MANTAN? TAPI NIKAH YUK!!!

MANTAN? TAPI NIKAH YUK!!!
Episode 142


Akhirnya mereka semua tiba di dalam tempat perkemahan mereka yang tidak berada di puncak dengan mereka semua yang terlihat semangat untuk melakukan kamping bersama. Tidak juga sih ada wajah-wajah Yann terlihat tidak senang siapa lagi kalau bukan Arga dan juga Boy yang terlihat terpaksa melakukan hal itu.


Begitu sampai mereka langsung mendirikan tenda Yann tidak jauh dari sungai yang mengalir di batu-batu dan suara aliran itu terdengar begitu indah.


"Sayang ayo dong kita pasang tenda," ucap Risya yang melihat suaminya itu tampak mager.


"Ya ampun Risya kamu apa nggak bisa pasang sendiri," sahut Arga.


"Ya nggak bisa makanya minta batu kamu," sahut Risya dengan santai.


"Makanya jangan menyulitkan diri sendiri. Kalau masih ada Villa dan hotel. Kenapa coba harus menginap di tenda-tenda segala hal yang yang sangat menyebalkan," ucap Arga masih saja marah.


"Kamu kenapa sih, katanya mau ikut. Sudah sampai sini moodnya malah kayak gitu," kesal Risya dengan wajahnya yang mulai cemberut.


"Iya-iya aku pasang," sahut Sean yang dengan terpaksa mendirikan tenda untuk istrinya itu. Risya tersenyum melihat suaminya yang kesal tetapi tetap mau mendirikan tenda untuknya.


Sama dengan Boy yang di paksa Syarla dan Angela untuk mendirikan tenda mereka. Namun Edo pasti tidak ingin ada yang campur tangan untuk mendirikan tenda dia dan putrinya harus benar-benar higenis dan Putri yang sejak tadi sudah bermain di atas rumput yang di alasi tikar yang terlihat sangat Happy. Karena mungkin ini juga menjadi kamping pertamanya.


"Boy pintunya ke arah sungai dong," protes Angela.


"Tau nih, masa iya kebalik," sahut lagi Syarla.


"Kalian ini ya kerjanya protes mulu. Tuh suruh dia yang ngerjain," sahut Boy dengan kesal melihat ke arah Edo.


"Kamu itu apa-apaan sih. Apa salahnya coba bantuin teman. Masa iya mau hitung-hitungan," sahut Syarla.


"Benar," sahut Angela.


"Bukan hitung-hitungan yang punya ide untuk hal seperti ini kalian dan kalian dong yang harus mandiri nggak usah menyisahkan orang," ucap Boy dengan kesal.


"Tau gitu mending aku di bengkel dari pada melakukan hal seperti ini buang-buang waktu," oceh Boy yang sejak tadi kerjanya marah-marah mulu.


"Yang nyuruh kamu buat ikut siapa," sahut Angela yang ikutan kesal.


"Ya Arga," jawab Boy.


"Ya udah sana marah sama Arga. Jangan sama kita," sahut Angela.


"Ya makanya kalian itu nggak usah ganggu aku," kesal Boy.


"Issss sama teman aja perhitungan dasar," sahut Syarla yang juga lama-lama kesal dengan Boy.


"Ada apa ini?" tanya Edo yang tiba-tiba datang ke tempat Angela dan Syarla yang sejak tadi Edo mendengar keributan.


"Ini mas kami hanya minta tolong untuk mendirikan tenda. Tapi dia malah marah-marah dan menceramahinya kami. Mulutnya tidak berhenti mengoceh sejak tadi," jawab Angela.


"Tau nih udah kayak emak-emak komplek," sahut Syarla menambahi.


"Sudah-sudah jangan ribut hanya masalah tenda yang tidak berdiri. Biar saya yang mendirikannya," sahut Edo yang mengambil alih pekerjaan itu.


"Tidak apa-apa mas," sahut Angela.


"Tidak apa-apa Angela biar saya yang mendirikannya. Mending kamu siapkan lainnya saja," sahut Edo.


"Baiklah kalau begitu," sahut Angela tersenyum dan melihat ke arah Boy dengan sewot bahkan sampai menjulurkan lidahnya yang mengejek Boy yang membuat Boy sangat kesal.


"Ayo Syarla kita pergi," ajak Angela.


"Oke," sahut Syarla dan melambai pada Boy yang juga mengejek Boy.


"Biar saya saja yang mengerjakannya," sahut Edo.


"Ya sudah kerjakan saja sendiri," sahut Boy dengan ketus yang langsung meninggalkan tempat itu.


Dia juga tidak sudi bekerja sama dengan Edo dan lebih baik pergi dan Edo hanya menghela napas saja yang akhirnya memperbaiki tenda Angela dan Syarla yang salah pasang.


*********


Setelah tenda terpasang ada 5 tenda untuk Arga dan Risya, untuk Syarla dan Angela, Edo dan Putri, dan Boy yang sendirian dan juga ada tenda dapur untuk bahan-bahan makanan mereka dan tempat mereka untuk makan pastinya.


Putri yang bermain bersama Angela, Risya dan Syarla yang sibuk membuat makanan. Yang pasti hanya siap saji saja karena maklum wanita-wanita itu kalau memasak rasanya sangat aneh. Jadi mereka membeli makanan siap saji yang bisa di masak simple.


Sementara Boy dan Arga yang duduk di kursi lipat yang mengarah kesungai. Di mana pria itu rebahan menggunakan kaca mata hitam yang tidak tau mereka berdua tidur apa tidak.


"Menyesal ikut denganku?" tanya Arga.


"Jangan di tanya lagi sangat menyesal. Aku juga tidak tau kalau dia ikut," jawab Boy dengan wajah kesalnya.


"Dia siapa?" tanya Arga heran.


"Siapa lagi kalau bukan di Pria higenis yang aneh itu," sahut Boy.


"Shuttt, jangan ngomong gitu. Entar dia dengar lagi. Lagian dia juga melakukan itu ada alasannya," ucap Arga yang memang sudah tau dan semenjak itu tidak mau menjadikan Edo bahan candaan.


"Alasan-alasan sih alasan dan jangan-jangan dia lagi yang punya ide untuk melakukan hal seperti ini," ucap Boy yang menduga-duga.


"Masalah itu aku kurang tau sih. Aku juga hanya di ajak Risya dan dia hanya bawa nama Syarla dan Angela. Dan aku juga kaget tiba-tiba ada Edo," ucap Arga apa adanya.


"Huhhhhh kita jadi korban para wanita itu," ucap Boy dengan menghela napas beratnya.


"Mau bagaimana lagi. Kalau aku tidak ikut Risya tetap ngotot mau ikut dan aku tidak bisa membiarkannya pergi sendirian dan makanya aku juga mengajak kamu supaya aku tidak jenuh," ucap Arga.


"Iya dan sekarang aku yang menjadi korban," ucap Boy.


"Sabar aja Boy hanya dia hari saja," ucap Arga yang berusaha membuat temannya itu tidak kesal melulu.


"Ehemmm!" terdengar suara deheman membuat mereka berdua kaget dan menoleh kebelakang yang mereka berdua sama-sama membuka kaca mata mereka dan ternyata Edo yang berdehem itu.


"Kalian asyik sendirian dan sepertinya sangat jenuh," ucap Edo.


"Udah tau pake nanya," ucap Boy dengan pelan.


"Mau bagaimana lagi. Walau jenuh kita tidak ada pilihan lain," sahut Arga.


"Hmmm, bagaimana kalau kita memancing aku membawa pancing," ucap Edo yang ternyata punya persiapan banyak.


Arga dan Boy saling melihat.


"Kalian tidak keberatan bukan. Atau jangan-jangan kalian tidak bisa memancing ," sahut Edo.


"Sembarangan," sahut Boy.


"Kalau begitu kalian setuju untuk memancing aku ambil sebentar alatnya," sahut Edo yang tersenyum dan meninggalkan tempat itu.


"Menantang dia," ucap Boy.


Bersambung