MANTAN? TAPI NIKAH YUK!!!

MANTAN? TAPI NIKAH YUK!!!
Episode 277 Insiden


Tinnong Tingnong, Tingnong.


Suara bel Apartemen Risya dan Arga terdengar. Arga yang berada di dapur langsung menghampiri pintu untuk membuka pintu.


"Mama!" sahut Arga. Ternyata tamu yang datang ke Apartemennya adalah Salmah.


"Kamu lama sekali membuka pintu," sahut Salmah rada kesal yang langsung masuk melewati Arga.


"Siapa yang lama. Aku langsung buka pintu begitu mama datang," sahut Arga menutup pintu Apartemen.


"Alasan aja kamu," sahut Salamah meletakkan barang bawaannya di atas meja. Sangat banyak kantung plastik belanjaan yang di bawa Salmah.


"Mana Risya?" tanya Salmah.


"Lagi mandi," jawab Arga.


"Mama ngapa sih datang pagi-pagi gini?" tanya Arga.


"Apa maksud kamu bertanya sepertinya itu. Kamu tidak mengijinkan mama untuk datang ke Apartemen kamu gitu," sahut Salmah yang malah tersinggung.


"Bukan begitu mah. Tapi mama datang pagi-pagi. Arga kan bingung," sahut Arga.


"Ya mama datang ingin melihat menantu mama," sahut Salmah.


"Iya yang punya menantu sampai anak nggak di anggap," sahut Arga tiba-tiba kesal.


"Apa sih kamu," sahut Salmah dengan dahinya yang mengkerut.


"Sudah sana kamu panggil Risya. Bilang kalau mama datang dan bawakan makanan yang banyak untuknya!" titah Salmah.


"Makanan mulu yang di bawa. Lama-lama Risya benar-benar seperti Hulk," sahut Arga membuat mata Salamah melototkan dan langsung melemparkan bantal sofa kepada Arhan.


"Kamu itu ya benar-benar! geram Salmah. Untung saja bantal itu di tangkap Arhan. Jadi tidak mengenai wajah Arhan.


"Kamu ngatain Risya gendut. Kalau Risya sampai dengar. Kamu tuh di cueki sampai lebaran monyet," ucap Salmah jadi kesal karena Arga.


"Iya-iya Arga minta maaf, namanya juga bercanda," sahut Arga.


"Becanda kamu nggak lucu. Sudah sana buruan kamu panggil Risya!" tegas Salmah.


"Iya-iya ini juga mau di panggil," sahut Arga dengan garuk-garuk kepala.


"Seharusnya memang Risya sudah turun lama sekali dia mandinya," ucap Arga dengan menghela napas dan langsung menaiki anak tangga menuju kamar mereka.


Arga sampai di kamar dan masih mendengar suara air dari kamar mandi.


"Belum selesai juga ternyata. Ya ampun sayang kamu udah cantik. Nggak usa mandi begitu lama," gumam Arhan geleng-geleng dengan menghela napasnya.


"Tapi memang begitu. Wanita sangat lama mandinya dan aku tidak tau apa yang membuatnya lama mandi. Entah apa yang di kerjakan di dalam sana. Hmmm tetapi sudah lah," gumamnya dengan garuk-garuk kepala.


"Sayang mama datang. Kamu cepat mandinya nanti langsung turun kebawah," teriak Arga memberitahu istrinya itu. Tidak ada respon dari dalam kamar mandi. Mungkin Risya tidak mendengar. Lalu Arhan langsung keluar dari dalam kamar menunggu istrinya saja.


*********


Salmah ada di dapur yang sedang memindahkan semua makanan yang di belinya ke dalam piring. Jika makanan kering di buatnya ke dalam toples. Sementara Arga duduk di di meja makan sembari menikmati kopi yang di buatkan Arga. Di tambah dengan roti yang lezat.


"Lama sekali Risya turunnya Arga?" tanya Salmah yang sejak tadi menunggu. Namun menantunya itu tidak datang-datang.


"Tadi waktu Arga lihat ke atas Risya masih mandi mah," sahut Arga sembari mulutnya tidak berhenti mengunyah.


"Tapi kok lama ya," sahut Salmah. Arga hanya santai yang kembali meneguk minumannya.


"Ya ampun mah. Nanti juga bakalan turun," sahut Arga.


"Kamu buruan panggil!" tegas Salmah yang melotot dengan anaknya yang masih aja santai.


"Iya-iya," sahut Arga dengan terpaksa berdiri dari tempat duduknya yang langsung kembali ke kamar.


"Semakin lama semakin malas. Risya tahan banget sama kelakuannya," oceh Salmah dengan geleng-geleng.


Arga kembali ke kamar dan ternyata Risya belum ada di kamar dan suara air di kamar mandi masih terdengar.


"Lama Risya mandinya. Dia ketiduran apa bagaimana," gumam Arga dengan menghela napas yang tidak mengerti dengan istrinya itu.


Lalu Arga mendekati kamar mandi, "sayang kamu masih di dalam. Kamu lama sekali mandinya!" panggil Arhan yang berdiri di depan kamar mandi dan mengetuk pintu.


Namun tidak terdengar suara sahutan dari dalam membuat Arga bingung.


"Sayang!" panggil Arga kembali.


Tiba-tiba mata Arga turun pada lantai. Arga melihat air mengalir dari dalam kamar mandi membuat Arga kaget. Namun bukan hal itu yang lebih mengejutkan Arga. Arga begitu terkejut ketika melihat ada darah yang bercampur air membuat Arga membulatkan matanya sempurna.


"Risya!" lirih Arga panik dan langsung membuka pintu kamar mandi dengan kuat. Saat masuk kedalam kamar mandi betapa terkejutnya Arga saat melihat Risya yang sudah terduduk di lantai bersandar pada bathtub dengan bathrobe putih yang basah kuyup dan mengalir darah di pahanya.


"Risya!" teriak Arga dengan terkejutnya yang menghampiri Risya, melihat kondisi Risya.


"Sayang apa yang terjadi?"


"Sayang bangun!"


"Sayang!"


"Sayang bangun!"


Dengan menepuk-nepuk pipi istrinya yang pucat Arga membangunkan Risya. Arga begitu panik dengan matanya yang berkaca-kaca.


"Ma! Mah! Mama!" teriak Arga dengan sekencang-kencangnya mmenaggil Salmah.


Salmah yang masih berada di dapur menghentikan pekerjaannya saat mendengar suara.


"Apa Arga memanggil?" tanyanya yang masih samar-samar mendengar suara itu. Namun suara panggilan itu semakin jelas.


"Benar dia memanggil. Kenapa Arga berteriak?" tanyanya kebingungan dan tidak ingin berpikir panjang Salamah langsung menuju kamar Arga.


Baru saja Salamah ingin membuka pintu kamar. Arga sudah keluar dari kamar dengan menggendong Risya yang di tutupi dengan selimut agar tidak basah kuyup.


"Ya ampun Arga! Risya kenapa?" tanya Salmah dengan wajah terkejutnya yang melihat Risya tampak pucat dan darah juga masih ada di pahanya.


Arga yang di penuhi dengan kepanikan sudah tidak bisa menjawab lagi. Dia berjalan dengan cepat menuruni anak tangga untuk membawa istrinya kerumah sakit. Salmah juga yang masih shock mengikut saja.


Begitu sampai di mobil. Salmah langsung membukan pintu bagian belakang dan Arga mendudukkan istrinya yang tidak sadarkan diri. Kemudian Salmah menyusul untuk masuk dan Arga langsung buru-buru masuk ke mobil yang duduk di bagian depan dan menyetir.


"Ya Allah ada apa dengan Risya?" Salmah kepanikan dengan memegang tangan Risya yang begitu dingin.


Arga yang menyetir begitu kencang dengan wajahnya yang penuh kepanikan. Matanya berkaca-kaca dan bahkan jalanan yang macet membuat Arga menjadi emosi dengan memukul-mukul stir mobil. Perasaan sudah bercampur aduk yang takut istrinya kenapa-kenapa.


"Arga kamu harus tenang. Jika kamu seperti ini yang adanya kita juga bahaya," sahut Salmah yang mengingatkan Arga.


Salmah tau Arga mengkhawatirkan Risya. Tetapi fokus Arga bisa hilang jika Arga tidak konsentrasi menyetir dan hal itu juga bisa membahayakan mereka.


Bersambung