
Arga berada di meja makan bersama dengan Dehway dan juga Salmah. Mereka hanya ngobrol ringan sembari menikmati makanan yang tersedia.
"Kamu dapat telpon dari siapa tadi Arga?" tanya Salamah yang melihat putranya sangat lesu. Ketika mendapatkan panggilan telpon.
"Vio mah," jawab Arga dengan suaranya lelahnya.
"Mengenai Hariyanto," tebak Dehway.
"Iya Pah. Papa kembali drop dan hanya ingin bertemu Risya dan perkataan papa semakin melantur," jawab Arga dengan wajah cemasnya yang memikirkan mertuanya itu.
Arga adalah orang yang paling sulit dengan keadaan yang di hadapinya sekarang. Bagaimana tidak memikirkan kesehatan mertuanya yang mungkin keadaan mertuanya akan membaik. Jika istrinya ada di sampingnya. Lalu bagaimana dengan istrinya. Kesehatan istrinya akan terancam jika dia memaksakan hal itu.
"Kamu tidak bicara dengan Risya?" tanya Dehway.
"Tidak berani pah. Aku takut. Aku tidak ingin kejadian itu terulang lagi," jawab Arga.
"Mama juga tidak berani lagi untuk membicarakan hal itu pada Risya. Kasihan Risya yang pasti sangat berat merasakan hal itu," sahut Salmah yang juga lesu.
"Papa dan mama besok akan melihat keadaan mas Hariyanto dan semoga ada perkembangan atas kesehatannya," sahut Dehway yang memang ada rencana ingin menjenguk besannya itu.
"Kamu ikut Arga?" tanya Salmah.
"Untuk sekarang aku tidak bisa. Tetapi nanti kalau mama dan papa pulang. Baru aku ke rumah sakit. Aku tidak mungkin meninggalkan Risya sendirian. Kasian dia," jawab Arga yang tidak tega dengan istrinya.
"Ya sudah kalau begitu terserah kamu saja," sahut Salmah. Arga menganggukkan kepalanya.
Pembicara Arga dan ke-2 orang tuanya di dengarkan Risya. Risya yang berada di balik tembok dengan wajahnya yang sangat sedih. Matanya berkaca-kaca mendengarkan pembicaraan mengenai Hariyanto.
Tidak tau apa yang di pikirkan Risya. Namun dari mimik wajah dan air matanya yang jatuh. Sebenarnya merindukan Hariyanto. Takut, cemas yang bercampur aduk dengan Hariyanto. Risya lagi-lagi harus berperang dengan gejolak hatinya yang tidak baik-baik saja.
***********
Arga memasuki kamar dan bersamaan dengan Risya yang keluar dari kamar mandi. Arga tersenyum dan menghampiri istrinya dengan memebelai rambut Risya dan mencium kening Risya.
"Kamu belum makan siang. Bagaimana kalau kita makan siang di luar kita sudah lama tidak makan siang di luar. Jadi kita makan di luar ya!" ajak Arga yang ingin membawa Risya jalan-jalan.
"Kamu mau?" tanya Arga dengan lembut. Risya menganggukkan kepalanya.
Arga tersenyum yang kembali mencium kening Risya. Ya sudah kalau begitu sekarang kita pergi ya," ucap Arga. Risya menganggukkan kepalanya.
"Aku boleh tidak ganti baju dulu?" tanya Risya.
"Boleh sayang," jawab Arga. Risya pun langsung berlalu dari hadapan Arga untuk langsung mengganti bajunya. Arga kembali menghela napas yang sangat mengerti apa yang di rasakan istrinya.
**********
Arga sengaja membawa Risya makan di luar dan juga sekalian jalan-jalan. Agar pemikiran Risya bisa tenang dan istrinya itu tidak murung lagi. Setelah mereka makan siang bersama mereka juga pergi ke pantai menikmati indahnya pantai di cuaca yang sore hari.
Risya dan Arga berjalan berdampingan dengan tangan mereka yang mengayun sembari bergenggaman. Langkah kaki yang sama yang benar-benar menikmati keindahan pantai. Apa lagi pakaian yang mereka gunakan senada. Risya yang memakai dres putih di bawah lututnya dan Arga yang memakai kemeja putih dengan celana pendek berwarna cream.
"Kamu mau naik Jetski tidak?" tanya Arga.
"Tidak. Nanti aku mual," jawab Risya.
Tiba-tiba mata Risya tertuju pada anak perempuan 8 tahun yang sedang di kejar ayahnya yang bercanda sembari bermain. Mata Risya benar-benar fokus pada pemandangan itu sampai melupakan Arga yang masih mengajaknya mengobrol.
Risya membayangkan gambaran itu seperti dia dan Hariyanto. Mengingat masa kecil yang bahagia membuat hatinya kembali terluka. Jika ternyata kebahagiaan itu tidak sama dengan apa yang di rasakan Risya sekarang ini.
"Bagaimana sayang menurut kamu?" tanya Arga menoleh ke arah Risya dan Risya masih melihat ke arah anak dan ayah tersebut yang membuat Arga juga melihat arah pandang istrinya.
Arga melihat kedekatan anak dan ayah tersebut dan kembali melihat wajah istrinya penuh dengan kesedihan. Arga menghela napas yang pasti tau. Jika itu karena Risya pasti mengingat Hariyanto.
"Sayang kamu mau minum air kelapa tidak!" tanya Arga mengalihkan tatapan Risya dengan memegang bahu Risya.
"Ayo sayang kita minum air kelapa!" ajak Arga. Tanpa ada persetujuan dari Risya. Arga langsung membawa Risya pergi. Dia tidak ingin Risya terus hidup dalam kesedihan yang tidak akan ada habisnya.
************
Risya dan Arga masih berada di pantai yang sekarang duduk di atas pasir dengan kepala Risya bersandar di bahu Arga. Tangan Risya memeluk kengan Arga.
"Mama dan papa kemana?" tanya Risya tiba-tiba.
"Mungkin sekarang sudah di rumah. Tadi mama dan papa pergi," jawab Arga.
"Kemana?" tanya Risya.
"Aku tidak tau," jawab Arga bohong. Padahal dia tau. Tetapi sengaja tidak ingin memberitahu istrinya ke mana Salmah dan Dehway. Risya hanya diam saja yang memang dia tau kemana mertuanya itu pergi.
"Kamu senang tidak kita makan di luar dan juga di pantai?" tanya Arga menoleh ke arah Risya.
"Iya aku senang," jawan Risya.
"Kita berdua itu sangat menyukai pantai. Kita banyak menghabiskan waktu di pantai yang membuat kita bahagia," ucap Arga. Risya hanya menyimak saja apa perkataan suaminya itu.
"Sayang lihat itu!" Arga tiba-tiba menunjuk mobil yang tidak jauh dari pantai Risya pun melihatnya.
"Kenapa dengan mobilnya?" tanya Risya.
"Kalau seandainya kita di pantai malam hari. Kita pasti sudah berada di dalam mobil itu," jawab Arga dengan tersenyum.
"Issss kamu, pikirannya mesum," sahut Risya dengan wajah sewotnya. Melihat reaksi Risya yang seperti itu membuat Arga tersenyum. Dia memang merindukan masa-masa istrinya yang kesal kepadanya.
"Tidak apa-apa mesum. Kita sudah menikah dan kamu sangat menyukainya bukan," ucap Arga dengan tersenyum. Risya menggelengkan kepalanya.
"Jangan bohong aku bisa melihat kamu menginginkan hal itu," goda Arga dengan mencolek hidung Risya yang membuat Risya tersenyum.
"Ya sudah sayang ini sudah sore. Kita kembali pulang ya," ajak Arga yang ingin berdiri. Namun Risya menahan tangan suaminya membuat Arga tidak jadi berdiri dan melihat ke arah Risya.
"Antarkan aku ke rumah sakit," ucap Risya tiba-tiba. Hal itu membuat Arga kaget sampai melihat Risya dengan serius.
"Rumah sakit!" pekik Arga.
"Aku mau melihat keadaan papa," jawab Risya dengan air matanya yang jatuh.
Bersambung.