
Hari ini Angela dan Syrala menjenguk Risya untuk memberikan Risya semangat atas kehilangan bayi Risya.
Syrala duduk di samping Risya dengan memegang tangan Risya sembari mengelus-elus punggung tangan Risya.. Sementara Angela duduk di samping di bagian kepala Risya sembari mengelus-elus kepala Risya.
"Tidak apa-apa Risya. Nanti pasti secepatnya di ganti sama Allah lagi. Kamu jangan sedih terus ya," ucap Syrala.
"Bagaimana aku tidak sedih. Aku sudah membuat Arga kecewa," ucap Risya.
"Risya jangan menyalahkan diri kamu. Arga tidak kecewa kok. Dia justru kecewa dengan kamu yang seperti ini dia merasa bersalah pada kamu. Jadi kamu Jangan mengatakan jika Arga kecewa," ucap Syrala.
"Benar kata Syrala. Arga bahkan sampai khawatir sama kamu. Dia menghubungi kita untuk menghibur kamu. Jadi kamu jangan berlarut-larut terus dalam kesedihan itu tidak boleh. Kamu harus benar-benar kuat dan harus tegar," tambah Angela.
Risya diam saja dengan wajahnya yang tetap penuh dengan kesedihan yang sangat mendalam.
"Mungkin ini juga salahku," sahut Angela yang membuat Risya dan Syrala melihat Angela.
"Kenapa salah kamu?" tanya Risya dan Syrala dengan serentak.
"Kalau aku tidak mengajak kamu untuk kegiatan Putri. Kamu pasti tidak akan mengalami ini. Kamu tidak akan kecapean dan kehilangan anak kamu," ucap Angela yang mengingat kesalahannya.
"Isssss apa sih. Jelas-jelas bukan kamu yang salah. Jangan menyalahkan kamu. Ini mungkin memang sudah takdir," sahut Risya.
"Tuh kamu paham kalau ini sudah takdir. Jadi kamu jangan mengingat-ingat hal itu lagi ya. Jangan sedih dan menyalahkan siapa-siapa," sahut Syrala.
Risya menganggukkan kepalanya yang mungkin memang harus ikhlas dengan kepergian janinnya.
"Paling juga bentar lagi hamil. Sering-sering buat dedek dengan Arga. Supaya hasilnya langsung jadi. Jadi harus gas terus," seloroh Syrala.
"Apa sih," sahut Risya yang jadi maku. Namun dia sudah bisa tersenyum.
"Nah gitu dong tersenyum. Kayak gini baru Risya kita namanya," ucap Angela.
"Sudah jangan sedih lagi," ucap Syrala. Risya menganggukkan kepalanya. Mereka berdua memang pasti selalu ada untuk menghibur Risya yang memang sangat membutuhkan teman-temannya dan Arga memang pasti tau apa yang di butuhkan istrinya saat-saat seperti ini.
***********
Setelah menjenguk Risya. Syrala dan Angela keluar dari rumah sakit yang menuju parkiran.
"Kamu kembali kekantor Syrala?" tanya Angela.
"Hmmm, nggak deh aku mau ada urusan sebentar. Nggak apa-apa kamu pulang aja. Nanti aku naik Taxi aja," ucap Syrala.
"Urusan apa memangnya. Sekalian aja aku antar, memang tempatnya di mana?" tanya Angela.
"Oh nggak usah. Beda arah sana kantor kamu. Jadi kamu pulang aja duluan," sahut Syrala yang kelihatannya tidak mau jika Syarla ikut.
"Ya udah serius nih nggak mau di antar?" tanya Angela.
"Iya serius," sahut Syrala dengan mengangguk tersenyum.
"Ya sudah kalau begitu aku kekantor duluan ya," ucap Angela.
"Oke hati-hati," sahut Syrala. Angela langsung memasuki mobilnya dan langsung melakukannya dengan kecepatan normal.
Syrala menghela napasnya dan melihat arloji di tangannya.
"Aku harus cepat pergi sebelum jam makan siang. Aku cari makanan dulu sebentar," gerutu Syrala yang langsung meninggalkan tempat tersebut.
Tidak tau juga Syrala mau kemana. Sampai Angela tidak boleh mengantarnya. Seperti ada sesuatu saja.
*********
Ternyata Taxi yang di tumpangi Syrala berhenti di bengkel. Bengkel siapa lagi jika bukan bengkel Boy dan Boy yang kebetulan sedang memperbaiki mobil yang berada di kolong mobil.
Syrala keluar dari Taxi dengan membawa beberapa kantung plastik yang sepertinya makanan.
"Boy!" panggil Syrala yang berdiri di depan mobil yang di perbaiki Boy.
"Syrala!" sahut Boy yang sedikit mengintip. Syrala tersenyum Ndan memilih untuk duduk menunggu Boy.
Syrala hari ini tampak beda. Kalau cantik sudah pasti cantik. Namun Syrala beberapa kali bercermin di ponselnya yang mengecek penampilannya. Aneh memang ya itu Syrala yang tidak tau kenapa berbeda.
"Syra!" tegur Boy yang menghampiri Syrala.
"Hay!" sapa Syrala.
"Apa yang lucu?" tanya Boy heran.
"Ya kamu lah. Cemong seperti itu. Kayak anak kecil tau," ucap Syrala geleng-geleng yang membuka tasnya.
"Sini aku bersihkan," Syrala langsung membersihkan wajah Boy dengan menggunakan sapu tangan miliknya dengan Syrala yang masih tertawa saja yang merasa begitu lucu.
Namun perhatian kecil Syrala membuat Boy tiba-tiba merasa aneh dan matanya menatap Syarla dengan tatapan yang berbeda.
"Kalau melap keringat itu dengan sapu tangan yang bersih bukan dengan tangan kamu yang kotor yang akhirnya sama saja," ucap Syrala dengan gemas sendiri.
Tanpa Syrala sadari, jika sejak tadi dia di tatap begitu dalam dan akhirnya Syrala sadar dan membuat Syrala bingung sendiri dan mereka malah saling bertatapan dengan getaran-getaran yang mereka rasakan sendiri.
"Sudah bersih," ucap Syrala yang sadar sendiri dan terlihat salah tingkah.
"Makasih," sahut Boy yang juga ikut-ikutan salah tingkah dan jadi canggung juga.
"Oh iya ini aku bawa makanan untuk kamu," ucap Syrala yang begitu gugup dan langsung mengalihkan pada makanan yang di bawahnya.
"Apa ini. Ya ampun merepotkan sekali," sahut Boy.
"Nggak kok. Ini hanya makan siang. Kita makan siang bersama ya," ucap Syrala.
"Ini sengaja membawakan makan siang. Atau kebetulan lewat?" tanya Boy. Sepertinya hal ini selalu di lakukan Syrala dan alasan Syrala hanya kebetulan lewat.
"Ini sengaja," jawan Syrala yang kali ini jujur membuat Boy mendengus dengan tersenyum.
"Kalau begitu terima kasih," ucap Boy.
"Lebay, banget sih harus pakai terimakasih segala," sahut Syrala.
"Ya memang harus tau," sahut Boy.
"Sudah-sudah sekarang sebaiknya kita makan dan jangan banyak-banyak cerita," ucap Syrala.
"Baiklah," sahut Boy dan mereka mulai makan setelah sebelumnya di antara keduanya ada rasa canggung dan saling salah tingkah bagaimana gitu.
***************
Akhirnya Risya sudah boleh pulang setelah di rawat beberapa hari di rumah sakit. Tetapi Risya tidak pulang ke Apartemen, atau kerumah orang tua Arga. Dia pulang ke rumah orang tuanya dan Arga pun setuju asal istrinya itu bahagia.
Begitu sampai Tantri dan Hariyanto langsung menyambut Risya dengan Hariyanto yang langsung memeluk Putrinya yang masih penuh dengan kesedihan itu
"Putri papa tidak boleh bersedih terus. Harus kuat dan percaya jika Allah pasti akan mengganti secepatnya," ucap Hariyanto dengan mengelus-elus kepala Risya.
Arga dan Tantri hanya tersenyum melihat kehangatan Risya dan papanya. Karena memang pelukan seorang ayah yang pasti menguatkan Risya. Apa lagi Risya itu anak satu-satunya dan sejak dulu berdebat dengan mamanya masalah pernikahan. Papanya pasti membelanya.
"Sudah ya sayang jangan bersedih lagi," ucap Hariyanto melepas pelukan itu dengan memegang ke-2 pipi putrinya itu.
"Makasih pah sudah ada untuk Risya. Maaf ya pah. Risya belum bisa kasih cucu untuk mama dan papa," ucap Risya.
"Sudah Risya jangan membicarakan hal itu lagi. Sekarang sebaiknya kamu itu kekamar dan istirahat. Ingat jangan memikirkan hal itu lagi," tegas Tantri.
"Iya sayang dengar apa kata mama dan papa," sahut Arga yang mengingatkan istrinya itu.
"Iya," sahut Risya.
"Ya sudah Arga bawa istri kamu masuk. Istri kamu perlu istirahat," ucap Salmah.
"Iya mah. Ayo sayang kita sekarang istirahat," ajak Arga. Risya menganggukkan kepalanya yang menurut saja dan Arga langsung merangkul istrinya membawa istrinya untuk beristirahat.
Tantri dan Hariyanto menghela napas mereka dengan melihat Putri dan menantu mereka tersebut.
"Risya itu anak kuat. Dia pasti bisa melewati semua ini," ucap Hariyanto.
"Untung ada Arga pah yang selalu menemaninya dan memberinya dukungan," sahut Tantri.
"Kita doakan saja. Semoga Allah menggantikan apa yang sudah hilang," ucap Hariyanto.
"Iya pah," sahut Tantri.
Bersambung