
Vio memasuki kamar dan melihat Samuel yang duduk di pinggir ranjang.
"Kau membantu Risya?" tanya Samuel.
"Membantu apa maksudnya?" tanya Vio bingung.
"Hubungannya dengan Arga dan perselingkuhan yang dulu terjadi dan membuat Arga dan Risya putus," jawab Samuel.
"Bukannya kalian tidak berselingkuh?" sahut Vio menduduki meja rias yang membenahi riasannya.
"Kau kamu tidak berselingkuh dan kejadian malam itu hanya jebakan. Lalu kenapa kau juga seakan membenarkan hal itu dan mempersulit Risya untuk membuat Arga percaya," sahut Samuel.
"Kau juga saat itu sama dengan Risya yang seakan membenarkan hal itu. Kau juga diam tidak menjelaskan apa-apa dan malah pacaran dengan Risya," sahut Vio.
"Aku harus menerima tawaran Risya hanya untuk membantunya," sahut Samuel.
"Ya awalnya hanya tawaran Risya yang ingin kau menjadi pacarnya untuk membuat Arga semakin marah. Tapi pada kenyataannya kalian berdua semakin dekat dan kau juga jatuh cinta padanya dan hubungan kalian semakin lama dan Risya juga semakin nyaman dengan mu. Jadi kau sama Risya sama saja. Jadi sangat wajar aku saat itu membenci Risya dengan se benci-bencinya pada Risya karena ulah kalian berdua," ucap Vio yang masih memendam kemarahan itu.
"Lalu sekarang kenapa kau membantu Risya?" tanya Samuel.
"Aku kasihan aja kepadanya," sahut Vio dengan jawaban singkat, "lagian bukannya Arga juga menemuimu dan menanyakan masalah itu dan sebenarnya tanpa aku membantu Risya Arga juga sudah tau kebenarannya dari mu," sahut Vio.
"Lalu kalau begitu kenapa kau juga tidak sekali mengatakan kepada semua orang tentang apa yang terjadi di antara kita. Tentang kau menjebakku dan sekarang kita yang sudah menikah dengan anak yang kau kandung," ucap Samuel.
"Cukup ya Samuel. Aku tau tindakan ku waktu itu sangat kelewatan dan kembali lagi jika dengan tidak cara seperti itu aku tidak akan mendapatkanmu," sahut Vio dengan jujur dalam niatnya yang memang merebut Samuel dari Risya dan mereka menikah dengan jebakan yang di buat Vio.
"Dan kau sangat tidak terima dengan semua itu. Tapi kau juga sangat menikmatinya dan kau seharusnya sadar jika kau juga laki-laki egois yang mau sama Risya dan juga mau denganku. Dari pada kau mengungkit hal itu yang sangat tidak berguna. Lebih baik kau fokus dengan pernikahan kita dan Risya juga sudah menikah dengan Arga dan jangan saling mengusik," tegas Vio yang tumben-tumbenan nya sangat bijak bicara dan sepertinya Vio juga capek sendiri dengan iri dengki yang di milikinya terhadap sepupunya itu.
Samuel diam saja sepanjang Vio bicara. Mungkin memang dia menyukai Risya dan mungkin sampai detik ini dan masih berharap bisa bersama Risya. Makanya saat Risya menikah dengan Arga. Samuel cukup frustasi. Namun belakangan ini melihat Vio berubah sedikit demi sedikit membuat Samuel sebenarnya juga bingung harus bertindak yang seperti apa dan kamar di dalam ruangan itu terlihat hening tanpa ada pembicaraan lagi.
**********
Risya memasuki ruangan Arga dan kembali lagi sembarangan tanpa mengetuk pintu.
"Selamat pagi tuan Arga!" sapa Risya dengan tersenyum manis yang membuat Arga di mejanya gelang-gelang kepala dengan menandatangani berkas-berkas penting.
"Kau itu sudah sangat berumur. Kelakuan masih seperti anak-anak," cicit Arga yang memang kadang-kadang melihat Risya membuat kepalanya sakit. Memang aneh yang tumben-tumbenan nya menyapa Arga dengan seperti itu.
"Jangan bawel-bawel Pria yang juga sudah berumur. Nanti keriputan mu semakin banyak," sindir Risya yang menghampiri Arga dan berdiri di samping Arga.
"Sudah katakan apa tujuan mu kemari?" tanya Arga tanpa ingin basa-basi.
"Aku sudah menyiapkan semuanya untuk keberangkatan beberapa orang dari Perusahaan untuk kunjungan ke Parusahaan Jepang. Semua tempat, kendaraan dan semuanya dari yang kecil sampai yang terbesar sudah aku siapkan untuk 8 hari berada di sana," jelas Risya dengan Arga yang sembari membacanya.
"Tumben sekali kau cepat mengerjakannya. Biasanya harus di ingatkan dulu," sindir Arga.
"Manusia itu butuh perubahan dan belajar dari kesalahan. Aku juga harus meningkatkan pekerjaanku agar semakin pintar dan berguna bagi perusahaan dan tidak boleh malas-malasan," sahut Risya yang sok benar. Mendengarnya Arga hanya mengangguk-angguk saja ya dia mengiyakan saja semoga saja memang benar-benar itu niat ketulusan Risya.
Namun tiba-tiba dalam membaca dokumen itu dahi Arga mengkerutkan dan bahkan membuka matanya lebar memperdekat dengan tulisan yang ada di lembaran kertas itu.
"Siapa yang menyuruh namamu ikut masuk daftar?" tanya Arga yang melihat Risya salah satu karyawan yang akan pergi ke Jepang.
"Ya kan tidak ada masalah dong. Aku yang mengerjakan dokumennya sampai aku lembur loh, tanganku sakit, tidur ku kurang dan apa salahnya aku ikut bergabung. Aku juga belum pernah perjalanan bisnis ke Luar Negri ya sekali-kali harus ke Luar Negri dan jangan ke Luar kota aja," jawab Risya dengan keluhannya dan sekarang Arga baru mengerti ujung-ujungnya di balik perubahan Risya barusan.
Sangat lembut menyapa dirinya dengan senyuman manis dan berbicara begitu bijak sampai-sampai mengucapkan perubahan dan memperbaiki kesalahan ternyata ini ujungnya ada udang di balik bakwan.
"Kau pikir aku akan setuju," sahut Arga yang melihat ke arah Risya dengan alisnya yang terangkat.
"Arga apa yang salah. Apa salahnya aku ikut," sahut Risya.
"Tidak ada yang salah Risya. Dokumen yang kau kerjakan sangat bagus dan kau semakin menunjukkan peningkatan mu. Tetapi namamu tidak seharusnya kau tulis di sini. Karena kau tidak akan pergi. Ganti satu orang lagi!" tegas Arga.
"Arga..." rengek Risya, "Arga mana bisa seperti itu. Aku juga ingin liburan," ucap Risya dengan manjanya.
"Ha lihatlah, niatmu saja hanya liburan. Bukan bekerja," sahut Arga.
"Issss bukan begitu maksudku Arga. Maksudku yang pergi ke Jepang untuk kerja lah kan pasti ada liburan sedikit," sahut Risya yang pasti selalu punya alasan.
"Apapun itu kau tidak akan pergi," tegas Arga.
"Mana bisa seperti itu. Issss kau itu nggak asik aku yang mengerjakan semuanya dan aku tidak boleh pergi. Kau itu suami yang memang sangat suka menindas istrimu," ucap Risya kesal dengan bibirnya yang mengkerut.
"Lihatlah dirimu. Sekarang bawa-bawa suami. Tidak pernah Ikhlas dalam pekerjaannya ada ujung-ujungnya dan jangan harap kau akan pergi. Tidak akan pekerjaan mu banyak di Perusahaan ini," tegas Arga.
"Arga kau jahat sekali sih padaku. Kau juga sangat pelit dan sangat memuakkan. Kau juga ingin reflesing. Kau saja boleh pergi aku saja tidak," sahut Risya yang kesal dengan Arga yang bergerutu kesal pada Arga.
"Kau pimpinannya. Wajar aku pergi," tegas Arga.
"Aku tidak mengijinkanmu pergi. Aku istrimu. Awas ya kalau kau pergi," tegas Risya yang menggunakan statusnya untuk membuat Arga tidak pergi yang padahal Arga yang paling penting untuk pergi ke Jepang. Tidak ada dia ya bakalan aneh. Namanya juga Risya mau suka-sukanya.
Bersambung