MANTAN? TAPI NIKAH YUK!!!

MANTAN? TAPI NIKAH YUK!!!
Episode 279 Menyalahkan diri sendiri.


Arga membuka pintu ruangan Dokter dan keluar dari ruangan tersebut dengan tidak bersemangatnya. Matanya yang memerah. Mata yang memerah itu akhirnya membuat air matanya jatuh. Bagaimana tidak Arga harus di pilihkan dengan keadaan yang sulit. Antara istri dan anaknya.


"Arghh!" teriak Arga yang langsung memukul tembok dengan tangannya yang terkepal.


"Semua ini karena kebodohanmu Arga. Kau tidak pernah belajar dari kesalahan. Risya pernah mengalami hal seperti ini dan semua itu karena kelalaian mu dan sama dengan hal ini Risya juga mengalami semua ini karena kelalaianmu. Kau itu benar-benar bodoh Arga Istrimu seperti ini karena kau," umpat Arga yang menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi.


Sewaktu Risya hamil muda. Risya pernah mengalami hal itu. Dia juga kehilangan bayinya karena insiden kamar mandi dan sekarang kandungan Risya yang sudah besar juga mengalami hal itu dan resikonya bahkan lebih parah. Lagi dan lagi Arga hanya menyesal. Karena tidak bisa menjaga istrinya dengan baik.


"Argghhh!" Arga terus berteriak memukul-mukul dinding dengan kuat. Dia sudah tidak kuat dengan semua yang terjadi. Memilih bukanlah hal yang tepat atau hal yang harus di lakukannya.


"Arga apa yang Lo lakuin," sahut Boy yang tiba-tiba datang bersama Tasya dan Boy melihat Arga yang menyakiti dirinya sendiri sampai punggung tangan Arga berdarah.


"Arga kenapa lo bodoh sekali melakukan semua ini. Lo gila ini hanya untuk menyakiti kamu," ucap Boy.


"Arga!" lirih Salmah yang datang bersama Tantri dan juga Edo dan Angela dan mereka kaget melihat Arga yang melukai dirinya sendiri.


"Apa yang kamu lakukan Arga, lihat tangan kamu. Kenapa kamu sampai seperti ini?" ucap Salmah yang mencoba untuk menenangkan anaknya itu.


"Luka ini tidak seberapa dengan apa yang terjadi pada Risya mah. Risya mengalami semua ini karena kesalahanku. Aku yang membuat Risya seperti ini mah. Risya mengalami semua ini karena aku! Aku tidak bejus menjadi suami," ucap Arga yang menyalahkan dirinya akibat yang terjadi pada istrinya itu.


"Seharusnya aku tidak hanya berdiri di dalam kamar. Kenapa aku bodoh sekali tidak langsung melihatnya ke kamar mandi. Kenapa aku begitu bodoh dan ini yang terjadi pada Risya," Arga yang terus mengutuk dirinya atas kebodohan yang di alaminya yang membuatnya sangat menyesal.


"Arga semua yang terjadi bukan kesalahan kamu. Apa yang terjadi pada Risya sudah menjadi takdir," ucap Salamah.


"Tapi karena semua ini aku harus kehilangan satu di antara mereka mah. Seharusnya aku yang bodoh ini yang pergi," ucap Arga.


Yang lain ikut sedih dengan apa yang di alami Arga. Mereka sangat prihatin dan pasti mengerti dengan perasaan Arga. Dengan kondisi Risya yang seperti itu siapa yang tidak sedih. Namun mereka juga tidak bisa melakukan apa-apa dan belum tau juga apa yang di bicarakan Dokter sampai membuat Arga ingin melukai dirinya.


**********


Arga memasuki ruangan di mana istrinya yang kritis. Dengan semua alat medis yang terpasang di tubuh sang istri. Dari infus dan lain-lainnya. Arga duduk di samping istrinya dengan memegang tangan Risya dengan erat. Menatap nanar wajah dengan mata yang tertutup itu.


"Sayang! Dokter sedang bercanda pada ku. Dia menyuruhku untuk memilih antara kamu atau anak kita. Hal itu mana mungkin aku lakukan sayang. Dokter memang ada-ada saja sayang. Bisa-bisanya di menyuruhku untuk memilih kamu dan anak kita," ucap Arga yang berbicara pada Risya dengan air mata Arga yang jatuh.


"Sayang, bangunlah dan jangan biarkan aku menjadi suami atau ayah yang jahat yang harus memilih siapa di antara kamu dan anak kita. Aku dan kamu sama-sama menunggu kehadiran buah hati di dalam kehidupan kita. Kita sama-sama menantikan anak kita. Jadi jangan biarkan aku membuat kamu akan kehilangan anak kita dan aku juga tidak mungkin membiarkan kamu pergi,"


"Sayang aku tidak mungkin memilih antara kamu atau anak kita. Hal itu sangat tidak mungkin sayang. Jadi aku mohon jangan buat aku untuk memilih di antar kalian,"


"Maafkan aku sayang. Maafkan atas kebodohanku sayang. Aku tidak bisa menjaga kamu dan anak kita. Aku tidak berguna untuk kamu dan anak kita," Arga yang penuh dengan penyesalan menangis dengan terisak-isak dengan mencium tangan Risya.


Apa yang terjadi pada Risya adalah kesalahan terbesar yang di alaminya. Dia telah membuat istri dan anaknya cekaka dan sekarang akan di hadapkan dengan pilihan yang sangat berat.


***********


"Ya ampun kasian sekali Risya," sahut Tasya yang turut prihatin.


"Apa bayinya bisa di selamatkan?" tanya Tasya.


"Dokter akan melakukan operasi dan di antara ke-2nya pasti ada yang tidak selamat dan itu yang di alami Arga yang di pilihkan dengan keadaan yang terberat," jawab Angela yang terus menyuapi Putri.


"Lalu Arga memilih apa?" tanya Tasya.


"Tidak ada yang tau. Karena dia berbicara dengan Dokter dan dia yang memutuskan bersama Dokter. Hal ini harus segera di lakukan. Karena jika tidak Risya ataupun bayinya bisa saja tidak akan selamat," ucap Angela dengan penjelasan apa yang di ketahuinya.


"Risya dan Arga sama-sama menantikan kehadiran bayi mereka. Semoga saja Risya dan bayinya bisa di selamatkan. Semoga ada mukjizat untuk mereka berdua," ucap Tasya yang juga turun prihatin dengan Risya.


"Aku juga mengharapkan hal yang sama," sahut Angela.


"Jadi Tante Risya sedang sakit," ucap Putri dengan raut wajah sedihnya.


"Iya Putri. Kita doakan ya Tante Risya baik-baik aja dan kita juga doakan bayi Tante Risya selamat," ucap Angela.


"Iya mah," sahut Risya dengan menganggukkan kepalanya.


*************


Syrala dan Boy berada di dalam mobil. Mereka pulang sebentar setelah dari rumah sakit.


"Kasihan Arga dia pasti menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi," ucap Syrala.


"Kamu benar sampai memukul diri sendiri dan itu sudah menunjukkan jika dia menyalahkan dirinya. Pilihan yang di hadapinya juga tidak mudah. Dia dan Risya sama-sama menginginkan seorang anak dan Arga juga tidak mungkin membiarkan istrinya pergi," sahut Boy.


"Kenapa harus memilih. Mana mungkin ada yang bisa melakukan hal itu," ucap Syrala.


"Tetapi memilih juga harus terpaksa Syrala. Dokter juga mungkin tidak ingin melakukannya. Tetapi Dokter lebih tau dan harus mengambil tindakan secepatnya," ucap Boy.


"Hanya mukjizat yang bisa membuat Risya dan bayinya selamat. Aku yakin Risya akan kuat dengan semua ini," ucap Syarla.


"Kita hanya bisa berdoa sebanyak-banyaknya untuk Risya di berikan kekuatan," sahut Boy. Syrala menganggukkan kepalanya.


Bersambung