
Rumah sakit.
Akhirnya Risya di sudah tiba di rumah sakit yang sekarang di tangani oleh Dokter. Arga dan Salmah menunggu di luar dengan harap-harap cemas yang pasti sangat khawatir dan penuh dengan ketakutan.
"Ya Allah, semoga saja Risya tidak apa-apa," ucap Salmah dengan panik yang takut terjadi sesuatu pada menantunya itu.
"Arga berharap seperti itu mah, Arga benar-benar sangat takut. Jika sampai Risya kenapa-kenapa," sahut Arga. Arga bahkan sudah tidak peduli lagi dengan bayinya. Karena melihat istrinya yang tadi menahan rasa sakit membuatnya lebih mementingkan kesehatan istrinya.
"Kita berdoa saja semoga saja Risya benar-benar baik-baik saja," sahut Salmah yang hanya bisa berdoa yang terbaik.
"Arga, mbak Salamah," tiba-tiba Tantri dan suaminya datang yang langsung menghampiri Salmah dan Arga.
"Mbak," sahut Tantri.
"Bagaimana keadaan Risya?" tanya Tantri dengan panik.
"Risya masih di tangani oleh Dokter. Semoga dia baik-baik saja," jawab Salmah yang memegang tangan Tantri yang sangat dingin.
"Ya Allah semoga saja Risya tidak apa-apa. Ada apa sebenarnya. Kenapa Risya tiba-tiba seperti itu?" tanya Tantri.
"Risya berada di kamar mandi yang tiba-tiba kesakitan dan tiba-tiba keluar darah dan aku juga bingung dan tidak tau apa yang terjadi," ucap Arga.
"Kita tunggu saja Dokter dan semoga saja Risya tidak apa-apa. Kita doakan dan serahkan pada Dokter," ucap Hariyanto yang berpikiran positif.
"Iya pah," sahut Arga dengan mengangguk dan mencoba untuk tenang.
***********
Setelah di periksa oleh Dokter Risya sekarang masih dirawat. Arga keluar dari ruangan Dokter dengan wajah senduhnya yang menyimpan kesedihan dengan matanya yang berkaca-kaca.
Arga menghela napasnya dengan perlahan dan memejamkan matanya sejenak dengan mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.
"Mungkin ini memang yang terbaik," gumamnya yang kembali menghela napas dan melanjutkan langkahnya.
Arga menghampiri orang tuanya yang menunggu di depan ruangan perawatan Risya.
"Arga!" ucap Salmah menghampiri putranya itu dengan memeluk putranya itu.
"Kamu yang sabar ya nak. Kamu dan Risya harus kuat. Percaya sama mama Allah akan menggantikan secepatnya," ucap Salmah yang memberikan dukungan pada Arga.
"Iya Arga. Ini adalah cobaan. Kamu dan Risya harus lebih kuat dan lebih tegar. Percayalah semuanya akan indah pada waktunya dan jika Allah sudah waktunya memberikan kepercayaan lagi untuk kamu dan Risya. Pasti Allah akan mengganti lagi secepatnya," sahut Dehway yang memberi dukungan dengan sangat bijak.
"Iya pah," sahut Arga yang hanya mencoba untuk kuat. Padahal di hati kecilnya banyak kesedihan.
Krekk.
Pintu ruangan Risya di buka yang keluar dari ruangan itu Tantri dan Hariyanto.
"Bagaimana Risya mah?" tanya Arga.
"Risya masih menangis Arga. Apa yang terjadi tidak mudah baginya. Di sangat sedih kehilangan anak kalian dan juga sangat takut bertemu kamu. Karena takut kamu marah dan kecewa," ucap Tantri.
Karena pendarahan yang sangat banyak. Kandungan Risya tidak bisa di selamatkan dan Risya harus kehilangan bayinya dan pasti hal itu tidak mudah di terima Risya.
"Kalau begitu kamu masuklah Arga. Kamu temui istri kamu. Dan beri dia dukungan," ucap Salmah.
"Baiklah aku masuk dulu," ucap Arga. Yang lainnya mengangguk dan Arga langsung masuk kedalam ruangan sang istri. Memang dia belum menemui istrinya dan kabar gugurnya kandungan Risya juga dari Dokter.
Risya sangat kelelahan. Mungkin karena banyak beraktivitas saat di acara Putri. Tanpa Risya sadari dia sangat banyak melompat-lompat dengan kegirangan dan Arga sendiri juga lupa mengawasi Risya. Yang akhirnya kondisi Risya drop dan menyebabkan fatal dengan kandungan Risya yang akhirnya tidak dapat di selamatkan.
Arga yang memasuki ruangan itu melihat Risya yang berbaring miring dan dari gerak tubuh Risya terlihat Risya yang sedang menangis sengugukan membuat Arga menghela napasnya dan langsung menghampiri istrinya itu.
Arga duduk di samping Risya dengan memegang bahu Risya mengusapnya dengan lembut.
"Sayang!" tegur Arga.
"Maafkan aku, aku tidak hati-hati. Sampai kita kehilangan anak kita. Aku benar-benar sangat ceroboh, maafkan aku," ucap Risya yang menangis sengugukan yang merasa bersalah.
"Hey sayang kenapa harus minta maaf apa yang terjadi bukan kesalahan kamu. Aku juga yang salah yang tidak bisa menjaga kamu. Kamu jangan menangis seperti ini. Ini bukan kesalahan kamu sayang," ucap Arga.
"Tetap aja aku yang salah. Aku sudah membuat kita kehilangan anak kita," sahut Risya yang terus menangis.
Arga mendekati Risya dan memeluk Risya dari belakang untuk menguatkan Risya.
"Sayang sudah ya. Kamu jangan terus bersedih seperti ini. Kita jadikan ini sebagai pelajaran dan apa yang terjadi bukan kesalahan kamu," ucap Arga.
"Tapi kamu pasti kecewa," ucap Risya.
"Aku tidak kecewa. Karena anak itu titipan dan kita berdua mungkin belum di percayai sama Allah. Jadi jangan bersedih terlalu berlebihan ya," ucap Arga yang menguatkan istrinya.
"Cup, cup, cup,cup," Arga terus mendiamkan Risya dan sampai Risya membalikkan tubuhnya dan memeluk Arga yang berada di dada bidang Arga dengan Risya yang masih saja menangis.
"Jangan menangis lagi sayang. Kita doakan saja semoga Allah secepatnya mengganti secepatnya," ucap Arga.
Sebagai pasangan baru pasti keduanya sangat terpukul dengan kehilangan calon anak mereka. Apa lagi Risya sangat tau Arga sangat ingin mempunyai anak. Kandungannya yang lemah sempat membuatnya tidak percaya diri dan makanya punya pikiran untuk tidak memberitahu Arga. karena takut Arga berekspetasi tinggi dan akhirnya kecewa.
Dan ternyata semua itu memang terjadi. Walau Arga mengatakan tidak kecewa dan terlihat baik-baik saja dan lebih kuat di bandingkan Risya. Tetapi pasti Arga juga bersedih.
**********
Risya masih di rawat di rumah sakit dengan kondisi Risya yang masih tidak baik-baik saja. Dia masih tidak bersemangat dan sangat penuh dengan kesedihan pastinya. Risya yang berbaring di kepala ranjang dengan dengan Arga yang duduk di sampingnya yang sedang menyuapinya.
"Hey kenapa masih begitu sedih?" tanya Arga yang tidak tega dengan Risya.
"Maafkan aku," ucap Risya yang kembali meminta maaf.
"Minta maaf apa lagi Risya. Kamu tidak perlu meminta maaf lagi. Sekarang kita lupakan hal itu. Kamu jangan memikirkan hal itu lagi. Kita berdua fokus saja dengan kesehatan kamu," ucap Arga.
"Tapi kita sudah kehilangan anak kita," ucap Arga.
"Kehilangan anak bukan berarti tidak akan ada lagi. Sudah ya sayang jangan memikirkan itu lagi. Kamu sekarang makan dan aku akan marah. Kalau kamu terus seperti ini," ucap Arga dengan tegas pada Risya.
Bersambung