
"Ya sudah Arga. Mama masuk kedalam dulu ya," ucap Tantri.
"Iya mah," sahut Arga.
"Kamu tidak sarapan?" tanya Tantri.
"Tidak mah. Nanti saja Arga akan sarapan," jawab Arga.
"Ya sudah kalau kamu mau sarapan kamu bilang sama mama ya. Biar nanti mama yang akan ambilkan," ucap Tantri.
"Iya mah," sahut Arga dan Tantri langsung pergi meninggalkan Arga yang masih bersama bayinya untuk mencari matahari. Agar sang bayi dapat sehat.
Setelah kepergian Tantri. Tiba-tiba Suster Devi datang menghampiri Arga.
"Pak Arga. Biar saya saja yang menggendong bayinya," ucap Suster Devi yang ingin mengambil alih.
"Tidak usah biar saya saja yang melakukannya. Kamu sebaiknya mengerjakan yang lain saja," jawab Arga.
"Pekerjaan saya sudah tidak ada pak Arga. Karena pekerjaan saya hanya khusus untuk merawat bayinya dan sekarang bayinya bersama pak Arga," jawab Suster tersebut.
"Kalau memang pekerjaan kamu tidak ada. Ya sudah kamu istirahat saja. Kamu juga tadi malam kurang tidur. Karena anak saya," ucap Arga.
"Itu sudah tugas Suster pak Arga untuk mengawasi bayi yang rewel di malam hari. Ya itu memang sudah ketentuan pak Arga. Jadi hal itu sudah sangat biasa," sahut Suster dengan tersenyum lebar.
"Tapi Suster juga manusia dan kamu juga berhak untuk istirahat," sahut Arga.
"Pak Arga baik sekali. Saya tidak pernah punya majikan sebaik bapak," sahut Suster Devi yang tidak segan-segan untuk memuji Arga. Arga hanya tersenyum saja mendengarnya.
"Oh iya pak Arga tidak mau sarapan?" tanya Suster.
"Nantinya saja," sahut Arga yang memang tidak ingin sarapan dulu.
Owe-owe-owe-owe-owe-owe-owe-owe-owe.
Tiba-tiba bayi kecil itu menangis dan Arga langsung mendiamkan bayi kecil tersebut.
"Sayang, sayang," ucap Arga.
"Ini pak susunya," sahut Suter yang langsung sigap mengambil susunya dan memberikan pada bayi itu dengan posisinya yang begitu dekat dengan Arga.
Risya masih saja melamun dengan semua pemikirannya saat melihat Arga dan juga bayinya yang bersama Arga. Namun suara bayi mampu membuatnya tersadar dari lamunannya. Saat dia sudah tersadar dari lamunannya. Risya kembali melihat ke bawah dan ternyata Tantri sudah tidak ada di sana. Namun Suster Devi yang menghampiri Arga yang ikut menjaga bayi itu.
Lagi-lagi kedekatan suster dan Arga sangat tidak masuk akal, begitu dekat dan bukan seperti seorang suster dan juga majikan. Risya juga tidak tau apa yang terjadi dan kenapa mereka begitu dekat.
"Siapa sebenarnya wanita itu.? Apa wanita itu memang benar-benar seorang suster yang menjaga bayi itu atau bukan. Atau dia adalah ibu dari anak itu," batin Risya dengan penuh tanya saat melihat kedekatan Suster dan anaknya.
Kedekatan Suster dan Arga seperti suami istri membuat Risya berhenti melihat dan langsung menutup horden kamarnya dan Risya langsung kembali ketempat tidur dengan duduk di pinggir ranjang dengan menghela napasnya.
"Seharusnya mereka tidak tinggal di rumah ini," umpat Risya yang tiba-tiba merasa kesal dengan Arga dan Suster yang semakin dekat itu.
*********
Salmah, Dehway berkunjung kerumah Risya yang pasti untuk melihat cucu mereka. Mereka juga ingin tau bagaimana keadaan cucu pertama mereka. Sekarang mereka berada di ruang tamu dengan Salmah yang menggendong bayi kecil itu.
"Apa si dedek rewel mbak saat malam hari?" tanya Salmah.
"Sama seperti Risya dulu sangat rewel," sahut Tantri yang memang anaknya tidak jauh, jatuh dari pohonnya.
"Benarkah? pasti bayinya mengganggu tidur mbak," sahut Salamah.
"Itu sudah menjadi keindahan untuk sebagai seorang nenek. Ketika kita semakin tua. Kita akan kembali seperti seorang ibu dengan kehadiran cucu kita. Jadi itu suatu kenikmatan," ucap Tantri dengan tersenyum.
"Mbak benar," sahut Salmah.
"Mama juga pengen Arga. Jika harus bangun tengah malam. Karena mendengar suara indah cucu mama yang cantik ini," ucap Salmah dengan tersenyum.
"Papa juga ingin di repotkan oleh cucu papa ini," sahut Dehway tidak mau ketinggalan dan memegang pipi cucunya itu. Namun tiba-tiba Salmah menepis tangan suaminya itu.
"Sembarangan mengatai tangan papa kotor. Tangan papa ini bersih!" tegas Dehway.
"Kotor banyak kumannya. Jadi harus steril dulu. Kalau mau memegang bayinya. Awas ya kalau papa melakukan itu sekali lagi," tegas Tantri.
Arga dan Salmah senyum-senyum mendengar pertengkaran pasangan suami istri itu.
"Sudah-sudah mama dan papa apa-apaan sih. Malah ribut-ribut di depan bayiku. Nanti dia jadi ketularan tukang ribut seperti kakek dan neneknya. Jadi jangan ribut," sahut Arga yang memperingati orang tuannya.
"Panggilnya jangan nenek. Tetapi Oma!" tegas Salmah.
"Iya terserah mau manggil siapa aja," sahut Arga dengan tersenyum.
"Oh iya Arga. Apa nama bayi untuk kalian sudah ada?" tanya Dehway.
"Benar Arga. Masa iya kita panggilnya bayi mulu," sahut Salmah.
"Mama juga Arga baru kepikiran dengan hal itu," sahut Tantri.
"Aku sama Risya belum menyiapkan nama bayinya. Karena kita tidak tau bayinya perempuan atau laki-laki. Kita baru berencana menyiapkan nama bayinya ketika bayinya lahir. Tetapi kondisi Risya yang seperti ini sangat tidak mungkin untuk membahas nama bayi itu bersamanya," sahut Arga yang tidak yakin.
"Tapi Arga mana mungkin kita menunggu Risya sampai sembuh," sahut Tantri.
"Iya mama benar," sahut Arga.
"Lalu bagaimana? Kamu pasti punya pilihan nama. Tidak apa-apa kamu katakan saja. Walau hanya satu kata. Nanti kalau Risya sudah sembuh. Risya akan menambahi nama bayinya," sahut Salmah.
"Mama setuju," sahut Tantri.
"Aurora," sahut Arga yang tiba-tiba menyebutkan nama bayi itu.
"Aurora?" tanya Tantri.
"Risya pernah menyebutkan sepenggal kata itu. Jadi menurutku nama itu bisa di pakai untuk bayi kami," ucap Arga yang masih menggunakan nama dari istrinya.
"Namanya bagus," sahut Dehway.
"Iya papa juga setuju," sahut Salmah.
"Baiklah sekarang kita panggil bayinya dengan Aurora dan bukan bayi kecil lagi," sahut Tantri dengan tersenyum melihat bayi kecil itu. Arga tersenyum mendengarnya.
"Aku berharap semoga saja dengan nama Aurora yang sering terdengar di telinga kamu. Kamu bisa mengingat nama tersebut dan ingatkan kamu bisa pulih Risya," batin Arga yang selalu berdoa dan berharap banyak kepada istrinya untuk kesembuhan istrinya.
**********
Tantri yang berada di dapur yang sedang menyiapkan makan malam. Suster Devi tiba-tiba datang kedapur yang mencuci botol susu Aurora.
"Suster. Aurora sudah tidur?" tanya Tantri.
"Sudah Bu," jawab Suster itu dengan mengangguk tersenyum.
"Baiklah kalau begitu. Saya minta tolong pada kamu untuk antarkan Risya makanan kekamarnya dan setelah itu kamu berikan dia obatnya," ucap Tantri yang memerintahkan Suster tersebut.
"Baik Bu," sahut Aurora yang setuju dengan menganggukkan kepalanya.
"Apa makanan yang mau di antarkan sudah selesai?" tanya Aurora.
"Iya sudah selesai. Itu di sana!" tunjuk Tantri yang sudah menyiapkan di meja makan yang berada di atas nampan bersama dengan makanan dan juga obat Risya. Agar ingatan Risya cepat pulih. Obat yang memang dari Dokter.
"Kamu tolong antar ya," ucap Tantri lagi.
"Baik Bu. Kalau begitu saya antar dulu," ucap Suster itu pamit.
"Iya. Makasih ya," sahut Suster itu yang langsung pergi dari dapur tersebut.
Bersambung.