
Arga dan Risya masih tertidur di malam yang dingin dengan lampu yang mati. Arga memang kalau tidur lebih suka gelap. Tetapi bukan mati semua lampu. Ya ada terang-terangnya sedikit lampu tidur pasti di hidup.
Berbanding terbalik dengan Risya yang memang sangat takut gelap. Makanya pas Risya tidak bisa melihat Arga sangat panik. Karena Risya yang tidak bisa melihat dan penuh kegelapan. Namun sampai detik ini Risya tidak mengeluh takut dengan kondisi matanya.
Arga yang berada di samping Risya yang tertidur lelap. Sementara Risya tampaknya bergerak-gerak kesana kemari yang sepertinya sangat gelisah dan mungkin saja Risya tidak tidur.
"Aduh aku mau pipis lagi," gumamnya yang menahan pipis.
"Bagaimana ini. Arga pasti sudah tidur," ucap Risya yang tidak ingin membangunkan Arga dia juga tidak bisa melihat dan tidak tau Arga sudah tidur atau belum.
Risya pun duduk dan bingung melakukan apa. Dia hanya meraba-raba turun dari ranjang. Dan melangkahkan kakinya yang berharap tujuannya benar bahwa dia sedang menuju kamar mandi.
Namun ternyata bukan. Risya malah membuka pintu kamar dan keluar dari kamar tidur mereka.
"Mungkin sebentar lagi toiletnya akan sampai," ucap Risya yang terus melangkah dengan pelan-pelan untuk menuju toilet yang mungkin menurutnya sedikit lagi.
Namun tiba- sebuah tangan memegang lengan Risya yang mengejutkan Risya.
"Arga, ini kamu," ucap Risya memegang lengan kekar tersebut yang merasa pasti itu Arga.
"Arga tolong bantu aku untuk ketoilet. Kenapa sejak tadi aku tidak menemukannya dan padahal aku sudah membuka pintu. Namun aku merasa tidak ada tanda-tanda jika ini kamar mandi. Jadi tolong bantu aku," ucap Risya yang terus memegang lengan tersebut.
Tidak ada jawaban. Namun langkah Risya langsung di tuntun dan Risya mengikut saja dengan seorang pria yang bertubuh kekar dan sekarang membawa Risya entah kemana.
"Kenapa jauh sekali toiletnya?" tanya Risya yang merasa langkahnya sudah sangat lama.. Padahal kamar mandi ada di kamar mereka.
Tidak ada jawaban lagi sampai Risya yang bersandar di dingding dan Risya heran kenapa malah berhenti. Pria tegar tanpa wajahnya yang tidak terlihat sama sekali berdiri di depan Risya dengan tangannya memegang pipi Risya yang membuat Risya bingung.
Namun karena merasa itu Arga. Jadi Risya tidak takut dan biasa saja.
"Arga kapan kita ketoilet?" tanya Risya dan tiba-tiba jari pria itu di letakkan di bibir Risya yang menyuruh Risya untuk diam membuat Risya tidak bicara lagi.
Tiba-tiba saja pria yang wajahnya tidak terlihat karena gelap itu memegang ke-2 bahu Risya dan menurunkan lengan baju Risya.
"Risya kamu di mana?" tiba-tiba terdengar suara yang sangat di kenali Risya dan begitu suara itu terdengar pria yang di hadapan Risya langsung pergi. Sementara Risya penuh dengan kebingungan.
"Risya," ucap Arga yang menemukan istrinya.
"Arga," sahut Risya yang bingung.
"Kamu ngapain di sini?" tanya Arga yang heran dengan Risya yang sendirian dan bahkan melihat lengan baju Risya turun dan Arga langsung menaikkannya memperbaikinya seperti semula.
"Kenapa bertanya. Bukannya aku memintamu mengantarku ke toilet dan kamu malah membawaku entah kemana," ucap Risya.
Mendengar apa yang di katakan Risya membuat Arga mengkerutkan dahinya. Perasaan dia tidak melakukan apa-apa.
"Apa yang kamu bicarakan Kapan aku mengajakmu ke toilet," sahut Arga yang bingung.
"Tapi tadi..."
"Sudah ayo kembali kekamar. Jangan ngaco kamu," ucap Arga yang langsung membawa istrinya pergi dari tempat itu dan langsung membawanya kekamar mereka.
Sesampai di kamar Arga langsung menuntun Risya ke toilet.
"Ini kamar mandi. Kamu itu sudah kejauhan tadi," ucap Arga menegaskan.
"Ya aku mana tau. Kamu yang membawaku," sahut Risya, "ya sudah aku mau pipis dulu. Kamu jangan ngintip," ucap Risya menegaskan.
"Iya," sahut Arga yang menutup pintu kamar
Namun wajah Arga semakin berpikir yang mengingat perkataan Risya. Dia bahkan baru keluar kamar karena tidak menemukan Risya di sampingnya dan dengan keadaan yang sangat aneh menurut Arga.
"Apa yang di katakan Risya tadi dan siapa yang membawanya," batin Arga yang mencurigai sesuatu dengan kejadian yang barusan saja menimpa Risya.
**********
Setelah Risya selesai dari kamar mandi dia duduk di pinggir ranjang dan ada Arga di sampingnya.
"Kamu jangan keluar sembarangan dari kamar. Mata kamu yang tidak berfungsi sementara. Tetapi mulut kamu masih berguna. Apa tidak bisa bicara dan membangunkanku. Malah pergi sendirian yang sok tau tempatnya di mana," ucap Arga menegaskan yang marah pada Risya.
"Kamu kan lagi tidur dan lagian juga baru aku keluar kamar. Kamu juga ada langsung dan membawaku ketoilet," sahut Risya.
"Maksudnya?" tanya Risya heran.
"Aku baru keluar kamar dan mencarimu dan aku menemukanmu. Jadi itu bukan aku," tegas Arga.
"Lalu itu siapa dan dia juga tidak bersuara memang?" tanya Risya semakin bingung.
"Ya mana aku tau," sahut Arga kesal.
"Aku pikir itu kamu. Makanya aku diam saja saat dia memegang tanganku, menuntunku berjalan dan juga....."
"Apalagi yang di lakukannya?" tanya Arga dengan posesif.
"Memegang pipiku," jawan Risya apa adanya
"Sial!" umpat Arga, "siapa dia yang sengaja memanfaatkan kebutaan kamu," Arga benar-benar kesal dengan Risya yang hampir saja kenapa-kenapa.
"Jadi itu bukan kamu Arga. Lalu itu siapa?" tanya Risya.
"Aku tidak tau Risya. Makanya kamu itu lain kali hati-hati, bangunkan aku jika aku tidur. Jika kamu butuh sesuatu. Jangan sok-sok-an seperti ini," tegas Arga yang harus bawel pada Risya.
"Aku hanya tidak ingin kamu terganggu. Seharian kamu bekerja dan juga mengurusuki. Jadi aku tidak mau mengganggu istirahat kamu," ucap Risya yang masih peduli dengan Arga yang pasti lelah.
"Tapi ini akibatnya dari kelalain kamu. Jangan seperti ini lagi lain kali," ucap Arga merendahkan suaranya.
"Iya Arga. Lain kali aku tidak akan seperti ini," ucap Risya.
"Sudahlah kamu kembali istirahat," sahut Arga membantu Risya untuk rebahan dan Risya mengangguk yang menurut saja.
"Sial. Siapa orang itu. Lihat saja aku tidak akan diam jika aku menemukannya. Berani sekali dia memanfaatkan keadaan Risya," batin Arga yang masih kepikiran dengan orang yang bersama istrinya.
***********
Mentari pagi kembali tiba. Risya sedang mandi di kamar mandi dan Arga yang siap-siap di luar. Hari ini mereka akan kerumah sakit untuk membuka perban Risya.
"Arga!" panggil Risya dari dalam kamar mandi.
"Iya kenapa?" tanya Arga yang sedang mengkancing kemejanya satu persatu.
"Aku sudah selesai mandi. Tapi aku tidak melihat handuk di sini," jawab Risya.
"Kamu kan tidak bisa melihat bagaimana mungkin kamu melihat handuk," sahut Arga.
"Aku merabanya dan tidak ada yang tersangkut," sahut Risya dengan kesalnya.
"Oh begitu," sahut Arga.
"Ya sudah cepat bawakan aku anduk. Tetapi jangan masuk kamar mandi. Kau menunggu di depan pintu," tegas Risya.
"Iya-iya," sahut Arga yang menghela napasnya dan langsung mengambil anduk yang sebelumnya sengaja di ambil Arga dari kamar mandi. Ya pasti Arga sedang menjahili Risya.
Arga membuka pintu kamar mandi. Namun di kunci.
"Risya kamu mengkuncinya?" tanya Arga.
Risya membuka kamar mandi. Namun hanya membuka sedikit dengan menjulurkan tangannya untuk mengambil handuk dari Arga.
Namun Arga dengan jahilnya menahan handuk itu sampai Risya menariknya.
"Arga!" rengek Risya dengan suara manjanya yang membuat Arga menyunggingkan senyumnya paling suka mengerjai Risya.
"Kau Benar-benar ya Arga," geram Risya dengan wajah ngambeknya.
"Yakin bisa pakai sendiri. Perlu bantuan atau tidak?" tanya Arga.
"Kau jangan macam-macam kepadaku," ucap Risya memberi ancaman yang membuat Arga hanya tersenyum saja. Risya menarik paksa handuk itu dengan tenaganya yang kuat dan ketika mendapatkan anduk itu. Risya langsung menutup pintu kamar mandi dengan cepat.
"Dasar!" desis Arga yang geleng-geleng kepala melihat tingkah Risya. Padahal dia yang mencari masalah pada Risya.
Bersambung.