
Risya duduk di meja rias dengan melihat wajahnya di cermin. Risya melihat lehernya yang penuh dengan perbuatan Arga kemarin.
"Isssss benar-benar ya Arga, selalu saja membuatku repot," cicit Risya kesal sambil mengambil foundation untuk menghilangkan tanda-tanda kepemilikan dari Arga. Risya malu juga kali kalau membiarkannya saja. Lehernya itu memang sudah seperti di gigit serangga saja.
"Kenapa di hapus?" tanya Arga yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang Risya bersandar pada lemari dengan kedua tangannya di lipat di dadanya dan kakinya yang bersilang. Arga sudah seperti foto model aja.
"Pake nanya lagi. Apa menurutmu aku akan keluar rumah dalam keadaan yang seperti ini. Aku itu masih punya malu," sahut Risya kesal yang hanya melihat Arga dari cermin sembari tangannya mengusap-usap bekas tersebut.
"Bukannya dulu kau sangat menyukai itu dan kau bahkan harus mengambil foto dan kau katakan untuk koleksimu," sahut Arga.
"Kapan aku melakukannya. Kau pikir aku sebucin itu kepadamu dulu. Macam nggak ada kerjaan aja melakukan hal konyol seperti itu," sahut Risya kesal. Arga hanya menyunggingkan senyumnya melihat Risya yang terus merocos tanpa henti.
"Issss kenapa sudah sekali hilang. Seharusnya tidak seperti ini!" geram Risya yang sejak tadi menghapus tanda itu dan bahkan menutupi dengan foundation malah tetap tidak ada perubahan. Arga melihatnya tersenyum mirin dan membuka lemari.
Lalu Arga terlihat mengambil sesuatu dari dalam lemari yang ternyata berupa syal dan Arga langsung menghampiri Risya dengan memegang ke-2 bahu Risya membuat Risya menghadapnya dan Risya heran dengan apa yang di lakukan Arga kepadanya.
"Itu pertanda kau tidak boleh menghapus jejak itu. Jangan di hapus biarkan saja. Begini saja tidak akan membuat orang-orang melihatmu," ucap Arga yang memasangkan Risya syal. Risya menelan salivanya yang sangat gugup dengan manisnya Arga kepada-nya. Bahkan Arga menatapnya yang mampu membuat jantungnya berdebar tidak menentu.
Setelah memakaikan syal itu dengan sempurna. Arga memegang dagu Risya dan mengangkatnya agar sejajar dengannya. Lalu mencium bibir Risya yang membuat Risya kaget sampai matanya melotot yang tiba-tiba saja Arga melakukan hal itu kepadanya. Sampai Arga selesai mencium bibir yang menjadi candunya itu Risya masih melotot yang masih shock sampai akhirnya Risya sadar dan langsung memukul bahu Arga.
"Kau itu kenapa selalu melakukan hal yang semaumu," ucap Risya dengan kesal yang lagi-lagi lengah dan Arga yang dapat mencuri start.
"Biasa aja, nggak usah pake mukul-mukul. Biasanya juga kau suka," ejek Arga.
"Issss kau," geram Risya yang tidak bisa meluapkan emosinya pada Arga. Ya dia sudah kesiangan dan harus berangkat kerja.
"Awas saja kalau kau sampai melakukannya dengan tiba-tiba. Aku tidak akan melepaskanmu," ancam Risya dengan mengepal tangannya.
"Jadi aku harus minta izin?" tanya Arga dengan alisnya yang terangkat.
"Ya iyalah," sahut Risya.
"Kalau minta izin berarti bukan hanya ciuman tetapi yang lain," goda Arga dengan mengedipkan sebelah matanya pada Risya.
"Ayo cepat kekantor. Kita berangkat bersama," sahut Arga yang keluar kamar terlebih dahulu dan Risya malah bengong yang merenungi kata-kata Arga dan dengan cepat Risya langsung sadar dengan menggoyang-goyangkan wajahnya dan bahkan menepuk pipinya.
"Tidak Risya. Kau jangan semudah itu terpana dengannya. Enak saja dia akan memilikimu sepenuhnya setelah apa yang di lakukannya. Aduh Risya please kau itu harus punya pendirian dan jangan gampang luluh. Kau itu harus jual mahal dan harus menahan diri. Jangan terbuai-terbuai saja. Hanya karena dia ya dia memang sangat oke sih dalam hal seperti itu. Tapi tetap aja kau harus tahan diri. Ingat harga dirimu harus di bayar Arga mahal," ucap Risya dengan memantapkan tekatnya dan mencoba untuk tegas pada dirinya.
Kelemahannya hanya Arga yang bisa mengalihkan dunianya dan membuatnya akan terbuai dan Risya sedang mencoba untuk menjaga diri. Agar hal yang tidak di inginkannya terjadi begitu saja.
********
Ke-2nya juga kerap kompak memasuki Perusahaan dengan berjalan berdampingan dengan langkah yang serentak. Sepertinya itu pemandangan yang aneh untuk orang-orang yang ada di Perusahaan sangat terbukti saat menyapa mereka berdua malah para karyawan seperti merasa ada yang aneh, bahkan senyum-senyum dan seperti ada sesuatu gitu dan Risya menyadari hal itu sampai Risya bingung.
"Kenapa sih semua orang, apa ada yang aneh denganku, kenapa mereka senyum-senyum seperti itu," batin Risya memegang belakang lehernya yang mana Risya penuh dengan kebingungan dan tidak tau apa yang telah terjadi sebenarnya.
"Pagi tuan Arga, pagi Nona Risya," sapa Novi sekretaris Arga yang menghambat jalan mereka.
"Pagi! bagaimana laporan yang aku minta?" tanya Arga langsung menjurus pada pekerjaan.
"Ada kok tuan. Sudah saya buat di meja tuan," sahut Novi.
"Bagus kalau begitu," sahut Arga dengan datar .
"Kenapa kau senyum-senyum seperti itu. Apa ada yang lucu?" tanya Risya mulai risih.
"Bagaimana tidak senyum-senyum. Tuan Arga dan Nona Risya ini baru seperti pasangan suami istri tidak seperti biasanya. Sekarang terlihat datang kekantor satu mobil. Berjalan bersama sangat romantis. Tidak seperti biasanya kalau ketemu pasti cekcok," jawab Novi yang ternyata itu alasan orang-orang melihat Risya dan Arga senyum-senyum sendiri.
"Apa-apaan sih orang kantor pada sok heboh," batin Risya kesal sendiri dan melihat kesekitarnya yang masih aja orang-orang kantor tidak henti-hentinya senyum-senyum kepadanya.
"Ini suatu kebahagiaan untuk perusahaan melihat tuan dan Nona damai seperti ini. Sangat adem kelihatannya," ucap Novi lagi.
"Kau itu nggak usah berlebihan," sahut Arga yang pergi terlebih dahulu.
"Benar nggak usah pada heboh ya Novi. Aku sama Arga itu biasa aja. Kayak kita berdua selalu bikin rusuh aja di Perusahaan," sahut Risya kesal.
"Kan memang iya sih Nona Risya dan tuan Arga kan memang hanya bikin rusuh terus. Kalau nggak laga mulut, pasti saling jambak dan sekarang terlihat sweet seperti pasangan pengantin baru. Masyaallah seperti penghuni surga," ucap Novi yang membuat Risya geli sendiri mendengar kata-kata Novi yang menurutnya sangat berlebihan sampai Risya menggedikkan ke-2 bahunya.
"Alah sudahlah kau itu nggak usah bicara sok puitis," sahut Risya kesal sendiri dan langsung pergi dari hadapan Novi dan Novi malah senyum-senyum.
"Heran ya melihat 2 orang itu sudah menikah. Tetapi tidak seperti menikah," gumam Novi dengan geleng-geleng kepala.
Orang-orang di kantor memang sudah sangat hapal dan tidak kaget lagi dengan kelakuan Risya dan Arga yang selalu ada saja di perdebatkan. Dan saat orang-orang kantor mendengar mereka menikah bukan membuat orang-orang kantor kaget. Hanya menghela napas saja dan seperti tau ujung-ujungnya.
Dan kenyataan meski sudah menikah pasangan itu kerap kali membuat kekacauan di Perusahaan dan itu Tidka harus menjadi pembicaraan orang-orang kantor karena sudah sangat biasa. Namun dengan kali ini dengan apa yang barusan mereka lihat barulah menjadi omongan dan tidak percaya melihat dia orang itu tampil dewasa dan sangat berwibawa yang seperti pasangan sesungguhnya.
Dan barulah itu menjadi topik gosip hari ini di perusahaan. Memang agak-agak aneh dengan Perusahaan itu dan pemimpinnya juga aneh ya jadi wajar sama-sama aneh.
Tapi Risya cukup malu juga kalau harus di bicarakan dengan senyum-senyum. Padahal orang-orang kantor pasti membicarakan yang baik-baik yang di selipkan dengan doa. Tetap aja Risya risih terkesan selama ini dia dan Arga selalu membuat onar dan sekarang baru bertobat yang padahal memang itu kenyataannya. Risya Arga memang selalu membuat kejutan di setiap waktu.
Bersambung