
Edo yang terlihat gelisah yang berdiri di dekat ranjang yang setelah selesai menelpon. Angela yang memasuki kamar dan melihat wajah suntuk suaminya itu seperti ada sesuatu yang membuatnya heran.
"Kamu kenapa mas?" tanya Angela memegang bahu Edo.
"Aku tidak mengerti apa maksud Angela. Aku baru saja menghubunginya untuk bertemu Putri. Tetapi dia malah tidak mengangkat teleponku," jawab Edo dengan wajah kegelisahannya.
"Bukannya kamu sudah janjian dengan Tasya untuk bertemu dengan Putri sebelumnya?" tanya Angela.
"Aku hanya ingin memastikan Angela dan mengabari kita akan datang. Aku sudah chat Tasya memberi tahu kita akan datang. Tetapi Tasya tidak merespon. Makanya aku menelponnya dan dia juga tidak mengangkat telponnya," jelas Edo.
"Ya sudah mas mungkin Tasya sedang ada pekerjaan. Jadi tidak bisa mengangkat telpon. Yang penting kita sudah ada janji dengan Tasya dan dari pada kamu gelisah tidak menentu nambah-nambah pikiran aja. Sekarang sebaiknya kita langsung pergi untuk menemui Putri. Kita tau alamat Apartemen Tasya. Kita bisa langsung ke sana. Selesai kan," ucap Angela.
"Iya sih," sahut Edo yang setuju dengan apa yang di katakan istrinya itu.
"Ya sudah sekarang ayo kita pergi!" ajak Angela.
"Iya sayang. Kamu juga siap-siap ya," sahut Edo.
"Aku sudah siap sejak tadi mas dan hanya tinggal menunggu kamu saja yang masih aja pusing," sahut Angela.
"Iya-iya maaf," sahut Edo.
**********
Angela dan Edo akhirnya sampai ke Apartemen Tasya. Mereka berdua sudah berada di depan pintu Apartemen itu. Tidak lupa juga Tasya dan Edo tadi mampu dulu ke toko mainan untuk membelikan Putri mainan.
Edo sudah menekan tombol Apartemen tersebut beberapa kali. Namun belum di buka sama sekali.
"Apa mereka tidak ada di Apartemen!" tanya Angela yang melihat pintu tidak di buka sama sekali yang membuatnya heran.
"Seharusnya bukannya dia ada di Apartemen ya. Atau memang mereka sedang pergi," ucap Edo.
Angela mengangkat kedua bahunya dan sampai akhirnya tiba-tiba pintu itu di buka dan yang membuka adalah Putri.
"Putri!" ucap Edo dengan tersenyum yang begitu senang saat bertemu dengan Putri.
"Papa," sahut Putri yang tersenyum dan Edo langsung berjongkok untuk memeluk Putri yang sangat dirindukannya itu.
"Putri kangen banget banget sama papa," ucap Putri yang memeluk Edo begitu erat.
"Papa juga kangen sama Putri sayang," sahut Edo yang akhirnya bisa melepas rindu dan tersenyum melihat Putri. Angela juga tersenyum yang ada di sana melihat Edo dan Putri yang berpelukan dengan erat. Angela tau jika Edo begitu merindukan Putri.
"Putri mama kamu mana?" tanya Angela.
"Lagi pergi," jawab Putri.
Edo melonggarkan pelukan itu dan kaget dengan kata-kata Putri yang langsung melihat Putri dengan serius.
"Kamu bilang mama kamu kemana?" tanya Edo lagi dengan wajah seriusnya yang berharap salah dengar jika Putri mengatakan Tasya sedang pergi.
"Putri tidak tau. Tadi pagi-pagi sekali sudah di jemput Om Bram dan tidak bilang apa-apa sama Putri. Putri lama buka pintu karena takut siapa yang datang. Putri harus ambil bangku dulu dan melihat dari monitor siapa yang datang dan ternyata papa. Makanya Putri langsung buka pintunya," jawab Putri dengan apa adanya dengan penjelasannya yang panjang lebar.
"Dan kamu sendirian di sini?" tanya Edo. Putri menganggukkan kepalanya.
"Apa-apaan Tasya. Bisa-bisanya dia membuat Putri sendirian di Apartemen dan dia tidak ada sama sekali di sini dan malah pergi dengan Bram. Apa maksud Tasya," batin Edo kelihatan kesal.
"Papa, mama ayo masuk!" ajak Putri dengan menarik tangan Edo dan Edo langsung menurut saja dan masuk bersama Angela.
Edo sangat bahagia bertemu dengan Putri. Dia sekarang menghabiskan waktu dengan bermain bersama Putri di dalam Apartemen Tasya. Tadinya dia ingin mengajak Putri untuk jalan-jalan keluar. Namun karena Tasya tidak ada jadi tidak mungkin mengajak Putri begitu saja. Jadi mereka menghabiskan waktu di dalam Apartemen Tasya.
"Putri papa boleh tanya sesuatu pada Putri?" tanya Edo.
"Boleh pah mau tanya apa?" tanya Putri.
"Apa mama sering meninggalkan Putri sendirian?" tanya Edo yang memang penasaran.
Putri diam dan tidak menjawab pertanyaan Edo. Angela dan Edo saling melihat.
"Hmmmm Putri, Om Bram sering datang ke mari?" tanya Angela mengalihkan pertanyaan itu dan Putri menjawab dengan anggukan kepalanya.
"Lalu?" tanya Edo.
"Tapi tidak suka lama-lama di sini. Waktu di Luar Negri juga Om Bram sering datang. Tapi tidak mau lama-lama di rumah selalu ngajak mama pergi dan mungkin karena ada Putri. Om Bram mungkin tidak suka dengan Putri," ucap Putri dengan pemikirannya membuat Angela dan Edo kembali saling melihat.
"Maksud Putri bagaimana?" tanya Edo.
"Papa Putri tidak bisa menjelaskannya," sahut Putri dengan kebingungan.
Tidak lama setelah itu pintu Apartemen di buka yang ternyata Tasya sudah pulang bersama dengan Bram.
"Mas Edo!" lirih Tasya yang kaget dengan Edo yang sudah ada di rumahnya dan Tasya langsung menoleh ke sebelahnya melihat eksperesi wajah Bram yang kelihatan tidak suka.
"Mama sudah pulang?" tanya Putri.
"Iya Putri!" sahut Tasya.
"Mas, Angela!" sapa Tasya dengan gugup. Dia takut jika Bram marah kepadanya.
"Hay Tasya," sahut Angela yang juga menyapa Tasya dengan ramah. Namun Edo terlihat datar. Sepertinya Edo kesal dengan Tasya yang meninggalkan Putri sendirian.
"Aku tidak tau. Jika kalian ada di sini," sahut Tasya yang seperti orang panik.
"Aku sudah menghubungimu sejak tadi. Tapi aku tidak tau apa yang membuatmu tidak mengangkat telponnya mu," sahut Edo dengan suara dinginnya.
"Oh benarkah! Aku tidak melihat ponselku. Mungkin tidak kedengaran saat kamu menelpon," sahut Tasya yang mencari alasannya.
"Maaf mas aku tidak melihat ponselku," sahut Angela.
"Lalu kamu sendiri dari mana? kenapa meninggalkan Putri sendirian?" tanya Edo.
"Aku ada urusan keluar dengan mas Bram dan Putri tadi juga belum bangun. Aku tidak enak membangunkannya," jawab Tasya dengan gugup.
Edo merasa tidak masuk akal jawaban Tasya. Dia baru saja bercerita dengan Putri dan apa yang di katakan Tasya tidak masuk dengan apa yang di katakan Putri.
"Tapi bisa pergi setelah Putri bangun. Ini juga masih pagi dan tidak seharusnya Putri sendirian di Apartemen," ucap Edo dengan sarannya dan pasti juga perintah.
"Tapi urusan kita berdua sangat banyak dan tidak mungkin Putri di bawa," sahut Bram yang memotong pembicaraan itu.
"Hmmm Dan iya kalian juga seharusnya tidak masuk ke Apartemen orang lain. Jika tidak ada yang punya rumah di dalamnya," sindir Bram.
Kata-kata Bram membuat Edo diam dan Tasya semakin panik yang takut terjadi keributan.
Bersambung