
"Ini Om minum dulu! Om pasti kehausan," Putri memberikan kembali air itu pada Hariyanto. Kepolosan anak itu yang membuat Hariyanto merasa bersalah.
"Kenapa diam Om? Apa tidak mau minum Om?" tanya Putri yang melihat Hariyanto bengong.
Edo yang melihat hal itu ingin melangkah mendekati Putri. Namun Angela menahan tangan Edo dengan kepala Angela menggeleng pada Edo.
Edo tidak jadi bergerak menghampiri Putri dan hanya melihat Putri dan Hariyanto. Tidak bisa di pungkiri. Jika 2 orang itu adalah ayah dan anak dan bagaimana pun Edo harus menerima kenyataan itu. Karena memang ayah kandung tidak mungkin akan mengubah apapun. Namanya darah tetap akan menjadi darah yang sudah mengalir.
Sama dengan Hariyanto. Ingin mengelak seperti apapun. Ingin melakukan ini dan itu dan berbuat apapun. Tetap keras tidak mengakui Putri sebagai darah dagingnya. Namun Hariyanto tidak bisa memungkiri. Jika bocah kecil yang polos dengan wajahnya yang terlihat tidak tau apa-apa itu adalah darah dagingnya.
Wajahnya yang mirip dengan Risya saat Risya masih kecil. Cara bicaranya yang sedikit cerewet mengingatkannya pada Risya kecilnya. Hal itu membuat air mata Hariyanto keluar. Tanpa iya sadari 2 anak perempuan yang ternyata iya sakiti dan betapa brengseknya dirinya yang menyakiti 2 darah dagingnya itu.
"Kenapa Om jadi nangis? Apa Putri buat salah?" tanya Putri.
Hariyanto tidak mampu mengatakan apa-apa hanya tangisan yang di keluarkan Hariyanto. Tangisan penyesalan. Edo dan Angela pun hanya melihat saja bagaimana ayah dan anak itu. Mungkin perasaan Edo terluka dan tidak ingin Putri bersama siapapun.
**********
Putri yang selesai bertemu dengan Hariyanto dengan tidak sengaja. Sekarang sudah kembali les. Sementara Edo dan Angela yang menunggu Putri selesai les. Mereka duduk di salah satu bangku dekat dengan ruang les Putri.
"Mas!" tegur Angela dengan memegang tangan Edo.
"Apa Putri pada akhirnya tidak akan bersamaku?" tanya Edo yang tiba-tiba sangat takut hal itu.
"Apa yang kamu katakan mas?" tanya Angela.
"Kamu bisa melihat tadi Angela. Mau sekeras apapun aku menolak dan menutup kuping atas kenyataan itu. Tetapi pada intinya kenyataan ada di depan mata. Jika Putri adalah anak dia," ucap Edo yang menyadari kenyataan itu tidak akan mungkin berubah.
Rasa kecewa dan tidak ada semangat terlihat di wajah sendu yang terlihat penuh berpikir itu.
"Aku mengerti perasaan kamu. Kamu sangat menyayangi Putri. Kamu sangat berhati-hati atas Putri. Kamu menjadi ayah yang baik dan banyak berkorban padanya. Dan aku tau ketakutan kamu mas. Tetapi aku juga tidak punya hak untuk berpendapat apa-apa. Mas Edo mungkin semua ini tidak mudah untuk kamu. Tetapi aku hanya berharap pelan-pelan kamu bisa menerimanya dan bersikap bijak dalam tindakan ini," ucap Angela memberikan saran pada kekasihnya itu dengan hati-hati.
"Angela apa aku Pria jahat. Aku bukan hanya memisahkan Putri dari ibu kandungnya. Tetapi juga ayahnya. Apa aku orang jahat yang melakukan kejahatan yang bukan siapa-siapa. Tetapi aku seolah yang punya kuasa atas Putri?" tanya Edo.
"Aku tidak bisa menjawab pertanyaan kamu mas. Karena aku tidak punya hak untuk memberi jawaban apa-apa. Kita berdoa saja semoga ada jalan yang terbaik," ucap Angela.
"Papa, mama!" panggil Putri yang sudah selesai les dan berlari menghampiri Edo dan Angela.
"Sayang sudah selesai?" tanya Angela mengusap pucuk kepala Putri.
Putri menganggukkan kepalanya dan Edo tidak mengatakan apa-apa selain menatap Putri saja.
"Ayo pulang!" ajak Putri.
"Iya sayang kita sekarang langsung pulang saja," sahut Angela.
"Ayo papa. Kenapa diam saja?" tanya Putri.
Edo tersadar dari lamunannya dan hanya menganggukkan kepalanya. Lalu langsung berdiri. Sangat wajar perasaan tidak karuan, bimbang dan sebagainya yang bercampur aduk.
*********
"Kenapa bintang itu tempatnya di langit pah?" tanya Risya dengan kepalanya yang mengadahkan keatas. Duduk bersama Hariyanto. Di mana Hariyanto menemani Risya yang masih kecil di taman melihat bintang -bintang yang indah.
"Karena bintang-bintang itu sengaja di langit untuk menemani bulan yang kesepian," jawab Hariyanto.
"Jadi nanti kalau Risya kesepian papa akan menemani Risya terus?" tanya Risya.
"Pasti dong. Risya ini anak satu-satunya papa. Jadi kalau kesepian papa akan ada di samping Risya," jawab Hariyanto.
"Jadi kalau mama marahi Risya. Papa akan bela Risya?" tanya Risya lagi.
"Memang papa pernah tidak membela Risya?" tanya balik Hariyanto. Risya menggelengkan kepalanya.
"Jadi papa akan menjadi pria tangguh yang akan selalu melindungi Risya dan mama Risya yang cerewet itu akan kita basmi dan papa tidak akan membiarkan mama atau siapapun menyakiti Putri papa yang cantik ini," ucap Hariyanto dengan suaranya yang di buat gagah seolah seperti pahlawan yang membuat Risya tertawa-tawa melihat eksperesi lucu sang ayah saat menirukan suara orang hebat.
"Papa keren. Papa akan terus menjadi idola Risya," sahut Risya yang mencium pipi Hariyanto.
Ingatan masa kecil itu membuat air mata Risya kembali keluar.
"Lihat mah Putri mirip dengan Risya sewaktu kecil. Sangat bawel dan banyak berbicara," ucap Hariyanto saat pertama kali bertemu Putri di Pesta Perusahaan.
Mengingat hal itu membuat hatinya semakin sakit. Apa lagi mengingat wajah Putri. Wajah anak yang sering ribut kecil dengannya itu tanpa Risya saudara itu adalah adik kandungnya darahnya dan darah Putri mengalir darah pria yang dulu menjadi idolanya. Hal itu membuat Risya semakin sedih.
Sebuah tangan berada di bahunya, memegang kuat yang membuatnya berbalik badan. Ada Arga yang akan selalu mendampingi Risya dan Risya langsung memeluk Arga.
"Kenapa menangis lagi?" tanya Arga memeluk erat istrinya itu.
"Jangan menangis lagi kasihan anak kita," ucap Arga yang mengingatkan Risya.
Risya melonggarkan pelukan itu dan melihat wajah Arga. Arah memegang kedua pipi Risya dengan menghapus air mata itu. Menatap nanar wajah Risya yang penuh dengan kesedihan.
"Apa anak kita akan seperti ku nanti? Apa dia akan merasakan apa yang aku rasakan?" tanya Risya dengan suara seraknya.
"Apa yang kamu katakan Risya. Jangan berpikir terlalu jauh," ucap Arga.
"Dia dulu sangat mencintai mama. Aku sering mengatakan kepada kamu. Jika aku wanita paling beruntung yang hidup di keluarga yang sangat bahagia. Aku sangat sombong karena mama dan dia tidak pernah ribut. Aku sangat sombong karena menjadikan dia sebagai Idola dan selalu mengagung-agungkan dirinya. Tanpa aku sadari selama ini pria yang aku ingin kamu menjadi sepertinya sudah melakukan penghiyanatan dan selama ini hanya bersandiwara," ucap Risya dengan bibir bergetar yang berbicara seolah takut semuanya akan berbalik kepadanya.
"Sayang tidak semua Pria itu sama dan aku tidak mungkin melakukan hal itu. Kamu jangan berpikiran terlalu jauh dan jangan menganggap jika papa yang melakukan seperti itu dan maka aku akan melakukan itu,"
"Risya hentikan pikiran kamu yang terlalu jauh. Hentikan pikiran kamu yang tidak masuk akal itu. Aku sangat mencintai kamu dan sekarang di saat kita mendapatkan ujian yang besar ini Allah mengirimkan janin di rahim kamu yang artinya Allah sedang menguji.kita berdua,"
"Sayang sudahi semua ini dan semuanya sudah cukup. Aku dan kamu adalah orang yang saling mencintai dan sama-sama percaya dengan semuanya. Jadi jangan berpikiran apa-apa. Karena kita berdua adalah orang yang masih tetap saling mencintai sampai kapanpun," ucap Arga mengingatkan.
Arga kembali memeluk Risya untuk menenangkan Risya kembali.
"Satu yang membuat kesalahan jangan kamu samakan aku dan siapa-siapa Risya," ucap Arga.
Risya tidak berbicara lagi. Sangat wajar dia takut dan kehilangan kepercayaan atas apapun. Pasti sangat sulit bagi Risya hidup dengan kenyataan seperti ini dan Arga selalu mengerti perasaan istrinya.
Bersambung