
Arga sepertinya tidak rela jika harus mengeluarkan uangnya untuk membayar perhiasan yang baru di beli Risya. Apalagi melihat wajah Risya yang selow-selow seperti itu.
"Ayo buruan Arga di bayarin, kasihan itu pelayannya menunggu lama. Kamu ini ya hitung-hitungan aja," sahut Salmah dengan kesal.
"Ck, menyusahkanku saja," desis Arga yang mau tidak mau harus membayar perhiasan yang di beli Risya. Arga benar-benar bertambah kesal dengan Risya dan apalagi Risya tersenyum seolah dirinya merasa menang.
"Belum jadi istri aja sudah banyak tingkah. Dasar wanita sinting. lama-lama aku benar-benar akan bangkrut. Bukan hanya mama saja yang di porotinya, tetapi juga aku, dasar matre," batin Arga yang mengumpat terus.
"Emang enak di suruh bayar," batin Risya yang tidak peduli dengan Arga yang pasti sedang menceritainya dirinya.
"Sudah selesai ayo pulang!" ajak Arga yang sudah selesai melakukan pembayaran.
"Risya kamu kemana lagi. Apa ada yang kamu tuju lagi?" tanya Salmah.
"Udahlah Mah balik aja. Arga harus kekantor. Risya juga," sahut Arga dengan tegas.
"Biasa aja bicaranya, nggak usah ngegas," sahut Salmah.
"Tante Risya sudah selesai belanjanya dan sebaiknya kembali kekantor saja. Tante juga sebaiknya pulang aja. Pasti Tante juga sangat lelah," ucap Risya dengan tersenyum.
"Ya sudah kalau begitu kita pulang aja," sahut Salmah. Risya menganggukkan kepalanya.
"Risya!" tiba-tiba Vio menegur mereka. Vio datang bersama dengan Samuel dan wajah Risya di pastikan langsung sinis.
"Kamu kok ada di sini Risya?" tanya Vio dengan ketus.
"Apa aku harus mengabarimu. Jika aku ada di sini," jawab Risya dengan ketus.
"Kamu ini galak sekali ya Risya. Kok bisa sih kamu jalan sama keluarga mantan," ucap Vio yang mulai mencari masalah. Namun Risya mendengarnya hanya menyunggingkan senyumnya saja.
"Mantan maksud kamu apa ya," sahut Salmah yang bertanya.
"Oh maaf ya Tante jangan tersinggung dulu. Aku tidak bermaksud apa-apa kok Tante. Tante jangan marah yah, hanya saja sayang sekali jika Tante harus jalan bersama dia sangat membuang waktu tidak," ucap Vio.
"Tidak membuang waktu sama sekali," sahut Salmah.
"Sudahlah Tante sebaiknya kita pergi aja dari sini," sahut Risya yang malas berdebat dengan Vio.
"Kamu kenapa buru-buru sekali Risya. Dan kamu sedang membeli perhiasan di sini?" tanya Vio yang melihat kantung yang di pegang Risya yang pasti kotak paper bag dari perhiasan tersebut.
"Oh iya Vio kami memang sedang membeli perhiasan untuk cincin pernikahan Risya," sahut Salamah yang membuat Vio kaget.
"Risya mau menikah," sahut Samuel yang lebih kaget lagi.
"Kamu kenapa juga harus kaget seperti itu," desis Vio yang tidak suka. Namun Arga hanya mendengus kasar saja melihat ekspresi Arga.
"Iya benar sekali Risya akan menikah," sahut Salmah yang harus sombong. Karena dia memang ingin membela Risya.
"Dengan siapa dia menikah. Mana mungkin dia menikah secepat itu," ucap Vio yang tidak yakin.
"Apah!" pekik mereka berdua dengan serentak yang begitu terkejut mendengar pernyataan Salmah jika Risya dan Arga yang akan menikah.
"Kalian berdua awas jantungan hanya karena mendengar orang lain menikah. Kalian benar-benar pasangan yang sangat serasi," sindir Risya dengan tersenyumlah sinis.
"Jadi Vio kamu jangan tanya banyak-banyak lagi ya. Soalnya tidak semua harus di beritahu pada kamu. Pada intinya Risya dan Arga akan menikah dan saya sedang mengajak calon menantu saja jalan-jalan, berbelanja, belanjaan kami sangat banyak di mobil dan juga membeli beberapa perhiasan. Ya saya sangat ingin memanjakan menantu saya," ucap Salmah yang sengaja membuat Vio kepanasan.
"Samuel pasti ibu kamu juga melakukan hal yang sama dengan Vio bukan," ucap Salmah dan Vio mendengarnya hanya mengepal tangannya yang butuh air untuk mendinginkan suhu tubuhnya yang kepanasan.
"Vio tidak sedekat itu dengan mama," jawab Samuel.
"Kamu tidak perlu berkoar-koar untuk memberitahunya," ucap Vio dengan kesal yang di permalukan suaminya sendiri dan Risya hanya tersenyum saja dengan menikmatinya.
"Yasudah sebaiknya kita kembali. Jangan buang waktu di sini," sahut Arga.
"Ya sudah kamu benar Arga. Kami duluan ya Vio," ucap Salmah tersenyum dan langsung pergi dan Risya saat melewati Vio melambaikan tangan dengan mengejek Vio.
"Tidak mungkin!" umpat Vio. " Kenapa bisa Risya balik lagi sama Arga dan mereka akan menikah dan tadi Risya di belanjai dan bahkan di belikan perhiasan," ucap Vio yang pasti iri dengan Risya.
"Vio sudahlah biarkan saja," sahut Samuel.
"Kamu juga apa-apaan sih. Ini juga gara-gara kamu," sahut Vio dengan kesal.
"Kamu kok malah menyalahkan ku," sahut Samuel.
"Ya kamu ngapain pake bilang-bilang segala lagi kalau aku dan mama kamu tidak dekat. Kamu ingin Risya mengejekku hah! Lihat Risya apa yang di lakukannya. Dia hidupnya sangat enak ibu mertuanya baru saja membelikannya perhiasan dan dia juga akan menikah," ucap Vio yang malah menyalahkan suaminya.
"Cukup Vio! Kamu jangan malah menyalahkan ku. Apa yang aku katakan memang benar. Jika kamu tidak dekat dengan mama dan kalau kamu mau dekat dengan mama dan mau seperti Risya yang manjakan mertuanya. Kamu harusnya berpikir bagaimana caranya mendapatkan hati mama dan bukan malah sibuk mengurus orang lain," ucap Samuel dengan tegas biacara.
"Apa yang kamu katakan. Kamu sedang mengguruiku iya. Kamu jangan merasa paling pintar," sahut Vio yang tidak terima dengan Samuel yang menceramahinya.
"Terserah kamu ya. Aku capek bicara sama kamu," ucap Samuel yang langsung pergi begitu saja dari pada harus bertengkar dengan Vio dan di pastikan Vio tidak akan mau mengalah.
"Samuel, Samuel!" teriak Vio yang melihat kepergian Arga dan bahkan tidak memperdulikannya sama sekali.
"Argggg, benar-benar sial, kenapa Risya selalu menang dari ku," umpat Vio dengan marah sendiri dengan kebahagiaan yang di dapatkan orang lain dan sementara dirinya tidak bahagia sama sekali.
Risya sendiri sudah masuk mobil bersama Salmah yang mereka berdua duduk di belakang dan Arga yang duduk di kursi pengemudi yang seperti supir.
"Kamu tidak apa-apa Risya?" tanya Salmah dengan membelai dengan lembut rambut Risya.
"Aku tidak apa-apa Tante. Makasih ya Tante udah baik banget sama Risya," ucap Risya.
"Sama-sama sayang," sahut Salmah. Arga yang melihat dari kaca spion pasti kesal yang anak siapa yang di perlakukan seperti anak siapa.
"Jalan!" ucap Risya dan Salmah yang tiba-tiba serentak yang membuat Arga kesal sembarangan memerintahkannya dan yang paling membuat Arga kesal Risya dan Salmah malah sama-sama tertawa karena tidak sengaja berbicara bersamaan.
Bersambung