MANTAN? TAPI NIKAH YUK!!!

MANTAN? TAPI NIKAH YUK!!!
Kita Sama


"Risya tunggu mama mau bicara sama kamu!" ucap Tantri yang sejak tadi berjalan mengikuti putrinya yang menghindari dirinya.


"Apa lagi sih mah, Risya mau kekamar. Mama mending sana urusi tuh tamu-tamu mama yang menyebalkan itu," ucap Risya.


"Risya mama bilang stop!" ucap Tantri membuat Risya menghela napasnya dan menghadap sang mama.


"Ada apa mah, mama mau mengajakku makan malam lagi bersama mereka?" tanya Risya.


"Kamu itu keterlaluan Risya. Apa yang terjadi di meja makan tadi seharusnya tidak terjadi. Seharusnya kamj tidak bicara seperti itu pada Tante Karen. Omongan kamu sangat kasar dan di sana juga ada tamu tidak pantas kamu mengatakan hal itu," ucap Tantri yang menegur Risya yang menurutnya sangat kelewatan.


"Jadi mama mau bicara pada Risya karena hanya ingin membela mereka iya. Mama sadar tidak mah, mereka juga menghina Risya, mempermalukan Risya di depan orang lain, mama dan papa hanya diam saja dan sekarang ketika Risya mengatakan apa adanya mama sekarang marah pada Risya. Apa semua yang terjadi adalah kesalahan Risya mah. Mama mengatakan tidak pantas. Lalu apa yang di bicarakan ibu dan anak itu pantas," ucap Risya dengan emosi yang penuh dengan kekesalan karena orang tuanya yang lebih membela sepupunya dari pada dirinya.


"Risya mama tidak membela siap-siap. Mama tidak membela Vio. Mama hanya tidak suka dengan perkataan kamu yang kamu juga pasti tau itu salah. Apa yang kamu katakan itu salah dan mereka orang tua. Tante Karena lebih dewasa di bandingkan kamu. Seharusnya kamu menghormatnya dan menjaga kata-kata kamu," ucap Tantri dengan alasan yang di berikan yang.


"Mama dan papa juga orang tua dan lihat Vio yang mengatai Risya di depan mama dan papa dan Tante karena lebih muda dari papa. Apa dia juga menghargai papa," sahut Risya.


"Risya jangan keras kepala. Jangan membalikkan kata-kata. Kamu harus menyadari jika kamu salah," ucap Tantri.


"Lalu menurut mama apa yang di katakan, Tante Karen, dan Vio tidak salah. Bagaimana mau salah jika mama juga sering mengatakan itu pada Risya," sahut Risya dengan ada saja jawabannya.


"Apa maksud kamu Risya kenapa kamu bicara seperti itu?" tanya Tantri.


"Udahlah Mama, mama membela mereka karena memang mama sama saja seperti mereka yang suka mengatai Risya, menekan Risya dengan pernikahan. Mama pikir Risya selama ini diam saja saat mama mengungkit pernikahan. Apa mama pikir Risya diam saja karena Risya tidak peduli. Mama harus tau bagaimana perasaan Risya yang sakit hati saat itu dengan semua kata-kata mama. Perasaan Risya sangat hancur dengan semua apa yang mama katakan. Risya diam bukan berarti Risya tidak sakit hati mah. Mama dan papa terus mendesak Risya untuk menikah, mengatakan ini dan itu, dan mengungkit hubungan Risya dan Arga. Mah Risya ini manusia dan semua yang mama katakan itu menyakiti Risya," ucap Risya yang mengeluarkan semua unek-uneknya selama ini dengan tekanan yang di dapatkan dari orang tuanya termasuk mamanya.


"Mama pikir suatu becandaan. Jika mama terus berkata kepada teman-teman arisan mama. Mbak, jeng, tolong carikan anak saya pasangan. Mama tau tidak semua perkataan mama itu merendahkan putri mama sendiri. Mama pikir Risya tidak mau menikah. Risya mau menikah mah dan sudah berusaha. Tapi mama tidak seharusnya membongkar semua nya di depan Arga yang mana lagi-lagi dan lagi Risya hanya mendapat ejeka mah. Jadi bagaimana orang-orang tidak menghina Risya. Jika mama sendiri orang tua Risya memperlakukan Risya seperti ini," lanjut Risya dengan air matanya yang keluar yang selama ini tindakan orang tuanya membuatnya tertekan dan selama ini dia santai yang seperti tidak terjadi apa-apa dan menerima semua apa yang di katakan orang tuanya.


"Mama itu sama saja dengan mereka semua. Tidak ada yang mengerti dengan perasaan Risya, mama terus saja membela mereka dan terus biarkan orang-orang menghina putri mama sendiri," ucap Risya yang membuang napasnya perlahan kedepan dan langsung pergi meninggalkan tempat itu.


"Risya!" Panggil Tantri.


Tantri menghela napasnya dengan memijat kepalanya, Baru kali ini Tantri melihat anaknya itu serius dan bahkan bicara sembari menangis yang terlihat sudah banyak yang di pendamnya dan sekarang baru di keluarkannya rasa sakit hatinya yang selalu di bencandain masalah pernikahan.


Ternyata pertengkaran mamanya dan Risya di dengarkan oleh Arga. Arga dengan ke-2 tangannya yang berada di dalam saku celananya hanya melihat saja dengan ekspresinya yang tidak terbaca. Risya adalah mantan kekasihnya dan putusnya mereka juga karena masalah yang sebenarnya semua orang tau.


Di mana Arga dan Risya yang putus karena Risya yang dituduh berselingkuh dengan Samuel. Untuk kebenarannya tidak ada yang tau. Tetapi pada nyatanya setelah putus dari Arga Risya langsung jadian dengan Samuel namun hubungan mereka kandas karena tingkah Vio yang tiba-tiba hamil anak Samuel. Ya masalah itu sering menjadi bahan obrolan dan saling sindir sampai detik ini.


**********


"Risya!" langkah Risya terhenti ketika ada memanggilnya dan Risya membalikkan tubuhnya.


"Tante Salmah," gumam Risya yang ternyata Salmah yang memanggilnya, "Tante belum pulang?" tanya Risya.


"Kamu mengusir Tante?" tanya Salmah.


"Bukan Tante, bukan itu, hanya saja Risya heran Tante masih ada di sini," ucap Risya.


"Sebentar lagi Tante mau pulang. Kamu mau istirahat?" tanya Salmah.


"Iya Tante Risya mau tidur," jawab Risya.


Salmah mendekati Risya dan memegang bahu Risya," kamu anak yang baik," ucap Salmah dengan tulus dengan perkataannya.


"Makasih Tante," sahut Risya.


"Ya sudah kamu kalau kamu mau istirahat, istirahat lah," ucap Salmah.


"Baiklah Tante," sahut Risya dengan mengangguk dan Risya yang memang suasana hatinya tidak baik. Langsung pergi dari hadapan Salmah dan salmah juga tidak ada lagi yang di katakannya.


*********


Setelah acara makan malam di rumah Arga pulang sendiri menggunakan mobilnya. Karena orang tuanya bawa mobil sendiri. Mobil Arga yang berhenti di lampu merah.


Arga yang merasa jenuh menghidupkan musik. Dengan jarinya yang mengetuk-ngetu stir mobil. Arga tiba-tiba mengingat umpatan Risya pada mamanya dan Arga yang tiba-tiba jadi kepikiran dengan hal itu.


"Kita ternyata sama, merasa semua itu adalah tekanan. Aku tidak tau kenapa harus ada yang namanya pernikahan sangat lucu. Tetapi itu merupakan kenyataan dan keharusan yang harus di usahakan," ucap Arga dengan mengendus kasar.


Sebenarnya dia dah Risya adalah dua orang yang sama yang apa-apa jika bertemu orang tua yang di bahas hanya pernikahan ini dan itu tidak ada yang di bahas lagi dan itu justru membuat tekanan. Namun keduanya nsukiy mengungkapkan hal itu.


Arga hanya tersenyum miring yang tampak penuh dengan arti yang tidak tau juga apa arti dari senyuman itu.


Bersambung