MANTAN? TAPI NIKAH YUK!!!

MANTAN? TAPI NIKAH YUK!!!
Bab 209 Kecewa.


"Mah!" lirih Hariyanto dengan matanya yang bergenang. Hariyanto melangkah mendekati Tantri.


"Stop!" sentak Tantri dengan mengangkat tangannya dan Hariyanto menghentikan langkahnya.


"Papa jawab pertanyaan mama. Benar jika Tasya adalah wanita itu?" tanya Tantri sekali lagi dengan menekan suaranya.


"Maafkan papa mah," sahut Hariyanto dengan suara rendah dan air matanya terjatuh.


"Astagfirullah," lirih Tantri dengan menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Terasa sesak di dadanya di mana luka yang pernah ada harus kembali lagi. Tantri meremas dadanya yang terasa begitu sakit.


"Maafkan papa mah," sahut Hariyanto.


"Tantri berusaha untuk tenang dengan mengatur napasnya yang mencoba untuk kuat.


"Papa masih berhubungan dengannya?" tanya Tantri.


"Demi Allah tidak. Semenjak papa bertobat dan mendapat ampunan dari mama. Papa tidak pernah berhubungan dengannya. Papa juga kaget ternyata dia mantan istri Edo dan dia berusaha untuk menghancurkan keluarga kita," jelas Hariyanto.


"Dia berusaha untuk menghancurkan keluargaku kita. Atau menuntut pertanggung jawaban kamu atas hasil jina kalian berdua," sentak Tantri yang terlalu sakit mengeluarkan kata-kata itu.


"Kamu nggak bilang mas. Kalau dulu dia sempat hamil dan katakan jika hasil tes DNA ini adalah kebenaran. Jika ternyata anak yang di perebutkan itu adalah anak kalian berdua!" teriak Tantri.


"Kenapa kamu diam mas?"


"Katakan dengan jujur! Jangan menutupi apa lagi dari ku. Katakan jika apa yang aku lihat, pesan yang aku baca dan hasil tes DNA itu adalah kebenarannya!" teriak Tantri.


"Maafkan papa," sahut Hariyanto yang hanya bisa memintanya maaf.


Tantri semakin terisak mendengarnya dan terduduk lemas yang tidak percaya. Jika 7 tahun lalu tidak sesakit ini.


"Mah!" Hariyanto berjongkok dan mendekati istrinya.


"Papa minta maaf. Papa tidak mengatakan ini kepada mama. Karena papa tidak mau mama sakit hati kembali. Papa hanya ingin menjaga keluarga kita," ucap Hariyanto.


"Jika papa ingin menjaga keluarga ini. Seharusnya tidak menutupi apapun. Dan mama pikir kejujuran papa 7 tahun lalu adalah kejujuran yang sebenarnya. Pengakuan tanpa mama selidiki. Tetapi ternyata tidak. Wanita itu sampai hamil dan sekarang muncul dengan anak yang sudah besar," ucap Tantri dengan suaranya yang semakin merendah.


"Papa juga tidak tau jika anak yang di kandungnya lahir," sahut Hariyanto.


"Jawab pertanyaan mama. Apa dulu kamu tau jika dia hamil?" tanya Tantri dengan menatap suaminya yang masih diam dan belum menjawab pertanyaan itu.


"Jawab mas. Apa kamu meninggalkan wanita itu dia saat dia hamil!" bentak Hariyanto. Hariyanto mengangguk kan kepalanya.


"Ha, hah!" suara napas berat Tantri yang terdengar.


"Keterlaluan kamu mas?" teriak Tantri yang mendorong Hariyanto dan Tantri langsung berdiri. Hariyanto hanya bersujud di depan istrinya itu.


"Jadi kamu mengakui perbuatan kamu waktu. Karena wanita itu sudah hamil dan jika tidak kamu masih melanjutkan hubungan terlarang kalian!" teriak Tantri dengan menunjuk suaminya itu.


"Tidak seperti itu mah. Papa bisa menjelaskannya," sahut Hariyanto.


"Kalau begitu bicara dan jelaskan!" teriak Tantri yang kesabarannya sudah semakin habis.


"Seperti dulu yang papa katakan kepada mama. Hubungan itu adalah jebakan. Karena kejadian dalam jebakan itu. Aku dan dia menjadi terikat dan menjalin hubungan terlarang di belakang keluarga kita. Mungkin apa yang aku lakukan kepadanya membuatnya berpikiran terlalu jauh dan menganggap berbeda. Tetapi jujur mah papa tidak mempunyai perasaan kepadanya sampai dia nekat menjebak papa dan papa juga terjerat dengan ikatan hubungan terlarang karena terlanjur melakukan hal itu,"


"Dia juga mengatakan ke kehamilannya yang membuat papa sadar jika papa harus mengakhiri segalanya dan saat itu dia mengatakan akan menggugurkan kandungannya asal papa tetap bersamanya,"


"Tapi papa tidak bisa tetap dalam lingkaran seperti itu dan pada akhirnya papa mengaku kepada mama. Papa tau resikonya dan mama memberi papa kesempatan demi Risya dan saat itu papa ingin mengakhiri dengannya. Namun dia tidak terima hal itu dan papa tetap menegaskan untuk berakhir dan akhirnya berakhir dengan doa pergi dari kehidupan papa dan papa rasa tidak tanpa anak di kandungannya. Karena papa menyuruhnya untuk menggugurkannya," jelas Hariyanto dengan menunduk.


"Papa memang jahat mah yang menyuruhnya untuk meniadakan janin itu. Karena apa. Papa tidak ingin punya keluarga lain dan papa melakukan semuanya demi keluarga kita dan papa tidak tau jika dia melahirkan anak itu," tegas Hariyanto.


"Lalu apa papa sadar Risya yang mendapatkan karma dari perbuatan papa!" teriak Tantri.


"Putri kita pah. Akibat dari perbuatan ayahnya yang dengan mudahnya membunuh janin yang tidak berdosa. Anak kita mengalami keguguran. Dan papa tidak sadar jika Risya mendapatkan karma dari perbuatan papa. Risya yang menjadi korbannya!" teriak Tantri.


Hariyanto terdiam. Benar apa kata istrinya. Perbuatan dosanya yang sangat besar. Putrinya yang mendapatkan karma dan menanggung semuanya.


"Calon cucu pertama kita. Calon anak pertama Arga dan Risya harus tiada. Karena perbuatan papa. Apa papa sadar itu dan seterusnya Risya pah yang akan terus menanggung semua perbuatan papa!" tegas Tantri dengan air matanya bercucuran.


"Dan sekarang lihat. Anak kalian berdua sudah besar. Lalu bagaimana dengan Risya. Bagaimana jika dia tau semua ini. Jika masalah dulu pasti Risya tidak akan tau dan sekarang secepatnya Risya akan tau masalah ini. Lalu bagaimana nasib Risya pah!" ucap Tantri yang sangat menakutkan jika Risya tau semuanya.


"Papa juga berusaha untuk melindungi Risya mah dan papa berusaha untuk mencegah dia untuk tidak mengatakan apa-apa kepada Risya," sahut Hariyanto.


"Astagfirullah!" lirih Tantri yang mencoba untuk tenang dengan mengatur napasnya.


"Maafkan papa mah. Tolong papa. Tolong papa untuk menjaganya semuanya dari Risya. Papa tidak mau jika Risya tau semua ini," ucap Hariyanto yang terlihat memohon.


"Mama sudah tidak mau bicara apa lagi. Papa tau semua ini sangat menyakitkan. Hati mama terluka. Tetapi mama sudah tidak peduli dengan hati mama yang sudah hancur. Di benak mama hanya Risya dan mama sudah tidak tau harus melakukan apa lagi," ucap Tantri dengan mengusap wajahnya dengan kasar.


"Jangan menemui ku dulu. aku butuh waktu," ucap Tantri yang langsung pergi.


"Mah!"


"Mah tunggu!" Hariyanto langsung berdiri dan mengejar istrinya yang penuh dengan kekecewaan sampai istrinya itu menuruni anak tangga dan sampai di bawah Hariyanto menghentikan istrinya dan memeluk istrinya.


"Lepaskan pah! Lepaskan!" berontak Tantri.


"Maafkan papa mah. Mohon jangan tinggalkan papa dalam keadaan seperti ini. Papa hanya ingin menyelamatkan keluarga kita. Papa hanya butuh mama untuk sama-sama menjaga Risya," ucap Hariyanto.


"Lalu bagaimana dengan Risya. Apa papa tidak memikirkan keadaan Risya. Hati Risya yang pasti sangat hancur. Bagaimana jika dia tau semua ini," ucap Tantri dengan ketakutannya.


"Jika pun Risya tau nanti papa akan siap menghadapi apapun resikonya," sahut Hariyanto.


"Papa itu keterlaluan papa itu sangat jahat. Perasaan Risya akan hancur pah. Risya akan merasa di khianati pah," ucap Tantri yang menangis di pelukan suaminya dengan sengugukan yang merasa sangat terpukul dengan semuanya.


Ternyata pelukan suam istri yang saling menguatkan itu di lihat Arga dan Risya yang baru saja sampai. Risya dan Arga saling melihat dengan wajah heran.


"Tumben banget mama sama papa seromantis ini," sahut Risya. Tantri dan Hariyanto saling melepas pelukan mereka yang kaget mendengar suara Risya dan keduanya cepat-cepat menyeka air mata mereka.


"Hey Risya! Sayang kamu datang," sahut Tantri dengan tersenyum.


"Mama sama papa kenapa?" tanya Risya heran.


"Nggak apa-apa Risya. Hanya kengen- kengen saja," sahut Hariyanto.


"Cielah yang semakin tua semakin bucin," goda Risya dengan tersenyum.


"Kamu ini bisa aja. Ayo duduk. Arga ayo!" sahut Tantri.


Arga hanya mengangguk tersenyum getir melihat mertuanya di mana Arga merasa ada sesuatu yang di sembunyikan. Arga hanya curiga saja.


Bersambung