MANTAN? TAPI NIKAH YUK!!!

MANTAN? TAPI NIKAH YUK!!!
Sandiwara lagi.


"Risya lepasin kamu mau bawa aku kemana sih?" tanya Arga yang tangannya di tarik-tarik Risya dengan langkah Risya yang cepat. Yang ternyata Risya membawa Arga ketaman belakang rumah Risya.


"Risya lepas tidak tanganku. Kau itu selalu cari kesempatan ya," ucap Arga.


Risya langsung dengan cepat melepasnya.


"Najis cari kesempatan. Yang adanya nih kau yang cari-cari kesempatan. Kau lupa tadi kau ngapain hah! Kau itu pakai- pakai rangkul segala. Lupa hah!" ucap Risya dengan kesal.


"Hey, itu di namakan sandiwara. Kau juga tadi sama saja. Kau juga tadi pegang-pegang pipiku," sahut Arga


"Itu karena kau yang mencari masalah duluan," sahut Risya.


"Sudah stop. Kau jangan mulai pertengkaran. Katakan dengan jelas dan benar. Apa tujuanmu sebenarnya membawaku kemari?" tanya Arga yang tidak ingin basa-basi.


"Kamu lihat tadi orang tua kita itu kelihatan tidak percaya dengan kita yang mau menikah. Mereka itu terlihat sangat ragu. Kamu bisa lihat tadi kan bagaimana ragu nya mereka berdua," ucap Risya.


"Apa yang kamu bilang benar. Jangan-jangan mereka curiga lagi dengan kita," sahut Arga yang juga kepikiran.


"Lalu bagaimana. Jangan sampai rencana kita gagal dan aku tidak mau kalau sampai semuanya berantakan," ucap Risya yang takut.


"Kalau begitu kita harus mengeluarkan sandiwara kita yang lebih lagi. Jangan biarkan semuanya seperti ini. Kita harus menunjukkan pada orang tua kita. Kalau kita ber-2 benar-benar serius. Kita harus meyakinkan mereka," ucap Arga dengan wajah seriusnya.


"Oke aku setuju. Kita harus sama-sama berjuang malam ini," ucap Risya dengan yakin dan semangat yang kuat begitu juga dengan Arga pastinya.


**********


Setelah Risya dan Arga kembali sepakat. Risya dan Arga kembali masuk kedalam rumah yang langsung menuju meja makan. Di sana keluarga Risya dan Arga sudah menunggu.


Mata Salmah, Tantri, Dehway dan Hariyanto melotot melihat Arga dan Risya yang datang dengan bergandengan tangan dan tersenyum lebar.


"Maaf ya kalian sudah menunggu kita lama," ucap Risya yang tersenyum lebar. Orang tua mereka sampai bengong dan tidak bisa berkata apa-apa sama sekali.


"Ayo Risya kamu duduk!" Arga dengan romantisnya menarik kursi untuk Risya dan lagi-lagi orang tua mereka hanya heran dengan kelakuan dua orang itu.


"Makasih," sahut Risya dengan tersenyum manis.


"Emang kalian dari mana sih?" tanya Salma.


"Biasalah mah dari toilet temani Risya ke toilet," jawan Arga.


"Risya ini itu rumah kamu. Kenapa pakai di temani Arga segala?" tanya Tantri.


"Nggak apa-apa dong Tante namanya Risya mau manja-manjaan. Aku tidak masalah kok selagi itu bisa buat Risya bahagia," sahut Arga yang membelai rambut Risya dan Risya hanya tersenyum yang merasa risih dengan Arga yang menurutnya terlalu lebai.


"Oh begitu," sahut Tantri menunjukkan wajah gelinya melihat Arga dan Risya yang perasaan dulu dua orang itu saat pacaran tidak seperti itu.


"Hmmmm, ya sudah kalau begitu sekarang sebaiknya kita makan saja. Makannya juga sudah mulai dingin," sahut Hariyanto.


"Iya pah," sahut Risya.


Dalam makan malam itu. Risya dan Arga saling melihat dan saling memberi kode dengan menggunakan mata mereka. Tidak tau juga kode apa yang mereka gunakan.


"Risya jangan makan terlalu pedas nanti perut kamu sakit," ucap Arga yang mulai melancarkan sandiwaranya.


"Oh iya, untung aja ada kamu mengingatkan ku. Makasih ya. Kamu memang sangat berarti dalam kehidupanku yang menjadi pelengkap ku," sahut Risya yang sangat berlebihan. Sampai mencuri perhatian, Tantri Hariyanto, Dehway dan Salmah yang melihat mereka berdua yang terlalu alay.


"Ya sudah kamu makan lagi ya, ingat jauhkan makanan pedas aku tidak mau kamu kenapa-kenapa," ucap Arga dengan tatapan sayu nya kepada Risya.


"Iya. Oh iya coba kamu coba ini!" Risya langsung menyuapi Arga dengan makanan yang di tawarkan nya.


"Rasanya biasa saja. Tetapi karena kamu yang menyuapinya. Jadi rasanya sangat berbeda dan sangat enak," jawab Arga yang membuat orang tua mereka hampir muntah.


Namun Risya dan Arga hanya tersenyum saja. Tidak tau palsu apa tidak ya mungkin saja palsu. Namun Risya dan Arga harus menjalankan misi mereka itu yang berpura-pura romantis sampai orang tua mereka tidak bisa berkata apa-apa lagi hanya menghela napas saja melihat tingkah Arga dan Risya.


"Kalian berdua sungguh-sungguh ingin menikah?" tanya Tantri yang tidak puas jika tidak mendapat kejelasan dari anaknya dan pasangan sang anak.


"Iya mah, aku sama Arga memang sudah memutuskan ingin menikah," sahut Risya dengan keyakinannya.


"Tapi bukannya kalian ini sering ribut. Menikah beda dengan pacaran. Entar sekali ribut kalian langsung cerai lagi," ucap Salmah.


"Benar juga. Kalian berdua jangan macam-macam ah yang asal-asalan, mengambil keputusan untuk menikah," sahut Dehway.


"Tidak ada yang macam-macam pah. Arga memutuskan ingin menikah dengan Risya. karena memang semuanya sudah di pikirkan. Arga dah Risya sudah saling mengenal lama, kita sama-sama tau sifat kita, sama-sama tau kekurangan kita dan kita akan menikah untuk memulai segalanya," tegas Arga dengan wajahnya yang serius.


"Mama dan papa akan setuju kan kalau Risya dan Arga menikah?" tanya Risya yang butuh kepastian dari persetujuan ke-2 orang tuanya.


"Mama sih setuju-setuju aja. Mama sudah kenal Arga dan tidak ada masalah bagi mama," sahut Tantri.


"Papa bagaimana?" tanya Risya yang juga ingin tau jawaban sang papa.


"Ya jika kalian memang ingin menikah. Papa tidak bisa melarang. Keluarga kita kenal baik dengan keluarga Arga dan mungkin kalian memang berjodoh dan papa tidak ada masalah," sahut Hariyanto yang membuat Risya dan Arga menghela napas.


2 restu di kantongi, jadi bagaimana keduanya tidak senang.


"Hmmmm, lalu mama dan papa bagaimana?" tanya Arga yang juga harus mendengarkan restu pendapat dari orang tuanya.


"Jujur Risya itu menantu idaman mama. Jika kalian menikah pasti mama bahagia lah dan tidak mungkin tidak merestui," sahut Salmah yang memang sangat menyukai Risya.


"Kalau papa setuju juga kan dengan Arga dan Risya menikah?" tanya Arga.


"Iya papa setuju. Karena tidak ada alasan untuk tidak setuju. Keluarga kita saling mengenal dan kalian berdua juga saling mencintai dan Risya juga sudah papa kenal baik. Jadi tidak ada yang salah dalam pernikahan yang kalian rencanakan. Papa merestuinya 100 persen," sahut Dehway yang membuat Risya dan Arga kembali menghela napas bersamaan dengan lega.


"Akhirnya rencanaku dan Arga berhasil juga dengan begini mama dan papa tidak akan pernah menyuruhku menikah," batin Risya yang benar-benar sangat bahagia.


"Sangat tidak di duga, semuanya sangat mudah di laksanakan. Semoga saja tidak ada halangan lagi dan rencanaku dan Risya semakin lancar," batin Arga yang juga merasa lega dengan orang tuanya yang setuju dengan pernikahannya dan Risya.


"Tapi ingat ya ini pernikahan dan jangan main-main," sahut Salmah denhan menegaskan.


"Tidak akan mah, percaya pada Arga," sahut Arga.


"Arga kamu sudah memutuskan untuk menikah dengan Risya. jadi kamu harus benar-benar bertanggung jawab untuk kehidupan dan kebahagiaan Risya," sahut Dehway memberi masukan.


"Iya pah," sahut Arga.


"Kamu juga Risya, kalau sudah menikah kamu harus bisa mengubah tabiat kamu," sahut Tantri yang mengingatkan.


"Jangan khawatir mah, santai aja," sahut Risya.


"Jangan asal-asal santai-santai Risya. Karena menikah dengan pacaran itu beda," sahut Hariyanto.


"Iya pah Risya tau," sahut Risya.


"Ya baguslah kalau kalian berdua akhirnya menikah. Kalau begitu dulu ngapain putus dan kita juga para orang tua tidak perlu mengkhawatirkan kalian," ucap Salmah.


"Benar kata Mbak," sahut Tantri. Arga dan Risya hanya tersenyum palsu saja dengan melihat orang-orang tersebut yang begitu bahagia dengan pernikahan mereka dan untung saja pada percaya semuanya.


Bersambung