
Keasyikan chat dengan teman-temannya Risya sampai ketiduran degan ponsel yang masih di genggamnya dan posisinya juga masih sama masih dengan bersandar pada kepala ranjang.
Namun tiba-tiba Risya terbangun. Karena kaget ponsel yang berada di tangannya jatuh dan membuat Risya terbangun dengan mengucek matanya.
"Ya ampun aku sampai ketiduran," gumam Risya dengan mengambil ponselnya dan melihat chat grup yang sudah tidak ada yang di balasnya. Risya juga melihat sudah pukul 2 pagi.
Risya mengusap wajahnya dengan ke-2 tangannya, "aku sampai ketiduran sampai Tidka terasa sudah jam segini," gumamnya yang menoleh kesampingnya. Kosong dan tidak ada Arga yang seharusnya sudah tidur bersamanya dan Risya melihat ke arah Sofa yang ternyata Arga tertidur di sofa. Sama Arga juga tertidur dalam pekerjaan.
"Dia juga tidak membangunkanku atau memperbaiki posisi tidurku. Issss dia sangat jutek padaku. Pakai tidur-tidur di sofa lagi," desis Risya yang ikutkan sewot dengan Arga.
"Ya sudah kalau kamu mau tidur di sana. Masa bodoh, tidur aja di sana," gumam Risya yang tidak peduli dengan Arga dan langsung berbaring dengan menarik selimut. Namun baru memejamkan matanya Risya kembali membukanya dan langsung duduk.
"Kenapa sih dia itu menyebalkan sekali," gumam Risya dengan kesal dan langsung turun dari ranjang menghampiri Arga. Risya tidak tega dengan Arga yang harus tidur di sofa.
"Arga bangun, pindahlah!" ucap Risya yang membangunkan Arga untuk Arga yang harus pindah. Namun Arga tidak bangun sama sekali dan Risya berusaha membangunkan warga dengan menggoyang-goyangkan tubuh Arga.
Saat tangan Risya memegang lengan Arga tiba-tiba Risya merasakan tubuh Arga hangat dan Risya dengan spontan memegang dahi Arga dengan punggung tangannya.
"Astaga Arga kamu demam," ucap Risya yang panik dengan suaminya yang mendadak sakit.
"Arga, Arga bangun!" pinta Risya berusaha membangunkan Arga.
"Apa sih Risya, kamu itu menggangu aja," sahut Arga tanpa membuka matanya.
"Kamu sedang sakit Arga, ayo pinda ketempat tidur, aku akan panggil Dokter," ucap Risya dengan lembut yang sangat khawatir dengan Arga.
"Aku tidak apa-apa. Kamu jangan berlebihan, sudah sana kamu kembali tidur, aku juga mau tidur," jawab Arga.
"Bagaimana mungkin kamu tidak apa-apa. Kamu itu jelas-jelas sakit Arga. Ayo buruan pindah," ucap Risya yang panik.
"Aku bilang tidak kamu dengar apa tidak sih," sentak Arga yang kesal pada Risya.
"Kamu itu kerjanya marah-marah terus dari tadi. Kalau kamu tidak mau aku ada di sini. Ya sudah aku balik ke Jakarta sekarang," ucap Risya dengan ancaman yang juga menguatkan volume suaranya.
Arga menghela napasnya dan melihat ke arah Risya, "kenapa kau selalu membuat rusuh," ucap Arga dengan merendahkan suaranya.
"Pindah sekarang juga. Jika tidak aku akan pulang malam ini juga," ancam Risya lagi dan Arga menghela napasnya dengan kasar dan mencoba untuk duduk dan Risya langsung membantunya.
Awalnya Arga menolak saat Risya ingin memapah Arga. Namun Risya memaksa dan dari pada ribut. Atau Risya akan pulang karena Arga juga tau Risya juga pasti akan melakukan hal itu. Ya dari pada ribet Arga pun akhirnya mengalah.
Risya membantu Arga berbaring di atas ranjang dan Risya langsung menyelimuti Arga dengan wajah Risya yang benar-benar sangat panik yang takut Arga kenapa-kenapa.
Tidak hanya sampai di situ saja. Risya pun mengambil kompresan dan langsung mengkompres Arga. Agar panasnya turun. Tadinya mau memanggil Dokter. Arga menolaknya dan Risya dengan sebisanya melakukan pertolongan untuk suaminya itu.
Arga juga pasrah dengan apa yang ingin di lakukan Risya. Nanti kalau menolak Risya marah dan bisa berabe yang pulang dengan tiba-tiba.
"Kamu pasti sangat ke lelehan," ucap Risya dengan lembut mengkompres Arga yang mana Arga tertidur dengan suhu tubuhnya yang panas dan pasti tertidur juga tidak nyaman dan sangat gelisah.
Sampai hal itu terjadi sampai pagi. Di mana Risya yang sudah bangun dan duduk di samping Arga yang sekarang mengganti kompresan Arga.
Mata Arga terbuka dengan perlahan dan mendapati Risya yang masih merawatnya.
"Kamu sudah bangun. Kamu minum obat dulu ya. Tadi aku sudah menyuruh Novi untuk membelikan obat untuk kamu," ucap Risya dengan lembut.
"Jam brapa sekarang?" tanya Arga.
"Jam 11 siang," jawab Risya.
"Kenapa tidak membangunkan ku. Aku ada pertemuan hari ini," ucap Arga dengan suara seraknya.
"Novi sudah menggantikannya dan Semuanya sudah aman. Tidak ada masalah dalam pertemuannya. Kamu sakit. Jadi harus istirahat," ucap Risya.
"Tatap saja aku banyak pekerjaan," sahut Arga yang ingin duduk.
"Arga istirahat lah," pinta Risya dengan menahan Arga untuk tidak banyak bergerak.
"Kamu lihat pekerjaan ku sangat banyak Risya dan aku tidak mungkin istirahat," ucap Arga.
"Aku yang akan mengerjakannya. Kamu harus fokus dengan kesehatan kamu dan sekarang kamu minum obat dan makan sedikit," ucap Risya dengan tegas.
Arga ingin protes, "jangan membantah apa yang aku katakan, semua ini demi kebaikan kamu. Jika ingin sembuh. Maka kamu harus berusaha dan jangan banyak komplen," tegas Risya dengan wajah seriusnya.
Arga pun tidak bisa membantah apa yang di katakan Risya dan Arga menurut saja. Risya kembali merawat Arga dengan memberi Arga makan, memberi obat dan beberapa kali mengecek suhu tubuh Arga. Dengan penuh ketulusan Risya melakukan semua itu dan sampai mengambil pekerjaan Arga. Karena dia pasti bisa mengerjakan pekerjaan itu.
Risya begitu sibuk yang sekali-kali bekerja dan sekali-kali mengecek kondisi Arga. Apa yang di butuhkan Arga langsung di turuti Risya dan berusaha untuk Arga cepat sembuh.
Hal itu di lakukan Risya dari malam dan sampai malam kembali yang sangat tulus merawat dan menyelesaikan pekerjaan yang banyak itu yang padahal dia belum ada tidur sama sekali.
Arga yang berada di atas ranjang membuat matanya perlahan dan langsung tertuju pada Risya yang duduk di sofa dengan kesibukannya sembari mengusap beberapa kali yang pasti Risya menahan jantuk.
Uhuk-uhuk-uhuk-uhuk.
Tiba-tiba Arga batuk-batuk membuat Risya langsung menghampiri Arga dengan kepanikan Risya.
"Kamu minum dulu!" Risya langsung memberikan Arga minum dengan mengangkat kepala Arga agar mudah untuk minum.
"Sudah?" tanya Risya. Arga menganggukkan kepalanya dan Risya meletakkan gelas itu di atas nakas.
"Kamu butuh sesuatu lagi?" tanya Risya..Arga menggelengkan kepalanya dengan melihat Risya.
"Ya sudah kamu istirahatlah aku akan kembali melanjutkan pekerjaanku," ucap Risya yang merapikan selimut Arga.
Bersambung