MANTAN? TAPI NIKAH YUK!!!

MANTAN? TAPI NIKAH YUK!!!
Episode 234 Tangisan ayah dan anak


Setelah yakin dan benar-benar pasti akhirnya Risya dan Arga menuju rumah sakit. Arga juga tidak mau menghilangkan kesempatan dan langsung membawa Risya ke rumah sakit. Dengan tangannya yang bergenggaman tangan dengan istrinya. Arga langsung membawa istrinya menuju ruangan Hariyanto.


Risya pasti gugup. Namun kali ini perasaannya berbeda saat pertama kali bertemu Hariyanto saat Hariyanto masih Kritis dan belum sadarkan diri. Hari ini Risya merasa sedikit tenang walau tetap ada perasaan gugupnya.


Di depan ruangan perawatan rumah sakit ada Vio dan Samuel yang baru datang dan bahkan ada juga Karen dan Indra orang tua Vio yang juga baru sempat berkunjung.


"Kamu bagaimana sih Vio. Kamu bilang Risya tidak mau datang lalu itu siapa?" tanya Karen.


"Siapa! apa sih mah. Orang memang Risya tidak mau datang melihat Om Hariyanto," sahut Vio yang membenarkan apa yang sudah di sampaikannya pada orang tuanya.


"Kalau itu siapa kalau bukan Risya, setan," ucap Karen yang matanya terus melihat ke arah Risya dan Arga yang semakin dekat.


"Iya sayang itu memang Risya," sahut Samuel yang terlebih dahulu melihat ke arah tujuan mata mertuanya dan akhirnya Vio juga melihat.


Wajah Vio yang berubah menjadi kaget dengan kenyataan bahwa memang Risya yang di lihatnya itu.


"Risya!" lirih Vio masih tidak percaya sampai akhirnya Risya sampai ke hadapan Vio dan yang lainnya dan barulah Vio percaya ketika melihat dari depan.


"Hallo Tante!" sapa Risya dengan suara senduhnya yang mencium punggung tangan Karen dan bergantian dengan Indra.


"Risya dia benar-benar datang," batin Vio yang masih tidak percaya melihat ke datangan sepupunya itu.


"Risya keadaan kamu baik-baik aja?" tanya Indra.


"Iya Om," jawab Risya.


"Ya sudah Om aku sama Risya masuk ke dalam dulu!" ucap Arga.


"Iya Arga," sahut Indra. Risya dan Arga tidak mau membuang waktu yang langsung memasuki ruangan Hariyanto.


"Aku tidak percaya Risya akhirnya datang juga," ucap Vio dengan suara napas beratnya.


"Ini hal yang baik. Kita lihat ke dalam ayo!" ajak Samuel. Vio mengangguk dan langsung berdiri dari tempat duduknya untuk melihat pertemuan Risya dan Hariyanto.


*********


Sementara di dalam ruangan Hariyanto, ada Tantri, Salmah dan Dehway yang menjenguk Hariyanto.


"Terima kasih ya mas. Sudah menjadi ayah yang baik untuk Risya. Dia pasti sangat bahagia mempunyai mertua yang sangat menyayanginya. Dia sudah membenci saya dan Risya jika saya tidak ada di sisinya. Maka Risya tidak akan kehilangan. Karena dia mempunyai kalian berdua yang bisa membuatnya bahagia," ucap Hariyanto dengan tarikan napasnya yang berat.


"Apa yang kamu bicarakan mas. Mau sebaik apapun kamu kepada Risya. Mau sebesar apapun kasih sayang yang kamu berikan kepada Risya. Kami hanyalah mertuanya dan posisi orang tuanya tidak akan pernah tergantikan sampai kapanpun," ucap Salmah.


"Tapi saya sudah mengecewakannya. Saya sudah sangat jahat kepadanya. Saya melukainya dan membuat hatinya rapuh. Risya sudah membenci saya dan kata seorang ayah sudah tidak ada di hatinya lagi," ucap Hariyanto yang pasrah jika dia tidak akan mendapatkan tempat lagi di hati Risya.


"Mau sejahat apapun orang tua. Mas tetap orang tuanya dan di hati kecil Risya pasti sangat merindukan mas Hariyanto," sahut Salmah.


"Semoga masih ada tersisa walau hanya sedikit saja," sahut Hariyanto tersenyum getir.


"Apa papa benar-benar tidak ingin berusaha untuk memperbaiki semuanya!" tiba-tiba suara yang di rindukan itu terdengar. Suara menahan tangis membuat Hariyanto melihat perlahan ke arah pintu.


"Risya!" lirih Tantri yang tidak percaya melihat kedatangan anaknya itu.


"Risya!" lirih Hariyanto yang bagai mimpi bisa melihat wajah Risya setelah begitu lama.


Risya langsung melangkah memasuki ruangan itu. Menghampiri sang papa yang masih lemah. Tantri, Salmah dan Dehway bergeser memberikan ruang untuk Risya.


"Kamu datang nak!" sahut Hariyanto dengan melihat Risya sudah berada di sampingnya.


"Papa jahat!" ucap Risya yang tangisnya langsung pecah.


"Maafkan papa," sahut Hariyanto dengan mengangkat tangannya yang ingin memegang tangan Risya yang sudah lama tidak di pegangnya.


Risya menjauhkan tangannya yang masih marah pada Hariyanto.


"Papa kenapa jahat sekali sama Risya? Kenapa tega melakukan semua ini dan lihat apa yang terjadi sekarang. Papa sengaja' seperti ini supaya Risya merasa bersalah. Papa sangat jahat hiks hiks hiks hiks," Risya terus menangis terisak-isak yang baru mengeluarkan kekecewaan di hatinya di depan Hariyanto.


"Maaf!" sahut Hariyanto yang hanya bisa meminta maaf.


Risya yang lemah dan luluh akhirnya memeluk Hariyanto yang masih terbaring lemah. Hariyanto langsung memeluk erat yang tidak percaya mendapatkan jika Risya akan datang dan bahkan memeluknya.


"Maafkan Risya!" sahut Risya yang akhirnya dia yang meminta maaf.


"Risya marah sama papa. Tapi jangan pergi. Jangan meninggalkan Risya atau mama. Jangan memilih siapa-siapa. Tetap menjadi papa Risya. Jangan tinggalkan Risya," ucap Risya menangis di pelukan Hariyanto.


"Papa yang minta maaf. Papa sudah melukai kamu. Papa tidak memilih siapapun. Bagi papa hanya kamu anak papa satu-satunya. Maafkan papa yang telah khilaf sayang maafkan papa. Papa janji tidak akan menyakiti kamu lagi," ucap Hariyanto yang juga menangis memeluk Risya memintanya maaf pada anak kesayangannya.


"Papa menyesal melakukannya. Papa sudah menyakiti kamu dan mama kamu. Maafkan papa. Papa akan menembus kesalahan papa kepada kamu. Katakan apa yang harus papa lakukan. Papa akan melakukan semuanya," ucap Hariyanto.


"Papa jangan pergi!" hanya itu yang di katakan Risya. Tiba-tiba dia sangat takut jika Hariyanto akan pergi.


"Papa tidak akan pergi. Papa hanya menyayangi kamu anak papa satu-satunya dan akan tetap menjadi anak manja papa. Papa ingin terus ada di samping kamu," ucap Hariyanto yang menangis sengugukan dengan napasnya yang sesak.


Ruangan itu menjadi haru. Air mata Tantri yang juga tumpah dan Salmah yang menguatkan Tantri. Sama dengan Arga dia merasa sangat lega dengan hubungan istrinya dan mertuanya yang kembali baik.


Mungkin Risya masih terluka. Namun Risya tidak punya hak memberikan hukuman. Karena masalah hukuman itu sudah untuk orang lain.


"Ya Allah terima kasih untuk semua ini. Aku tau tidak mudah untuk istriku. Tetapi dia juga sangat menyayangi ayahnya. Terima kasih sudah meluluhkan hatinya. Terima kasih ya Allah," batin Arga yang juga terharu. Dehway menepuk-nepuk bahu Arga pelan untuk menguatkan Arga.


Vio, Samuel, Boy dan Syrala, Indra dan yang di depan ruangan itu melihat hal itu juga ikut terharu. Bahkan Syrala dan Vio meneteskan air mata kala melihat Risya yang berpelukan dengan Hariyanto yang penuh dengan tangisan.


Bersambung