
Sekolah Putri.
Hari Minggu ini Putri akan ikut berpartisipasi di sekolahnya yang melakukan kegiatan dalam pertandingan. Semua yang di ajak Putri untuk menjadi seporternya pun turut hadir menemaninya. Dari Edo papanya, Angela, Risya, Arga, Syrala dan bahkan Boy yang juga ikut. Walau Boy pasti sangat terpaksa mengikuti acara tersebut.
Dan pasti Syrala, Risya dan Angela yang membujuk Boy agar Boy bisa ikut menjadi suporter Putri.
Banyak juga orang-orang tua dari para siswa yang mulai berdatangan dan memasuki lapangan untuk melihat acara tersebut. Banyaknya penonton yang berada di tribun yang memberi sorakan dengan semangat untuk para anak-anak yang akan bertanding.
Acaranya memang akan di mulai. Karena orang-orang juga sudah mulai berdatangan. Jadi semua orang-orang sudah siap untuk mendukung jagoan mereka masing-masing.
Risya, Syrala, Angela sudah heboh dengan teriak-teriak memanggil nama Putri yang sudah ada di lapangan. Dan mereka memberi semangat pada Putri dengan teriak-teriak. Edo juga memberi Putri semangat. Tetapi tidak berlebihan. Namun Arga hanya diam yang fokus pada ponselnya. Dia juga ikut hanya karena Risya. Sementara Boy jangan tanya. Jika wajahnya tidak kesal. Maka bukan Boy namanya.
"Putri cayo," teriak Risya, Syrala dan Angela membuat telinga Arga sampai sakit.
"Sayang pelan-pelan. Kamu teriak-teriak kayak di hutan aja," tegur Arga.
"Ya harus teriak dong Arga, supaya Putri semangat dan akhirnya menang," ucap Syrala.
"Tuh dengerin sayang. Kamu juga jangan main handphone mulu. Ayo beri Putri semangat," ucap Risya.
"Maaf ya Arga. Hal ini pasti membosankan bagi kamu," ucap Edo yang merasa tidak enak.
"Santai aja," sahut Arga.
Di tengah sorakan itu tiba-tiba Tasya datang dan menghampiri mereka membuat. Angela, Risya dan Syarla jadi berhenti berteriak ketika melihat kehadiran Tasya.
"Ngapain dia di sini?" tanya Syrala dengan pelan. Angela hanya mengangkat kedua bahunya yang memang tidak tau.
"Maaf aku mengganggu, aku datang hanya mendukung Putri. Karena Putri juga mengatakan sebelumnya kepadaku," ucap Tasya tanpa ada yang bertanya padanyanya.
"Jadi Putri dan bukan mas Edo. Ya tidak apa-apa lah," batin Angela yang berpikir jika kedatangan Tasya karena Edo yang menyuruhnya.
"Aku tidak tau kalau Putri mengatakan hal itu. Tapi ya sudahlah. Kamu juga sudah ada di sini. Jadi silahkan saja duduk dan dukung Putri," ucap Edo dengan datar.
"Iya, terima kasih," sahut Tasya.
"Putri semangat!" teriak Angela yang masa bodo dengan Tasya dan melanjutkan berteriak memberi dukungan pada Putri sama dengan Risya dan Angela yang kembali memberikannya bersorak dengan meriah.
Putri yang berada di lapangan sudah memulai pertandingan lari estafet dengan semangatnya. Dengan kelincahan Putri yang kompak dengan teman kelompoknya yang akhirnya mengantarkan Putri menjadi pemenang.
"Yeeeee," Risya, Syrala dan Angela melompat kegirangan. Edo tepuk tangan untuk Putri yang membuatnya bangga. Arga yang tadinya cuek juga ikut bertepuk tangan yang sepertinya pertandingan itu mencuri perhatiannya dan sangat di nikmatinya. Ya mungkin saja Arga belajar kian menjadi orang tua. Karena sebentar lagi dia juga akan menjadi orang tua.
"Putri kamu hebat!" teriak Angela dengan suara paling keras.
"Kamu juara Putri," teriak Risya.
"Semangat Putri," sahut Syrala yang tidak kalah bersorak.
Putri yang lapangan melambaikan tangannya kepada fansnya yang banyak itu.
"Baiklah untuk pertandingan selanjutnya. Silahkan untuk para peserta memanggil orang tua kalian untuk ikut dalam pertandingan lari dengan menggendong para peserta," ucap panitia.
Beberapa peserta di beri kesempatan memanggil orang tua mereka dengan menggunakan Mike dan orang-orang tua yang sudah terpanggil sudah mulai turun kelapangan.
"Putri ayo panggil orang tua kamu!" titah panitia memberikan Putri Mike.
Tasya tersenyum dengan namanya yang di panggil dan Edo melihat eksperesi Angela tampak datar. Karena memang yang di libatkan orang tua. Syrala, Risya, Arga dan Boy juga melihat ke sedihan di wajah Angela yang tadinya begitu bahagia. Namun Tasya begitu senangnya.
"Di mana-mana pasti ibu kandung yang di ingat," batin Tasya dengan begitu bangganya yang berdiri dari tempat duduknya.
"Ayo papa cepat!" panggil Putri lagi.
"Mas Edo ayo. Putri sudah memanggil kita," ajak Tasya dan Edo rasanya berat. Mungkin karena melihat Angela.
"Papa dan mama Angela. Ayo buruan cepat!" panggil Putri yang ternyata Angela yang di inginkannya membuat semuanya kaget dan Tasya paling shock mendengarnya. Putri memanggil Angela dengan sebutan mama.
Edo tersenyum mendengarnya dan begitu pun Angela yang mengeluarkan senyum tipisnya.
"Ayo Angela buruan," ucap Risya dengan semangat. Bukan hanya Edo saja yang bahagia yang lainnya juga sangat bahagia.
"Ayo Angela!" ajak Edo yang akhirnya berdiri dan Angela mengangguk yang menyambut uluran tangan Edo dan mereka sama-sama turun ke lapangan menyusul Putri dan meninggalkan Tasya dengan wajah penuh amarah yang terpendam.
"Semangat Angela!" teriak Risya yang kembali bersorak.
"Tasya kamu duduk dong. Kasian yang di belakang mereka tidak bisa melihat anak-anak mereka," tegur Syrala.
Tasya mengepal tangannya dan mau tidak mau kembali duduk di tempatnya. Dia sudah kepedean yang berpikiran. Jika dirinya yang di panggil. Eh ternyata tidak sama sekali Putri malah ingin Angela dan memanggil pakai sebutan mama lagi.
Akhirnya pertandingan selanjutnya di laksanakan kembali dan Edo maupun Angela sangat kompak menggendong Putri dengan berlari. Mereka kelihatan romantis membuat teman-teman Angela ikut bahagia.
"Sayang Angela sangat kelihatan seperti seorang ibu," ucap Risya merangkul lengan suaminya itu yang terharu dengan ketulusan Angela kepada Putri.
"Kamu juga sebentar lagi akan menjadi seorang ibu," ucap Arga mengelus-elus pucuk kepala Risya.
"Nanti kalau anak kita sudah besar. Sudah seperti Putri. Kita harus temani dia terus. Sama seperti Angela dan Edo dan lihat Putri begitu bahagia," ucap Risya.
"Itu pasti sayang," sahut Arga.
"Angela dan Edo sama-sama memiliki kekurangan dan mereka sama-sama menerima kekurangan dan makanya hubungan mereka sangat awet," ucap Risya yang terharu melihat kebahagiaan yang sederhana itu.
Boy yang juga duduk menyaksikan Angela yang begitu bahagianya tersenyum tipis yang tiba-tiba wajah kesalnya hilang dengan keluar senyum ketulusan.
"Kenapa tersenyum?" tanya Syrala yang berada di sebelahnya yang menangkap senyum Boy.
"Teman lagi bahagia. Jadi jelas aku tersenyum," jawab Boy.
"Wau dari kata-katanya ada yang sudah move on nih," goda Syrala.
"Angela begitu bahagia dengan Edo. Jadi kenapa aku harus terus berusaha atau merasa hanya aku yang bisa membahagiakannya. Kenyataan sudah di depan mata dan ternyata memang Edo lah yang bisa memberinya kebahagiaan dan sebagai teman. Aku ikut bahagia melihat ke bahagian itu," ucap Boy dengan tulus.
"Aku suka dengan kamu yang berpikiran positif seperti ini. Ya memang harus seperti ini bukan," ucap Syrala. Boy mengangguk dengan tersenyum.
Mungkin Boy harus percaya pada Edo yang memang bisa memberikan kebahagiaan untuk Angela. Dan teman-teman Angela juga turut bahagia. Namun tidak dengan Tasya yang terus menatap dengan sinis pada Angela di lapangan bersama anak dan mantan suaminya.
Karena dirinya yang merasa tidak di anggap sama sekali. Jadi bagaimana dia tidak kesal dan sangat marah.
Bersambung