
"Apa maksud kamu Tasya?" tanya Edo dengan wajah kagetnya.
"Pak hakim. Putri anak saya dan dia bukan darah daging mantan suami saya," tegas Tasya dengan penuh penekanan pada Pak hakim. Hakim dan juga orang-orang di sebelahnya saling melihat satu sama lain ketika mendengar apa yang di katakan Tasya.
"Jangan bohong kamu Tasya!" bentak Edo.
"Aku tidak bohong. Tetapi itu memang kenyataan. Jika Putri bukan darah dagingmu," tegas Tasya.
Arga dan Risya saling melihat dengan mereka yang masih kaget dengan apa yang di katakan Tasya.
"Sayang Putri bukan anak dari Edo," ucap Risya.
"Aku juga nggak Risya," sahut Arga.
Edo langsung keluar dari tempat duduknya dan menghampiri Tasya yang sejak tadi mengatakan hal yang sama dengan penuh pengakuan.
"Kau tarik kembali kata-kata mu itu. Putri adalah anakku," tegas Edo.
"Mas Edo apa yang aku katakan adalah kebenarannya. Jika Putri bukan anak kandungmu. Aku menikah denganmu dalam keadaan hamil," tegas Tasya yang menekankan.
"Diam kau Tasya!" teriak Edo yang ingin mendekati Tasya yang sampai pengacara Tasya menghalangi dan Pak Danu juga mencoba menarik Edo yang berusaha menyerang Tasya.
"Cukup hentikan! tolong hargai kamu di sini," sahut Pak hakim yang ketuk palu.
"Di luar persidangan ini masalah pribadi dan silahkan kembali ajukan laporan yang berkaitan. Ini bukan urusan persidangan. Persidangan akan di lanjutkan ketikan ada laporan yang benar," tegas pak hakim mengetuk palu dan pak hakim langsung pergi bersama yang lainnya yang bersangkutan.
Sementara Edo dengan napasnya yang naik turun menatap tajam Tasya.
"Kau mengarang cerita supaya hak asuh Putri jatuh ketangan mu. Kau itu benar-benar wanita licik Tasya," kecam Edo.
"Aku hanya mengatakan apa yang sebenarnya terjadi mas Edo. Putri bukan anak kandungmu. Dia anakku bersama pria lain," tegas Tasya yang matanya melihat ke arah Hariyanto.
Hariyanto juga mendadak kaget dengan tatapan Tasya yang membuat Hariyanto panik seketika.
"Aku akan merobek mulutmu jika kau berani mengatakannya sekali lagi!" teriak Edo yang Kesabarannya benar-benar di uji Tasya.
"Jika kau merasa aku berbohong. Kita bisa lakukan tes DNA. Jika Putri bukan darah dagingmu. Kau tidak lupa mas Edo di saat kita pertama menikah. Bukannya saat itu kau sempat mencurigaiku. Karena aku sangat cepat hamil. Aku memang merahasiakan semuanya dari mu sampai detik ini dan pada intinya Putri bukan anak kandungmu aku menikah dengan mu dalam keadaan hamil dan Putri anak Pria lain yang mencampakkan ku," tegas Tasya dengan matanya tetap melihat ke arah Hariyanto.
Jantung Hariyanto rasanya ingin copot karena berdetak tidak menentu yang mendengar ucapan Tasya dan seolah dia pelakunya. Pemikiran itu ada. Namun Hariyanto tidak ingin apa yang di pikirkannya kenyataan.
"Mah, Risya ayo kita pulang," sahut Hariyanto tiba-tiba yang menarik tangan istri dan anaknya.
"Pah, tapi!" Risya bingung yang tiba-tiba di ajak pergi.
"Arga ayo pulang ini bukan urusan kita!" ucap Hariyanto dan Arga mengikut saja walau dia juga sangat bingung kenapa mertuanya itu tiba-tiba mengajaknya pulang di saat masalah belum selesai.
Sementara Angela hanya berusaha untuk menenangkan Edo yang di penuhi emosi.
"Kita akan melakukan tes DNA mas dan kau akan melihat kenyataan yang aku katakan. jika Putri bukan darah dagingmu," tegas Tasya dengan menghela napasnya dan langsung pergi meninggalkan ruangan itu bersama dengan 3 pengacaranya.
"Jangan bohong kau Tasya!" teriak Edo.
"Kau pikir aku takut kepadamu. Aku nggak takut padamu Tasya!"
"Jangan bohong kau!"
"Kau itu penipu!"
Edo berteriak-teriak kepada Tasya yang keluar dari ruangan itu dan Edo langsung terduduk lemas dengan napasnya yang naik turun.
"Argghhh!" teriak Edo dengan memegang ke-2 kepalanya.
"Mas Edo!" lirih Angela yang berusaha untuk menenangkan Edo dengan memeluk Edo yang terduduk lemas.
"Putri anak kamu mas. Tasya memang hanya bohong. Kamu tenang saja. Putri adalah anak kamu," ucap Angela yang berusaha menguatkan Edo.
*********
Sementara di dalam mobil. Ada Arga yang menyetir dan Risya di sampingnya. Hariyanto dan Tantri duduk di bangku belakang.
"Kenapa papa tiba-tiba mengajak kita pulang. Semuanya belum selesai pah dan kita tidak seharusnya meninggalkan Edo dan Angela?" tanya Risya yang melihat kebelakang.
"Itu bukan urusan kita Risya," jawab Hariyanto dengan singkat.
"Bukan urusan bagaimana pah. Kita sudah membantu mereka sejauh ini dan seharusnya kita ada di sana dan bukan malah meninggalkan mereka," protes Risya.
"Itu masalahnya sudah lain," tegas Hariyanto.
"Tapi pah. Angela teman Risya dan seharusnya Risya ada di samping Angela," sahut Risya.
"Sudahlah Risya jangan membahas hal itu lagi. Papa pusing dan biarkan saja mereka yang menyelesaikan urusan mereka. Sejauh papa membantu itu masalah hak asuh anak dan di luar semua itu bukan urusan kita," tegas Hariyanto.
"Sayang sudah nanti kita bisa telpon Angela," ucap Arga. Risya hanya menghela napas saja yang sebenarnya dia masih ingin di sana sampai masalah selesai.
Namun Tantri di sampaikan Hariyanto menoleh ke arah suaminya yang sejak tadi tidak hentinya melap keringatnya dan bahkan terlihat sedang gelisah yang seperti menyembunyikan sesuatu. Feeling seorang istri pasti sangat kuat.
"Ada apa dengan perasaanku. Kenapa tiba-tiba perasaanku jadi Melo seperti ini," batin Tantri yang mendadak tidak tenang. Namun di sisi lain Arga juga melihat dari kaca spion bagaimana mertua laki-lakinya itu.
Sejak di persidangan banyak hal aneh yang Arga tangkap dan sampai detik ini seolah ada sesuatu yang di takutkan mertuanya yang membuat Arga tanda tanya.
************
Arga dan Risya sampai ke Apartemen mereka dan Risya yang langsung duduk di sofa di ruang tamu dengan Risya yang mengatur napasnya dan menutup wajahnya dengan ke-2 tangannya lalu mengusapnya sampai ke kepalanya.
"Menurut kamu bagaimana sayang dengan apa yang di katakan Tasya tadi apa menurut kamu itu benar atau tidak?" tanya Risya.
"Aku tidak bisa memastikan Risya. Namun jika Tasya berani untuk tes DNA. Maka itu bisa di katakan ada benarnya," jawab Arga.
"Itu sama saja dia dulu menipu Edo saat menikahi Edo," ucap Risya yang jadi kesal dengan Tasya.
"Kamu benar sayang dan aku tidak tau bagaimana lagi selanjutnya. Karena hanya Edo yang tau kebenaran semuanya di masa lalu pernikahannya," sahut Arga yang tidak bisa berpendapat lagi tentang hal yang terjadi.
"Kasihan Edo. Jika ternyata benar Putri bukan anak kandungnya. Aku tidak membayangkan bagaimana Edo akan mengahadapi semuanya dia benar-benar akan kehilangan Putri," ucap Risya.
"Kita berdoa saja yang terbaik. Semoga saja apa yang di katakan Tasya tidak benar dan Putri adalah anak kandung Edo darah daging Edo," ucap Arga yang hanya bisa berharap.
**********
Sementara Edo dan Angela yang berada di dalam mobil yang duduk di kursi depan. Mobil itu berhenti di pinggir jalan yang pasti Angela menemani Edo untuk menenangkan pikiran Edo. Angela memegang tangan Edo yang masih dingin dan sangat bergetar.
"Mas!" lirih Angela.
"Apa yang akan terjadi Angela. Jika apa yang di katakannya adalah kebenarannya?" tanya Edo dengan lemas yang seakan pasrah.
"Maaf jika aku lancang bertanya. Apa saat kamu menikah dengan Tasya. Apa Tasya sudah mengandung?" tanya Angela.
"Jika dia mengandung. Aku mana mungkin menikahinya. Tetapi kami baru menikah dan Tasya sudah hamil dan saat Putri di kandungannya juga sangat cepat Tasya melahirkan. Aku tidak memikirkan hal apa-apa. Karena Dokter menjelaskan sampai mencurigai Tasya hilang begitu saja," jelas Edo.
"Lalu mas apa kamu nekat untuk tes DNA?" tanya Angela.
"Aku takut Angela," ucap Edo yang jujur dengan apa yang ada di hatinya. Edo bahkan merasa jika apa yang di katakan Tasya adalah kebenarannya.
Bersambung