MANTAN? TAPI NIKAH YUK!!!

MANTAN? TAPI NIKAH YUK!!!
Episode 45 Moment.


Malam hari sudah terlewatkan dan kembali lagi hari dan begitu cerah. Namun Risya dan Arga masih sama-sama berada di atas tempat tidur dengan posisi yang sama yang mana Risya masih berada di dalam dekapan Arga, di bawah ceruk leher Arga yang begitu nyaman untuk beristirahat di pelukan suaminya itu.


Perlahan mata Arga terbuka dan mulut Arga langsung bersentuhan pada pucuk kepala Risya yang membuatnya spontan mencium pucuk kepala itu dengan mengelus-elus punggung Risya yang membuat Risya juga terbangun dengan membuka matanya perlahan dan langsung mengangkat kepalanya melihat Arga yang membuat mata mereka saling bertemu.


Mata yang ke-duanya masih sama-sama mengantuk dan bahkan sekali-kali kelopak mata itu sama-sama tertutup dan terbuka. Hening sesaat dengan masih betah saling melihat dengan kedekatan wajah tanpa jarak yang napas ke-2nya mampu saling menerpa.


"Apa begitu nyaman tidur berada di pelukanku?" tanya Arga dengan suara seraknya khas bangun tidur.


"Kau yang memulai bukan. Aku tidak akan tidur di pelukanmu. Jika kau tidak menggendongku ke tempat tidur dan berusaha menggangguku yang akhirnya memeluk ku," jawab Risya dengan suara lembutnya.


Arga mendengus tersenyum mendengar perkataan Risya, "jadi aku yang tetap bersalah dalam hal ini?" tanya Arga dengan lembut. Risya pun menganggukkan kepalanya.


Tumben-tumbenan nya ke-2nya tidak langsung ribut dan bicara sangat lembut.


"Tapi bukannya kau sangat membutuhkan pelukan ku di saat seperti ini?" tanya Arga.


"Walau membutuhkannya. Tetapi aku tidak memintanya dan kamu yang memberikannya," jawab Risya.


"Ya itu pasti jawabanmu," sahut Arga.


"Arga sepertinya aku kebanjiran," keluh Risya yang sudah merasa risih.


"Lalu?" tanya Arga.


"Butuh banyak hal yang harus aku lakukan dan aku tidak akan bisa sendiri," ucap Risya yang mencurigakan bagi Arga. Pasti ada ujung-ujungnya dari perkataan Risya.


"Lalu?" tanya Arga lagi.


"Aku akan segera turun dari tempat tidur dengan selimut supaya tidak berceceran. Dan kamu harus mengantarkan pembalut ku dan juga pakaianku," ucap Risya dengan hati-hati.


"Lalu?" tanya Arga sudah merasa ujung-ujungnya semakin dekat.


"Tempat tidur Ani pasti sudah kotor dengan bercak yang kamu tau itu," ucap Risya.


"Lalu?" tanya Arga datar.


"Kamu harus membersihkannya," jawab Risya tanpa dosa dan membuat Rafa menghela napasnya yang pasti tau ujung-ujungnya dari semua yang di katakan Risya. Sangat bertele-tele yang ujung-ujungnya merepotkan dirinya.


"Arga tidak mungkin bibi yang masuk kekamar ini untuk membersihkannya. Jadi harus kamu yang melakukannya," ucap Risya mode manja agar permintaannya di kabulkannya.


"Dan menurutmu. Apa aku akan melakukannya?" tanya Arga dengan menaikkan alisnya. Risya menganggukkan kepalanya dengan cepat yang sangat yakin. Jika dia akan melakukannya.


"Risya aku...." belum sempat Arga protes Risya langsung duduk dengan menggulung selimut menutupi tubuhnya dan langsung turun dari tempat tidur.


"Buruan bawakan pakaian dan pembalutku!" perintah Risya yang langsung lari kekamar mandi tanpa mendengar protes dari Arga.


"Hah!" Arga membuang napasnya kasar dengan berdecak kesal, "ini anak memang selalu melakukan semua yang dia mau. Benar-benar ya nih anak," umpat Arga yang hanya sesak napas dengan kelakuan Risya yang selalu menindasnya dan yang lebih parahnya Arga sepertinya akan menurutinya. Ya Arga juga sepertinya tidak bisa menolak keinginan Risya.


************


Risya keluar dari kamar mandi yang sudah memakai pakaian bersih dan sepertinya dia juga sudah segar kembali, karena tadi Risya juga mandi. Jadi kondisi Risya sangat segar dengan rambutnya yang basah.


Saat keluar dari kamar mandi matanya juga sangat segar dengan kamar yang terlihat rapi. Arga benar-benar pria idaman yang menuruti kemauannya yang membersihkan kamar itu dan bahkan sampai mengganti seprai yang membuat Risya senyum-senyum sendiri dengan pemandangan yang indah itu.


"Kau bisa gila, kalau senyum-senyum," sahut Arga yang membuat Risya terkejut. Ternyata Risya tidak melihat Arga yang berdiri di samping jendela kamar yang sejak tadi melihat dirinya dengan wajah Arga yang di tekuk parah.


"Kok kau bisa ada di sana. Aku pikir kau sudah pergi," sahut Risya dengan santai.


"Setelah melakukan semua yang kau mau. Sekarang menyuruhku pergi," sahut Arga dengan kesal.


"Jangan sensian. Yang pms itu aku bukan kamu. Jadi kamu jangan sensian. Oke," sahut Risya tanpa dosa dengan mengajungkan jempolnya.


Arga berdecak kesal dan berjalan kearah meja yang mengambil secangkir teh hangat dan memberikannya pada Risya.


"Ayo di minum agar kondisi mu jauh lebih baik," ucap Arga dengan lembut yang berdiri di hadapan Risya dan Risya pun langsung mengambil dari tangan Arga dan pasti langsung meminumnya yang memang sangat hangat dan nikmat.


Arga mendengarnya mendengus tersenyum miring dengan geleng-geleng kepala dan menoyor jidat Risya dengan satu jarinya.


"Jangan kepedean," tegas Arga.


"Isss," Risya berdesis dengan sewot dengan ujung bibirnya yang di tarik kesamping.


Walau seperti itu Risya lumayan happy lah. Arga membantu pekerjaannya dan dia juga sudah jauh lebih baik.


********


Risya sekarang berada di meja makan yang sedang menikmati makanan yang di siapkan ibu mertuanya kepadanya. Kalau kata Arga yang anak kandung itu Risya dan bukan Arga. Jadi harap maklum jika Salmah benar-benar sangat peduli pada Risya.


Apalagi kalau masa menstruasi. Pola makan Risya akan meningkat dan lihatlah dia makan dengan lahap dan salmah begitu senang melihatnya dengan Salmah menuangkan air putih kedalam gelas.


"Pelan-pelan Risya makannya. Makanan ini tidak akan habis," ucap Salmah.


"Kalau pelan-pelan rasanya akan berbeda. Jadi Risya harus cepat-cepat makamnya," ucap Risya dengan mulutnya yang terus mengunyah membuat Salmah menghela napas saja dengan kelakukan Risya.


Salamah pun langsung duduk di samping Risya, "Risya jadi benar kamu lagi datang bulan?" tanya Salmah.


"Ya iya dong mah, masa iya Risya bohong," sahut Risya.


"Yahhhh, berarti Arga tidak topcer dong," sahut Salmah dengan menghela napasnya.


"Maksud mama?" tanya Risya heran dengan perkataan mertuanya itu.


"Kamu buktinya datang bulan. Berarti kamu tidak hamil dan hasil dari perkawinan kalian berdua belum jadi," ucap Salmah.


"Issss mama apaan sih, masa iya harus membahas hal itu," sahut Risya jadi malu.


"Kamu jangan malu Risya. Kita ini sama-sama wanita. Ayo katakan pada mama berapa lama Arga tahan," ucap Salmah dengan kepo membuat Risya mengkerut dahinya.


"Tahan apanya," sahut Risya heran.


"Issss kamu ini malah sok-sok polos. Itu," sahut Salmah menepuk tangannya dengan model menimpah dan Risya semakin bingung.


"Kalian berapa kali sudah melakukannya?" tanya Salmah lagi yang kepo.


"Ihhh mama pikirannya jangan seperti itu deh, orang Risya sama Arga belum nagapin-ngapain," jawab Risya jujur.


"What!" pekik Salmah membuat Risya yang malah terkejut.


"Jadi kamu sama Arga belum bercinta?" tanya Salmah dengan wajah shocknya dan Risya mengangguk saja, jujur apa adanya.


"Kok bisa?" tanya Salmah yang kelihatan serius.


"Ya mana Risya tau. Orang Arga tidak pernah minta," sahut Risya yang santainya bicara.


"Dia tidak memintanya sama kamu?" tanya Salmah. Risya menganggukkan kepalanya sembari minum.


"Apa dia tidak tergoda dengan wanita cantik seperti kamu?" tanya Salmah.


"Tidak mah sama sekali. Padahal nih ya Risya itu sudah pakai baju seksi yang transparan. Tetapi Arga cuek-cuek aja. Risya rasa Arga ini punya kelainan seksual," ucap Risya pelan yang malah menggibah dengan mertuanya.


"Kamu serius!" pekik Salmah yang begitu terkejut.


"Iya mah, buktinya Risya belum di sentuh. Pasti ada masalah padanya. Risya yakin itu," ucap Risya yang suka-suka bicara.


Ternyata Arga mendengarkan pembicaraan Risya dengan mamanya yang menurunkan harga dirinya.


"Wanita ini semakin lama semakin berani, seenaknya mengataiku punya kelainan seksual. Risya sepertinya kau itu menantangku Risya. Awas kau," batin Arga dengan mengumpat kesal yang mana Risya seenaknya mengatainya yang tidak-tidak.


Bersambung.