MANTAN? TAPI NIKAH YUK!!!

MANTAN? TAPI NIKAH YUK!!!
Episode 57 Apa tidak bisa di rumah saja.


"Setelah aku mengatakan semuanya kepadamu. Sekarang aku sudah tidak peduli lagi Arga. Kau mau percaya padaku apa tidak. Kau mempercayai Rachel sepenuhnya silahkan. Tetapi kenyataannya jika aku yang memang membuat Rachel menikah itu memang kenyataan. Karena itu teguran untuknya yang mana dia telah berani merusak kehidupanku dan kembali lagi aku katakan kepadamu. Jika aku sangat puas melihat dia kehidupannya yang sekarang ini bersama suaminya," ucap Risya dengan jujur tanpa munafik sama sekali.


Air mata dalam tangisannya masih berlanjut, bahkan sampai terisak-isak dengan melihat ke arah Arga. Yang mana Arga memejamkan matanya yang tidak tau apa dia menyesal dengan keadaan yang pernah terjadi dan dirinya yang tidak membiarkan Risya untuk menjelaskan atau bagaimana.


Risya yang merasa cukup untuk bicara menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan ke depan. Lalu Risya membuka pintu mobil yang sepertinya ingin pergi. Namun Arga menahan tangannya.


"Mau kemana kamu?" tanya Arga.


"Aku sudah selesai bicara dan aku sudah tidak ada lagi yang harus aku katakan," ucap Risya yang menepis tangan Arga dan Risya langsung keluar dari dalam mobil meninggalkan Arga.


Arga menghela napasnya kasar dengan mengusap kasar wajahnya, " kenapa kau sangat bodoh Arga!" umpat Arga memukul stir mobil setelah merasakan kebodohannya.


Brukkkk.


Tiba-tiba terdengar suara hantaman yang sangat kuat mengejutkan Arga. Suara itu seperti suara tabrakan.


"Risya!" teriak Arga yang langsung teringat pada Risya dan langsung keluar dari mobil dengan buru-buru langsung berlari dan ada mobil yang berhenti tidak jauh dari mobilnya yang membuat Arga terkejut.


"Risya," lirih Arga dengan wajah shocknya yang pikirannya sudah kemana-mana.


"Risya!" Arga langsung berlari menghampiri mobil itu dan melihat Risya yang terduduk di aspal dengan memegang sikut tangannya yang terluka dan ada bapak-bapak di dekat Risya yang seperti mengecek keadaan Risya.


"Risya!" lirih Arga dengan dadanya yang kembang kempis dan langsung berlari menghampiri Risya.


"Risya kau tidak apa-apa?" tanya Arga panik dengan memegang ke-2 bahu Risya.


"Kau yang menabraknya. Apa kau tidak bisa menyetir dengan baik, kau hampir saja membunuhnya. Jika tidak bisa menyetir seharusnya jangan menyetir. Kau mau menghilangkan nyawanya," bentak Arga marah-marah pada bapak-bapak tersebut yang pasti supir mobil pick up tersebut.


"Arga sudah. Kau jangan memarahi bapak ini. Dia tidak salah aku yang salah dan aku bahkan hampir saja membuat mobil bapak itu masuk jurang," ucap Risya yang menjelaskan. Karena memang semua kesalahannya.


"Apapun itu kau sudah seperti ini dan lihat kau terluka," ucap Arga yang terlihat sangat khawatir pada Risya ya jelas dia sangat khawatir pada Risya. Apalagi melihat Risya yang terluka.


"Maaf mas saya benar tidak sengaja. Saya akan bertanggung jawab. Ayo nona saya bawa kerumah sakit," sahut bapak itu yang juga tetap merasa bersalah walau sebenarnya Risya yang bersalah.


"Sudahlah pak. Bapak tidak perlu minta maaf. Ini semua kesalahan saya. Saya juga tidak apa-apa. Ini juga hanya luka kecil. Jadi tidak apa-apa pak saya bisa mengobati sendiri. Sekali lagi saya benar-benar minta maaf yang berjalan tidak benar," ucap Risya.


"Bapak juga neng," sahut supir tersebut.


"Ya sudah bapak sebaiknya kembali saja. Saya bisa mengurus diri saya sendiri kok," sahut Risya.


"Yakin neng ini sudah tidak apa-apa?" tanya bapak tersebut yang tidak bisa hanya pergi begitu saja.


"Pergilah saya akan mengurusnya. Saya juga minta maaf sudah menyalahkan bapak, saya hanya takut istri saya kenapa-kenapa," sahut Arga yang juga mengaku salah dan bahkan tidak gengsi mengatakan dia khawatir dan langsung di depan orangnya.


"Ya sudah kalau begitu sekali lagi saya mohon maaf. Kalau begitu saya kembali dulu. Permisi," ucap bapak tersebut yang langsung pergi meninggalkan Risya dan Arga.


"Kamu tidak apa-apa Risya?" tanya Arga dengan memegang pipi Risya.


"Tidak apa-apa bagaimana. Tidak melihat aku terluka seperti ini," sahut Risya yang beda orang beda jawaban.


Arga juga hanya memeluk Risya dengan erat tanpa mengatakan apa-apa. Mungkin tanpa mengatakan apa-apa Risya sudah tau apa yang di rasakannya.


***********


Arga dan Risya kembali kedalam mobil yang sekarang Arga sedang membantu mengobati luka di lengan Risya dengan lembut dan sangat hati-hati Arga melakukan semua itu dan Risya pasti hanya merengek-rengek manja dengan Arga yang menyentuh lukanya. Padahal sebenarnya hanya biasa saja.


"Apa masih sakit?" tanya Arga melihat kearah Risya dan Risya menganggukkan kepalanya tanpa jaim mengatakan jika memang masih sangat sakit luka itu.


"Kenapa keluar dari mobil?" tanya Arga.


"Lalu mau ngapain lagi aku di mobil. Bukannya aku sudah mengatakan semuanya dan kau tidak menanggapi apapun ya sudah itu artinya apa yang aku katakan tidak ada gunanya untukmu," ucap Risya dengan jawaban yang simple.


"Aku belum sempat mengatakan apa-apa dan kau pergi dengan kesimpulan mu sendiri," ucap Arga.


"Ya seharusnya menahanku jika ingin mengatakan sesuatu padaku," sahut Risya yang malah ingin di tahan.


"Bukannya aku sudah menahanmu dan kau malah menepis tanganku," sahut Arga.


"Ya kan bisa menahan lagi. Apa harus sekali saja," sahut Risya yang benar-benar ingin di tahan.


Arga sebenarnya ingin tertawa dengan perkataan Risya yang sangat jelas di tahan dan di bujuk-bujuk. Namun tawa Arga harus di tahannya karena situasinya sedang tidak mendukung.


"Kalau begitu jangan pergi kemana pun sekali mendapatkan izinku dan ini contohnya kamu kualat karena menentang suamimu dan jangan lakukan apapun lagi yang membuat kejadian ini terjadi lagi," ucap Arga.


"Lalu bagaimana dengan apa yang aku katakan. Apa kamu sudah percaya dengan kata-kata ku. Walau aku tidak perduli lagi kamu mau percaya atau tidak. Apa aku perlu mencari buktinya lagi?" tanya Risya yang sepertinya masih mengharapkan Arga benar-benar percaya padanya.


Arga mendekatkan wajahnya pada Risya dengan memegang pipi Risya sembari mengusap-usapnya dengan lembut.


"Jangan mencari bukti apapun lagi. Karena aku sudah tidak butuh semua itu dan aku juga sudah tau semuanya," ucap Arga dengan suara seraknya yang tidak melepas tatapannya dari Risya.


"Maksud kamu....mpt." belum selesai bicara Arga sudah membungkam mulut Risya dengan bibirnya, terkesan sangat buru-buru dan sedikit memaksa. Apa lagi Risya tidak siap. Namun Arga memperlambat tempo ciumannya supaya Risya nyaman dan benar Risya baru nyaman dengan memejamkan matanya perlahan dan tanpa memberinya sama sekali.


Arga sangat lihai dalam berciuman dan bahkan tangannya juga bermain dengan memundurkan jok mobil dan Risya jadi terbaring dan memudahkan Arga untuk menindih tubuh Risya dengan Arga yang semakin memperdalam ciumannya dengan tangannya yang ternyata sudah berani-beraninya melepas pengikat piyama yang di kenakan Risya.


Jangan tanya Risya seperti apa. Seperti biasa jika itu Arga dia tidak akan bisa menolak setiap sentuhan yang di berikan Arga dan bahkan ingin lagi dan ingin lagi. Tubuhnya menggeliat saat leher jenjangnya di sentuh dengan memberikan kenikmatan yang tidak mampu di ucapkan dengan kata-kata.


Arga juga tidak melihat tempat itu di mana. Dan mau suka-sukanya yang semakin menggila dan bahkan tangannya sudah meraba area sensitif Risya. Namun Risya yang terbuai tiba-tiba mendorong dada Arga di tengah-tengah gaira Arga yang semakin panas.


"Ada apa Risya?" tanya Arga dengan suaranya yang serak dengan naik turun dengan tatapan matanya yang sayu.


"Ayo pulang jangan berbuat aneh-aneh di tengah jalan. Nanti kita kualat," ucap Risya yang harus berhenti sebelum mereka semakin panjang melakukannya.


Arga tersenyum miring mendengarnya dan mengecup bibir Risya sekilas dan merapikan pakaian Risya yang pasti berantakan akibat ulah Arga dan Arga harus menahan dirinya untuk tidak melanjutkan apa-apa dan kembali duduk di tempatnya dan Risya jadi sedikit canggung dengan merapi-rapikan dirinya kembali.


Bersambung