
Salmah, Tantri dan Dehway memasuki kamar Risya dengan membawa bayi Risya dan Arga.
"Anak siapa itu?" tanya Risya heran.
"Ini anak kamu Risya," sahut Tantri yang menggendong bayi kecil itu.
"Anak Risya! Ada-ada aja. Menikah aja belum bagaimana mungkin Risya punya anak," sahut Risya.
"Kamu ya Risya benar-benar ya. Lihat anak kamu bisa sakit hati mendengar ucapan kamu yang tidak mengakuinya," ucap Tantri kesal.
"Mama, bagaimana mau mengakuinya. Risya memang belum menikah dan bagaimana Risya bisa punya anak," tegas Risya. Dia lama-lama bisa gila dengan semua orang yang mengatakan dia menikah. Karena seingatnya dia tidak pernah menikah.
"Risya kamu coba pelan-pelan ingat. Kamu itu sudah menikah sayang dan mama dan papa ini adalah mertua kamu dan lihat anak kamu mirip dengan kamu dan Arga," ucap Salmah dengan lembut.
"Itu nggak mungkin Tante. Bagaimana mungkin aku menikah dengan anak Tante yang bebal itu dalam mimpi pun hal itu tidak akan mungkin terjadi Tante," tegas Risya yang tetap pada pendiriannya yang tidak percaya dengan apa yang di katakan orang-orang yang ada di sekelilingnya.
"Risya kamu lihat dulu anak kamu dan coba gendong!" sahut Dehway.
"Ini anak siapa dulu?" tanya Risya.
"Udah kamu gendong aja, nggak usah banyak tanya," sahut Tantri kesal. Risya menghela napasnya dan akhirnya menggendong bayinya dari pada Tantri mengocehinya terus.
Owe owe owe owe owe owe owe owe.
Bayi itu langsung menangis saat di gendong Risya. Padahal sebelumnya anteng-anteng saja dan juga bahkan tertidur.
"Tuhkan mah, dia nggak mau sama Risya. Namanya juga bukan anak Risya," sahut Risya yang malah takut dengan bayi yang menangis itu.
Dehway dan Salmah saling melihat dengan mereka sama-sama menghela napas. Ada aja masalah. Kenapa juga bayinya harus menangis pas di gendongan Risya.
"Mama buruan ambil. Nanti Risya di pikir berbuat yang enggak-enggak lagi dengan anak ini," sahut Risya jadi takut. Tantri dengan kesal langsung mengambil bayi itu.
"Lihat akibat ulah kamu yang tidak mengakui anak kamu. Anak kamu sendiri. Jadi takut dengan kamu," ucap Tantri dengan merapatkan giginya yang geram dengan Risya yang ingin menerkam Risya.
"Kenapa jadi Risya yang di omeli sih. Risya tidak tau itu anak siapa. Jangan-jangan itu anak mama ya. Mah kuburan papa itu belum kering mama sudah menikah aja dan punya anak," tuduh Risya dengan pikirannya yang di luar nalar. Tantri yang geram mengambil bantal dan melempar pada wajah Risya.
"Mbak!" sahut Salmah yang kaget.
"Mulut kamu itu sembarangan," umpat Tantri bertambah emosi.
"Apa sih mama, Risya sakit nih," sahut Risya.
"Aduh mbak udah, Risya bisa makin parah. Jika mbak kasar padanyanya," ucap Salmah yang malah stres di ruangan itu. Ketika melihat Risya dan Tantri malah bertengkar.
"Biarin dia semakin parah, sadar juga nggak ada gunanya," sahut Tantri dengan kesal dan langsung pergi dari ruangan itu yang membawa bayi yang masih menangis di gendongannya itu.
"Kenapa jadi aku yang di omeli sih," gumam Risya dengan wajah kesalnya dan melihat ke arah pintu. Tantri menyerahkan bayi itu ke gendongan Arga yang ada di depan pintu dan Arga langsung mendiamkan anaknya itu. Risya diam dengan menatap sendu Arga dan bayi itu.
"Risya kamu benar-benar tidak mengingat apa-apa?" tanya Salmah.
"Memang aku lupa ingatan. Aku mengingat semuanya," sahut Risya. Salmah menghela napasnya dan sudah tidak tau lagi harus bicara apa pada Risya.
*******
Setelah kondisi Risya membaik. Akhirnya Risya pulang kerumah. Karena ingatannya bermasalah. Jadi Risya pulang kerumahnya ke rumah Tantri dan dalam keadaan dia yang masih gadis matanya. Namun Tantri membawa bayi Risya ikut bersamanya. Supaya Risya bisa mengingat sedikit demi sedikit.
"Akhirnya bisa pulang juga," gumam Risya yang langsung duduk di sofa dengan santainya.
"Tidur kamu di dalam gudang sampai ingatan kamu pilih!" ketus Tantri dengan kesal dan langsung pergi.
"Apaan sih, malah menyuruh tidur di gudang. Mama kenapa sih sekarang jadi kayak anggap aku anak tiri," cerocos Risya dengan kesal yang merasa serba salah terus.
Tiba-tiba Arga memasuki rumah itu dan membuat Risya kaget.
"Heh, ngapain kau di sini?" tanya Risya yang langsung berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri Arga, menghalangi jalan Arga.
"Sembarangan masuk rumah orang. Kau pikir ini rumahmu. Untuk apa kau di sini?" tanya Risya dengan wajahnya yang menantang Arga.
"Aku ingin bertemu anakku," jawab Arga dengan dingin.
"Oh jadi itu anakmu. Anak yang di gendong mama itu anakmu. Ya udah di bawa dong. Jangan menyusahkan mama dan aku menjadi korban yang terus di marahi. Karena adanya anak itu," ucap Risya emosi.
"Jangan sampai ya Risya, aku melakban mulutmu itu," ucap Arga.
"Siapa kau berani melakukannya," sahut Risya dengan menantang Arga.
Arga menghela napasnya yang berusaha untuk sabar menghadapi istrinya itu. Dia sama seperti Tantri yang ingin menjedotkan kepala Risya biar ingatan Risya pulih.
Arga harus mengontrol dirinya, sebelum dia menjadi pelaku kdrt dan Arga memilih untuk pergi dari hadapan Risya.
"Hey, kau mau kemana! Hey, ini rumahku, heh!" teriak Risya yang melihat kepergian Arga yang sembarangan masuk kedalam rumah mereka.
"Issss, memang dia pikir. Siapa dirinya," umpat Risya dengan kesal.
Mungkin semua orang sudah lelah dengan Risya dan permasalahan ingatan itu. Mereka sudah melakukan dengan lembut untuk mengembalikan ingatan Risya. Namun apa yang terjadi. Risya tetap pada ingatannya yang seperti itu.
Jadi tidak ada kata-kata lembut lagi. Jika lembut ucapan Risya semakin melantur dan akan membuat Tantri maupun Arga kesal sendiri.
***********
Arga berada di dalam kamar bersama Tantri dan juga Suster pengasuh bayi mereka.
"Mah, apa bayinya tidak butuh asi?" tahta Arga yang khawatir pada bayi mereka.
"Kamu tenang saja Arga. Mama akan minta dari Risya," sahut Tantri.
"Bagaimana caranya. Dia saja tidak mengakui, jika itu adalah anaknya," ucap Arga.
"Maa akan memaksanya. Bagaimanapun anak kalian harus minum asi. Kondisinya harus stabil," ucap Tantri.
"Baiklah mah, aku serahkan semua kepada mama," sahut Arga.
"Dan iya Arga, saran mama kamu tetap di sini
Kamu tetap bersama bayi kamu," ucap Tantri.
"Risya bisa kesetanan. Jika aku ada di sini," ucap Arga.
"Lupakan saja dia. Anggap tidak ada di rumah ini. Kita bisa gila kalau mengikutinya," sahut Tantri.
"Ya sudah terserah mama saja mana yang terbaik.
Bersambung