
Risya dan Arga yang sedang jalan-jalan sore di taman. Setelah pulang kerja mereka memutuskan untuk pulang cepat dan bisa jalan-jalan sore sesuai dengan permintaan Risya.
Mereka berjalan sembari menikmati eskrim coklat kesukaan Risya. Dengan tangan yang saling menggenggam erat seperti pasangan yang tidak mau lepas.
"Kamu mau!" tawar Risya yang langsung menyodorkan kemulut Arga dan Arga langsung menjilat eskrim tersebut.
"Sangat nikmat," ucap Arga membuat Risya tersenyum dan Arga bahkan mendapatkan ciuman di pipinya. Membuat Arga tersenyum.
"Kamu tumben sekali mau jalan-jalan sore?" tanya Arga.
"Lagi pengen aja. Seperti mereka pacaran dan romantis-romantisan," jawab Risya menunjuk-nunjuk pasangan yang pacaran.
"Mereka masih pacaran. Tetapi mereka sudah menikah," ucap Arga.
"Dan menikah jauh lebih baik. Karena tidak ada batasnya," ucap Risya.
"Ya kamu benar," sahut Arga.
Tiba-tiba Risya melihat penjual rujak lagi dengan melihat dari kejauhan membuat Risya lagi-lagi ingin makannya.
"Sayang boleh tidak aku minta mangga?" tanya Risya menunjuk penjual buah tersebut.
"Kalau ada maunya panggilnya sayang, panggilannya bubu. Kenapa tidak konsisten dalam panggilan itu," ucap Arga.
"Biar bervariasi," sahut Risya dengan santainya.
"Okelah, itu terserah kamu karena yang manggil juga kamu," sahut Arga.
"Jadi bagaimana aku boleh makan Mangga?" tanya Risya.
"Boleh," sahut Arga yang pasti tidak masalah membuat Risya tersenyum dan mereka langsung menuju penjual mangga tersebut untuk membelikan istrinya apa yang ingin di makan istrinya.
Mereka berdua sudah berada di tempat penjual mangga dan juga ada pembeli di sana yang menunggu penjual yang sedang memotong buah tersebut.
"Pak 1 porsi ya," ucap Arga.
"Buah apa aja mas?" tanya penjual tersebut.
"Mangga aja pak," sahut Risya yang menjawab.
"Tapi yang muda ya pak," ucap Risya lagi dengan request yang banyak.
"Lagi hamil ya mbak," celetuk salah satu pembeli. Risya sampai kaget mendengar celetukan itu yang mengetahui Risya memang hamil.
"Doain aja ya Bu istri saja bisa cepat-cepat ngisi," sahut Arga yang tersenyum yang menganggap itu hanya celetukan biasa.
"Oh saya kita sudah hamil. Soalnya biasanya ibu-ibu hamil itu suka ngidam mangga," sahut ibu-ibu tersebut.
"Ya semoga saja. Kami segera di berikan kepercayaan. Semoga rahim istri saya di titipkan janin," sahut Arga yang mengelus-elus perut rata Risya yang membuat Risya tersenyum menatap begitu dalam suaminya itu.
"Kita semua pasti doakan. Lagian aura istrinya sudah seperti orang hamil dan pasti akan segera di berikan kepercayaan," sahut ibu-ibu itu. Arga hanya tersenyum saja melihat istrinya yang masih menatapnya.
"Arga kamu sadar tidak. Jika semakin lama kita menikah. Kamu itu semakin dewasa. Kamu sudah menunjukkan kesiapan kamu untuk menjadi seorang ayah," batin Risya yang sangat kagum pada suaminya itu.
"Ini mbak pesanannya," sahut penjual.
"Terima kasih mas," sahut Arga yang mengambilnya dan mereka pun pergi dari tempat itu dengan tangan yang masih tetap bergandengan.
Risya dan Arga duduk di salah satu bangku. Di mana Arga menemani Risya makan mangga dan sementara Arga yang memakan eskrim yang sebelumnya di makan Risya. Dari pada di buang mending Arga yang melanjutkan untuk memakannya.
"Apa begitu enak?" tanya Arga yang sedari tadi wajahnya menunjukkan eksperesi asem. Risya yang makan dan dia yang merasa asem.
"Hmmmm, sangat enak. Kamu mau tidak," ucap Risya menyodorkan pada Arga dan Arga langsung menolak.
"Kamu aja yang makan," sahut Arga yang tidak mungkin memakan mangga tersebut.
"Bagus kalau begitu," sahut Risya yang sangat bersyukur Arga tidak mau. Jadi dia sendiri yang akan menghabiskannya.
"Kita mau kemana lagi setelah ini?" tanya Arga.
"Mau kemah," jawab Risya dengan cepat.
Arga mengekerutkan dahinya mendengarnya.
"Maksud kamu?" tanya Arga heran.
"Sayang besok Sabtu dan setelah itu hari Minggu. Hmmmm Angela mengajak untuk kita kamping dan aku bilang iya," ucap Risya.
"Risya aku tidak bilang apa-apa. Kenapa kamu langsung mengiyakan," sahut Arga yang tampaknya tidak suka.
"Soalnya aku juga pengen. Lagian Sabtu Minggu juga libur apa salahnya kita liburan juga kan tidak jauh juga," ucap Risya.
"Tapikan hanya sekali saja," sahut Risya mode merengek.
"Sabtu Minggu kita liburan. Kita ke puncak, di Villa. Nggak usah kemah-kemah seperti anak SD aja," sahut Arga.
"Nggak mau ke puncak dan menginap di Villa. Aku maunya kemah dan menginap di tenda," tegas Risya.
"Ya udah kamu aja yang pergi sana," sahut Arga ngegas.
"Ya udah aku pergi sama Angela dan Syarla. Kamu nggak usah ikut," sahut Risya kesal.
"Siapa juga yang mau ikut. Kemah-kemah kayak anak kecil, nggak ada kerjaan," sahut Arga nyolot.
"Kamu tuh ya nggak punya kerjaan, aneh, semua nggak mau, ini itu nggak mau," kesal Risya dengan wajahnya yang sudah cemberut.
"Nih, makan aku nggak mau lagi," Risya langsung memeberikan mangga tersebut ke tangan Arga karena moodnya yang buruk.
"Kamu yang beli kamu yang makan lah," sahut Arga yang mengembalikan ke tangan Risya.
"Aku nggak mau!" Risya mengembalikan pada Arga.
"Jadi menurut kamu aku mau," Arga mengembalikan lagi.
Suami istri itu adanya langsung bertengkar dengan mangga yang menjadi korban. Kalau bisa bicara mangga itu pasti sudah minta tolong karena di oper-oper.
"Kak beli bunganya!" tiba-tiba bocah Pria menghampiri Risya dan Arga yang menawarkan setangkai bunga mawar untuk mereka.
"Kak, ini bunganya wangi dan bisa membawa rezeki," ucap anak kecil tersebut yang menawarkan Risya dan Arga.
"Kamu bisa diam tidak," sentak Risya dan Arga serentak. Anak kecil tersebut sampai kaget dengan garuk-garuk kepala.
"Saya hanya menawarkan saja kak," sahut anak kecil tersebut.
"Nggak suka bunga," sahut Arga dengan kesal
"Aneh bunga aja ngga suka," sahut anak tersebut.
"Tuh dengar anak kecil aja tau kamu itu aneh. Semua nggak suka. Heran mama itu ngidam kamu itu apa," cicit Risya dengan kesal.
"Nggak usah bawa-bawa nama. Kamu itu yang paling aneh sudah besar juga masih mau main kemah-kemahan kayak anak kecil," sahut Arga yang tidak mau kalah.
"Kamu yang aneh!"
"Kamu yang aneh!"
"Kamu lah!"
"Kamu!"
"Kamu!"
"Kamu!"
"Jadi beli apa tidak?" tanya anak tersebut.
"Tidak!" sentak Arga dan Risya serentak.
"Ya dari tadi bilang. Dua-duanya aneh udah besar malah bertengkar," cicit anak tersebut.
"Kamu yang aneh!" ucap Risya dan Arga serentak. Anak tersebut jadi korban pasangan suami istri itu dan anak tersebut hanya mengelus dada saja.
"Semoga anak kalian tidak malu punya orang tua seperti kalian," ucap anak tersebut menghela napas dan langsung pergi.
Arga dan Risya masih tetap melanjutkan pertengkaran mereka. Maklum sudah lama tidak adu mulut.
*********
Risya dan Arga sudah pulang dari taman dan sekarang berada di dalam mobil yang diam-diam aja dengan Arga yang menyetir dan Risya di sebelahnya.
"Issss baru juga aku memujinya suami yang dewasa tapi apa. Tetap aja nggak pernah mau ngalah di ajak kemah aja banyak alasan," umpat Risya di dalam hatinya kesal dengan Arga.
"Memang paling pintar bersandiwara. Seharusnya aku sudah mengerti apa maksudnya mengajak ke taman dan sok manja-manjaan. Ini ternyata ada maunya," batin Arga yang juga tidak kalah kesalnya dengan Risya.
"Lihat aja aku tidak akan mau bicara padanya sampai kapanpun," batin Risya yang punya rencana untuk mogok bicara pada Arga.
"Lihatlah sekarang diam aja. Sampai dia tua dia akan tetap seperti ini kalau kemauannya tidak dituruti. Memang tidak pernah berubah," batin Arga yang frustasi dengan Risya.
Bersambung