
Di saat Arga dan Risya berpelukan. Tiba-tiba Angela, Edo dan Putri datang. Mereka bertiga melihat Risya yang tampak sedih di pelukan Arga.
"Tante kenapa?" tanya Putri.
Suara itu membuat Risya perlahan melepas pelukannya dari suaminya. Masih dengan berlinang air mata Risya melihat ke arah Putri yang barusan saja bertanya kepadanya. Tatapan mata Risya pada Putri seolah kebencian yang di tunjukkannya.
Setela kebenaran yang terungkap, ini pertama kali Risya melihat Putri. Anak itu bertanya kepadanya. Namun debaran jantung Risya tidak stabil dengan napasnya yang juga naik turun. Melihat Putri mengingatkan dirinya pada perbuatan ayahnya.
Putri adalah hasil dari penghiyanatan itu dan bagaimana tidak tatapan mata itu seolah sangat membenci Putri. Karena Putri lahir dari rahim wanita yang merusak rumah tangganya.
"Tante kenapa nangis? Tante sudah besar. Tetapi masih menangis. Tante itu manja sekali. Papa Tante lagi sakit. Tetapi bukannya menemani papa Tante. Malah nangis seperti anak kecil di sini!" Putri berbicara dengan nada seperti biasanya yang selalu mengejek Risya.
"Kasihan Om tampan. Jika harus mengurus anak manja seperti Tante!"
"Diam!" bentak Risya dengan suara menggelegar yang membuat Putri terkejut. Bukan hanya Putri Angela, Edo dan Arga juga kaget dengan suara Risya yang menggelegar yang menghentikan pembicaraan Putri.
"Kau jangan bicara kepadaku!" teriak Risya seperti orang gila. Hal itu membuat Putri takut yang langsung bersembunyi di belakang Edo memegang kuat tangan Edo.
"Risya sudah!" Arga mencoba untuk menenangkan istrinya yang emosinya terpancing.
"Risya kamu tidak harus membentak Putri. Dia masih kecil," tegur Angela yang juga kaget melihat reaksi Risya yang berlebihan.
"Lalu kalau dia masih kecil. Dia bisa berkata sesukanya. Apa dia tidak sadar. Jika dia penyebab masalah ini!" tunjuk Risya pada Putri yang ketakutan.
"Risya kamu ini apa-apaan sih!" tegur Angela lagi yang berusaha melindungi Putri.
Keributan itu bersamaan dengan datangnya, Syarla, Boy, Vio dan Samuel. Mereka pasti shock dengan reaksi Risya menyalahkan Putri. Namun mereka tidak ikut berkomentar. Karena yang merasakan semua itu hanya Risya dan tidak ada yang tau bagaimana hancurnya perasaan Risya.
"Kamu itu keterlaluan sekali Risya. Seharusnya tidak membuat anak kecil takut sampai seperti ini," ucap Angela.
"Kamu akan berpihak padanya?" tanya Risya pada sahabatnya itu.
"Apa maksud mu Risya bertanya seperti itu. Apa menurutmu anak kecil harus menjadi saingan mu. Aku tau perasaan kamu. Tapi Putri juga tidak salah. Dan jangan membahas hal ini di depannya," ucap Angela dengan bijak. Edo hanya diam yang tidak bisa berkomentar apa-apa.
"Lalu menurutmu ini salahku. Lalu apa tujuanmu membawanya kemari. Ingin menemui ayahnya. Sana bawa dia masuk dan hidup bahagia bersama laki-laki penghiyanat itu!" teriak Risya semakin tidak bisa mengendalikan dirinya.
"Angela kau jadilah pembelanya dan tertawakan aku dengan kehidupanku yang berantakan dan semua Karena dia anak dari wanita sialan itu!"
"Hentikan Risya!" bentak Tasya yang tiba-tiba datang. Suasana semakin panas dengan Tasya yang bisa-bisanya datang dan pasti tidak terima dengan anaknya di hina. Arga memejamka matanya yang sudah menduga jika masalah akan semakin banyak.
Melihat Tasya membuat Risya mengepal tangannya yang menatap penuh kebencian pada wanita itu.
"Putri tidak tau apa-apa. Jadi hentikan omong kosong mu. Jangan menghinanya!" tegas Tasya.
"Kenapa kau tidak terima dengan perkataan ku. Kalau begitu bawa pergi anak haram mu itu dari sini!" terisak Risya.
Kata-kata Risya yang semakin kasar hanya membuat Arga dan yang lainnya diam yang tidak berani berkomentar.
"Tutup mulutmu! Kau tidak pantas mengatakan itu di depan anak kecil!" tegas Tasya membuat Risya tertawa.
"Wau sekarang kau berbicara soal pantas dan tidak pantas. Lalu menurutmu merebut suami orang lain itu pantas hah! Menurutmu tidur dengan suami orang lain dan melahirkan anak itu pantas. Apa sekarang kau datang kemari Tasya ingin menjenguk pria yang kau cintai itu hah! Sana masuk temui dia dan bawa anak kalian berbahagia lah, berbahagia dengan kehidupan yang menjijikkan!" ucap Risya yang tersenyum getir. Kehancuran di hatinya memang bisa di lihat dari ekspresi wajahnya yang bukan Risya lagi.
"Risya cukup! Ayo kita pergi!" Arga mencoba membujuk istrinya itu dengan lembut dengan memegang bahu istrinya itu.
"Lepaskan aku Arga!"
"Sayang sudah ayo!" Arga hanya berusaha membujuk Risya dengan caranya.
"Jangan menyuruhku pergi!" teriak Risya.
"Lihat mereka semua! Mereka menertawakanku. Lihat mereka, mereka semua menang. Wanita itu menang dia merebut papa, dia menghancurkan hati mama, dia berusa menggantikan ku dengan anaknya!" Risya menangis histeris yang tidak menerima kenyataan itu.
"Jahat! mereka jahat Arga. Mereka membalas semua kesombonganku yang selalu membanggakan keluargaku. Sekarang kamu lihat dia tertawa, mereka menertawakanku?" Risya terus memegang kedua kepalanya yang sangat frustasi.
"Sayang sudah!" Arga hanya berusaha menenangkan Risya.
Suara tangis itu yang perlahan terdengar pelan dan Risya yang juga lemas yang akhirnya pingsan dan Arga menangkapnya yang mereka sama-sama terjatuh di lantai dengan Risya berada di pangkuan Arga.
"Risya!" lirih Syrala yang menghampiri Risya. Vio, Samuel dan Boy juga menghampiri Risya.
"Sayang bangun!" lirih Arga memegang pipi istrinya, membangunkan istrinya.
Arga menghela napasnya dan melihat ke arah Tasya, Edo, Angela dengan bergantian.
"Cukup semua ini Tasya. Kamu sudah menghancurkan segalanya. Jangan sengaja untuk datang lagi. Apa lagi yang kamu inginkan. Kamu semakin ingin menghancurkan Risya cukup semuanya," ucap Arga dengan suara yang sangat lelah.
"Aku tidak mungkin diam Arga. Jika dia menghina anakku," Tasya mencoba membela diri.
"Kau yang semuanya seperti ini dan itu resikonya. Jadi tolong jangan ikut campur lagi. Cukup semuanya. Kau cukup menghancurkan keluarganya. Tapi mohon jangan Risya!" ucap Arga yang pasti selalu menjadi orang pertama untuk Risya.
"Dan kalian!" Arga menatap ke arah Angela dan Edo.
"Apa yang kalian lakukan di sini? Sudah tau seperti ini situasinya. Masih saja datang kemari. Aku tidak tau Angela apa maksud kamu datang kemari membawa Putri. Tetapi bukan ini waktunya dan seharusnya kamu tidak datang kemari," ucap Arga.
"Tapi Arga. Apa yang terjadi bukan kesalahan Putri. Dia masih kecil dan tidak tau apa-apa," sahut Angela membela Putri.
"Lalu menurutmu ini salah Risya. Apa menurutmu dia juga tau apa-apa. Angela kamu dan Syrala sahabat Risya. Dan kamu mengenalnya seperti apa. Tolong pahami perasaannya. Aku membelanya bukan aku karena aku suamimu. Tetapi aku tidak tau apa yang di rasakannya sampai bertindak seperti ini," ucap Arga.
Angela terdiam mendengar perkataan Arga yang memang ada benarnya.
"Tidak ada yang mengatakan ini salah Risya atau Putri. Semua kesalahan mereka yang menjadi penyebabnya. Risya dan Putri hanya korban. Jadi tolong pahami perasaan Risya dan mungkin Putri belum mengerti apa-apa," lanjut Arga.
"Arga sudahlah! Ayo kita bawa Risya!" sahut Boy. Arga mengangguk dan langsung menggendong istrinya itu. Matanya bergenang yang melihat lagi-lagi Risya seperti itu.
Dia saat dia berusaha untuk mengembalikan Risya seperti awal dan itu sudah mulai. Karena bantuan orang tuanya. Tetapi hari ini kembali lagi dan Arga tidak bisa melindunginya Risya. Pasti lelah bagi Arga mengatasi Risya. Tetapi jika bukan dia yang selalu mendampingi Risya. Mungkin Risya akan semakin hancur dan bisa nekat.
"Cukup semua ini Tasya. Aku berharap kamu tidak datang ketempat ini lagi," tegas Vio pada Tasya setelah kepergian Arga.
"Jangan mencari masalah lebih besar Tasya dan kamu juga Angela tidak seharusnya punya pikiran membawa Putri kemari," sahut Boy menambahi.
"Sudah-sudah ayo kita pergi," ajak Samuel yang akhirnya mereka semua menyusul Arga yang membawa Risya.
Syrala tidak mengatakan apa-apa dan hanya melihat Angela sebentar dengan ekspresi tidak terbaca dan langsung pergi.
...Jangan lupa mampir ya ikutin ceritanya dan jangan lupa tinggalkan koment, like dan subscribe. Vote sebanyak-banyaknya....
Bersambung