
Tin-tin suara klakson mobil terdengar di bengkel Boy. Pagi-pagi seperti ini di mana Boy yang baru saja membuka mobilnya dan melihat mobil itu yang penghuninya keluar dari mobil. Siapa lagi kalau bukan Arga.
"Masih pagi Arga sudah datang aja," ucap Boy
"Rezeki itu lagi datang. Jadi jangan mengeluh nih mau perbaiki mobil," sahut Arga yang langsung mengambil tempat duduk.
"Ada masalah apa dengan mobilmu?" tanya Boy.
"Ya biasa mesinnya suaranya berbeda tidak seindah biasanya," jawab Arga yang juga kurang tau mobilnya sebenarnya kenapa.
"Ya sudah aku beres-beres bentar. Baru di periksa. Karyawan juga belum ada yang datang," ucap Boy.
"Kamu mau nungguin apa mobilnya di tinggal aja?" tanya Boy.
"Aku tungguin aja. Lagian aku juga nggak buru-buru," jawab Arga
"Memang tidak kekantor?" tanya Boy.
"Kekantor. Hanya saja tidak ada meeting pagi ini. Jadi santai aja," jawab Arga
"Wis, enak ya punya Perusahaan. Punya bokap sendiri. Jadi bisa suka-suka," ucap Boy.
"Siapa yang suka-suka. Jangan aneh kamu itu. Aku karena ada keperluan makanya datang siang. Jadi bukan karena di sengaja," tegas Arga
"Iya-iya deh," sahut Boy.
"Bye the way Risya apa kabar?" tanya Boy yang memang belum pernah bertemu dan bicara pada Risya saat Risya mengalami keguguran.
"Baik-baik aja. Dia hari ini lagi libur kekantor juga. Makanya aku berangkat sendiri," jawab Arga.
"Oh begitu. Syukurlah kalau begitu. Aku belum sempat lihati Risya. Soalnya lagi banyak kerjaan. Sampaikan saja maaf padanya," ucap Boy.
"Belum pernah bertemu bagaimana? Bukannya kemarin kamu ketemu Risya ya di Restaurant saat kamu makan dengan Syrala," ucap Arga yang mengingat perkataan istrinya.
"Oh iya. Astaga lupa," sahut Boy menepuk jidatnya dengan menghela napasnya yang bisa-bisanya tidak mengingat hal itu. Padahal baru 2 hari yang lalu.
"Cepat amat lupa. Masa iya yang di ingat hanya makan bersama Syrala saja. Risya ada di sana malah nggak ingat," sindir Arga.
"Nggak gitu juga Arga," sahut Boy.
"Ya sudah lah. Kamu tunggu aja bentar," ucap Boy yang mengalihkan pembicaraan.
"Kamu udah sarapan belum?" tanya Boy.
"Namanya sudah menikah. Jadi mana minggirlah tidak sarapan. Kan ada istri yang mengingatkan dan menyiapkan," jawab Arga pamer.
"Hanya tinggal bilang iya atau tidak. Nggak usah jawab yang lain. Bisa nggak sih," ucap Boy kesal.
"Iya-iya tadi idah sarapan. Tetapi kalau misalnya Lo mau memberikan sarapan lagi akan di terima. Soalnya tidak boleh menolak rezeki," sahut Arga.
"Banyak cerita Lo Arga. Tinggal bilang aja mau apa susahnya," sahut Boy dengan kesal dan Arga hanya tersenyum saja mendengarnya.
**********
Boy dan Arga duduk di tempat menunggu dan mobil Arga yang sekarang di pegang karyawan Boy. Sementara Arga dan Boy duduk sembari menikmati makanan yang di beli Boy. Karena Boy memang belum sarapan dan Arga ikut sarapan. Walau dia juga sudah sarapan.
"Dekat sama siapa sekarang?" tanya Arga yang seperti mengorek-ngorek sesuatu.
"Dekat apa itu maksudnya?" tanya Boy bingung.
"Ya dekat sama cewek gitu loh maksudnya," ucap Arga.
Boy mendengus mendengarnya, "memang mau dekat sama siapa. Tidak dekat dengan siapa-siapa," ucap Risya.
"Masa iya," sahut Arga yang tidak percaya.
"Ya memang iya," sahut Arga.
"Tidak ada Arga. Lagi sibuk kerja. Jadi malas buat menjalani hubungan dengan siapa-siapa," ucap Boy.
"Lalu Syrala bagaimana?" tanya Arga.
Boy mengkerutkan dahinya mendengarnya.
"Bagaimana apa maksudnya? Memang dia kenapa?" Boy yang kembali bertanya.
"Ya bukannya kamu lagi dekat dengan Syrala. Syrala sering datang kemari dan kamu juga bukannya belakangan ini sering jalan dengan Syrala," ucap Arga yang mengatakan apa yang di sampaikan istrinya.
"Ya ampun Arga. Biasanya juga kayak gitu. Ya nggak sama Syrala aja. Dulu juga sama Risya, Angela juga seperti itu. Jadi itu bukan hal yang aneh," ucap Boy dengan santai menanggapi hal tersebut
"Lalu bagaimana jika Syrala menanggapi hal berbeda?" tanya Arga.
"Maksudnya bagaimana ini? Ini cerita sebenarnya mengarah kemana?" tanya Boy heran.
"Ya Boy kamu harus peka sedikit. Masa iya kamu nanggepin hal biasa mengenai kedekatan kamu dengan Syrala," ucap Arga.
"Memang apa yang harus di tanggapi? Aku sama Syrala itu bersahabat dan pasti Syrala juga menganggap hal yang sama," ucap Boy bingung.
"Kalau Syrala tidak menganggap hal itu bagaimana?" tanya Arga melihat Boy dengan serius.
"Maksudnya?" tanya Boy bingung.
"Seperti kamu sama Angela. Walau kamu tidak mengakui. Kamu itu benar-benar menyukai Angela. Namun Angela tidak menganggap hal itu. Karena merasa tidak mungkin karena kamu juga tidak bicara. Lalu bagaimana kalau Posisi kamu sama dengan Syrala," ucap Arga yang membuat Boy diam sejenak dengan berpikir sedikit.
"Boy jangan membuat kesalahan yang sama jangan membuat apa yang kamu rasakan di rasakan orang lain. Kamu itu cowok. Jadi harus tegas dan coba untuk memahami situasi termasuk mengenai Syarla," ucap Arga yang memberikan pesan yang membuat Boy diam dan sepertinya berpikir apa yang di maksud Arga.
Arga hanya menyampaikan apa yang ingin di sampaikan istrinya dan dia juga pasti tidak ingin ada masalah dengan persahabatan mereka. Ya kalau sudah bermain perasaan memang pasti agak sulit dan bisa-bisa persahabatan akan menjadi korban.
**********
Angela berada di depan sekolah Putri dan Angela sepertinya menunggu Putri yang seperti biasa Angela duduk di salah satu bangku dengan melihat-lihat ponselnya untuk melihat Putri.
"Lagi menunggu Putri?" suara wanita yang tidak asing itu membuat Angela mengangkat kepalanya Ndan melihat orang tersebut. Siapa lagi kalau bukan Tasya.
"Ngapain sih nih wanita. Apa tidak bisa dia tidak mengganggu ku sekali saja," batin Angela yang tersenyum dengan terpaksa melihat kedatangan Angela.
"Ya iyalah namanya juga sudah di sini," jawab Angela yang berusaha untuk santai.
"Kamu sepertinya sengaja selalu ingin cepat-cepat untuk menemui Putri supaya aku ketinggalan begitu," tuduh Tasya.
"Oh atau jangan-jangan. Kamu mempengaruhi mas Edo untuk menjauhkan aku sama Putri. Makanya belakangan ini aku sangat sulit bertemu dengan Putri. Pasti gara-gara kamu yang mencuci otak mas Edo dan juga otak Putri," ucap Tasya yang menuduh dengan sesukanya membuat Angela menanggapi hanya dengan tersenyum tipis.
"Kamu seperti salah paham. Aku tidak pernah mempengaruhi siapa-siapa," sahut Tasya dengan menjawab dengan simple.
"Jangan sok munafik. Aku tau kamu itu selama ini hanya bermuka dusa saja kan," ucap Tasya.
"Maaf ya Tasya. Terserah kamu mau mengatakan apa kepadaku. Tetapi intinya aku tidak pernah ada niat seperti apa yang kamu pikirkan dan aku juga tidak perlu kamu harus percaya atau tidak kepadaku. Karena menurutku itu tidak penting," ucap Angela menegaskan.
"Nggak usah bicara terlalu banyak dan mengatakan ini dan itu. Kamu pikir aku percaya dengan kata-kata kamu," sahut Tasya.
"Aku juga tidak memaksa kamu untuk percaya," sahut Angela dengan santai.
"Angela. Kamu jangan sok jadi wanita. Atau merasa menang. Aku rasa kamu sudah dengar dari Mas Edo. Jika aku akan mengambil hak asuh dari Putri," ucap Tasya memberikan ancaman.
"Ya silahkan. Tidak ada yang melarang juga. Lagian kamu ibunya dan berhak mengajukannya dan mas Edo juga pasti mempertahankan hak asuh itu. Jadi aku hanya mengingatkan kamu saja Tasya. Jangan sampai apa yang kamu lakukan membuat kamu justru tidak akan pernah bertemu dengan Putri lagi," tegas Angela mengingatkan.
"Kamu pikir semua itu bisa terjadi. Aku ibunya dan pasti akulah yang akan menjadi pemenangnya dan kamu yang mau sedekat apapun dengan Putri. Kamu tidak akan pernah bisa menggantikan posisi ibu kandungnya. Jadi apapun yang terjadi aku juga yang akan menjadi pemenangnya," ucap Tasya dengan percaya dirinya. Angela hanya mendengus tersenyum mendengar hal itu.
Dia masa bodo dengan kata-kata Tasya. Karena dia juga percaya Edo pasti akan memenangkan hak asuh tersebut.
Bersambung