
Tidak terasah 8 hari sudah mereka berada di Jepang. Dan sesuai rencana Risya bukannya bekerja malah liburan di sana dan hari ini mereka akan kembali ke Jakarta. Koper-koper semuanya sudah selesai dan hanya tinggal siap-siap saja.
"Apa salahnya sih di genapkan menjadi 10 hari saja. Kenapa tanggung sekali," oceh Risya yang sembari memasukkan alat-alat make-up nya ke dalam tasnya.
"Kamu itu protes terus ya Risya. Memang belum puas. Selama 8 hari kamu itu liburan terus dan aku yang kerja," ucap Arga.
"Ya kan itu kamu yang bilang sendiri dan bukan aku sama sekali," jawab Risya yang pasti ada saja jawabannya.
" lYa sudah sekarang itu waktunya pulang dan kita harus pulang," tegas Arga.
"Isss, pelit amat hanya 2 hari aja langsung perhitungan," sahut Risya kesal. Arga hanya geleng-geleng dengan menghela napas. Memang begitulah Risya kalau sudah di kasih hati akan nagih terus dan permintaannya akan semakin banyak.
"Ngambek," goda Arga.
"Siapa yang nagmbek," sahut Risya yang padahal memang wajahnya itu manyun dan pasti nagih mau liburan lagi.
"Risya aku itu harus secepatnya sampai Jakarta. Masih ada pekerjaan Risya. Nanti kalau ada waktu libur. Kita liburan lagi. Lagian juga selama di sini aku terus yang kerja," ucap Arga berusaha untuk membujuk Risya agar mood Risya tidak buruk.
"Waktu kamu sakit aku yang mengerjakan semuanya, aku sampai tidak tidur," sahut Risya yang mengungkit semuanya.
"Ohhhh, tidak ikhlas ceritanya," sahut Arga.
"Siapa yang tidak ikhlas. Kamu itu seharusnya jangan bilang kalau kamu yang ngerjain semuanya kan aku juga kerja. Jadi kita sama-sama kerja dan sama-sama liburan," tegas Risya yang maunya di akui.
"Baiklah Risya kita sama-sama kerja dan sama-sama liburan dan sekarang kita sama-sama pulang ya. Kita akan bikin planning untuk liburan kedepannya," ucap Arga dengan lembut untuk membujuk Risya.
"Hey, jangan ngambek lagi, ayo buruan. Nanti kita ketinggalan pesawat lo," ucap Arga yang mendekati Risya dengan memegang tangan Risya.
"Ya sudah ayo," sahut Risya yang akhirnya luluh dan Arga tersenyum yang akhirnya mereka pergi bersama. Masa liburan atau yang di namakan masa untuk pekerjaan akhirnya selesai dan Jepang punya cerita dan kenangan yang terindah di sana.
**********
Risya dan Arga sekarang sedang berada di dalam pesawat yang sudah mengudara yang mana sekarang Risya sedang makan. Bagi Risya tidak makan di pesawat itu rasanya aneh dan makan di pesawat itu wajib. Dia Asyik makan dan Arga hanya melihat ponselnya saja yang terasa jenuh.
"Kamu tidak makan?" tanya Risya.
"Melihat kamu makan saja. Sudah membuatku kenyang," jawab Arga, "jangan makan banyak-banyak nanti kamu makin gemuk," ucap Arga mengingatkan.
"Issss memang kenapa kalau aku gemuk, nggak boleh, nggak suka," sahut Risya dengan kesal dengan pipinya yang tembam.
"Suka, cuma kalau di gendong berat," sahut Arga.
"Sama aja," sahut Risya kesal. Arga hanya tersenyum kalau sudah melihat Risya ngambek memang itu keinginannya.
"Nih makan!" Risya langsung menyodorkan sendok berisi makanan untuk Arga.
"Menyuapi sudah seperti ibu tiri aja," ucap Arga.
"Ya makanya jangan suka mengejek," ucap Risya kesal, "nanti aka aja kalau tidak bisa makan baru pusing," desis Risya yang moodnya benar-benar di hancurkan Arga.
"Ya ampun sampai segitunya ngambeknya," sahut Arga yang mengusap-usap kepala Risya dan sekarang mengambil sendok dari tangan Risya dan menyuapi Risya makan.
"Ayo buka mulutnya, kamu harus makan banyak supaya cepat besar," ucap Arga.
"Kamu masih kecil. Buktinya masih suka ngambek," sahut Arga.
"Itu karena kamu yang suka cari masalah," ucap Risya dengan kesal.
"Kalau begitu aku minta maaf ya. Sekarang kamu makan ya," ucap Arga dengan lembut yang membujuk Risya. Risya mengangguk dan membuat mulutnya menerima suapan dari Arga.
"Dasar menyebalkan," desis Risya dengan makanan yang penuh di mulutnya.
"Kunyah dulu baru ngomong," ejek Arga.
"Issss mulai lagi deh," sahut Risya kesal. Namun Arga hanya senyum-senyum saja dan kembali menyuapi istrinya itu.
*************
Ternyata pesawat itu sama juga dengan pesawat yang ada Rachel dan Tony. Tidak tau apa kebetulan atau juga di sengaja. Rachel yang duduk di pinggir jendela dan Tony yang duduk di sebelahnya. Tiba-tiba Tony berdiri.
"Kamu mau kemana?" tanya Rachel.
"Mau ke toilet," jawab Tony yang langsung pergi.
Rachel hanya menghela napasnya, " kapan aku bisa lepas darinya. Aku lama-lama bisa mati di tangannya, dia selalu kasar dan hanya menjadikan ku budak saja. Lalu kapan aku bisa mengakhiri semua ini," batin Rachael yang sepertinya sudah sangat lelah dengan kehidupannya bersama Tony, pernikahan yang tidak ada arah dan hanya pernikahan dalam kekerasan.
Tony yang pergi ke toilet yang kebetulan berselisih dengan Arga yang keluar dari toilet dan membuat keduanya sama-sama menghentikan langkah dengan saling melihat. Jangan tanya tatapan Arga bagaimana sinisnya pada Tony. Ya kecurigaan dia dan istrinya belum terpecahkan apa benar Tony yang berusaha melecehkan Risya. Walau keyakinan Risya dan Arga tidak salah. Namun mereka belum mendapatkan bukti yang kuat.
"Tuan Arga," sapa Tony sok ramah bukannya mendapat balasan sapaan dari Arga. Arga malah pergi melewati Tony begitu saja.
"Sombong sekali kau. Kau itu sama saja dengan istrimu itu. Kau pikir aku adalah lawanmu, kau itu salah besar," umpat Tony dengan penuh kekesalan yang mengepal tangannya.
Sementara Arga kembali ketempat di mana istrinya duduk. Begitu duduk di samping Risya. Arga langsung membawa Risya kepelukannya dan Risya yang heran dengan wajahnya yang mendarat di dada bidang Arga.
"Ada apa?" tanya Risya mengangkat kepalanya melihat ke arah suaminya.
"Kita satu pesawat dengan Tony dan Rachel," jawab Arga.
"Oh iya, kamu bertemu mereka? di mana mereka?" tanya Risya.
"Entahlah aku juga tidak tau mereka duduk di mana. Aku tadi berselisih dengan Tony di kamar mandi," jawab Arga.
"Aku harus tetap pura-pura tidak bisa melihat. Agar kita semakin dapat bukti yang tepat," ucap Risya.
"Maaf ya Risya sampai detik ini aku belum tau siapa yang sudah menyakiti kamu. Aku berjanji akan mencari taunya," ucap Arga.
"Iya Arga aku tau kok, kamu jangan Khawatir lagian aku juga baik-baik saja dan kita akan cari sama-sama," ucap Risya yang tersenyum dan mencium pipi Arga. Arga pun tersenyum yang mencium pucuk kepala Risya.
"Kamu tidurlah," ucap Arga.
"Baik," sahut Risya.
Bersambung