
Arga masih berdiri di depan pintu kamar dengan tersenyum indah di wajahnya melihat Risya yang menatapnya penuh dengan kemarahan.
"Apa kau senyum-senyum. Kau itu benar-benar menyebalkan sangat pintar memanipulasi kata-kata. Kau kenapa tidak jadi aktor aja sekalian," umpat Risya yang melihat Arga berdiri di depan pintu yang tersenyum penuh kemenangan kepada-nya dan senyum itu semakin membuatnya naik darah.
"Wau itu profesi baru untuk menjadi aktor. Orang tampan seperti ku, sepertinya akan di cari-cari. Makasih Risya atas sarannya," sahut Arga dengan percaya diri yang masih saja senyum-senyum.
"Isss, senyum lagi. Awas gila," sahut Risya menyumpahi Arga.
"Senyum itu ibadah. Jadi jelas aku tersenyum. Biar pahala ku semakin banyak," sahut Arga dengan santai
"Pahala katamu. Orang seperti mu itu tidak akan mendapatkan pahala. Kau itu hanya membuat ulah saja dan banyak dosa yang pastinya neraka menjadi tempatmu bukan surga," ucap Risya dengan kesal yang mendoakan Arga yang jahat.
"Sok ngomongin neraka. Eh Risya aku itu suamimu dan kalau aku masuk neraka. Kau itu pasti ikut, karena jalan suami itu bersama istrinya," sahut Arga yang sok pahama dan melangkah memasuki kamar Risya. Dan Risya sudah mulai mengeluarkan pakaiannya dari dalam lemari yang akan secepatnya untuk beres-beres.
"Enak aja ngajak- ngajak masuk neraka, nggak usah bawa-bawa suami. Pernikahan kita itu tidak ada apa-apanya. Hanya pura-pura dan kita pun hidup hanya sendiri-sendiri saja," desis Risya emosian dengan Arga yang banyak bicara.
"Ohhhhh," sahut Arga dengan selow saja menanggapi kata-kata Risya. Risya berdesis kesal mendengar tanggapan yang sangat menguras emosi itu
"Turunkan koperku!" perintah Risya dengan kesal yang letak kopernya berada di atas lemari.
"Kau menyuruhku. Gerak sendiri, emang aku pembantumu," sahut Arga yang pasti ogah melakukannya.
"Itu tinggi, apa salahnya di ambilkan, mau cepat apa tidak perginya, ya sudah kalau tidak mau, jangan salahkan aku kalau aku sengaja mengukur waktu," ucap Risya semakin kesal dan harus memberi ancaman pada Arga.
"CK," Arga berdecak kesal dan mau tidak mau harus mengambilkannya dan meletakkan di atas tempat tidur.
"Apa kau puas!" geram Arga.
"Ya aku puas. Sekali-kali harus berguna jadi suami. Jangan hanya kata-kata saja yang mau jadi suami," tegas Risya.
"Kau itu benar-benar sembarangan ya Risya kalau bicara. Aku ini sudah sangat berguna. Kau yang tidak berguna dan tidak pernah berguna," tegas Arga.
"Enak saja sembarang. Kau yang berguna dari mana hah!" sahut Risya yang pasti tidak akan pernah mau kalah.
"Terserah mu deh," sahut Arga malas bicara pada Risya. Dan Risya pun kembali menyiapkan pakaiannya memasukkan kedalam koper.
Sementara Arga berjalan-jalan di kamar Risya melihat-lihat kamar Risya. Pasti bukan pertama kali bagi Arga datang kerumah Risya. Sejak dulu juga dia sering kerumah Risya dan pasti juga pernah berada di dalam kamar itu. Kalau orang tua Risya tidak ada di rumah dan apa yang mereka lakukan di kamar itu. Ya hanya mereka yang tau.
"Apa ini?" tanya Arga tiba-tiba yang melihat kotak di sudut meja dan Risya langsung melihat ke arah Arga.
"Bikin penasaran aja. Memang apa ini," sahut Arga yang semakin di larang pasti semakin bertingkah dan apa lagi wajah Risya seperti itu. Jadi bagaimana dia tidak penasaran.
"Arga!" pekik Risya dengan geram dan langsung menghampiri Arga mengambil box itu dari tangan Arga. Namun Arga pasti menjauhkan tangannya.
"Kau itu ya benar-benar. Kembalikan tidak!" ucap Risya dengan kesal.
"Tidak! Memang apa isinya, kau sampai sepanik itu, aku coba lihat ah," sahut Arga yang begitu jahil pada Risya.
"Itu bukan urusanmu, sekarang aku bilang kembalikan!" tegas Risya yang berusaha kembali mengambilnya. Namun Arga terus menjauhkan tangannya.
"Arga kau itu benar-benar jahat Arga, kembali kan tidak," Risya terus jinjit yang berusaha mengambil dari tangan Arga yang semakin tinggi dan kadang di buatnya di belakangnya. Arga pasti sangat suka menjahili Risya yang begitu berusaha dengan wajah panik Risya.
"Bajingan kau Arga! jangan membuatku marah, cepat kembalikan," geram Risya yang mengambil paksa sampai tubuh Arga terbentuk sudut meja dan membuat apa yang di pegang Arga jatuh dan kotak itu terbuka dengan semua isinya berserakan di lantai.
"UPS tidak sengaja," ucap Arga tanpa dosa.
"Kau itu memang selalu mau suka-suka mu!" geram Risya dengan merapatkan giginya yang ingin menerkam Arga. Tapi Risya memilih untuk buru-buru memasukkan kembali barang-barang yang berserakan itu di lantai kedalam kotaknya.
Arga yang berdiri di belakang Risya melihat apa isi kotak itu. Ternyata banyak foto-foto masa lalu Risya dan Arga dan juga beberapa barang-barang couple mereka saat masih pacaran. Juga barang-barang pemberian dari Arga.
"Kau masih menyimpan semuanya?" tanya Arga membuat Risya berhenti sebentar dalam urusan beberesnya.
"Seharusnya kau bisa membuangnya setelah kita putus. Kenapa masih menyimpannya begitu rapi? Apa kau sungguh masih menyukaiku Risya dan tidak bisa melupakan mu? sehingga barang-barang itu masih tersimpan?" tanya Arga dengan suaranya dinginnya.
"Jangan kegeeran aku menyimpannya. Karena suatu saat membutuhkan. Untuk menyantet dirimu jika kesabaran ku sudah habis kepadamu," jawab Risya dengan ketus
Arga mendengarnya mendengus kasar dengan berkacak pinggang, "Seharusnya bisa di taruh di dalam gudang. Kenapa tempatnya begitu special. Jujur saja jika kau memang belum bisa move on dari ku," goda Arga.
Risya dengan emosinya langsung berdiri dari dan menghadap Arga.
"Kau itu bisa tidak. Jangan jadi orang yang punya kepercayaan diri tingkat dewa. Heh Arga jika aku tidak move on darimu. Aku tidak mungkin punya pacar setelah putus darimu. Yang adanya kau yang tidak move on dariku dan makanya kau itu tidak pernah pacaran setelah aku dan aku sudah mengatakan aku menyimpan semua ini. Karena aku membutuhkannya saat kesabaran ku habis. Yaitu untuk menyantetmu tanpa ampun," ucap Risya menegaskan dan menekankan di setiap perkataannya.
"Oh iya. Lalu kenapa di kamarmu ini tidak ada barang-barang Samuel atau foto Samuel. Kau membuangnya. Karena kalian sudah putus. Tetapi kenangan bersamaku tidak buang sama sekali. Malah di simpan. Masih mau mengelak. Jika kau tidak bisa melupakan ku," ucap Arga dengan percaya dirinya.
"Terserah ya Arga kau itu mau berpikir apa. Masa bodo!" umpat Risya yang kehilangan kesabarannya dan kembali membereskan barang-barang itu. Untuk pertanyaan Arga yang itu memang tidak bisa di jawab Risya dan Arga mendengus kasar dengan menyunggingkan senyumnya saat melihat Risya yang seperti itu.
Bersambung