
Risya sudah sampai di kantor yang pasti tempat dirinya bekerja di mana lagi jika bukan di Perusahaan papa Arga. Pt Intan Ruby. Risya menekan tombol lift dan begitu lift terbuka Risya langsung masuk.
Wajahnya pasti di tekuk karena moodnya yang tidak baik dengan pertengkaran sarapan sebelumnya dengan orang tuanya yang menyuruhnya untuk meminta maaf pada Arga.
Saat sudah memasuki lift Risya melihat Arga yang ingin juga masuk lift namun dengan cepatnya Risya menekan tombol lift yang tidak ingin 1 lift dengan Arga dan hal itu pasti membuat Arga kesal dan untung masih bisa membuka pintu lift saat hampir tertutup.
"Wah kau benar-benar hebat ya. Kau itu sengaja hah!" ucap Arga dengan kesal yang sudah berada di dalam lift bersama Risya.
"Aku tidak sudi satu tempat denganmu," ucap Risya dengan apa adanya yang terang-terangan tidak menyukai pria itu.
"Wah parah nih anak. Eh kau sadar tidak kalau di kantor ini aku itu bosmu lama-lama kesabaran ku benar-benar akan hilang. Kau mau ku pecat hah!" ancam Arga dengan menunjukkan kekuasaannya.
"Pecat aja siapa takut," sahut Risya dengan kesal yang masa bodo. Sampai Arga geleng-geleng dengan Risya yang tidak pernah mau kalah dengannya.
"Huhhhh, sabar Arga, memang sangat jarang manusi langka sepertinya kau harus sabar menghadapi wanita aneh sepertinya," gumam Arga dengan menghela napasnya yang berusaha untuk sabar menghadapi Risya yang sangat menyebalkan.
"Isss, kau yang langkah," Risya hanya berdesis kesal dengan Arga yang menatap Arga sinis.
"Bagaimana mobilku? Tanya Arga mengingatkan Risya pada tanggung jawabnya
"Ya kau tanya Boy lah, kenapa harus tanya aku," sahut Risya kesal.
"Eh Risya kau lupa mobil itu tanggung jawabmu," ucap Arga mengingatkan.
"Iya aku ingat. Tapi yang punya bengkel itu Boy. Jadi tanya dia," sahut Risya.
"Ya kau yang harus bertanya padanya," sahut Arga.
"Ya berarti belum beres. Kalua belum beres berarti belum selesai. Jadi jangan tanya-tanya padaku. Lalu tidak sabaran dan kalau ingin tau perkembangannya kau tanya Boy. Aku hanya menyuruhnya mengabari ku kalau mobilnya sudah selesai," tegas Risya dengan emosi yang harus benar-benar menekankan pada Arga.
"Biasa aja bicaranya nggak usah teriak-teriak," ucap Boy dengan kesal.
"Ya kau selalu cari masalah dan memulai pembicaraan yang teriak-teriak," sahut Risya kesal.
Ting.
Pintu lift terbuka dan Risya menatap Arga dengan kesal. Lalu Risya langsung pergi dari hadapan Arga.
"Menyebalkan!" umpatnya sebelum pergi dari hadapan Arga.
"Apa sih dia. Jelas-jelas dia yang menyebalkan menyalahkan orang, dasar cewek tidak mau kalah," ucap Arga marah-marah dengan berkacak pinggang.
"Lama-lama dia tidak menganggapku bos di Perusahaan. Awas aja aku akan membuatmu perhitungan," umpat Arga yang ingin membalas Risya.
Tidak di kantor atau di manapun kalau dua orang itu bertemu tidak ada hentinya dengan kata pertengkaran. Seperti anak kecil. Tidak tau apa dulu saat pacaran mereka itu sering bertengkar atau tidak.
**********
Risya yang berada di meja kerjanya mulai mengerjakan pekerjaannya seperti biasa.
ting.
Tiba-tiba Risya mendapat notif pesan dan Risya langsung membukanya yang ternyata notif dari temannya.
..."Risya makan siang bareng yuk!" Syarla....
..."Baiklah! di mana?" Risya....
..."Di tempat kafe biasa aku ingin mengajakmu ke tempat sesuatu," Syarla....
..."Kemana?" Risya....
..."Nanti juga kamu akan tau. Jadi ikut aja," Syarla....
..."Oke tidak masalah. Angela ikut tidak?" Risya ...
..."Dia sedang sibuk jadi tidak bisa ikut," Syarla....
..."Oke baiklah," Risya....
Pesan mereka berakhir dengan persetujuan.
"Kemana sih dia mengajakku untuk makan? Tapi nggak apa-apalah itu jauh lebih baik. Lumayan buang-buang suntuk," gumam Risya yang meletakkan ponselnya dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
***********
Risya dan Syarla akhirnya bertemu. Namun ternyata mereka bukan berada di Restaurant. Melainkan di suatu tempat yang membuat Risya bingung dengan tempat yang sepi yang mereka berjalan di koridor-koridor dan banyak patung-patung yang mereka lewati.
Ada juga beberapa gambar yang menempel di dinding yang sangat membingungkan yang membuat Risya sejak tadi hanya berkeliling dengan penuh kebingungan.
"Tempat apa sih ini Syarla?" yang Risya dengan kepalanya yang tidak henti-hentinya berkeliling.
"Jangan yang aneh-aneh ya Syarla perasaan ku tidak enak," ucap Risya merasa ada yang tidak beres.
"Issss Risya apa-apaan sih. Kamu itu berlebihan tau," sahut Syarla geleng-geleng.
Tidak lama Syarla dan Risya masuk kedalam satu ruangan dengan 2 wanita itu yang duduk di lantai dan di depan mereka ada seorang wanita dengan pakaian aneh.
Risya lagi-lagi kepalanya berkeliling melihat di sekitarnya yang di ruangan itu terdapat benda-benda aneh dan sepertinya sangat keramat yang membuat Risya rada-rada takut dengan apa yang terlah di lihatnya.
"Syarla kita mau ngapain?" tanya Risya dengan berbisik.
"Jangan berbisik-bisik," sahut wanita itu yang membuat Syarla menyuruh temannya untuk diam.
"Tempat apa sih ini sebenarnya, tempat dukun apa. Emang siapa yang kesurupan," batin Risya dengan melihat di sekitarnya.
"Di antara kalian berdua siapa yang mau di ramal?" tanya wanita itu dengan suara beratnya.
"Dia Mbah," sahut Syarla menunjuk Risya dan jangan tanya wajah kaget Risya seperti apa yang sekarang sudah tau tempat itu tempat apa dan apa lagi jika bukan ramalan.
"Kamu?" tanya wanita itu.
"Apa sih?" tanya Risya kebingungan pada temannya.
"Udah iya aja," sahut Syarla menganggukkan matanya dan Risya semakin tidak bisa apa-apa.
"Ayo Mbah ramal dia. Kira-kira kapan dia akan menikah dan siapa jodohnya?" tanya Syarla yang menjadi juru bicara yang membuat Risya pasrah.
"Kemari tangan kamu!" pinta wanita itu dan Risya pasrah karena sudah terlanjur masuk juga. Risya dengan gugup memberikan tangannya pada wanita itu dan wanita itu terlihat memainkan jarinya seperti menggmbar-gambar di telapak tangan Risya dengan matanya yang terpejam.
Percaya tidak percaya Risya hanya mengikuti saja. Sebenarnya dia juga penasaran dengan jodohnya.
"Kamu pasti akan menikah dalam waktu dekat," ucap wanita itu
"Serius," batin Risya yang benar-benar terkejut. Namun sebentar mendengarnya membuatnya bahagia. Mungkin itu impiannya.
"Memang siapa pria yang akan menikahinya?" tanya Syarla kepo.
"Tidak jauh-jauh. Pria itu sering bersamanya," jawan dukun tersebut.
"Siapa yang sering bersamaku. Ada-ada aja. Ini pasti akal-akalan saja. Mana ada pria yang bersamaku. Tukang bohong nih peramalnya," batin Risya yang sudah mulai merasa jika peramal itu hanya mengada-ada saja. Karena dia memang tidak dekat dengan siapa-siapa.
"Apa yang saya katakan adalah kebenarannya. Saya tidak berbohong," sahut wanita itu yang bisa membaca pikiran Risya yang membuat Risya kaget mendengarnya dan Syarla juga bingung dengan apa yang di katakan peramal itu.
************
Setelah mereka selesai dari peramal itu, mobil yang di kendarai Risya berhenti di depan bengkel.
"Ada-ada aja kamu Syarla mengajakku ketempat seperti itu," ucap Risya yang baru protes sekarang.
"Ya Sorry Risya. Aku hanya ingin membantumu. Hitung-hitungan buat gantiin masalah kencan buta kemarin," sahut Syarla memberi alasannya.
"Tetapi peramal seperti itu mana ada benarnya, itu hal yang mustahil ini itu udah zaman modern jadi masa iya percaya pada ramalan kuno seperti itu," ucap Risya dengan geleng-geleng.
"Ya namanya juga usaha Risya dan tadi dia bilang kamu dalam dekat ini akan menikah Lo. Apa kamu tidak bahagia apa?" tanya Syarla.
"Tapikan itu tidak mungkin aku tidak dekat dengan siapa-siapa, peramal itu pasti hanya mengarang saja dan dia tidak punya kemampuan," sahut Risya yang tidak mudah percaya.
"Tidak punya kemampuan bagaimana Risya. Kamu tidak lihat apa dia itu tau kamu sedang menceritainya di hatinya," sahut Syarla mengingatkan Risya.
"Argggghhh, entahlah aku tidak mengerti, sudahlah, ayo kita turun malas membicarakan peramal seperti itu," sahut Risya yang bertambah pusing. Syarla hanya mengangguk dengan menghela napasnya dan lalu turun dari mobil menyusul Risya.
Risya dan Syarla sama-sama turun dari mobil yang ternyata mereka menuju bengkel milik Boy teman mereka.
"Hay Risya!" sapa Boy yang selalu semangat jika melihat Risya.
"Hay," sahut Risya yang hanya menyapa datar.
"Kamu lagi liat mobil Arga ya?" tebak Boy.
"Iya bagaimana sudah selesai?" tanya Risya.
"Santai aman, ayo duduk dulu," sahut Boy. Risya hanya mengangguk dan duduk bersama Syarla.
"Apa kabar Syarla?" tanya Boy.
"Verry Good," sahut Syarla yang memang merasa dia baik-baik aja.
Bersambung