
Risya pun mau tidak mau memasuki kamar dan tidak melihat Arga sama sekali ada di dalam kamar.
"Kemana dia!" batin Risya dengan melihat di sekelilingnya. Namun mendengar suara air yang dari kamar mandi. Jadi Risya yakin Arga ada di kamar mandi.
Risya menghela napasnya dan membuka lemari. Mengambil pakaian ganti Arga. Ya di kamar Risya ada beberapa pakaian Arga. Karena mereka pernah menginap di sana.
Setelah Risya mengambilnya. Risya meletakkan saja di pinggir ranjang. Lalu Risya naik ke atas ranjang dan menarik selimut yang berbaring miring membelakangi bagian di sebelahnya.
Tidak lama Arga keluar dari kamar mandi yang menggunakan handuk di liliy dari pinggangnya. Arga sebelumnya mandi karena habis terkena air hujan. Arga melihat Risya yang sudah ada aja di kamar dan pasti Risya cuek dan bahkan sudah tertidur membelakangi dirinya.
Mata Arga berpindah pada ujung ranjang yang terlihat lipatan pakaiannya dan Arga langsung mengambilnya dan memakainya. Walau Risya cuek dan marah kepadanya. Istrinya itu masih menyiapkan pakaiannya dan itu cukup membuat Arga senang.
Setelah selesai memakai pakaian santai. Arga langsung naik ke atas ranjang dan berbaring di samping Risya dan untung Risya tidak marah mereka tidur seranjang. Arga menoleh ke arah Risya sebentar dan mematikan lampu tidur di bagian dirinya dan juga mematikan lampu tidur di bagian Risya.
"Gelap," sahut Risya yang tiba-tiba sadar dan Arga langsung memasangnya. Hanya mengigau saja Risya dalam tidurnya yang begitu gelap langsung terbangun.
"Maafkan aku," ucap Arga pelan dan langsung membaringkan dirinya untuk secepatnya istirahat. Karena dia juga sangat mengantuk.
**********
Malam yang semakin larut di dalam kamar yang tidak terlalu terang dan tidak gelap juga. Pasangan suami istri yang tertidur lelap dengan posisi Risya yang masih sama yang masih tetap yang hanya tertidur dengan miring membelakangi suaminya.
uhuk-uhuk-uhuk-uhuk.
Arga yang dalam tidurnya batuk-batuk berkali-kali yang membuat mata Risya perlahan terbuka dan menoleh kebelakang. Arga juga membelakanginya yang meringkuk dengan tubuh bergetar dan Arga sedang tidak memakai selimut karena selimut semuanya untuk Risya.
Uhuk uhuk uhuk uhuk uhuk uhuk uhuk.
Arga batuk-batuk terus membuat wajah Risya jadi kepikiran dan Risya pun duduk untuk melihat Arga yang masih batuk aja.
"Arga!" panggil Risya pelan. Memastikan Arga baik-baik saja. Namun tidak ada jawaban dari Arga selain batuk-batuk yang membuat Risya gelisah. Risya menyibakkan selimut nya dan turun dari ranjang untuk melihat kondisi Arga lebih dekat lagi.
"Kenapa tidak bangun sih, untuk minum," gumam Risya yang jadi repot karena ulah Arga yang di pastikan sudah menganggu tidurnya.
Sampai akhirnya Risya keluar dari kamar dan berlari menuruni anak tangga dengan buru-buru. Hanya untuk mengambil air putih yang pasti untuk Arga. Sangat kebetulan di kamar sudah habis air.
Setelah itu Risya kembali kekamar dengan membawa segelas air dan Risya duduk di samping Arga.
"Arga kamu minum dulu!" ucap Risya yang melihat tubuh suaminya itu menggigil yang sepertinya kedinginan.
Arga batuk-batuk terus Risya berusaha memberikan Arga minum dengan mengangkat kepala Arga dan Arga bisa minum dalam ke adaan matanya yang tertutup.
Setelah itu Risya buru-buru mematikan AC dan menyelimuti Arga.
"Makanya jangan sok-sok-an pergi hujan-hujan. Lihat apa yang terjadi dan sekarang siapa yang repot, aku juga," oceh Risya dengan kesal. Karena Arga yang akhirnya demam karena air hujan. Tubuh Arga sangat lemah kenak air hujan dikit aja langsung sakit dan bagaimana Risya tidak marah-marah.
Arga yang masih tetap memejamkan matanya hanya maracau yang sekarang sedang terlentang. Sementara Risya yang orang nya sangat mudah panik hanya memeriksa kondisi Arga dengan memegang dahi Arga yang panas.
"Jadi kayak gini kan akibatnya," gumam Risya yang kesal sendiri dengan suaminya yang merepotkan dan mengganggu tidurnya itu. Hal yang di lakukan Risya hanya menambah ketebalan selimut untuk Arga. Agar Arga tidak mengigil lagi dan kondisi Arga bisa semakin membaik.
**********
Mentari pagi kembali tiba. Risya memasuki kamar dengan membawakan air jahe untuk Arga yang mana Arga baru membuka matanya dan lagi-lagi Risya hanya mendengar suara batuk Arga.
"Kamu minumlah!" ucap Risya yang berdiri di samping Arga dan memberikan gelas itu pada Arga. Arga yang mencoba untuk duduk dan sepertinya kesulitan membuat Risya harus turun tangan, meletakkan dulu minuman itu di atas nakas dan langsung membantu Arga untuk duduk.
Namun Arga hanya melihat saja ke arah wanita di sampingnya itu yang berwajah dingin itu.
"Jangan melihatku seperti itu. Lama-lama aku mencongkel matamu," ketus Risya tanpa melihat Arga. Namun dia sadar sedang di lihati suaminya itu.
"Minum agar batukmu tidak parah!" titah Risya dengan ketusnya. Arga menurut saja dan langsung mengambilnya meminum teh jahe itu dengan wajahnya yang kecut yang sepertinya Arga tidak suka jahe.
"Jangan manja. Habiskan," tegas Risya. Lagi-lagi Risya begitu galaknya dan Arga hanya menurut saja yang seperti sangat takut pada istrinya itu.
Risya berjalan menuju lemari dan mengambil jaket lalu memberikannya pada Arga.
"Pakailah. Kita kerumah sakit. Dokter tidak bisa datang ada tugas lain. Mau tidak mau kita kerumah sakit," ucap Risya.
Arga diam dan belum mengambil jaket itu.
"Kenapa tidak mau kerumah sakit. Mau seperti ini aja. Kapan sembuhnya. Aku juga nanti yang repot," oceh Risya.
Mendengar istrinya yang mulutnya merocos terus membuat Arga mengambil jaket itu dan langsung memakainya. Lagi dan lagi dia haha menjadi penurut saja untuk orang istrinya itu.
"Aku tunggu di luar," ucap Risya yang langsung pergi terlebih dahulu.
Arga kembali menghela napasnya dan turun dari ranjang. Kondisi memang sangat tidak baik-baik saja dan belum lagi dia juga terlihat sanga lelah dan masih kedinginan. Mungkin memang harus kerumah sakit agar kondisinya membaik.
***********
Risya dan Arga menuruni anak tangga dan ada Hariyanto dan Tantri yang melihat menantu dan anaknya itu.
"Kalian mau kemana?" tanya Tantri.
"Kerumah sakit," jawab Risya.
"Siapa yang sakit?" tanya Tantri.
"Tuh menantu kesayangan mama," jawab Risya ketus yang melewati ke-2 orang tuanya itu.
"Ohhhh, masih menantu toh," sahut Tantri.
"Apa sih," sahut Risya kesal yang menoleh kebelakang.
"Perhatian banget sih istrinya, malam-malam lari-lari ke dapur, pagi-pagi repot membuat ini dan itu. Ternyata suami kesayangannya sedang sakit toh," goda Tantri pada putrinya yang masih hatinya penuh kekesalan itu.
"Apa sih mah," sahut Risya semakin kesal dengan mamanya.
Namun Arga mengeluarkan senyum tipisnya mendengar apa yang di katakan mertuanya itu yang menurutnya istrinya diam-diam memperhatikannya.
"Kenapa. Kamu khawatirkan sama Arga. Ya ampun jadi istri yang Sholeha ya Risya yang selalu ada untuk suaminya. Kalau lagi sakit-sakit seperti ini suami itu mau di manja-manjaan," ucap Tantri yang paling suka menggoda Risya membuat wajah Risya semakin memerah.
"Mama udah deh, nggak usah mulai," sahut Risya yang kesal.
"Udah ayo buruan pergi!" sahut Risya yang langsung berjalan cepat keluar rumah sebelum semakin banyak kata-kata yang di keluarkan mamanya.
"Arga pergi dulu ma, pa," ucap Arga pamit dengan suara seraknya. Baru sekarang Arga mengeluarkan suaranya.
"Iya kalian hati-hati," ucap Tantri. Arga mengangguk dan menyusul istrinya untuk keluar rumah.
Sampai akhirnya mereka sudah berada di luar rumah dan Risya mengambil alih untuk menyetir. Karena tidak mungkin juga Arga yang menyetir dalam keadaan sakit seperti itu. Arga pun menyusul untuk memasuki mobil.
Tidak ada yang di katakan Risya dan Risya langsung menyalakan mobil dan Arga juga memakai sabuk pengamannya dan mereka langsung segera menuju rumah sakit.
Bersambung