
Arga dan Risya sampai pada tempat yang di katakan Arga.
"Kita mau kemana sih Arga?" tanya Risya heran.
"Lihat itu?" tunjuk Arga membuat arah mata Risya melihat ke arah jari Arga.
Mata Risya langsung terbelalak kaget melihat apa yang di tunjukkan Arga dengan mata Risya yang berbinar dan terlihat takjub.
"Gunung Fuji," ucap Risya yang tidak percaya melihat indahnya gunung Fuji tersebut. Arga tersenyum dengan mengangguk. Risya begitu bahagianya sampai berlari untuk melihat ke indahnya pemandangan itu. Arga juga turun bahagia melihat Risya dan menghampiri Risya yang ada melihat ke indahan itu.
Melihat gunung tersebut dari ketinggian yang di pinggirannya di berikan pagar-pagar membuat Risya tampak begitu bahagia dengan ke-2 tangannya yang di letakkan di atas pagar yang melihat gunung yang seolah sejajar dengannya.
"Mau foto tidak?" tanya Arga.
"Mau," sahut Risya dengan cepat menjawab. Arga langsung memotret istrinya itu dengan background gunung Fuji tersebut dan Risya sudah menunjukkan beberapa gaya. Maklumlah Risya juga terlihat sangat bahagia.
"Foto berdua!" ajak Risya yang menarik tangan Arga dan mereka berfoto berdua dengan selfie. Beberapa gaya yang di lakukan mereka sampai Arga mengambil kesempatan mencium pipi Risya dan Risya hanya kaget. Namun tidak marah sama sekali dengan tindakan Arga sampai akhirnya mereka selesai mengambil beberapa foto dan sekarang sedang melihat hasilnya dengan kepala mereka yang berdekatan.
"Lucu-lucu sekali foto-fotonya," gumam Risya yang begitu bahagianya.
"Ini lebih lucu," ucap Arga menunjuk foto dia yang mencium Risya.
"Itu sih kamu yang jahil," ucap Risya dengan wajah cemberutnya.
"Makasih ya Arga sudah membawaku kemari. Kamu tau aja aku sangat menyukai tempat ini dan bahkan tujuan ku ke jepang ingin melihat gunung Fuji dan sekarang baru terkabul. Dulu sebelum kita putus. Kamu berjanji akan memberiku hadiah untuk ke tempat ini. Namun hal itu terjadi dan kita tidak jadi ketempat ini," ucap Risya yang sejak tadi bicara Arga hanya melihatnya saja.
"Makasih Arga," ucap Risya.
"Risya aku membawamu kemari bukan untuk kamu melihat ke indahan gunung itu. Tetapi aku ingin menunjukkan siapa yang aku bawa pada gunung Fuji. Aku ingin menunjukkan pada gunung Fuji. Jika aku juga memiliki suatu hal yang indah," ucap Arga dengan lemah lembut yang berbicara begitu tulus yang membuat Risya terharu mendengarnya yang mata mereka berdua saling melihat satu sama lain.
"Maafkan aku Risya jika waktu itu aku tidak menepati janjiku," ucap Arga yang menatap tisu begitu dalam.
Risya spontan langsung mencium pipi Arga dengan lembut, "aku merasakan jika kamu masih sangat mencintaiku," ucap Risya dengan matanya berkaca-kaca.
Arga memegang pipi Risya dengan tatapan matanya yang tidak lepas dari bola mata indah itu dan mencium bibir Risya. Risya memejamkan matanya menerima ciuman itu tanpa menolak sama sekali.
Arga memegang tengkuk Risya untuk memperdalam ciuman itu sampai dengan tangan Risya yang memegang erat kemeja Arga. Mereka seakan menganggap hanya mereka yang ada di tempat itu yang sedang mabuk dengan asmara tanpa keduanya tidak peduli ada yang melihat apa tidak.
Ciuman romantis yang di lakukan di tempat yang sangat mendukung itu membuat mereka sama-sama hanyut. Jika ditanya apa s
ke-2nya masih memiliki perasaan satu dengan yang lain. Maka jawaban pasti.
**********
Arga membuka pintu kamar yang tidak jauh dari tempat mereka tadi berciuman. Arga mempersilahkan Risya untuk masuk dan Risya mendadak gugup yang masuk kedalam kamar tersebut.
Kamar itu berada di ketinggian dengan dinding yang di lapisi kaca yang bisa melihat ke indahan di luar. Lagi-lagi Risya merasa sangat takjub melihat hal itu belum lagi membuat mata Risya berbinar.
Bukan hanya dingding kaca yang bisa melihat pemandangan indah termasuk gunung Fuji yang sangat indah. Bahkan atapnya juga yang di lapisi kaca yang bisa melihat indahnya awan biru di atas sana.
"Kamu menyewa tempat ini?" tanya Risya yang masih melihat di sekitarnya dengan begitu takjub.
Uhuk-uhuk-uhuk-uhuk.
Risya langsung batuk-batuk mendengarnya.
"Ma-ma-maksud kamu apa?" tanya Risya dengan terbata-bata, "jangan bicara aneh-aneh deh," sahut Risya mengalihkan pembicaraan dan melangkah pada jendela untuk melihat dekat gunung yang indah di sana.
Arga menyunggingkan senyumnya dengan mendengus dengan senyuman miring. Lalu menghampiri Risya yang berada di belakang Risya dengan berdiri yang memegang kedua pundak Risya sampai mengusap sampai lengannya. Hal itu membuat Risya merinding dengan Risya memejamkan matanya.
Belum lagi dia merasakan rambutnya sedang di cium Arga.
"Bukankah ini sudah waktunya Risya," bisik Arga di telinga Risya yang membuat Risya merinding.
Arga membalikkan tubuh Risya dan membuat Risya berdiri di hadapan Arga dengan Risya yang semakin gugup bahkan Risya sampai menunduk yang mendadak tidak berani melihat wajah Arga.
Arga mengangkat dagu Risya untuk mensejajarkan wajah Risya pada wajahnya dan melihat asli wajah Risya yang sangat memerah.
"Ka_ ka_ kamu menginginkan hal itu?" tanya Risya dengan gugup yang memberanikan diri untuk melihat Arga.
"Apa aku boleh melakukannya?" tanya Arga yang meminta izin pada Risya. Jika Risya tidak mau Arga tidak akan memaksanya. Namun dia juga tidak munafik yangs sudah menahan diri begitu lama.
"Risya kenapa kamu diam?" tanya Arga.
"Ba_ baiklah," jawab Risya dengan gugup.
"Baik itu artinya apa?" tanya Arga dengan menaikkan alisnya yang masih aja sempat-sempatnya menjahili Risya.
"Jangan tanya lagi Arga," ucap Risya yang membuat Arga tersenyum dan langsung mencium kening Risya dengan lembut membuat Risya memejamkan matanya.
Arga pun langsung menggendong Risya ala bridal style dan membawa Risya langsung keatas ranjang.
Duk-Duk Duk Duk Duk Duk-Duk Duk Duk Duk
Suara jantung Risya pasti tidak aman saat kaki ini Arga di pastikan benar-benar serius. Bahkan Risya sudah berbaring di atas ranjang dengan Arga yang berada di atas tubuhnya dengan wajah mereka yang berdekatan membuat Risya tidak berani melihat Arga dan memalingkan wajahnya kesamping.
"Ada apa Risya?" tanya Arga dengan suara seraknya, " kenapa tidak melihatku?" tanya Arga.
"Aku, aku gugup Arga," ucap Risya yang jujur apa adanya dan sudah kembali saling bertatapan dengan Risya.
"Kenapa gugup?" tanya Arga.
"Ini akan menjadi pertama kalinya untukku, aku gugup dan juga takut," ucap Risya.
"Apa yang kamu takutkan?" tanya Arga.
"Katanya itu sangat menyakitkan," ucap Risya dengan pelan yang sangat jujur dan membuat Arga tersenyum mendengarnya.
"Aku tidak akan menyakitimu, percaya kepadamu," ucap Arga yang meyakinkan Risya dan Risya harus percaya pada Arga. Risya memejamkan matanya yang akan pasrah dan benar-benar menyerahkan dirinya pada suaminya itu.
Bersambung