
Bandara.
Pagi ini Tasya dan Putri pergi ke Bandara. Tasya mendapatkan pekerjaan yang mendadak yang mau tidak mau Tasya harus ke Bandara tanpa adanya Bram yang menemaninya. Tadi Tasya meminta izin untuk Bram mengantarkannya. Tetapi namanya juga Bram pasti ada saja alasannya dan tidak bisa mengantarkan Tasya. Jadi mau tidak mau Tasya dan Putri yang pergi.
Tasya dan Putri duduk di ruang tunggu.Mwreka hanya tinggal menunggu pengumuman dan setelah itu melakukan penerbangan.
"Kenapa kita tidak beritahu papa. Jika kita pergi ke Luar Negri?" tanya Putri pada Tasya. Dia tiba-tiba di ajak pergi dan Edo pasti tidak tau jika Putri sudah kembali lagi ke Luar Negri. Walau hanya sebentar.
"Kita perginya mendadak. Jadi tidak sempat memberitahu papa," jawab Tasya.
"Seharusnya Putri tidak ikut mama. Putri kangen sama papa dan tidak pernah main dengan papa," keluh Putri dengan wajah sedihnya.
"Nanti ya Putri kalau kita kembali lagi ke Indonesia. Putri akan main sama papa," ucap Tasya dengan janjinya.
"Mama pasti bohong," sahut Putri yang sudah terbiasa termakan janji.
"Putri maafkan mama," ucap Tasya.
"Kenapa sekarang mama jadi berubah. Dulu mama sering sekali menyuruh Putri untuk menghubungi papa. Tetapi semenjak menikah dengan Om Bram Putri bahkan tidak boleh ketemu papa. Ketemu yang lainnya juga," protes Putri. Mungkin ini kesempatan bagi Putri mengeluarkan isi hatinya. Karena jika di rumah pasti ada Bram dan Putri tidak punya waktu untuk hal itu.
"Maafkan mama Putri. Mama juga tidak paham dengan semua ini. Mama hanya tidak ingin ribut dengan mas Bram. Mama hanya menghargai Bram. Mama tau kamu pasti bingung dengan semua ini. Tetapi ini yang terjadi maafkan mama," batin Tasya yang merasa bersalah pada anaknya itu.
Tiba-tiba terdengar suara pengumuman. Jika pesawat Tasya dan Putri akan mengudara.
"Ayo Putri!" ajak Tasya. Putri menganggukkan kepalanya dan ikut berdiri. Percuma mengeluh. Jika sang mama tidak peduli padanya dan Putri hanya bisa menahan rasa rindunya pada papanya itu
Langkah Tasya tiba-tiba berhenti membuat Putri bingung.
"Ada apa mah?" tanya Putri heran dengan Tasya yang tidak jadi melanjutkan langkahnya
Tasya terdiam dengan wajah berpikirnya yang tidak tau apa yang di pikirkan Tasya membuat Putri semakin bingung dengan mamanya itu.
"Ayo Putri!" Tasya mengajak Putri. Namun bukan memasuki lokasi untuk menuju pesawat. Tetapi malah mundur yang membuat Putri bingung.
"Kita tidak jadi pergi mah?" tanya Putri heran. Tasya diam saja dan terus berjalan dengan menyeret koper dan satu tangannya memegang tangan Putri. Tidak tau apa yang membuat Tasya tidak jadi pergi dan langkah Tasya juga terlihat buru-buru sekali yang membuat Putri semakin bingung.
Tiba di depan bandara Tasya memberhentikan Taxi.
"Ayo Putri masuk!" Tasya membukakan pintu untuk Putri dan Putri hanya menurut saja. Walau dia bingung kenapa tidak jadi pergi. Setelah mereka berada di dalam Taxi. Tasya menyuruh supir untuk jalan dan taxi itu langsung meninggalkan Bandara. Tasya tidak jadi ke Luar Negri dan tidak tau kenapa dia berubah pikiran.
***********
Tidak lama akhirnya Taxi itu sampai di apartemen Tasya.
"Kenapa kita pulang lagi mah?" tanya Putri heran.
"Tidak apa-apa. Ayo turun!" ajak Tasya. Tasyakuran memberikan ongkos Taxinya pada supir Taxi dan turun dari Taxi bersama dengan Putri. Putri hanya mengikut dengan penuh kebingungan.
Mereka memasuki lift dan tidak kama keluar dari lift yang berjalan di koridor-koridor apartemen. Namun tiba-tiba langkah Tasya terhenti ketika di ujung melihat Bram yang berjalan sembari menelpon. Tasya yang kaget tiba-tiba bersembunyi dan Putri mengikut saja karena di tarik Tasya.
"Syuutt," Tasya meletakkan jarinya di bibirnya yang menyuruh Putri untuk diam dan Putri menurut saja.
"Iya sayang aku sedang menuju ke rumah kamu. Jadi bersabarlah," ucap Bram dalam telponnya yang sudah melewati tempat persembunyian Tasya dan Tasya mendengar semua yang di katakan Bram.
"Siapa wanita itu. Dia memanggilnya sayang dan bukannya mas Bram bilang jika dia sibuk bekerja. Lalu kenapa jam segini baru keluar apartemen dan ingin menemui siapa. Mengantarku ke Bandara tidak mau dan sekarang pergi entah dengan siapa," batin Tasya yang jadi kepikiran dengan wajah murungnya.
"Mah!" tegur Putri yang membuat Tasya kaget.
"Mama kenapa melamun dan kenapa kita bersembunyi dari Om Bram!" tanya Putri.
"Tidak apa-apa. Ayo Putri!" Tasya kembali mengajak Putri dengan buru-buru ke Apartemen mereka.
Begitu Tasya membuka Apartemen itu dan masuk. Tasya berjongkok di depan Putri dengan memegang ke-2 bahu Putri.
"Putri. Putri di sini sebentar ya. Mama mau pergi dulu. Putri jangan kemana-mana," ucap Tasya.
"Memang mama mau kemana?" tanya Putri.
"Mama ada urusan sebentar sayang dan mama akan kembali secepatnya. Jadi Putri di sini ya," jawab Tasya yang tidak mungkin mengatakan kemana dia pergi.
"Iya mah," sahut Putri. Tasya mencium lembut kening Putri dan langsung berdiri. Tidak ada yang di katakan Tasya lagi dan langsung pergi dengan buru-buru.
Putri menghela napasnya melihat kepergian mamanya itu.
"Huhhhh mama kenapa harus pergi lagi?"
"Kamu juga tidak jadi ke Luar Negri"
"Mama juga kenapa harus bersembunyi dari Om Bram," Putri bertanya-tanya dengan penuh kebingungan. Karena melihat Tasya yang sejak tadi sangat aneh.
**********
Tasya buru-buru memasukinya mobilnya seperti ada yang di kejarnya.
"Aku harus menyusul mas Bram. Aku harus tau mau kemana dia dan siapa yang di temuinya," ucap Tasya yang sudah memasuki mobilnya.
Ternyata Tasya berubah pikiran. Tasya tidak jadi ke Luar Negri. Karena merasa ada yang aneh dengan suaminya belakangan ini. Belum lagi dengan kedatangan Syrala dan Risya yang memberikan bukti kepadanya yang membuat Tasya tidak bisa tinggal diam dan harus mengetahui apa yang sebenarnya.
Untung saja mobil Bram belum jauh dan Tasya bisa mengikuti mobil itu. Dan tidak lama mobil itu berhenti di gedung apartemen yang lain yang membuat Tasya heran.
"Untuk apa mas Bram ke tempat ini!" batin Tasya yang melihat Bram keluar dari mobil dan memasuki Apartemen tersebut.
Tasya juga langsung buru-buru keluar dari mobil dan mengikuti Bram. Bram yang telah memasuki lift.
"Bagaimana ini!" batin Tasya yang panik karena kehilangan jejak Bram. Namun Tasya tidak kehilangan akal. Tasya melihat lantai yang dituju Bram dan Tasya menaiki lift yang satunya untuk menyusul Bram yang tidak tau Bram sedang menemui siapa.
Bersambung