
Edo buru-buru keluar rumahnya dan saat Edo keluar rumah dia melihat mobil Tasya berhenti di depan rumahnya. Tasya keluar dari mobil yang ternyata Tasya tidak sendiri di mana ada Putri yang memakai seragam sekolah dan terlihat Putri yang sepertinya habis di jemput Tasya.
Wajah Edo tampak kesal melihatnya dan langsung menghampiri Tasya dan Putri.
"Papa," sahut Putri yang langsung menghampiri Edo dan Edo memegang tangan Putri dengan menaruh Putri di belakangnya.
"Apa yang kau lakukan Tasya?" tanya Edo dengan menekan suaranya yang terlihat penuh dengan kemarahan.
"Apa maksud kamu mas. Aku baru saja menjemput Putri pulang sekolah," jawab Tasya dengan santai.
"Putri sudah bilang sama mama pah. Papa yang menjemput Putri dan mama tidak boleh. Tetapi mama memaksa Putri dan bilang sudah izin papa," ucap Putri yang apa adanya yang membuat Edo semakin marah dengan menatap Tasya dengan tajam.
"Berani sekali kau Tasya!" sentak Edo dengan suaranya yang keras yang habis kesabaran dengan Tasya.
"Apa sih mas. Kenapa kamu marah-marah. Aku hanya menjemput Putri dan tidak ada yang salah," sahut Tasya.
"Aku sudah mengatakan kepadamu jangan pernah menemui Putri apa lagi menginjakkan kaki di rumah ini!" tegas Edo dengan menunjuk ke bawah.
"Aku ibu kandung Putri dan kau tidak bisa melarangku," tegas Tasya yang selalu punya pegangan.
"Persetan dengan ibu kandung. Aku tegaskan kepadamu sekali lagi untuk peringatan terakhir kepadamu. Jangan menginjakkan kaki dirumahku," tegas Edo penuh penekanan.
"Mas Edo. Kamu tidak bisa melarangku untuk menemui anak kandungku," protes Tasya.
"Aku sudah memberimu banyak kesempatan. Tetapi kau melebihi batasmu yang sudah menjebakku dan menghancurkan hubunganku dengan Angela," tegas Edo.
"Itu terus yang kau katakan mas. Aku tidak melakukan apa-apa dan kau juga yang menginginkan hal itu. Kau yang tidak bisa mengendalikan dirimu," teriak Tasya.
"Cukup Tasya!" bentak Edo. Kau pikir aku bodoh. Aku bicara dengan bukti dan yang bodoh itu adalah diriku yang meninggalkan jejak di dapur. Kau pikir aku tidak tau kau mencampurkan obat ini kedalam minumanku," tegas Edo yang menunjukkan botol kecil itu tepat di depan mata Tasya yang membuat Tasya kaget dan sekarang tidak bisa berkutik lagi.
Sementara Putri yang di belakang Edo memegang kemeja Edo hanya diam yang pasti takut melihat papa dan mamanya yang bertengkar.
"Kenapa kau diam. Kau ingin mengelak lagi. Kau itu wanita yang sangat licik. Aku memberimu banyak kesempatan dan ini balasanmu dan kau juga harus menerima akibat dari perbuatanmu yang mana kau tidak akan pernah bertemu dengan Putri lagi," tegas Edo dengan matanya yang melotot yang hampir keluar karena begitu marahnya sampai rahangnya mengeras yang terlihat urat-urat lehernya.
"Jika memang itu yang kau inginkan maka silahkan mas. Maka aku akan mengajukan hak asuh Putri ke pengadilan," ancam Tasya.
"Lakukan. Lakukan semaumu dan aku tunggu surat pengadilannya," sahut Edo yang tidak takut dan menantang Tasya kembali.
"Kau akan kalah mas Edo. Jadi jangan memancingku," ucap Tasya.
"Kita lihat saja nanti," sahut Edo yang percaya diri dan tidak akan takut dengan Tasya yang akan memperebutkan hak asuh anak dengannya.
"Satpam!" teriak Edo dengan suara menggelegar dan Satpam langsung datang.
"Ada apa tuan?" tanya Satpam tersebut.
"Seret wanita ini dari rumah ini dan jangan biarkan dia datang kembali," tegas Edo.
"Baik tuan," sahut Satpam tersebut.
"Mas Edo apa yang kau lakukan. Kau tidak biasa memperlakukan ku seperti ini!" berontak Tasya saat Satpam itu menyeretnya dan Edo yang sama sekali tidak peduli yang membawa Putri masuk kedalam rumah.
"Mas Edo!"
"Mas Edo!"
"Kau akan menyesal mas Edo melakukan semua ini kepadaku. Kau akan menyesal!" teriak Tasya yang sama sekali tidak ada yang peduli.
***********
Edo mengantarkan Putri kekamar dan mendudukkan Putri di pinggir ranjang.
"Papa dan mama tadi itu bertengkar?" tanya Putri.
"Iya sayang," jawab Edo.
"Kenapa papa sangat marah pada mama. Apa mama membuat kesalahan yang sangat besar?" tanya Putri.
"Iya. Mama membuat kesalahan yang sangat besar dan wajar jika papa marah pada mama," jawab Edo dengan memegang pipi Putri.
"Lalu maksudnya bagaimana dengan hak asuh dan mama bilang Putri akan sama mama. Apa nanti Putri tidak akan tinggal sama papa lagi?" tanya Putri.
"Tidak Putri. Putri jangan dengarkan apa yang terjadi tadi. Karena apapun itu. Putri akan tetap sama papa. Putri pasti terus bersama papa," ucap Edo dengan yakin.
"Lalu mama Angela bagaimana. Kenapa dia tidak datang dan Putri tadi minjam handphone guru di sekolah menelpon mama Angela. Tetapi tidak ada jawaban. Apa papa marahan lagi dengan Tante Angela?" tanya Putri dengan wajahnya yang penuh rasakannya khawatir.
Edo menghela napasnya perlahan kedepan dan Edo mencium kening Putri.
"Maafkan papa ya sayang. Papa buat kesalahan lagi sampai mama Angela marah," ucap Edo merasa bersalah.
"Itu artinya Putri akan sulit bertemu dengan mama Angela dong," ucap Putri dengan wajah sedihnya yang membuat Edo langsung memeluk Putri.
"Jangan khawatir papa pasti akan menyelesaikan semua ini. Putri tenang saja papa tidak akan membuat Putri kehilangan mama Angela. Karena papa juga tidak ingin kehilangannya," ucap Edo yang berjanji pada anaknya itu.
**********
Sementara Angela yang duduk murung di bengkel Boy. Bukan hanya Angela yang ada di sana ada juga Risya dan Arga. Namun mereka berbeda tempat duduk di mana Angela menyendiri dengan wajahnya yang penuh kesedihan yang pasti memikirkan hubungannya dengan Edo.
"Tasya sudah bisa di hubungi?" tanya Boy.
"Belum juga. Aku juga tidak tau kemana anak itu," jawab Risya yang menghela napasnya dengan kasar. Ada-ada saja yang terjadi temannya benar-benar pecah hanya karena cinta.
"Semua ini kesalahanku," sahut Boy yang juga merasa bersalah dengan semua ini. Dia juga baru mendengar cerita dari Risya. Masalah yang terjadi dengan Angela dan juga Syrala.
"Aku akan coba hubungi lagi Syrala dan semoga saja dia mau menjawab teleponku dan tidak menghindar seperti ini," ucap Risya yang tidak akan berhenti berusaha.
"Lalu bagaimana dengan masalah Edo?" tanya Boy.
"Edo sudah menemukan buktinya dan memang dia di jebak oleh Tasya. Hanya tinggal bicara pada Angela dan berusaha meyakinkan Angela," jawab Arga yang baru mendapatkan kabar dari Edo.
"Syukurlah. Jika Edo bisa membuktikannya," sahut Risya yang merasa lega.
Bersambung