
Arga begitu terkejut mendengar perkataan istrinya itu yang ingin kerumah sakit untuk melihat Hariyanto.
"Sayang, kamu sungguh-sungguh?" tanya Arga yang butuh kepastian.
Risya menganggukkan kepalanya yang air matanya mengalir deras dan tangisnya bahkan pecah
Hiks hiks hiks hiks hiks hiks.
"Ini sangat berat. Aku takut sebenarnya bertemu papa. Tapi aku merindukan papa. Aku takut papa kenapa-kenapa," ucap Risya yang menangis sengugukan.
"Aku tidak bisa menerima kenyataan ini. Tetapi ada yang lebih sakit di bandingkan papa. Ada mama yang bertahan ada kamu yang mencoba melindungiku. Aku hanya merasa diriku yang paling tersakiti. Tanpa aku sadari jika mama bertahan, mengasingkan egonya. Tidak peduli hatinya hanya untukku. Dia menyembunyikan tangisnya, rasa kecewanya dan pura-pura bahagia di depanku dan semua itu hanya untuk ku. Untuk aku yang harus tetap merasa bahagia dan punya keluarga yang baik-baik saja,"
"Ada kamu yang berusaha untukku. Kamu yang mencintaiku. Kamu berusaha melindungiku, memohon dan bersujud padanya hanya untukku. Dan sampai sekarang kamu masih berusaha untuk," ucap Risya dengan isak tangisnya yang sengugukan.
"Aku membenci papa. Tetapi dia juga orang tuaku. Kesalahan yang di lakukannya sangat fatal. Namun begitu banyak kebaikan, kebahagiaan yang di berikannya kepadaku yang seharusnya aku tidak pernah mengeluhkan keadaan ini,"
Akhirnya hati dan kesadarannya tumbuh juga. Tanpa Arga memaksanya Risya sadar sendiri. Meski berat dan penuh dengan kebencian. Tetapi ada kerinduan di hatinya yang membuatnya tidak bisa bertahan dalam kebenciannya. Ada takut yang di rasakannya. Bukan takut karena sang ayah akan memilih Putri dan Tasya. Tetapi justru takut. Jika dirinya akan menyesal nanti jika tidak bersama sang ayah.
"Ayo kerumah sakit!" ajak Risya lagi yang memegang tangan Arga. Arga merasakan dinginnya tangan istrinya dengan wajah istrinya di penuhi air mata.
"Kamu yakin kita akan kerumah sakit?" tanya Arga yang ingin memastikan.
"Iya aku ingin bertemu papa," jawab Risya yakin. Arga mengangguk-angguk dan langsung memeluk Risya dengan erat. Arga juga berderai air mata saat istrinya itu menangis di pelukannya.
Dia menangis karena akhirnya istrinya mau menemui Hariyanto. Arga mungkin sudah putus asa. Tetapi ternyata tidak ada yang perlu di khawatirkan Arga. Karena Risya sudah mau menemui Hariyanto.
************
Syarla yang sedang membeli makanan di Restaurant yang berada di rumah sakit. Dia terus masih setia bolak-balik ke rumah sakit. Karena pasti Tantri tidak ada yang menemani. Jadi mau tidak mau Syrala harus menemani Tantri. Karena mama dari sahabatnya itu sudah di anggap seperti orang tuanya sendiri.
Seperti biasa dia akan membawakan makanan untuk Tantri. Karena pikiran Tantri terhadap makanan pasti sudah tidak ada. Jika bukan dia yang memperhatikan lalu siapa lagi.
"Ini mbak pesanannya dan ini billnya," sahut kasir yang memberikan pesanan Syrala.
"Terima kasih mbak!" sahut Syrala yang melihat bill pembayaran dan Syrala langsung membuka tasya untuk melihat dompetnya. Tetapi sangat lama Syrala mengeluarkan dompet itu yang mencari-cari.
"Apa ketinggalan ya," gumamnya yang ternyata tidak membawa dompet.
"Bagaimana ini!" gummanya kebingungan harus membayar makanan itu.
Syarla menghela napasnya dan mengeluarkan ponselnya yang akan melakukan pembayaran lewat ponselnya.
"Pakai lobet segala!" gummanya yang tidak percaya jika kesialan menghampirinya.
"Bagaimana mbak?" tanya kasir yang merasa Syrala lama sekali.
"Hmmm, mbak saya ketinggalan dompet dan ini ponsel saya juga lobet. Bagaimana ya saya harus membayarnya?" tanya Syrala dengan kebingungan dan hanya butuh solusi saja. Wajahnya sudah panik dan juga merasa tidak enak.
"Sekalian sama punya saya saja," tiba-tiba terdengar suara seorang pria dari belakang Syrala yang langsung memberikan kartu kreditnya pada kasir itu.
Syrala membalikkan basahnya dan melihat siapa Pria yang membantunya itu.
"Boy!" lirih Syrala.
"Sekalian aja ya mbak," ucap Boy pada kasir tersebut.
"Baik pak," sahut kasir itu dan proses pembayaran ou selesai.
"Ayo!" ajak Boy. Syrala mengangguk dan mereka berdua keluar dari Restaurant itu.
"Aku akan menggantinya," ucap Syrala.
"Jangan sok mengganti biasanya yang sebelum-sebelumnya juga tidak pernah di ganti," sahut Boy menyindir.
Hal seperti itu memang sangat biasa terjadi di lingkungan persahabatan mereka. Namun kali ini terasa sangat canggung yang mungkin karena sebelumnya terjadi perselisihan karena bermain dengan perasaan.
"Tetapi tetap aja aku akan menggantinya," sahut Syrala yang berbicara begitu datar.
"Kamu kenapa sih Syrala?" tanya Boy yang menghadap Syrala dengan serius.
"Memang aku kenapa?" tanya Syrala heran
"Pergi begitu saja. Kembali begitu saja dan sekarang bersikap begitu saja. Kamu kenapa? Ada apa dengan kamu?" tanya Boy dengan wajah seriusnya.
Syrala diam yang tidak tau juga harus menjawab apa. Dia bingung dan apalagi tatapan Boy seperti orang butuh penjelasan.
"Apa kita ada masalah sebelumnya. Apa di antara kita ada cekcok sampai membuat kamu seperti ini?" tanya Boy lagi.
"Aku tidak pernah membahas ini. Kamu pergi begitu saja sehingga aku yang salah. Kamu tidak mengatakan apa-apa dan lagi-lagi harus berpikir kenapa kamu pergi begitu saja, tidak berpamitan, tidak biasanya seperti itu. Aku tidak bisa menghubungi kamu Syrala. Sengaja memblokir nomorku?" Boy tidak pernah berbicara begitu serius. Namun kali ini dia harus bicara serius pada Syrala.
"Katakan Syrala ada apa sebenarnya? Apa salahku? Apa aku melakukan kesalahan yang besar sampai kamu seperti ini," Boy mendesak Syrala agar berbicara.
"Kita jangan bahas hal itu," hanya kata singkat itu yang di katakan Syrala.
"Kenapa?" tanya Boy.
"Aku ingin tau alasannya sekarang," sahut Boy dengan tegas.
Syrala menghela napasnya dengan mengalihkan pandangannya ke arah lain yang tidak bisa mendapatkan tatapan seperti itu dari Boy yang membuatnya gugup.
"Bukannya itu Risya!" tiba-tiba mata Syrala melihat ke arah rumah sakit. Melihat Risya dan Arga yang keluar dari mobil dan langsung memasuki rumah sakit.
Mendengar nama Risya membuat Boy juga melihat ke arah tersebut dan memang benar. Jika itu Risya.
"Iya itu Risya sama Arga," sahut Boy.
"Risya ikut bersama Arga, pasti melihat Om Hariyanto," ucap Syrala menduga-duga.
"Iya kamu benar! Ayo kita lihat!" ajak Boy.
Syrala menganggukkan kepalanya dan mereka langsung buru-buru menyebrangi jalan menyusul Risya dan Arga yang sudah sampai rumah sakit.
Ada keuntungan bagi Syrala dengan melihat Risya yabg artinya dia tidak harus menjelaskan lagi jawaban yang di inginkan Boy. Karena sekarang sudah teralihkan dengan kedatangan Risya dan juga Arga.
Bersambung.