan perbuatan hina seperti yang kamu lakukan!" tegas Salmah.
"Kamu beralasan untuk ke adilan untuk Putri. Memang kamu pikir. Putri butuh pengakuan. Dia sudah mempunyai ayah menyayanginya. Kamu pikir jika dia juga tau akan menerima semua ini. Dan saya rasa kamu tau apa resikonya dan makanya kamu tidak mengatakan kepada putri dan menyerang Risya sebagai gantinya,"
"Bukan keadilan yang kamu inginkan Tasya. Tetapi kamu hanya iri kepada Risya!" tegas Salmah.
Tidak ada yang di katakan Tasya. Tasya hanya diam mendengar perkataan Salmah yang mungkin ada benarnya.
"Saya minta kepada kamu untuk tidak masuk lagi kedalam keluarga kami. Kamu sebaiknya menyelesaikan masalah kamu dengan mantan suami kamu," tegas Salmah yang langsung berdiri dari tempat duduknya.
"Semoga kamu paham dengan apa yang kamu katakan dan kamu jangan bertingkah lagi. Saya permisi terima kasih waktunya," ucap Salamah yang langsung pergi.
Bersambung.