
Tatapan mata Arga pada Risya sudah tidak tertolong yang benar-benar menggoda Risya dengan tatapan matanya yang mematikan itu.
"Bagaimana Risya. Apa kita harus melakukannya?" tanya Arga untuk memastikannya.
Risya yang geram dengan kata-kata Arga langsung mencubit perut Arga begitu mendapat kesempatan.
"Auhhhhh, Risya," sentak Arga yang kesakitan memegang perutnya dan barulah Risya bisa beralih dari tubuh Arga dan duduk di samping Arga dengan membersih-bersihkan pakaiannya yang tidak kotor. Mungkin dia merasa kotor karena Arga memeluknya tadi
"Rasain emang enak," sahut Risya emosi yang menekan suaranya.
"Kau itu benar-benar ya. Kau tidak perlu mencubit ku. Kau itu benar-benar melakukan tindakan Kdrt lagi," ucap Arga kesakitan memegang perutnya dan Arga juga sudah duduk.
"Makanya jangan bicara sembarangan. Memuaskan-memuaskan kepalamu. Kau pikir aku puas dengan sentuhanmu itu hah!" sahut Risya dengan emosi.
"Oh iya benarkah. Lalu kenapa kau ketagihan hah!" Sahut Arga.
"Kapan aku ketagihan," sahut Risya kembali terpancing dengan menatap horor Arga.
"Kalau tidak ketagihan, kau tidak akan membiarkan ku memegang-megang tubuhmu itu. Hanya saja aku itu masih baik kepadamu, tidak menjebol mu dan menahan diri ku yang hanya sebatas itu," sahut Arga yang bicara juga marah-marah pada Risya.
Risya langsung mengambil bantal dan memukul Arga saking kesalnya dengan mulut Arga yang tidak terkontrol sama sekali
"Kau tidak seharunya mengungkit hal itu. Kau itu benar-benar brengsek ya Arga, mulutmu itu seharusnya di jait," geram Risya.
"Brengsek-brengsek kau mau aja di sentuh, di pegang sana sini. Ya seharusnya waktu dulu aku tidak menahan apa-apa kepadamu. Seharusnya aku melanjutkannya saja. Tapi ya mau bagaimana, aku laki-laki bodoh yang menjaga kehormatan mu yang tidak membuatku bertindak gegabah. Tetapi kau malah menghiyanatiku yang langsung tidur dengan Samuel," sahut Arga yang mengungkit masa lalu dengan rasa kekecewaannya yang dulu terjadi pada Risya.
"Oh aku tau, pasti sentuhannya lebih memuaskan. Dari pada aku. Makanya kau lebih suka bersenang-senang dengannya, mabuk-mabukan dengan-nya sampai tidur dengannya," sinis Arga yang semakin mengungkit masa lalu
"Jaga bicaramu Arga," geram Risya merapatkan giginya yang semakin kesal dengan Arga.
"Kenapa. Bukannya kau yang mengatakan tadi kepadaku. Jika aku tidak memuaskan untukmu," sahut Arga.
"Cukup! Kau itu terus saja menuduhku. Aku sudah mengatakan sejak dulu kepadamu. Aku tidak pernah tidur dengan Samuel, kenapa kau tidak mengerti juga," tegas Risya dengan wajah seriusnya yang saling menatap dengan Arga.
Arga dan Risya sewaktu pacaran memang kadang-kadang suka di kamar berduaan di apartemen Arga. Namanya juga anak muda ya pasti hal-hal seperti itu sering terjadi. Awalnya hanya berciuman. Eh lama-lama kebablasan dengan saling menyentuh, dan segalanya untuk kenikmatan mereka. Tetapi tetap Arga hanya sebatas itu melakukannya dan tidak melewati batasnya yang sampai melakukan hubungan suami istri. Walau sangat mencintai Risya dan pasti sangat menginkan hal itu. Tapi dia menahan dirinya untuk menjaga kehormatan Risya.
Tapi bagaimana Arga tidak kecewa. Dia saat dia bersusah payah menjaga kehormatan Risya. Risya menghiyanatinya dengan kepergok bersama Samuel. Dan masa lalu itu kembali mereka ungkit dengan mereka yang tetap saling menatap dengan pemikiran masing-masing
Tatapan mata Risya seperti ada harapan untuk Arga percaya dan berhenti menuduhmu. Tatapan mata Arga memperlihatkan kekecewaan dan tidak percaya kepada Risya. Sampai akhirnya Arga mengalihkan pandangannya dan turun dari tempat tidur dengan begitu saja
"Kau tidurlah di situ," sahut Arga yang mengalihkan pembicaraan yang sepertinya tidak ingin ada kelanjutan dalam pembahasan itu.
Sehingga tiba-tiba dia memilih untuk mengalah dan Arga juga langsung menuju sofa yang langsung merebahkan dirinya di sana dengan kedua tangannya di lipat di dadanya dan memejamkan matanya.
Risya hanya memperhatikan saja bagaimana Arga. Dari sikap Arga memang terlihat menghindari pembahasan itu dan bahkan tidak mempercayai Risya. Ya kalau mempercayai Risya mereka pasti tidak akan putus dan menikah juga karena ada alasannya.
Risya hanya menghela napasnya. Karena percuma menjelaskannya kembali Arga juga tidak akan pernah mendengarnya dan lebih baik tidak mengatakan apa-apa lagi.
Risya pun memilih untuk langsung beristirahat dengan berbaring dan miring yang membelakangi Arga.
"Kau mana mungkin mengakui perbuatanmu Risya dengan kau yang langsung berpacaran dengan Samuel setelah kita putus, itu sudah membuktikan. Jika kau telah menghiyanati ku," batin Arga dengan wajahnya yang sendu yang terus melihat ke arah Risya.
"Kau tetap saja mengatakan hal itu kepadaku. Sekalipun kau tidak pernah pernah memberikan ku kepercayaan sedikit saja," batin Risya yang terlihat sudah lelah hati.
***********
Mentari pagi kembali tiba. Setelah banyak insiden yang terjadi tadi malam. Risya Arga bersama kedua orang tua Risya dan Arga sedang sarapan bersama di hotel yang tempat Risya dan Arga tadi malam menginap.
"Bagaimana malam pertama kalian?" tanya Salmah to the point
Uhuk-uhuk-uhuk-uhuk
Risya dan Arga langsung batuk-batuk dengan pertanyaan spontan yang membuat mereka hampir tersedak.
"Pelan-pelan Risya Arga," sahut Tantri.
"Tauh, nih cuma di tanya malam pertama aja langsung batuk-batuk," sahut Salmah.
"Mama apa-apaan sih pakai nanya itu segala," sahut Arga yang kesal dan langsung minum.
"Tau nih," sahut Risya yang juga langsung minum.
"Ya memang ada yang salah dengan pertanyaan mama hah! Kalian berdua ini baru menikah dan wajar mama bertanya hal itu," sahut Salmah yang begitu santainya.
"Mah, tidak semuanya harus mama tau. Ada pertanyaan yang harus di tanyakan dan tidak perlu di tanyakan dan masalah itu. Privasi kami. Jadi mama nggak usah kepo," tegas Arga. Selain marah dia juga pasti sangat malu dengan mamanya itu.
"Katanya privasi tapi teriak-teriak," ucap Tantri dengan pelan, membuat mata Risya terbelalak dengan mendengar omongan mamanya dan menoleh kearah Arga. Arga juga mengangkat bahunya yang tidak mengerti dengan apa yang di maksud sang mama.
"Apa maksud mama bicara seperti itu?" tanya Risya.
"Ya kalau kalian berdua mau privasi jangan berteriak-teriak. Kan orang-orang jadi tau," sahut Tantri yang senyum-senyum bersama Tantri.
"Apa sih mah," sahut Risya jadi malu dengan pemikiran sang mama yang pasti sudah kemana-mana. Arga menghela napasnya dengan memejamkan matanya perlahan sebentar yang benar-benar bisa gila dengan keadaan yang di alaminya.
"Sudah-sudah jangan membahas hal itu. Kasian Arga dan Risya. Mereka itu belum terbiasa," sahut Dehway.
"Papa lagi. Apa lagi biasa-biasa," sahut Arga semakin kesal.
"Kamu kenapa sih Arga marah-marah mulu. Kurang lama tadi malam," sahut Salmah.
"Mah, udah ya," sahut Arga yang sudah tidak tahan di goda keluarganya.
"Sudahlah jangan di lanjutkan pembahasan itu. Biarkan itu menjadi urusan Risya dan Arga. Kita sebaiknya lanjutan sarapan saja. Masa iya masalah kamar harus di bahas di sini," sahut Hariyanto.
Bersambung