
"Ayo berdiri!" ajak Arga dengan lembut yang mengulurkan tangannya pada Risya.
"Nggak usah aku bisa sendiri," sahut Risya yang berdiri sendiri dan masa bodo dengan Arga.
"Ya sudah kalau tidak mau di bantuin," sahut Arga yang tidak peduli dengan Risya dan juga berdiri dari tempat duduknya.
"Aku mau mandi, awas ya kalau kau masuk kamar mandi," ancam Risya dengan penuh penegasan.
"Nggak ada yang mau melihatmu. Najis," sahut Arga menegaskan.
"Aku juga najis melihatmu. Bekas tante-tante girang," umpat Risya dengan kesal dan langsung memasuki kamar mandi.
"Sembarangan mengataiku bekas tante-tante. Dia pikir aku brondong simpanan para tante-tante apa," desis Arga dengan menghela napas yang harus banyak-banyak bersabar menghadapi Risya yang kelewat batas bar-bar nya.
"Awas aja kau," geram Arga masih punya dendam pada Risya.
********
Setelah selesai mandi Risya keluar dari kamar mandi. Lumayan lama Risya berada di kamar mandi. Maklum namanya juga cewek yang mandi begitu lama. Risya keluar dari kamar mandi hanya menggunakan bathrobe putih. Karena dia lupa membawa pakaiannya kedalam kamar mandi.
"Huhhhh segarnya tubuhku," gumamnya yang merasa merasa jauh lebih segar. Apalagi Risya sudah keramas dan bagaimana Risya tidak merasa segar. Namun tiba-tiba wajah Risya langsung mengkerut dengan melihat Arga yang sudah tidur di atas tempat tidur dengan telentang dengan nyenyaknya.
"Apa-apaan ini. Dia tidur di sini! Apa maksudnya. Enak saja," umpat Risya dengan kesal yang kelihatan tidak terima.
"Arga!" bentak Risya. Namun Arga tidak mendengarnya.
"Arga!" Teriak Risya lebih kencang lagi suaranya sampai membuat Arga tersentak kaget dan langsung terbangun.
"Apa-apaan sih kamu Risya," sahut Arga memijat kepalanya yang pasti sakit karena di bangunkan Risya tiba-tiba.
"Kamu yang apa-apaan. Siapa yang menyuruh kamu tidur di sini hah!" Sahut Risya yang berkacak pinggang.
"Apaan sih, ya kenapa kalau aku tidur di sini. Aku mengantuk ya harus tidur lah," sahut Arga dengan wajahnya yang mengkerut.
"Apa kamu bilang kamu mengantuk. Jadi maksud kamu aku tidak mengantuk gitu. Maksud kamu aku tidak akan tidur gitu," oceh Risya yang terus mengomel.
"Ya kalau kamu mau tidur ya udah tidur ribet amat sih, tinggal tidur aja pakai teriak-teriak segala lagi," sahut Arga dengan kesal.
"Gimana aku mau tidur kau saka tidur di sini," ucap Risya dengan kesal.
"Apa urusannya denganku," sahut Arga.
"Ya kau pindahlah. Aku yang tidur di sini," tegas Risya.
"Enak aja asal bicara mau tidur di sini. Aku sudah duluan di sini. Jadi aku yang di sini. Kau tidur sana di lantai," sahut Arga yang pasti tidak akan menyerah dengan Risya.
"Enak aja bicara. Kau yang tidur di lantai," sahut Risya yang pasti menolak.
"Arga apa-apaan kau Arga. Enak aja kau tidur di sini dan aku di lantai, kau itu benar-benar ya tidak ada mengalah-mengalahnya. Aku ini wanita Arga dan kau pria. Seharusnya kau itu gentelment. Kau tidak seharusnya memperlakukan ku seperti ini," Risya terus mengoceh panjang lebar. Namun Arga tidak mau mendengarkannya yang membuat Risya kesal dan langsung menarik tangan Arga.
"Pergi dari sini! Pergi! Ini tempat ku!" tegas Risya menarik tangan Arga.
"Risya kau apa-apa sih Risya. Kau benar-benar ya Risya," sahut Arga yang benar-benar marah di ganggu terus oleh Risya. Risya tidak akan pernah mengalah pada Arga. Di berusaha untuk semampunya menyinggirkan Arga dari tempat tidur itu.
Sampai akhirnya Arga menarik tangan Risya membuat Risya kehilangan keseimbangannya yang langsung terjatuh di atas tubuh Arga dengan menindih tubuh Arga dan membuat Risya kaget dengan matanya yang terbuka lebar.
Insiden itu membuat mereka saling melihat dengan kedekatan wajah mereka berdua dengan jarak yang dekat dan napas yang saling menerpa.
Risya tidak mau berlama-lama di atas tubuh Arga dan berusaha untuk bangkit dari tubuh Arga. Namun Arga malah menahannya dengan memeluk Risya, mengunci wanita yang ada di atas tubuhnya itu. Agar tidak bisa kemana-mana.
Jelas hal yang di lakukan Arga membuat Risya kaget dengan mata Risya melotot, dan bahkan panik yang berusaha kembali untuk beralih dari atas tubuh itu. Semakin Risya berusaha Arga semakin mengeratkan pelukannya sehingga wajah mereka semakin mendekat dengan hidung yang sudah bersentuhan dan Arga menatap Risya begitu dalam.
"Lepas! Apa yang kau inginkan!" ucap Risya menekan suaranya yang berusaha untuk memberontak.
"Seharunya aku yang bertanya padamu, apa yang kau inginkan?" tanya Arga kembali dengan suara Arga yang serak yang tidak melepas tatapan matanya sama sekali pada wajah panik Risya.
"Apa maksud mu?" tanya Risya.
"Kau sengaja bertingkah, kau sengaja menggangguku?" tanya Arga.
"Jangan sembarangan bicara. Aku tidak mengganggumu. Aku hanya ingin tidur di sini," tegas Risya.
"Kalau mau tidur maka tidurlah. Kenapa harus berteriak-teriak dan mengoceh seperti rel kereta api," ucap Arga
"Bagaimana aku bisa tidur sementara kau di sini. Aku tidak sudi tidur 1 ranjang denganmu," tegas Risya.
"Tetapi bukannya kita sudah menikah Risya dan seharusnya itu tidak masalah bukan," sahut Arga yang bicara dengan santai.
"Jaga bicaramu Arga. Kita hanya menikah pura-pura dan kau juga harus ingat dengan perjanjian kita jika kau tidak boleh macam-macam kepadaku," tegas Risya mengingat Arga membuat Arga mendengus kasar mendengarnya dengan tersenyum tipis.
Namun Arga bukannya melonggarkan pelukannya atau melepaskan Risya dia malah mengelus pipi Risya membuat panik dengan wajahnya yang memerah.
"Kenapa sok jual mahal Risya. Aku tau kau itu sebenarnya sangat menginginkanku bukan, kau itu sebenarnya ingin melakukan malam pertama bersamaku bukan. Jadi jangan sok jual mahal Risya," ucap Arga yang menggoda Risya.
"Najis," sahut Risya menepis tangan Arga dari pipinya, "siapa juga yang mau malam pertama dengamu. Sangat najis. Aku tidak sudi melakukannya," tegas Risya dengan penuh penekanan.
"Why, bukannya kita dulu orang yang saling mencintai dan bukannya dulu kita juga sering saling memuaskan. Dan sekarang kita sudah menikah. Lalu apa yang salah jika kita melakukan hal itu, hal yang lebih kita lakukan dulu," ucap Arga menggoda Risya bahkan berbisik di telinga Risya membuat bulu kuduk Risya berdiri yang jujur dia sebenarnya tidak tahan di perlakukan seperti ini.
"Jika menginginkan hal yang lebih dari dulu yang kita lakukan. Katakan saja. Aku akan memuaskanmu dengan senang hati. Hitung-hitungan mengobati rasa kerinduanmu kepadaku," ucap Arga dengan tersenyum miring yang benar-benar puas menggoda Risya.
Bersambung