
Akhirnya Risya dan Arga selesai memasak Yang di masak hanya satu. Tetapi dapur seperti kapal pecah. Jangan tanya berantakannya seperti apa. Ya memang sangat berantakan ampun dan diluar BMKG.
"Sayang kok bentuk rotinya tipis gini. Kenapa nggak ngembang seperti gumpalan awan?" tanya Risya heran yang memperhatikan roti tersebut.
"Aku mana tau yang masak itu kamu bukan aku," sahut Arga.
"Yang masak itu kita berdua," sahut Risya.
"Ya udahlah jangan tertipu dengan bentuk. Kita coba aja. Siapa tau rasanya enak," sahut Arga mengambil garfu untuk memotong roti tersebut. Risya mengangguk-angguk saja menunggu suaminya memotong roti tersebut. Namun ternyata Arga mengalami kesulitan roti itu tidak bisa di potong.
"Kenapa sudah sayang?" tanya Risya.
"Kamu ambil pisau!" titah Arga. Risya menganggukkan kepalanya. Hanya memotong roti seperti itu saja harus menggunakan pisau dan itu juga harus dengan tenaga yang full. Roti awan yang mereka buat bantet dan sangat keras.
"Ahhhhhhh!" akhirnya Roti itu dapat di potong membuat Arga dan Risya lega.
"Kita coba dulu!" ucap Arga. Risya menganggu dan mereka berdua sama-sama mencobanya. Eksperesi wajah mereka sudah menjelaskan rasanya seperti apa.
"Kenapa tidak seperti yang di tiktok itu. Mereka kelihatan memakannya sangat menikmati dan coklatnya juga meleleh. Lalu kenapa ini keras dan aku sejak tadi tidak menemukan riasanya," ucap Risya heran.
"Itu artinya ini itu gagal Risya," sahut Arga.
"Issss kok bisa gagal sih," sahut Risya kesal.
"Ya bisa dong Risya. Bagaimana tidak gagal. Kamu mencampur bahannya tidak benar," sahut Arga.
"Kamu nyalahin aku! Kita masak bersama dan ketika makanan itu tidak enak kamu malah menyalahkan aku. Kalau tadi kamu bisa masak sendiri dan pasti enak. Ya kenapa tidak masak sendiri aja,"sahut Risya yang langsung emosi ketika di salahkan suaminya itu.
"Siapa yang menyalahkan kamu. Aku tidak menyalakan kamu," sahut Arga.
"Ya tadi apa kalau bukan menyalahkan aku," sahut Risya.
"Oke-oke aku minta maaf. Aku tidak menyalakan kamu dan sekarang Rito yang kita buat sudah gagal berantakan. Lalu sekarang bagaimana?" tanya Arga.
"Karena rotinya tidak jadi dan aku pengen makan rasa yang sebenarnya. Ya sudah sekarang kita berdua cari roti seperti itu," ucap Risya.
"Lalu kenapa tidak cari dari tadi aja Risya dan kita tidak perlu repot-repot seperti ini. Sudah dapur berantakan ini dan itu," sahut Arga kesal.
"Ya kan supaya ada kerjaan. Lagian mana ada yang tau kalau rotinya akan gagal," sahut Risya.
"Ya sudah kalau gitu bersih-bersih dulu. Baru setelah itu kita keluar dan cari rotinya," ucap Arga dengan menghela napasnya.
"Baik sayang," sahut Risya kesenangan dan langsung pergi.
"Eh tunggu kamu mau kemana?" tanya Arga.
"Mau ke atas, mau mandi. Kita kan akan pergi," jawab Risya dengan santai.
"Ya kita bersihkan dapur dulu. Baru kamu mandi," sahut Arga.
"Itu kamu aja ya sayang yang ngerjainnya. Nanti kalau aku yang mengerjakannya. Aku nanti kepeleset bagaimana," sahut Risya yang ada saja alasannya.
"Baik sayang kamu kerjain ya. Bye sayangku," sahut Risya langsung pergi tanpa berdosa dan Arga yang menghela napas dengan wajah kesalnya yang lagi-lagi dia yang harus mengalah.
"Sampai kapan aku akan menjadi suami yang tertindas," lirih Arga dengan wajah tidak bersemangatnya.
**************
Risya dan Arga akhirnya ke toko roti untuk mencari roti awan yang di inginkan Risya. Setelah mencari di 2 tokoh yang tidak menjual roti tersebut sampai akhirnya mereka menemukan roti tersebut.
"Kamu mau yang mana sayang?" tanya Arga yang melihat istrinya masih berbicara melihat banyaknya roti tersebut dengan bentuk yang di bayangkan Risya. Namun ketika di buatnya malah tidak seenak itu.
"Aku mau banyak boleh?" tanya Risya.
"Boleh. Tapi harus habis ya," ucap Arga yang mengingatkan.
"Hmmm, pasti akan habis," sahut Risya dengan tersenyum.
"Baik Pak. Silahkan melakukan pembayaran dan di tunggu pesanannya," sahut pelayan itu. Arga mengangguk.
Setelah Arga melakukan pembayaran dan mereka menerima pesanan mereka dengan Risya yang memegang kantung berisi roti itu.
"Sudah puas?" tanya Arga.
"Hmmm, makasih sayang kamu yang terbaik. Papa anakku sangat bisa di andalkan," puji Risya. Kalau sudah seperti itu dia baru memuji suaminya itu. Kalau aja ada salahnya pasti Risya menyalahkan Arga dan mengungkit hal-hal yang lain dan masalah akan menjadi panjang.
"Ya sudah sekarang kita pulang ya!" sahut Arga.
"Oke," sahut Risya.
Saat Risya berbalik badan yang sangat kebetulan nada wanita yang berjalan cepat di belakangnya dengan memegang cup berisi chofee yang akhirnya terjadi tabrakan antara Risya dan wanita itu.
"Auhhhhh," pekik wanita yang berpakaian seksi itu ketika semua chofee itu tumpak kebaju nya.
"Ya ampun maaf mbak saya tidak sengaja," sahut Risya yang merasa tidak.
"Euuuuuu. Jijik!" keluh wanita itu yang jijik dengan bajunya yang kotor.
"Maaf mbak," sahut Risya lagi.
"Kamu itu nggak bisa lihat-lihat apa. Lihat pakaian saya jadi jorok seperti ini," wanita itu semakin kesal.
"Maafkan istri saya," sahut Arga.
"Saya akan bantu bersihkan," Risya mengambil tisu dan ingin membersihkan baju wanita itu.
"Nggak usah," cegah wanita itu dengan kesal.
"Kamu itu makanya jalan pake mata," umpatnya dengan kesal.
"Maafkan saya," Risya hanya bisa minta maaf.
"Ada apa ini?" tiba-tiba seorang pria berbadan besar datang. Risya dan Arga kaget melihat pria itu yang ternyata adalah Bram.
"Sayang lihat dia membuat pakaianku jadi kotor seperti ini," ucap Risya dengan kesal.
Bram melihat Risya dan Arga jadi terkejut. Mereka bertiga malah sama-sama kaget dengan wajah mereka yang terkejut.
"Sayang kamu kenapa diam? Kamu marahi mereka dong," sahut wanita itu.
"Sudahlah sebaiknya kita pergi saja," sahut Bram yang langsung menarik tangan wanita itu.
"Sayang kenapa malah membawa ku pergi? Issss sayangan!" ucap wanita itu yang di tarik paksa Bram.
Bram mungkin takut melihat Risya dan Arga dan takut banyak pertanyaan. Makanya dia membawa wanitanya itu pergi.
"Itu Bram kekasihnya Tasya bukan?" tanya Arga pada Risya.
"Iya sayang dia memang Bram," sahut Risya.
"Lalu siapa wanita itu dan kenapa panggilan mereka begitu mesra?" tanya Arga.
"Aku juga tidak tau sayang dan itu yang ingin aku pertanyaan juga. Aku juga bingung dengan wanita itu entah siapa. Karena sebelumnya aku juga pernah bertemu dengannya," ucap Risya.
"Oh iya kamu kok nggak pernah bilang?" tanya Arga.
"Ya aku nggak tau harus cerita dari mana," jawab Risya.
"Aneh juga sih," sahut Arga heran yang tidak bisa menyimpulkan apa-apa dulu. Karena semuanya masih membuat Arga bingung.
Bersambung.