
"Ya sudah Arga sebaiknya kau makan sendiri saja ya," ucap Risya yang tersenyum yang sangat berbangga hati yang telah menolak Arga. Namun saat Risya baru saja ingin melangkah tiba-tiba pintu ruangan Arga terbuka dan seseorang masuk begitu saja yang tak lain adalah Rachel membuat Risya kaget dengan kedatangan Rachel yang kemudian di susul dengan sekretaris Arga.
"Maaf tuan Arga, saya sudah melarangnya," ucap sekretaris tersebut.
"Arga ada yang ingin aku bicarakan padamu. Ini penting sekali," sahut Rachel dengan wajah paniknya.
Arga melihat wajah Risya yang kelihatan kesal dengan kedatangan Rachel.
"Biarkan dia masuk," sahut Arga dan Risya pasti kesal mendengarnya.
"Baik tuan," sahut sekretaris tersebut dan langsung pergi menutup pintu.
"Makasih Arga. Aku tidak mengganggumu kan?" tanya Rachel.
"Hmmm, aku tidak...."
"Kami harus makan siang," sahut Risya yang langsung memotong pembicaraan Arga. Mendengar Risya yang berbicara yang tiba-tiba ingin makan siang membuat Arga mendengus yang sepertinya Arga juga sengaja menguji kesabaran Risya.
"Jadi aku mengganggu kalian?" tanya Rachel.
"Pakai nanyak lagi. Ya iyalah. Kamu lain kali saja bertemu dengan Arga. Kalian itu bukannya sudah sama-sama menikah. Jadi jangan cari-cari kesempatan untuk bicara padanya. Ingat dia sudah punya istri," tegas Risya dengan galaknya yang menegaskan posisinya dan Arga sangat menikmati tontonan itu dengan tangannya yang di lipat di dadanya.
"Tetapi hanya sebentar saja," sahut Rachel
"Ini sudah waktunya makan siang. Jadi suami ku harus makan dan kamu juga sebagai istri harus mengurus suamimu. Sana pergi," ucap Risya dengan penuh penekanan yang sangat serius dalam bicara.
"Arga aku hanya ingin bicara sebentar padamu," ucap Rachel.
"Nih anak benar-benar budek ya," batin Risya yang kesal sendiri. Risya pun melangkah mendekati Arga dan membuat Arga heran dengan apa lagi yang di lakukan Risya.
Apa lagi jika tidak Risya yang berada di belakang Arga dan memeluk Arga yang tetap berada di kursi dan membuat Arga kaget dengan ulah Risya yang juga meraba-raba dada Arga yang sepertinya Risya sengaja memanas-manasi Rachel. Arga hanya berdecak kesal dengan kelakuan Risya yang sangat cepat berubah.
"Kau itu sungguh sangat mengganggu kami Rachel. Kami itu pengantin baru sangat tidak sopan kamu yang seenaknya masuk ruangan suami orang dan bahkan sangat lancang mengajaknya bicara," ucap Risya menegaskan.
"Jangan salah paham, aku hanya ingin meminta bantuan Arga," sahut Rachel.
"Enak saja kau meminta bantuan pada suamiku. Sana pergi. Sebelum aku memanggil satpam untuk mengusirmu," ketus Arga dengan galaknya.
Wajah Rachel seperti sangat mengharapkan Arga untuk mau bicara padanya. Namun Risya sepertinya sangat berusaha agar memihak kepadanya.
"Maaf Rachel. Aku harus makan siang bersama istriku," sahut Arga dan perkataan Arga membuat Risya lega dengan tersenyum yang mana Arga memihaknya. Namun Rachel pasti terlihat sangat kecewa dengan Arga yang menolaknya.
"Lain kali saja kita bicara," lanjut Arga
"Baiklah Arga, aku tidak akan memaksamu dan aku tidak bermaksud untuk mengganggu kalian berdua," sahut Rachel yang pasrah.
"Bohong tidak bermaksud," desis Risya pelan. Namun dapat dapat di dengar Arga sampai Arga mendengus kembali.
"Aku permisi! sekali lagi aku minta maaf," sahut Rachel yang mau tidak mau harus pergi. Risya menghela napasnya yang merasa lega dengan akhirnya Rachel yang pergi.
Risya pun melihat ulahnya yang masih nempel-nempel dengan Arga yang membuat Risya ilfill sendiri dan langsung melepasnya dengan cepat dan langsung pergi. Namun Arga menarik tangannya yang membuat Risya kaget dengan yang mana dia sudah jatuh pada pangkuan Arga yang wajah mereka saling berdekatan.
"Apa yang kau lakukan? tanya Risya panik dengan mencoba untuk berdiri. Namun Arga tetap menahannya dan semakin Risya berusaha untuk pergi wajah mereka yang adanya semakin dekat.
"Aku yang harusnya bertanya. Tadi itu sedang memainkan karakter yang mana. Karakter sebagai istri pura-pura. Atau sebagai pacar yang dulu tidak pernah berubah yang sangat posesif dan cemburuan," ucap Arga dengan suara seraknya yang menatap Risya dalam-dalam.
"Jika tidak cemburu. Lalu tadi apa Risya. Kau sadar dengan semua yang kau lakukan sangat berlebihan, kau juga memelukku dan bicara tajam pada Rachel. Apa kau sengaja ingin membuatnya panas. Karena kau takut jika aku akan sering bertemu dengan-nya," ucap Arga yang semakin mendekat wajahnya bicara pada Risya membuat Risya semakin panik dengan terus memundurkan kepalanya.
"Kau jangan kepedean Arga," sahut Risya yang masih membantah.
"Aku tidak kepedean. Tetapi aku melihat dirimu sangat berbeda hari ini. Apa jangan-jangan kau itu tersentuh. Karena tau aku masih menggunakan tanggal ulang tahunmu dalam hal yang berharga dalam hidupku?" tanya Arga dengan matanya tidak henti-hentinya menatap Risya.
Risya hanya diam yang pasti semakin dek-dekan dengan Risya menelan salivanya. Dia juga tidak mengerti kenapa dia seperti ini. Padahal dia masa bodo dengan Arga dan terserah Arga mau bersama Rachel atau tidak. Dia masa bodo. Karena pernikahan itu hanya untuk mengelakkan pertanyaan dari orang-orang yang terus mendesaknya dalam pernikahan.
Dalam diam Risya. Tiba Risya merasa ada benda kenyal di bibirnya. Ternyata yang benar saja Arga menciumnya yang membuat mata Risya melotot dengan kelakuan Arga di luar nalar dan tidak dapat di duga-duga Risya dengan kelancangan Arga.
Hanya sebentar saja ciuman itu dan Arga langsung melepasnya dan mendengus tersenyum miring melihat wajah schock Risya.
"Riasanya masih sama," ucap Arga mengedipkan matanya.
"Kurang ajar kau Arga!" umpat Risya yang langsung menyerang Arga dengan memukul Arga tanpa ampunan.
Arga harus mendapatkan amukan Risya dari ulahnya.
"Risya, kau itu apa-apaan, ampun!" Arga kewalahan sendiri dengan Risya yang benar-benar memukulnya tanpa henti. Bahkan ke-2nya sudah sama-sama berdiri dan Risya masih menyerang Arga bahkan melempar Arga dengan pulpen yang ada di atas meja dan untung Arga bisa mengelak.
"Risya stop!" sahut Arga dengan menyetopkan Risya dengan gerakan tangannya.
"Kau sembarangan kepadaku. Berani sekali kau menciumku!" geram Risya.
"Aku kebablasan," sahut Arga tanpa dosa mengatakannya.
"Kau bilang kebablasan," teriak Risya semakin emosi dan melempar Arga lagi dengan dokument.
"Risya stop, semua barang-barang ku bisa rusak karena mu," sahut Arga yang kewalahan menghadapi macan yang mengamuk.
"Bodo amat. Aku tidak hanya akan merusak semua barang-barang di ruanganmu ini. Aku juga akan merusak sekalian barangmu memotongnya sampai habis," teriak Risya membuat mata Arga melotot dengan kesulitan menelan salivanya yang pasti ngeri juga jika Risya melakukan hal itu.
"Kau belum mencicipinya sudah mau menghabisinya. Nanti kau yang rugi," sahut Arga dengan santai dan membuat Risya semakin kesal dan Risya mengambil bantal sofa dan langsung melempar pada Arga dan dengan cepat Arga mengelak.
Namun lemparan Risya harus mengenai wajah Dehway yang tiba-tiba masuk keruangan itu dan membuat Risya dan Arga kaget sampai Risya menutup mulutnya dengan ke-2 tangannya.
"Papah!" pekik Risya dengan wajah kejutnya.
"Wah, Syukurin di omeli nih habis ini," ucap Arga pelan yang sangat bahagia dengan Risya melempar sang ayah yang sudah memegang bantal itu dan melihat ruangan Arga berantakan. Dehway yang sepertinya sudah biasa geleng-geleng dengan kelakuan Risya dan Arga.
"Papa maafkan Risya," Risya langsung menghampiri Dehway dan cepat-cepat minta maaf sebelum di marahi.
"Risya Arga apa yang terjadi. Kalian berdua ini sudah menikah dan apa-apaan ini. Suara kalian itu sampai terdengar keluar. Apa kalian berdua tidak malu," ucap Dehway geleng-geleng.
"Dia duluan pah, dia menciumku dengan tiba-tiba," ucap Risya yang langsung mengadu pada mertuanya. Bahkan suaranya begitu manja.
"Eh Risya. Apa harus kau mengatakannya," sahut Arga.
"Kenapa. Kau memang duluan. Kau itu berani menciumku. Papa, Arga sangat jahat padaku," Risya memeluk Dehway dan mengadu dengan manjanya pada Dehway. Arga berkacak pinggang dengan napas kasarnya yang pasti dia lagi yang akan di salahkan setelah ini. Karena Risya sangat pintar mencari muka dan lebih parahnya orang tuanya akan percaya begitu saja. Nasib Arga memang selalu ternistakan.
Bersambung