
Setelah selesai makan malam bersama dan berbincang-bincang. Akhirnya Rafa dan keluarganya pun pulang dengan di antar Risya dan orang tuanya sampai mobil mereka yang terparkir di depan rumah.
"Ya ampun maaf ya mbak. Kalau saya hanya membawa kue saja untuk pertemuan kita," ucap Salmah yang merasa tidak enak.
"Mama sih Arga kan sudah mengatakan sebelumnya di mobil. Mama malah tetap membawa kue seharusnya membawa hal yang jauh lebih berharga jangan buah aja," sahut Arga.
"Ya namanya mama juga tidak tau siapa calon istri kamu kan tidak mengatakan apa-apa hanya membuat mama dan papa penasaran saja. Ya mama juga tidak mempersiapkan apa-apa. Lagian takut juga kamu bohongin mama dan papa," sahut Salmah.
"Jangan di perdebatkan mbak masalah buah tangan. Tidak apa-apa seadanya saja. Lagian kita juga sering bertemu. Jadi masalah kecil itu tidak perlu di besar-besarkan," ucap Tantri.
"Iya Tante nggak apa-apa kok Tante," sahut Risya.
"Risya Tante akan tetap membelikan hadiah untuk kamu. Besok jam makan siang kita ke Mall ya," ucap Salmah.
"Untuk apa Tante?" tanya Risya.
"Untuk membelikan kamu hadiah dan kita juga ke toko perhiasan untuk membeli cincin pernikahan kalian," ucap Salmah.
"Ya ampun mah, nggak usah pakai cincin segala," sahut Arga.
"Benar Tante, Risya juga tidak suka makai cincin," sahut Risya yang setuju.
"Kalian ini apa-apaan sih. Bukannya kalian akan menikah. Jadi kalau tidak pakai cincin ya itu sama aja," sahut Dehway.
"Kalian ini seperti menganggap pernikahan main-main saja," sahut Hariyanto. Arga dan Risya langsung panik mendengarnya.
"Hmmm bukan begitu pah, maksudnya Arga dan Risya mau cari cincin berdua aja," sahut Arga sebelum orang-orang berspekulasi buruk pada mereka berdua.
"Iya benar om, Tante, mah, pah, karenakan kita yang tau selera kita bagaimana," sahut Risya yang harus membantu Arga.
"Pokoknya mama harus ambil andil untuk pemilihan cincin. Ya sudah kalau kalian berdua mau memilih cincin bersama. Tidak apa-apa mama akan ikut yang artinya. Arga kamu akan ikut besok jam makan siang," tegas Tantri.
"Oh tidak masalah, aku tidak sibuk kok," sahut Arga dengan santai.
"Bagus kalau begitu," sahut Salmah.
"Issss apa-apain pakai cincin segala, buang-buang waktu aja," batin Risya yang dengan kesal.
"Huhhhh hanya membuang uang dan tenaga dengan berhubungan dengan cincin. Ini juga pernikahan hanya sementara untuk apa juga ada cincin segala," batin Arga.
"Ya sudah kalau begitu mbak. Kami pamit ya. Ini juga sudah malam," ucap Salamah.
"Iya mbak hati-hati ya," sahut Tantri yang berpelukan dengan Salmah dan sekalian keluarga salmah juga berpamitan dan masuk kedalam mobil.
Sebelum mobil itu melaju terdengar suara klakson dan di balas dengan lambaian tangan keluarga Risya dan keluarga Arga langsung pergi.
"Huhhhhh akhirnya rencana hari ini berjalan dengan lancar. Huhhhh untung saja mama dan papa juga rudaj mikir apa-apa," batin Risya yang merasa lega dengan rencana dia dan Arga.
********
Akhirnya hari ini Risya, Arga yang di pantau Salmah pergi kesalah satu Mall yang terbesar di Jakarta untuk membeli hadiah untuk Risya dan Risya adalah orang yang tidak tau diri kalau sudah gratis pasti mau suka-sukanya yang berbelanja sejak tadi.
Jangan tanya Arga seperti apa. Seperti apa lagi kalau bukan begitu kesal dengan Risya dan mamanya. Dia hanya mengekor sejak tadi, menunggu gelisah, dengan dua orang itu yang sibuk berbelanja dan yang paling parahnya Arga yang harus membawa belanjaan mereka dan bagaimana Arga tidak kesal dengan Risya dan mamanya.
"Tante Risya mau sepatu yang ini boleh tidak?" tanya Risya menunjuk sepatu yang di inginkannya dengan suaranya yang manja.
"Pasti boleh dong Risya. Apapun yang kamu mau silahkan kamu ambil," ucap Salmah.
"Makasih Tante," sahut Risya yang tersenyum lebar.
"Nih wanita nggak tau diri ya. Uang mama benar-benar habis di poroti. Benar-benar menggunakan kesempatan dalam kesempitan. Nih anak benar-benar nggak tau diri," umpat Arga di dalam hatinya yang kesal sendiri dengan Risya yang super super banyak tingkah dan Risya bahkan tersenyum pada Arga yang seolah mengejek Arga.
"Arga kamu tidak mau pilih-pilih sepatu?" tanya Salmah.
"Memang ada sepatu cowok di sini," jawab Arga dengan ketus.
"Oh iya mama lupa," sahut Salamah tersenyum.
"Tidak apa-apakan Arga kamu menemani kita belanja. Kamu tidak sibuk kan?" tanya Risya.
"Tidak Risya lanjutkan saja belanjanya. Lagian perusahaaan punya nenek moyang kami. Jadi tidak masalah," sahut Arga dengan tersenyum palsu yang pasti menahan kekesalannya pada Risya.
"Terserah kamu Risya," sahut Arga dengan kesal yang membuat Risya hanya tersenyum saja dan masa bodo dengan Arga yang penting dia berbelanja dengan banyak.
***********
Setelah selesai dari Mall mereka langsung menuju toko perhiasan untuk mereka membeli cincin pernikahan. Tetapi tidak seperti saat berbelanja tadi Risya tampak sangat happy. Ini malah tidak sama sekali dan bahkan tidak ada senang-senangnya sama sekali.
"Risya kamu mau cincin yang seperti apa?" tanya Salmah.
"Terserah Tante aja," sahut Risya dengan masa bodo.
"Kok terserah Tante yang menikahkan kamu dengan Arga. Jadi kamu harus pilih yang mana yang tepat," sahut Salmah heran.
"Pilihan Tantekan sangat bagus. Jadi Tante aja yang memelihnya," sahut Risya dengan tersenyum.
"Arga Risya pasti bingung dengan cincinnya yang akan di gunakannya. Kamu bantu pilih dong," sahut Salmah
"Kenapa harus aku sih," cicit Arga pelan.
"Buruan Arga!" ucap Salmah.
"Iya-iya mah," sahut Arga dengan raut wajah yang terpaksa.
"Ini aja," sahut Arga yang asal pilih yang penting cepat saja.
"Kok nggak cantik sih," sahut Risya.
"Banyak protes makanya pilih sendiri," sahut Arga kesal dengan suara menekan.
"Kamu yah," sahut Risya kesal.
"Kalian kenapa jadi bertengkar sih," sahut Salmah dengan geleng-geleng yang kembali kumat dengan anaknya dan calon menantunya yang bertengkar di depannya.
Arga menghela napasnya dan kembali melihat-lihat cincin dia harus benar-benar jaga images jangan sampai dia dan Risya gagal menikah dan nanti ujung-ujungnya dia dan Risya tidak jadi menikah dan dia tidak akan mau hal itu terjadi.
"Yang ini bagus," ucap Arga yang akhirnya memilih satu dan menurutnya itu sudah yang paling bagus.
"Mbak tolong ambilkan," ucap Salmah pada pelayan dan pelayan itu langsung menganggu dan mengambilkan apa yang di minta mereka.
"Silahkan di lihat nyonya," ucap pelayan itu dengan ramah.
"Makasih mbak," sahut Salmah, "Risya bagaimana apa kamu suka?" tanya Salmah pada calon menantunya itu yang memperlihatkan cincin yang memakai permata yang sangat indah itu.
"Cantik!" Sahut Risya. Tidak tau Risya mau cepat saja atau mau bagaimana makanya mengatakan asal-asalan dengan kata cantik.
"Jadi kamu sangat menyukainya?" tanya Salmah.
"Iya Tante, yang ini saja, menurut Risya ini sudah sangat baik dan lagian ini juga adalah pemberian dari Arga," ucap Risya yang mulai bersandiwara.
"Ya sudah kita bungkus ini saja," sahut Arga yang sudah ingin-ingin cepat pulang dan Arga juga langsung memanggil pelayan untuk membungkus apa yang mereka beli.
"Kamu happy hari ini?" tanya Salmah.
"Pasti dong Tante, makasih ya Tante ," sahut Risya.
"Sama-sama sayang," sahut Salmah mengelus rambut Risya yang begitu sayang pada Risya.
"Dia enak tinggal bilang happy. Lalu aku apa. Aku yang harus menanggung semuanya. Aku yang lelah mengikuti mereka dari tadi belanja nggak ada siap-siapnya," batin Arga yang lagi-lagi hanya bisa mengumpat dengan penuh kemarahan saja tanpa bisa protes pada mamanya.
"Maaf nyonya bisa langsung lakukan pembayaran," ucap pelayan tersebut.
"Oh baiklah. Arga kamu yang bayar," sahut Salmah.
"Kok Arga sih mah," sahut Arga yang kelihatannya tidak setuju.
"Lalu mau siapa lagi. Masa iya mama lagi. Kamu dari tadi hanya ikut tanpa mengeluarkan uang sepeserpun. Jadi kamu dong yang bayar," ucap dengan tegas.
Namun Risya hanya santai saja di tengah Perdebatan ibu dan anak yang melakukan pembayaran itu. Ya masa bodo bagi dia dan sama sekali dia tidak peduli.
Bersambung