MANTAN? TAPI NIKAH YUK!!!

MANTAN? TAPI NIKAH YUK!!!
Episode 192 Ada rahasia besar.


Acara pesta masih berlanjut. Namun pesta kali itu tidak nyaman. Karena kehadiran Tasya. Yang lain sebenarnya tidak peduli dan terserah Tasya saja. Namun Hariyanto yang tetap gelisah dan apa lagi dia yang bicara dengan anak dan istrinya juga menantunya terus di lihati Tasya yang membuat Hariyanto benar-benar tidak nyaman.


"Papa kenapa?" tanya Risya yang melihat papanya itu seperti ada sesuatu.


"Iya pah. Apa papa capek. Mama lihat papa sejak tadi keringatan," sahut Tantri yang juga merasa suaminya itu ada sesuatu.


"Tidak kok mah. Papa hanya, hanya," Hariyanto mendadak gugup yang tidak bisa menjawab apa-apa.


"Hmmmm papa ketoilet sebentar ya," ucap Hariyanto mengusap mulutnya dan dia langsung pergi ke toilet.


"Papa kenapa sih aneh banget?" tanya Risya heran.


"Mungkin papa lagi capek aja sayang," ucap Arga.


"Iya Risya," sahut Tantri.


"Ohhhh," sahut Risya yang merasa ada yang aneh dengan papanya.


**********


Hariyanto yang berada di kamar mandi yang sedang mencuci wajahnya di wastafel dengan mengatur napasnya.


"Kenapa semuanya harus seperti ini?"


"Kenapa wanita itu muncul tiba-tiba?" Gumamnya yang terus mencuci wajahnya dan melihat dirinya di cermin. Namun tiba-tiba Hariyanto tersentak kaget saat melihat dari cermin ada Tasya yang tersenyum kepadanya membuat mata Hariyanto membulat sempurna dan membalikkan tubuhnya.


"Tasya!" lirih Hariyanto. Tasya menyunggingkan senyumnya dan langsung mendekati Hariyanto dengan mencuci tangannya di samping Hariyanto.


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Hariyanto dengan cemas.


"Santai saja mas kenapa kamu jadi ketakutan seperti itu saat melihatku," ucap Tasya sembari mencuci tangannya.


"Kamu pergi dari sini Tasya," usir Hariyanto dengan paniknya.


Tanya mengendus dengan senyuman dan melihatnya kearah Hariyanto dengan Tasya menghadap Hariyanto yang mana Tasya bersandar pada pinggiran meja wastafel.


"Aku tidak menyangka akan mendengar kamu memanggil namaku. Setelah 7 tahun berlalu akhirnya aku bisa mendengar suara indah itu," ucap Tasya dengan tersenyum.


"Tutup mulut kamu. Aku minta sama kamu untuk pergi dan ingat jangan mengganggu keluargaku," tegas Hariyanto yang memberi peringatan pada Tasya dengan menunjuk tepat di wajah Tasya.


"Takut sekali kamu mas. Aku muncul tiba-tiba. Sepertinya Risya tidak tau apa-apa dengan apa yang terjadi dulu. Dan aku melihat Risya anakmu itu sangat menyayangi mu dan mengidolakan mu. Apa jadinya ya kalau Risya tau jika papanya pernah menghiyanati dirinya. Bagaimana jika dia tau papanya pernah bermain api dengan sekretaris papanya," ucap Tasya dengan tersenyum miring.


Hariyanto mendengarnya semakin kaget dengan kesulitan menelan salivanya dan hembusan napasnya yang terlihat naik turun.


"Apa maksud dari ucapanmu. Kau dengar Tasya apa yang terjadi dulu adalah masa lalu dan semua itu karena kau yang menjebakku. Jika dulu aku memaafkanmu dan memberatkan mu pergi. Maka kali ini. Jika kau berani mengganggu keluargaku dan juga Risya anakku. Kau akan berhadapan denganku," ancam Hariyanto dengan penuh penegasan dan penekanan pada Tasya.


"Mas kau sangat kejam bicara pada mantan yang selalu ada untukmu saat kau itu jatuh," sahut Tasya.


"Tutup mulutmu Tasya!" bentak Hariyanto.


"Kau jauhi keluargaku. Jika kau berani merusaknya dan terjadi sesuatu pada keluargaku karena kehadiranku. Aku tidak akan main-main dengan ucapanmu," tegas Mitra Winata dengan matanya yang melotot yang hampir keluar.


"Kalau begitu jangan mencampuri urusan ku," sahut Tasya yang membuat langkah Hariyanto terhenti. Hariyanto sudah berada di luar toilet dan Tasya masih di dalam toilet. Hariyanto membalikkan tubuhnya menghadap Tasya dengan jaram mereka 3 meter.


"Apa maksud kamu? Aku tidak pernah ikut campur masalahmu," ucap Hariyanto.


"Pengacara itu. Bukankah dia adalah rekomendasi dari mu. Kau tarik dia dari kasus ini," ucap Tasya.


"Aku tidak ada urusan dengan masalahmu dengan mantan suamimu dan juga anakmu. Jadi kau jangan menyangkutkan masalah itu pada masalah kau dan aku!" tegas Hariyanto.


"Kalau begitu berpikir jernih lah mas. Dengan pengacara itu tetap mendampingi Edo. Maka sama saja akan banyak pertemuan di antara kita selanjutnya. Kau dan aku akan terus bertemu dan jika aku marah dan kesal. Jadi jangan salahkan aku akan memberitahu Risya semuanya. Aku hanya ingin Putri dan jika kamu ikut-ikutan membantu mereka. Maka sama saja kau membuatku akan terus berada di sekitarmu. Jadi pikirkan maksud dan tujuanku," ucap Tasya yang memanfaatkan kesempatan hubungannya dengan Hariyanto yang pasti dulu ada sesuatu yang tidak baik dengan bernegosiasi demi keuntungannya.


"Berani sekali kau bernegosiasi denganku Tasya," sahut Hariyanto yang mengepal tangannya.


"Aku tidak akan melakukan apa yang kau takutkan. Asal kau juga tidak mencampuri urusanku dan semua tergantung pada dirimu menginginkan aku atau tidak ada di sekitarmu," tegas Tasya.


Hariyanto terdiam yang tampak berpikir dengan gelisah dengan mengusap mulutnya. Sementara Risya yang berjalan di koridor toilet dengan melihat di sekitarnya.


"Itu dia papa," gumamnya yang melihat papanya dari kejauhan 10 meter dengan Hariyanto berdiri di pintu toilet.


"Pah!" panggil Risya membuat Hariyanto kaget dan langsung melihat ke arah kirinya. Hariyanto membulatkan matanya ketika melihat Risya yang tersenyum menghampiri papanya berjalan dengan santai.


Sementara Hariyanto panik dengan kedatangan Risya dan Hariyanto juga melihat ke arah Tasya dengan Tasya yang menyunggingkan senyumnya.


"Jika dia bertanya apa yang aku lakukan disini. Maka aku akan mengatakan jika aku sedang reuni dengan selingkuh bersama ayahnya," jawab Tasya yang membuat Hariyanto kaget.


Dia semakin panik dan apa lagi langkah Risya semakin dekat. Namun Tasya justru menunggu-nunggu Risya sampai dan melihat suaminya. Saat Risya semakin dekat Hariyanto pun langsung meninggalkan toilet dan mencegah Risya untuk melihat Tasya.


"Risya ada apa kamu cari papa," ucap Hariyanto merangkul bahu Risya yang mencegah langkah Risya.


"Papa kelamaan. Risya pikir papa entah di mana," jawab Risya.


"Maaf ya membuat kamu menunggu. Ayo kita kembali," ucap Hariyanto yang langsung membawa Risya pergi. Walau Risya heran dengan papanya yang aneh.


Tasya pun keluar dari toilet berdiri dengan ke-2 tangannya yang di lipat di dadanya dan melihat ke arah Risya dan Hariyanto.


"Jadi aku sekarang punya senjata. Risya adalah senjataku. Sudah ku duga kamu sangat ketakutan mas. Jika Risya tau kalau aku dulu menjadi simpanan mu," batin Tasya dengan menyunggingkan senyumnya.


**********


Risya dan Hariyanto kembali ke lokasi pesta.


"Mas Hariyanto. Jika kurang enak badan sebaiknya pulang saja," ucap Dehway yang melihat besannya tampak tidak tenang.


"Iya pah. Risya juga lihat papa sepertinya kurang sehat. Jadi sebaiknya kita pulang saja," ucap Risya dengan menggandeng tangan papanya dan memperhatikan wajah papanya.


Hariyanto tersenyum dan mencium kening Risya dengan matanya berkaca-kaca. Melihat Risya seperti itu membuatnya sangat takut akan kecewa Risya jika tau semuanya nanti.


"Papa tidak apa-apa nak," ucap Hariyanto yang merasa bersalah pada Risya. Arga hanya tersenyum melihat kedekatan istrinya dengan papanya yang sangat dekat.


Bersambung