MANTAN? TAPI NIKAH YUK!!!

MANTAN? TAPI NIKAH YUK!!!
Episode 109 Masih harus berjuang.


Risya dan Arga yang berada di dalam tenda kecil itu dengan mereka yang sama-sama telentang dengan menatap langit-langit tenda.


"Kenapa kamu belum tidur?" tanya Arga tanpa menoleh kearah Risya.


"Tidak bisa tidur," jawab Risya.


"Kenapa?" tanya Arga.


"Angin sangat kencang dan semua lilin sudah mati di luar dan hujan juga turun. Jadi tetap saja sangat tidak nyaman," jawab Risya.


Semua lilin sebagai penerang di luar tenda memang sudah padam dan hanya tenda kecil yang ada penerang sedikit.


"Tetapi di sini juga terang Risya," ucap Arga.


"Tidak terlalu terang dan aku tidak bisa tidur," ucap Risya yang masih takut.


Arga meraih tangan Risya dengan mengatupkan 5 jarinya ke 5 jari Risya dengan genggaman yang erat membawanya ke atas perut ratanya.


"Jangan takut bukannya aku akan selalu ada di sini," ucap Arga yang berusaha untuk terus meyakinkan Risya.


Risya menoleh kearah Arga dan membuat Arga juga melihat ke arah Risya dengan mereka yang saling menatap.


"Aku tidak akan meninggalkanmu," ucap Arga dengan lembut dengan suaranya yang serak dengan penuh godaan.


Mereka yang saling menetap seperti itu membuat jantung Risya berdebar sementara Arga matanya turun ke bibir Risya.


Dengan perlahan Arga mendekatkan bibir itu dan mengecupnya. Namun Risya langsung menghindar yang menolak ciuman itu membuat Arga melihat Risya.


Tidak ada yang di katakan Risya dan melepas tangannya dari Arga dan Risya langsung membalikkannya tubuhnya dengan miring memebelakangi Arga.


"Semuanya tidak mudah Arga," hanya itu yang di katakan Risya. Arga menghela napasnya dan memeluk Risya dari belakang.


"Aku tau, kamu tidak mudah memaafkanku. Namun aku juga tau kamu hanya berusaha menahan diri. Tidak apa-apa Risya aku akan menunggu maaf dari kamu," ucap Arga yang tetap memeluk Risya dan Risya tidak memberontak sama sekali.


"Izin kan aku Risya melakukan ini kepadamu, aku hanya ingin menenangkan mu, membuatmu tidur dan tidak ketakutan," ucap arga semakin mengeratkan pelukannya pada Risya.


"Jangan berpikir apa-apa. Aku tidak akan melakukan apa-apa kepadamu, aku janji Risya. Tidurlah ini sudah sangat larut. Aku akan menjadi penerang untukmu," ucap Arga.


Risya hanya diam dengan mendengar semua kata-kata Arga. Dan perlahan-lahan Risya memejamkan matanya yang akhirnya dia berusaha untuk tidur dan lagian ada Arga yang sangat tidak mungkin Arga meninggal Risya.


"Aku akan terus menjagamu dan akan membuatmu nyaman seperti apa yang kita katakan sebelumnya. Jika kita saling membutuhkan dan saling menginginkan," batin Arga.


Arga harus lebih banyak berjuang untuk meluluhkan hati Risya yang masih sangat keras. Karena penuh dengan kekecewaan.


***********


Mentari pagi kembali tiba. Sangat cerah di pagi hari dan Risya bersama Arga masih berada di dalam tenda yang tertidur sangat pulas yang sekarang posisinya sekarang sudah berbeda yang mana Risya yang sekarang berada di pelukan Arga dengan wajahnya yang mendarat di dada bidang Arga di bawah leher Arga.


Ke-2nya masih sama-sama tertidur pulas. Mungkin karena tidur mereka yang lama. Jadi mereka sampai sekarang masih tertidur.


Sampai beberapa detik. Risya yang bangun terlebih dahulu dengan matanya yang perlahan-lahan terbuka. Risya mengangkat wajahnya dan melihat jelas Arga yang masih tertidur dengan lelap.


Wajah tampan suaminya itu yang tertidur tidak ada duanya. Jujur dari dalam hatinya yang paling dalam sangat merindukan Arga. Apa lagi mereka sudah pisah rumah hampir 1 bulan dan baru 2 hari ini Arga dan Risya bersama.


Lama menatapi Arga sampai membuat Arga membuka matanya dan menangkap Risya yang sedang menatapnya. Risya kaget dan salah tingkah dan langsung mengalihkan pandangannya dan juga cepat-cepat duduk. Arga yang sadar di tatap sejak tadi menyunggingkan senyumnya.


"Ternyata sudah pagi! Jam brapa ini!" ucap Risya salah tingkah.


"Kamu bangun duluan. Kenapa tidak membangunkanku?" tanya Arga.


"Aku baru bangun kok," jawan Risya dengan salah tingkah.


"Ohhh, begitu," sahut Arga mengangguk-angguk dan ikut duduk menyusul Risya.


"Hmmm, kamu pulanglah sekarang!" ucap Risya tiba-tiba.


"Kamu mengusirku?" tanya Arga yang kaget. Dia lupa jika masih dalam situasi panas dan Risya bisa saja kapan saja menyuruhnya pulang.


"Bukannya kamu sudah sembuh. Jadi pulanglah," ucap Risya.


"Minggirlah aku mau lewat!" ucap Arga dengan dingin.


Risya yang berada di depan tenda akhirnya minggir dan Arga keluar dari dalam tenda.


"Aku pulang dulu! Terima kasih sudah merawatku," ucap Arga yang pergi langsung tanpa ada mengatakan apa-apa lagi pada Risya.


"Tidak ada yang salahkan aku menyuruhnya pulang, dia kan terlihat sudah sangat fresh dan aku rasa dia memang harus pulang," batin Risya yang bingung sendiri. Risya takut dia salah bicara pada Arga.


Dia kesal dengan harus merawat Arga yang menyusahkan baginya. Namun entah mengapa saat Arga pergi Risya malah gelisah dan tidak ingin Arga pergi.


************


Risya menuruni anak tangga yang baru selesai dari tenda. Namun Risya melihat Arga masih ada di rumahnya yang berbicara dengan penjaga rumah Risya.


"Kalau begitu panggil saja tukang yang lain," ucap Arga.


"Tapi pak sebagian tukang masih memperbaikinya di rumah warga lainnya dan semua punya gilirannya," jawab penjaga rumah Risya.


"Lalu bagaimana kapan mereka akan memperbaiki listrik di sini?" tanya Arga.


"Harus menunggu pak dan bisa saja baru besok do lakukan," jawab penjaga rumah itu.


"Ada apa?" tanya Risya yang menghampiri Arga dan penjaga rumahnya.


"Begini Bu Risya listrik yang mati ternyata sangat serius. Jadi beberapa tukang masih memperbaiki di rumah-rumah warga dan sangat kemungkinan untuk rumah ini besok baru bisa di perbaiki," jelas penjaga.


"Itu artinya nanti malam listrik mati lagi," tebak Risya.


"Iya Bu," jawab penjaga dan wajah Risya langsung panik.


"Hmmm, begini saja kamu cari saja lampu yang bisa menjadi penerang yang penting apapun itu asal semuanya terang," titah Arga.


"Baik pak," sahut penjaga tersebut.


"Aku pulang dulu Risya," ucap Arga pamit. Risya langsung menahan tangan Arga membuat Arga melihat ke arah Risya.


"Aku ikut," ucap Risya tiba-tiba membuat Arga menautkan ke-2 alisnya.


"Ya aku mau ikut, aku tidak mau sendirian. Bagaimana nanti malam tidak terang mama dan papa belum pulang," ucap Risya dengan suaranya yang manja.


Dari wajah Arga sebenarnya sudah menahan tawa saja dengan Risya yang seperti itu.


"Kamu yakin mau ikut?" tanya Arga memastikan.


"Iya," jawan Risya sebenarnya ragu. Tetapi dia tidak punya pilihan. Belum saja terjadi malam hari. Namun Risya sudah sangat takut akan terjadi hal buruk. Jadi mending dekat-dekat sama Arga.


"Ya sudah kalau kamu memang mau ikut," sahut Arga yang pasti tidak masalah.


Arga berjalan keluar rumah dan tangan Risya tetap memegang tangan Arga dan bisa-bisanya Arga tersenyum penuh arti tanpa sepengetahuan Risya.


Risya dan Arga akhirnya pergi dari rumah dengan Arga yang menyetir dan Risya di sampingnya yang melihat-lihat ke sekitar jendela yang mana mereka akan keluar dari komplek perumahan Risya.


"Arga kamu bilang di rumah-rumah warga banyak petugas listrik. Tetapi kok dari tadi aku tidak melihat apa-apa ya," ucap Risya dengan heran.


Mendengar hal itu membuat Arga menelan salivanya yang mendadak panik.


"Ada kok. Ada ya pasti mereka lagi memperbaiki di dalam rumah lah," jawab Arga dengan cepat.


"Begitu rupanya," sahut Risya yang mengangguk-anggukkan aja. Arga terlihat menghela napasnya yang terlihat berusaha untuk tenang.


"Hmmm, kita cari sarapan dulu ya. Kamu kan belum makan," ucap Arga. Risya mengangguk.


"Oh iya tangan kamu sudah tidak sakit lagi?" tanya Risya melihat Arga yang menyetir sangat lancar.


"Oh, ini, ini masih terasa sedikit sakit, hanya saja aku harus menyetir bukan," jawab Arga yang tersenyum dan ada saja yang di jawabnya. Risya hanya mengangguk-angguk saja.


Bersambung