MANTAN? TAPI NIKAH YUK!!!

MANTAN? TAPI NIKAH YUK!!!
Episode 43 Perhatian kecil.


"Risya jaga bicaramu kau itu jangan mengada-ada," ucap Arga.


"Pah lihatlah pah. Dia masih saja tidak mau mengakuinya dan mengatakan aku yang mengada-ada. Pah dia itu arghhh menyebalkan," Risya terus mengadu manja pada mertuanya itu.


"Risya. Tapi kan kalian sudah menikah. Tidak apa-apa dong kalau misalnya Arga mencium kamu. Itu bukan kesalahan," ucap Argantara.


"Pah walau aku sama Arga sudah menikah. Tetapi kalau dia melakukannya dengan paksaan itu sama saja di namakan dengan pelecehan!" tegas Risya.


"Nih perempuan benar-benar banyak Drama," umpat Arga di dalam hatinya yang benar-benar angkat tangan dengan Risya yang sudah menyebar Drama yang merusak namanya.


"Sudah-sudah. Kalian berdua ini sudah menikah dan Arga kamu lain kali jangan kasar-kasar pada istri kamu. Jangan memaksakan hal yang tidak di inginkan dan kamu harus banyak mengalah. Kamu itu sudah menjadi suami Risya dan Risya adalah tanggung jawab kamu termasuk kebahagiannya. Jadi jangan melakukan sesuatu hal yang membuat Risya jadi sedih," tegas Dehway yang benar-benar membela Risya dan Risya pasti sekarang tersenyum penuh kemenangan melihat wajah Arga yang penuh kekesalan.


"Kenapa papa sekalian tidak keluarkan aku dari KK dan langsung ganti dengannya," sahut Arga sinis.


"Apa maksud kamu?" tanya Dehway.


"Papa itu selalu membela Risya. Tidak papa dan tidak mama selalu membelanya. Anak kalian itu aku bukan Risya. Jadi pindahkan aja sekalian KK nya biar tuntas," kesal Arga dengan penuh emosian.


"Kamu memang akan di keluarkan dari KK. Kan kamu sudah menikah," sahut Dehway dengan santai. Arga hanya berdecak kesal yang tidak tau lagi bagaimana menghadapi orang tuanya yang selalu berpihak pada Risya.


"Sudah-sudah intinya. Kalian berdua jangan bertengkar lagi. Malu sama orang di kantor. Ini terakhir kalinya kalian melakukan hal ini," tegas Dehway. Arga tidak menjawab atau pun membantah apa yang di katakan papanya.


"Risya kamu maafkan Arga ya, sebagai istri kamu harus banyak-banyak bersabar," ucap Dehway dengan mengusap-usap pucuk kepala Risya.


"Makasih pah sudah ada bersama Risya," sahut Risya tersenyum. Dehway mengangguk dengan tersenyum juga. Namun Arga hanya geleng-geleng yang melihat dirinya tidak di anggap dan benar-benar ternistakan.


"Papa keluar dulu. Ingat jangan bertengkar," ucap Dehway yang langsung pergi


Risya dan Arga saling melihat, "Apa kau puas?" tanya Arga.


"Lumayan. Makanya jangan main-main denganku," ucap Risya dengan tersenyum tipis dan langsung pergi.


"Bukannya kita harus makan siang?" tanya Arga membuat langkah Risya terhenti.


"Maaf sudah tidak selera makan bersamamu dan aku juga sudah kenyang," jawab Risya yang melanjutkan langkahnya.


Arga berdesis mendengar ucapan Risya dan Arga langsung berjalan menyusul Risya.


"Kalau begitu aku akan makan bersama Rachel," ucap Arga saat melewati Risya dan pergi begitu saja yang membuat Risya kaget mendengarnya sampai langkahnya terhenti.


"Kita makan bersama!" teriak Risya yang langsung mengejar Arga. Mendengarnya Arga menyunggingkan senyumnya. Wah Risya kalau nama Rachel di bawa-bawa terlihat tidak suka dan terus ingin di dekat Arga. Kalau begitu berarti Arga memegang kelemahan Risya. Risya juga tidak bisa menyembunyikan hal itu. Sangat terang-terangan jadinya Arga memanfaatkan situasi tersebut.


***********


Risya dan Arga pun akhirnya makan siang berdua yang padahal Risya sudah kenyang tetapi harus makan hanya karena dia tidak ingin Arga makan bersama Rachel. Mereka duduk saling berhadapan dengan makanan yang sudah mereka pesan.


"Makanan mu kenapa tidak kau makan?" tanya Arga yang melihat Risya tanpa memakan makanannya.


"Aku sudah kenyang," jawab Risya santai.


"Kalau sudah kenyang. Kenapa pesan makanan?" tanya Arga geleng-geleng.


"Kalau aku tidak pesan, orang-orang akan melihat kau yang makan dan aku tidak. Yang adanya orang-orang akan berpikiran jika aku itu adalah pembantumu yang menemani majikannya untuk makan," jawab Risya.


"Tetapi itu kenyataan. Kau itu lebih cocok jadi pembantuku," sahut Arga.


"Issss kau ya Arga!" geram Risya dengan merapatkan giginya dan Arga masa bodo yang tetap melanjutkan makannya.


"Risya!" tiba-tiba terdengar suara Pria yang menegur Risya, membuat Arga dan Risya sama-sama melihat siapa Pria yang berdiri di samping Risya tersebut.


"Ya ampun Edo," sahut Risya yang langsung berdiri dan ternyata itu adalah Edo laki-laki yang pernah kencan buta dengannya.


"Siapa dia?" batin Arga yang penasaran dengan Pria yang sok akrab dengan Risya.


"Kamu apa kabar?" tanya Edo yang mengulurkan tangannya.


"Aku baik-baik saja," jawab Risya dengan menyambut uluran tangan tersebut, "kamu sendiri bagaimana?" tanya Risya.


"Ehem!" Arga berdehem membuat ke-2 orang itu saling melepas tangan mereka.


"Siapa dia?" tanya Edo melihat Arga.


"Oh dia ini....."


"Aku suaminya," sahut Arga memotong pembicaraan Risya dan Arga langsung berdiri yang berjabat tangan pada Edo dan Edo menyambut uluran tangan itu.


"Saya Arga suami dari Risya. Anak pemilik Perusahaan Ruby," ucap Arga yang menjelaskan dengan detail dan sekalian pamer.


"Apa-apaan sih nih anak pakai ngaku segala lagi dia suamiku dan bawa-bawa profesi lagi," batin Risya dengan kesal.


"Oh saya Edo. Ternyata kamu sudah menikah Risya?" sahut Edo yang bertanya.


"Iya," jawab Risya tersenyum kaku.


"Tidak di sangka, kita dulu bertemu dengan aplikasi kencan dan ternyata kita tidak berjodoh yang ternyata jodoh kamu adalah dia. Apa dia juga dari aplikasi kencan," ucap Edo yang terlalu jujur yang membuat Risya panik dan Arga sudah mendengus tersenyum yang pasti ingin tertawa mendengar ucapan Pria ini.


"Jadi kalian berdua bertemu dari kencan buta?" tanya Arga yang paling senang kalau sudah masalah aib Risya. Risya sudah mengepal tangannya yang kembali emosi dengan Arga.


"Benar sekali Arga. Bagaimana dengan kamu?" tanya Edo.


"Oh, kebetulan kami tidak bertemu dari aplikasi kencan. Karena kebetulan kami berdua sudah lama saling kenal," jawab Arga.


"Oh begitu rupanya. Ya sudahlah saya ucapkan selamat untuk pernikahan kalian," ucap Edo. Risya hanya mengangguk dengan tersenyum kaku yang pasti sudah malu.


"Ya sudah kalau begitu saya permisi dulu. Saya tidak ingin mengganggu makan kalian," ucap Edo.


"Iya Terima kasih pak Edo. Semoga di kencan berikutnya anda mendapatkan jodoh," ucap Arga. Tidak tau mengejek atau mendoakan.


"Terima kasih doanya saya permisi," ucap Edo dengan tersenyum dan langsung pergi dan Arga langsung melihat Risya dengan tersenyum penuh ejekan. Risya yang kesal langsung duduk.


"Ternyata dia salah satu teman kencanmu. Suatu kehormatan aku bisa bertemu dengannya," ejek Arga.


"Diam mulutmu," kesal Risya. Arga menyunggingkan senyumnya dan kembali duduk yang pasti terus senyum-senyum dengan melihat wajah Risya yang penuh dengan kekesalan.


"Isss kenapa juga dia harus mengatakan hal itu. Aku bisa-bisa di ejek Arga sampai seribu tahun kemudian," batin Risya dengan kesal.


Dan tiba-tiba Risya memegang perutnya yang mendadak sakit. Mungkin karena dia kebanyakan marah-marah.


"Baiklah aku sudah selesai makan. Kita kembali saja," sahut Arga yang langsung berdiri dari tempat duduknya yang makannya sudah habis dan pasti Risya tidak berkurang sama sekali.


"Arga! lirih Risya tiba-tiba yang belum berdiri dari tempat duduknya.


"Ada apa?" tanya Arga.


"Sepertinya aku datang bulan," ucap Risya dengan pelan.


"Lalu apa urusannya denganku?" tanya Arga heran.


"Perutku sakit," keluh Risya.


"Ya terus mau bagaimana?" tanya Arga dengan kedua bahunya yang terangkat, " ya sudah ayo pulang!" ajak Arga.


"Tapi aku merasa Risya. Sepertinya sudah tembus," ucap Risya pelan.


"Ya ampun Risya kau benar-benar ya," ucap Arga geleng-geleng.


"Ya mana aku tau akan seperti itu," sahut Risya yang memegang perutnya terus.


Arga menghela napasnya dan membuka jasnya, "berdiri lah!" pinta Arga dan Risa menuruti Arga. Arga langsung memakaikan jasnya mengikat di pinggang Risya agar tidak ada yang melihat hal yang pasti memalukan untuk Risya.


"Ayo kita pergi " ucap Arga. Risya menganggukkan kepalanya dan menuruti Arga.


Bersambung