
Untuk kegiatan di sekolah masih tetap berlanjut. Tetapi sekarang Meraka sedang beristirahat yang sedang makan siang bersama.
"Putri pasti capek banget kan," ucap Angela yang melap keringat Putri dengan sapu tangan.
"Sampai keringatan seperti ini lagi," ucap Angela begitu tulusnya melap keringat Putri.
"Aku juga keringatan," sahut Edo kode-kode yang ingin di lap keringatnya.
"Iya-iya deh," sahut Angela yang langsung melap keringat di dahi Edo dengan lembut.
"Woy nggak usah bucin gitu di sini banyak orang, memang di sini tidak ada orang apa. Wanti-wanti dong yang masih jomblo," tegur Syrala yang jadi kesal.
"Tau nih maka banget kayak anak kecil," tambah Risya yang tidak kalah sewotnya.
"Tante apa sih, malah marah-marah mama Angela dan papa. Yang anak kecil itu Tante. lihatlah makannya harus di suapi," sahut Putri yang membela Edo dan Angela. Risya jadi kenak sasaran mulut Putri.
Ya Risya juga sih makan di suapi. Jadi rasain di sembur sama Putri dan yang lain hanya tertawa-tawa saja mendengarnya.
"Isssss," desis Risya yang jadi malu sendiri.
"Tante. Mama Angela itu hanya melap keringat papa. Dan Tante jangan iri. Lagian Tante juga jauh lebih parah," tambah Putri lagi yang menceramahi Risya.
"Putri anak kecil yang sok tau. Tante itu sudah menikah. Jadi kalau Tante lagi manja-manjaan itu sangat wajar," ucap Risya yang membela dirinya.
"Tapi nggak di tempat umum juga kali," ahaut Putri membuat Risya jadi semakin geram dengan merapatkan giginya.
"Sudah-sudah Putri jangan berdebat gitu dengan Tante Risya. Kamu itu masih kecil. Tidak boleh berdebat dengan orang dewasa," tegur Edo.
"Dan Tante Risya sudah besar dan seharusnya tidak mendebat anak kecil," sahut Putri yang jawabannya ada aja.
"Issss nih anak benar-benar," geram Risya.
"Sudah-sudah sayang," sahut Arga yang menenangkan istrinya.
"Udah sekarang kita makan aja. Isi tenaga. Karena nanti pertandingannya akan tetap di lanjutkan," ucap Syrala.
"Iya benar ayo lanjut makan," sahut Boy.
"Om kok tumben mukanya tidak datar?" tahta Putri yang sekarang giliran Boy yang di cecar Putri.
"Maksudnya bagaimana Putri. Memang selama ini Om wajahnya seperti apa?" tanya Boy.
"Ya seperti biasa sang datar dan seperti orang yang sering kesal," ucap Putri.
"Itu hanya perasaan kamu saja. Karena Om wajahnya biasa aja," sahut Boy.
"Ya baguslah kalau wajah Om selebihnya akan seperti ini terus. Jadi ini jauh lebih baik," ucap Putri.
"Iya-iya Putri," sahut Boy yang tersenyum tipis. Syrala juga melihatnya tersenyum sepertinya Boy benar-benar sudah move on dan sekarang terlihat jauh lebih tenang.
Mereka melanjutkan makan dengan kompak dan pasti ada saja yang menjadi candaan mereka.
Ternyata makan bersama itu di lihat dari kejauhan oleh Tasya. Rupanya Tasya tidak di ajak. Mungkin mereka juga lupa di mana Tasya dan Putri juga tidak ingat. Mereka semua terlalu sibuk dengan kebahagiaan yang mereka ciptakan sendiri dan makanya melupakan Tasya.
"Aku benar-benar tidak di hargai sebagai ibunya kandungnya Putri. Aku yang seharusnya berhak berada di sana. Bukan dia. Dia wanita yang baru masuk kedalam kehidupan Edo dan dia tidak pantas berada di sana dan seharunya Putri lebih mendahulukan ku," batin Tasya yang seakan tidak tidak terima dengan apa yang terjadi di depan matanya.
"Tidak semudah ini. Kau hanya orang baru dan tidak semudah itu kau mendapatkan Edo dan juga Putri. Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Kau lihat saja apa yang akan aku lakukan selanjutnya kepadamu," batin Tasya yang sepertinya punya rencana buruk.
Apa yang terjadi tidak mudah untuk di terimanya dan membuatnya marah yang akan melakukan hal buruk untuk menjadi perusak antara hubungan Edo dan Angela.
Ya bisa saja hal itu terjadi. Karena dari apa yang di katakan Tasya sudah sangat jelas hal itu mengarah ke arah mana.
**********
Setelah seharian mengikuti kegiatan Putri. Arga dan Risya pulang kerumah dan tampak Risya yang sangat kelelahan sampai tertidur di dalam mobil.
Arga mematikan mesin mobilnya dan melihat ke arah sebelahnya yang istrinya tertidur begitu lelap.
"Sayang bangun! Kita sudah sampai," ucap Arga dengan lembut sembari mengelus-elus rambut Risya.
Risya tidak merespon apa-apa. Karena mungkin Risya sangat mengantuk dan pasti sangat capek. Arga menghela napasnya lalu membuka sabuk pengamannya dan langsung keluar dari mobilnya.
Sesampai di kamar Arga membaringkan Risya di atas tempat tidur dengan sangat hati-hati yang takut Risya terbangun. Arga pasti tidak ingin Risya bangun.
Arga menyelimuti Risya dan duduk di samping Risya dengan menatap begitu dalam Risya. Walau Risya yang tertidur nyenyak. Namun Arga merasa istrinya itu sangat cantik walau hanya sedang tertidur.
Arga mencium lembut kening Risya dan membelai-belai lembut pipi Risya.
"Istirahat lah sayang," gumam Arga yang kembali mencium lembut kening Risya. Setalah itu Arga berdiri dari tempat duduknya.
Dia ingin bersih-bersih dulu sebelum tidur. Karena tidur dalam keadaan segar itu sangat enak.
************
Mentari pagi kembali tiba. Arga yang berdiri di depan cermin dengan memakai jam tangannya yang terlihat sudah rapi yang ingin berangkat kerja.
"Sayang!" tiba-tiba Risya yang di kamar mandi memanggil Arga.
"Ada apa Risya?" tanya Arga.
"Tolong aku," ucap Risya yang seperti ada sesuatu dan Arga langsung kekamar mandi.
Arga melihat Risya yang duduk di atas bathub dengan memegang perutnya yang tampak kesakitan.
"Kamu kenapa Risya?" tanya Arga yang langsung menghampiri Risya dengan berjongkok di depan Risya dan Arga tampak begitu panik.
"Sakit, perutku tiba sakit," ucap Risya yang mengeluh, bahkan air matanya sampai keluar.
"Sayang kita kerumah sakit ya," ucap Arga yang panik.
Risya mengangguk dan Arga membantu istrinya untuk berdiri.
"Kamu bisa sayang berdiri?" tanya Arga. Risya mengangguk. Namun Arga tetap membantu dan saat Risya berdiri Risya melihat lantai ada darah.
"Darah apa itu?" tanya Risya dengan panik dan Arga juga kaget melihat darah tersebut.
"Astagfirullah," lirih Arga yang juga panik.
"Sakit! Sakit!" Risya kembali mengeluh yang merasa semakin sakit.
"Sayang kamu tenang ya. Kita kerumah sakit sekarang," ucap Arga yang langsung menggendong istrinya yang membawa istrinya keluar dari kamar mandi.
Baik Risya dan Arga pasti sangat panik dengan keadaan Risya yang pasti tidak biasa. Apa lagi Risya sudah menangis yang menahan kesakitan dan Arga yang pasti semakin panik dengan hal itu.
Arga menuruni anak tangga dengan buru-buru dengan membawa istrinya tersebut.
"Arga Risya kenapa?" tanya Salmah yang melihat Arga menggendong Risya.
"Risya tiba-tiba pendarahan," jawab Arga.
"Astagfirullah," lirih Salmah dengan panik melihat Risya yang begitu pucat.
"Ya sudah sekarang kita bawa kerumah sakit," ucap Salmah yang begitu panik.
"Iya mah," ahaut Arga.
"Mama akan hubungi papa kamu dan juga orang tua kamu ya Risya," ucap Salmah.
"Iya mah," sahut Risya yang mengangguk saja.
Mereka semua pun buru-buru kerumah sakit dengan Arga yang semakin panik. Karena pendarahan Risya semakin banyak. Mereka menggunakan supir untuk kerumah sakit. Karena Arga harus menguatkan istrinya yang sejak tadi kesakitan yang terus di peluk Arga.
Salmah juga yang ikut kerumah sakit sembari menelpon orang tua Risya dan juga suaminya untuk menyusul kerumah sakit.
"Bagaimana jika terjadi sesuatu pada bayi kita," ucap Risya yang sangat khawatir.
"Tidak akan terjadi apa-apa pada bayi kita. Kamu jangan khawatir, semua akan baik-baik aja," ucap Arga yang berusaha untuk menguatkan istrinya.
Sebenarnya Arga juga sangat takut. Namun dia harus kuat dan tenang supaya istrinya tidak berpikiran apa-apa. Karena hanya dia yang bisa menenangkan Risya.
Bersambung